setan kecil

setan kecil
part 30


__ADS_3

"Yang Mulia!!" bayang hitam dengan mata menyala merah terlihat berdiri di samping Devian.


"Berikan laporannya?" Devian melirik iblis di sampingnya.


"Saya melihat beberapa panglima tinggi kepercayaan Raja Erebos." Lapornya.


"Apa?" Devian terlihat terkejut.


"Torn!!" Panggil Devian sesaat setelah iblis itu menghilang.


Dengan cepat Torn muncul di dekat Devian menunduk hormat, siap menerima perintah.


"Kumpulkan seluruh petinggi Lucery secepatnya, ada perubahan rencana." Devian menatap Torn serius.


Tak berapa lama Torn kembali menghilang. Devian segera menuju ruang pertemuan dalam tendanya, dia terlihat berfikir selama beberapa saat. "Ck, sial!!" Gumamnya dengan gusar.


Tak berapa lama, satu persatu kursi terisi oleh para panglima perang. Devian segera duduk menatap satu persatu iblis dalam ruangan itu.


"Aku baru saja mendapat laporan." Devian terlihat berfikir sejenak. "Ada beberapa panglima tinggi kepercayaan kakek yang berada di pihak musuh."


"Apa? Bagaimana mungkin?" Tanya salah seorang panglima.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, kali ini tak ada pilihan lain. Aku membutuhkan kalian dan seluruh pasukan kalian kita tidak bisa lagi menahan kekuatan kita." Jelas Devian.


"Siapa saja yang berada dalam pasukan musuh?" Tanya seorang panglima dengan baju zirah berwarna hijau.


"Morax, Alm, Bune, Purson, Shak dan Halpas. Mereka semua adalah iblis kepercayaan kakek yang memiliki kedudukan tinggi di Lucery. Mereka membawahi ratusan ribu iblis." Jelas Devian.


"Mereka semua adalah iblis yang ikut mendukung Raja Erebos saat membantu Adrian." Gumam Salah seorang dari mereka.


"Baiklah, itu sudah tidak penting. Sekarang ini kita membutuhkan lebih banyak pasukan. Saleos!!" Devian menatap pria gagah di seberang meja. "Aku membutuhkanmu di garis depan bersama Malpas. Murmur, kau juga bertugas di garis depan aku butuh menteri pendampingmu untuk mengacaukan konsentrasi pasukan musuh."


"Baik, Yang Mulia!" Jawab mereka serempak.


"Facalor, Balam dan Lerejie kalian dan pasukan kalian akan menyerang mereka lebih dulu dari jarak jauh. Facalor gunakan Anginmu untuk mengacaukan pertahanan mereka, Balam Serang mereka dari udara persenjatai elangmu dengan peledak dan Lerejie habisi musuh dengan panahmu."


"Serahkan saja padaku, peperangan adalah pesta yang Indah." Jawab Lerejie.


"Ahhhh... Aku butuh penjagaan ketat di camp, bawa salah satu roh jahat untuk mencegah kemunculan Shax. Dia iblis yang cukup licik, dia ahli menyelinap dan mencuri. Aku hampir melupakan sesuatu." Devian menatap seorang iblis berkepala singa. "Sabnock, bangun Benteng di sepanjang perbatasan dengan kekuatanmu kau pasti bisa membangunnya dengan cepat. Selain itu dirikan juga menara pengawas dan camp tambahan." Perintah Devian.


"Baik, Yang Mulia!"


"Torn, kau dan pasukanmu juga lakukan serangan jarak jauh kau ahli dalam membidik musuh. Segera persiapkan semuanya!! Peperangan ini kita harus bisa memenangkannya." Gumam Devian.


*****


Mata Rhodri mengamati satu persatu orang di dekatnya penuh waspada.


"Sulit di percaya kita dipimpin manusia sepertinya." Gumam salah seorang iblis dengan kepala dan kaki lembu. Di atas kepalanya terdapat sepasang tanduk.


"Kau keberatan?" Tanya Rhodri tersinggung.


"Menurutku tidak masalah, selama itu bisa memuaskan dahagaku." Kata seorang iblis lain dengan tiga kepala berbeda.

__ADS_1


"Ck, itu karena kau bisa membuat kekacauan dengan menyebar roh-roh manusia kotor di dunia." Gumam salah seorang dari mereka.


"Sebenarnya siapa kalian ini? Sepertinya kalian tidak cukup hebat?" Tanya Rhodri.


"Jangan meremehkan kami anak muda." Terdengar suara melengking dari iblis berwujud bangau.


"Dengar, kami adalah bangsawan iblis tertinggi Lucery pengikut Setia Raja Erebos. Saat Raja Meninggal kami memutuskan untuk ikut lenyap bersamanya tapi kekuatannya memanggil kami. Jadi, apa itu kau?" Tanya Iblis dengan wujud lembu pada Rhodri.


"Ya... Aku yang memanggil kalian. Aku adalah Adrian jiwa yang pernah mengikat janji dengan Raja kalian yang akhirnya di khianati. Karena itu aku bisa bangkit dengan memasuki tubuh pengganti." Jelas Rhodri.


"Manusia ternyata lebih rendah dari yang aku bayangkan." Gumam iblis lain.


"Jadi siapa kalian?" Tanya Rhodri.


"Aku, Halpas!" Kata seorang iblis dengan wujud bangau tinggi dengan pakaian perang besi. "Aku mengusai api untuk membakar, aku dapat memberikan senjata pada setiap hati yang di penuhi kejahatan."


"Panggil aku Shax." kata iblis dengan suara melengking.


"Kalian saudara?" Tanya Rhodri heran karena wujud Halpas dan Shax yang sama-sama berbentuk bangau.


"Kau bercanda? Dia saudaraku? Sama sekali bukan. Aku membantu setiap penipu, aku juga bisa mencuri apapun tanpa di ketahui kecuali tempat yang di jaga roh jahat yang lain." Jelasnya.


"Payah!!" Gumam Rhodri kecewa.


"Apa kau bilang? Kau meremehkan aku? Berani sekali kau manusia.... " Shax mengomel tak jelas.


"Shax diamlah!!" Kata seorang iblis dengan tiga kepala manusia. "Aku Alm, aku cukup pandai di Medan pertempuran." Jelasnya. "Ahhh.. Dan aku cukup mahir dengan benda ini." Alm memamerkan tongkat api di tangannya.


"Bagaimana denganmu?" Rhodri menatap iblis dengan tiga kepala berbeda. Kepala anjing, kepala manusia berada di tengah dan kepala burung griphon.


"Aku, Morak!!" Iblis dengan wujud lembu menatap ke arah Rhodri.


"Purson, panggil saja aku purson." kata iblis lain dengan kepala singa di tangan kirinya memegang seekor ular besar.


"Kalian sama sekali tidak terlihat hebat." kata Rhodri datar. "Aku tidak yakin, kalian mampu mengalahkan prajurit Devian."


"Kau salah, kami membawahi hampir lima ratus ribu pasukan iblis." Jawab Morax tersinggung.


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan pasukan Devian?" Tanya Rhodri lagi.


"Sangat sulit memprediksi cara bertempur pangeran, dia ahli dalam strategi perang. Dia selalu selangkah lebih maju dari lawannya." Jelas Alm.


"Kalian di pihak siapa?" Tanya Rhodri mulai emosi.


"Kami tidak berada di pihakmu, kami terpaksa bangkit karena kekuatan Yang Mulia Erebos." Jelas Morax.


"Jadi, kalian harus berperang bersamaku." Jawab Rhodri memamerkan seringainya.


Semua bangsawan iblis terlihat saling pandang. "Baiklah, tapi kami tidak bertanggung jawab atas perlindunganmu. Karena kita tidak ada ikatan perjanjian."


"Tapi, kalian terikat dengan Erebos. Karena itu kalian tidak akan bisa melawanku perintahku. Bukankah begitu?" Tanya Rhodri mengingatkan mereka lagi.


Semua iblis hanya terdiam menatap Rhodri tak berapa lama mereka kemudian berlutut di hadapan Rhodri secara serentak di sambut tawa nyaring penuh kemenangan dari Rhodri.

__ADS_1


*****


Benteng darurat yang di bangun oleh Sabnock hampir selesai. Menara pengawas juga telah berdiri kokoh. Devian terlihat mengamati dari luar tendanya, tak berapa lama Saleos menghampirinya.


"Apa yang sedang anda pikirkan?" Tanyanya.


"Terlalu banyak yang sedang aku pikirkan."Jawab Devian.


"Saya Rasa pikiran anda tidak berada di sini." Gumam Saleos menatap langit.


"Kau benar, Ratu.... "


"Saya yakin beliau akan baik-baik saja." Potong Saleos. "Saya selalu dapat merasakan perasaan Cinta anda pada Ratu yang begitu tulus."


Devian melirik ke arah bawahannya itu. "Apa itu karena kau yang memberikannya? Atau karena kau salah satu iblis yang menebarkan Cinta secara sembarangan?" Tanya Devian.


"Haha.. Saya hanya memberikan Cinta pada orang yang membutuhkan. Dan lagi saya tidak beramal secara cuma-cuma, harus ada imbalan dari setiap ke inginkan. Apa anda ingin bicara dengan Balam untuk memperjelas ke adaan Ratu?" Tawar Saleos.


"Dia hanya bisa memberi tahu masa depan manusia, Ratu bukan lagi manusia bahkan aku sendiri tak bisa melihat masa depannya." Gumam Devian putus asa.


"Saya yakin semua akan baik-baik saja, percayalah. Karena Cinta yang akan menyatukan kalian."


"Penampilanmu sama sekali tidak sesuai dengan ucapanmu. Berhenti membicaran hal itu saat di hadapanku, itu sangat menggelikan." Gumam Devian sedikit kesal.


"Baiklah, keinginanmu adalah perintah. Tapi ingat Yang Mulia, anda harus tetap fokus jika ingin menang dalam pertempuran." Seleos mengingatkan Devian sebelum pergi.


"Dasar!!" Gumam Devian seraya menatap langit kelabu. "Apa dia benar-benar akan baik-baik saja?" Gumamnya frustasi. "Kenapa harus di saat seperti ini, selalu saja."


*****


Alexis masih bersandar di koridor depan ruangan Alice berada. Dia terlihat menunduk frustasi, pikirannya tengah sibuk memikirkan cara keluar dari sini, Tapi semua sia-sia.


"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" Howen menyentuh pundak Alexis.


"Apa pertanyaan itu penting sekarang?" Tanya Alexis kesal.


"Ma'afkan saya Yang Mulia." Howen menunduk.


"Howen, kau benar-benar tak akan membantuku? Meskipun aku mati disini." Tanya Alexis.


"Saya tidak akan pernah membiarkan anda mati." Jawab Howen yakin.


"Benarkah?" Alexis mengangkat sebelah Alisnya. "Tapi, aku rasa aku akan mati." Jawab Alexis lesu.


Howen terlihat terkejut dan segera berlutut di hadapan Alexis untuk memeriksa luka Tuannya. "Ba.. Bagian mana yang sakit? Saya harus memastikan anda tidak terluka parah." Howen melihat seluruh tubuh Alexis.


"Aku mulai kehabisan udara untuk bernafas dan di sini.. " Alexis menunjuk dada kirinya letak jantungnya berada. "Rasanya ada sesuatu yang mencengkramnya dengan kuat dan di sini.." Alexis menunjuk kepalanya. "Seseorang berusaha mengambil Alih kendali pada tubuhku. "HOWEN!!!" Teriak Alexis mencengkram kerah leher Howen dengan mata terbuka lebar. "Se... La.. Mat.. Kan... A.. Ku." Dan Alexis Ambruk ke dada Howen menutup matanya.


"Ya... Yang Mulia!!!" Howen berusaha menggunacang tubuh Alexis, tapi dia sama sekali tak menanggapi. "Haruskah aku memanggil salah satu tabib di dalam?" Gumam Howen panik.


Alexis menggeleng pelan. "Tidak?" Tanya Howen pada Alexis.


Alexis kemudian mengangguk cepat. "Lalu, saya harus bagaimana?" Tanya Howen cepat, raut khawatir terlihat jelas di wajah pengawal Alexis.

__ADS_1


"Mal... bork... " Jawab Alexis lirih.


"Baik, Yang Mulia! Bersabarlah, anda jangan mati. Anda harus tetap sadar." Howen segera menggendong tubuh Alexis di punggungnya dan membuka gerbang ke Malbork dengan kekuatannya.


__ADS_2