
Luna menyelam ke dalam laut, di belakangnya Alexis, Aslyn dan juga Howen berenang mengikutinya. Duyung itu bergerak dengan mudah menggunakan ekornya. Tak berapa lama mereka memasuki sebuah gua yang tak begitu besar di dinding tebing.
Sesekali Alexis melirik Aslyn yang berenang di sebelahnya. Memastikan gadis itu tak akan kehabisan nafas. Setelah beberapa meter, Luna bergerak berenang keatas dan di sana mereka menyentuh permukaan air yang berada dalam sebuah gua.
Luna yang pertama muncul ke permukaan. Aslyn bergerak semakin lambat, oksigen dalam paru-parunya mulai menipis membuatnya kesulitan untuk terus berenang. Melihat itu Alexis berbalik meraih tangan gadis itu dan menariknya ke permukaan.
"Hah... Hah.. Hah!!" Terdengar nafas Aslyn terengah-engah begitu dia muncul dari permukaan Air.
Alexis membantu Aslyn berenang ke tepi dan membantu gadis itu naik ke darat. "Kau baik-baik saja?" Tanya Alexis sedikit cemas.
Aslyn hanya menjawab Alexis dengan agukkan.
"Syukurlah!" Alexis menatap Howen yang telah lebih dulu naik ke darat. Alexis memberi isyarat pada Howen untuk memeriksa daerah di sekitar sana.
Mata Alexis menatap luna yang masih berada di sana. Dia pun menghampiri duyung itu dan berjongkok di depannya menatap dalam iris biru luna.
"Terimakasih, sudah mengantarku!" Alexis menyentuh pundak Luna.
Saat itulah, Duyung itu seakan baru sadar. Sesaat dia kebingungan menatap sekelilingnya, kemudian dia terperangah kaget begitu menyadari dimana dia berada sekarang. Gadis itu menatap Alexis dengan wajah ketakutan.
"Maaf, maafkan aku karena membuatmu harus mengantarku kemari. Aku benar-benar minta maaf." Seakan dapat membaca situasi Alexis langsung meminta maaf. "Aku tidak seperti mereka, percayalah!" Alexis mencoba meyakinkan duyung itu.
"Hanya orang-orang serakah yang datang kemari." Jawab Luna lirih.
"Aku tidak membutuhkannya, tapi ibuku. Dia menahan rasa sakitnya selama bertahun-tahun karena aku. Karena itu, aku ingin membalasnya. Membalas semua kebaikannya." Alexis menunduk mengingat kembali wajah sang ibu yang semakin pucat.
Luna meraih tangan Alexis dan tersenyum menatap mata pangeran muda itu. "Aku percaya padamu, karena itu ingat ini baik-baik. Jangan mengambilnya saat kau benar-benar tak membutuhkannya, buang semua keserakahanmu dan tunjukkan ketulusan hatimu."
"Aku mengerti, terimakasih sudah membantu kami." Alexis tersenyum.
"Kau masih harus berjalan jauh dari sini, baiklah aku pergi dulu." Luna melepas tangan Alexis dan kembali masuk kedalam air.
"Yang Mulia, saya rasa di sini cukup aman. Kita bisa beristirahat disini."
"Baiklah, kita istirahat sebentar." Alexis melirik kearah Aslyn.
Aslyn mengamati gua bawah laut yang baru dia datangi. Saat Aslyn menatap ke atap gua, terlihat benda-benda yang bersinar seperti bintang-bintang di atas langit malam.
"Hwaaa.. " Aslyn begitu kagum dengan apa yang baru dia lihat.
Menatap ekspresi Aslyn, Alexis tersenyum. "Ini adalah dunia di dasar laut."
Aslyn menatap Alexis bingung. "Di dalam gua ini, kau akan melihat dunia lain. Mungkin dunia yang lebih Indah dari pada di permukaan." jelas Alexis.
"Benarkah!!! Dari mana kau tau? Kau pernah kemari?" Tanya Aslyn setengah tak percaya.
"Kau akan melihatnya nanti, di ujung dari gua ini adalah pintu menuju lembah kematian. Dimana danau kehidupan dan pohon apel iblis berada."
"Haha.. Apa kau pikir aku akan percaya?" Aslyn menatap Alexis kesal.
__ADS_1
"Kau membuat semua penjelasanku menjadi sia-sia. Sebaiknya jangan pergi jauh-jauh, aku akan istirahat sebentar." Alexis menyandarkan tubuhnya kedinding gua.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
Sedangkan Aslyn terlihat berjalan mengamati sekitar gua. "Tempat yang Indah!" Gumam Aslyn.
Gadis itu mengamati langit-langit gua dan mengulurkan tangannya ke atas. "Seperti aku bisa menggapainya." senyuman Indah terlihat menghiasi wajah cantik gadis itu.
Aslyn terlihat melirik kearah Alexis, ingatannya kembali bagaimana Alexis menjaganya. "Dia bahkan tidak berniat meninggalkanku. Robbin, apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya lirih.
******
Simbol segel melingkar selebar tiga meter menyala terang kemerahan. Di tengah segel tubuh Gyles terbaring disana. Lingkarang segel terhubung dengan lingkaran lain yang lebih kecil berjarak dua meter. Disana Rhodri berdiri, menatap iblis sekarat itu.
"Kau tidak akan mati sia-sia." Gumam Rhodri.
"Apa anda siap tuan?" Tanya seseorang dengan jubah hitam di dekat Rhodri.
"Lakukan!!!" Perintah Rhodri.
Beberapa orang mengintari tubuh sang iblis. Mereka mulai berkomat-kamit mengucap mantra-mantra aneh yang sulit di mengerti. Perlahan segel mulai berpendar mengeluarkan cahaya.
Tak berapa lama, seseorang mendekati tapi tubuh Gyles. Menyayat tubuh tak berdaya itu hingga darah hitam pekat keluar dari luka sayatan. Perlahan menetes turun, darah mengalir perlahan mengikuti bentuk segel yang rumit. Darah kemudian mengalir ke segel penghubung dimana Rhodri berdiri. Darah perlahan mulai membentuk lingkaran sempurna dan menggenang di bawah kaki Rhodri.
Seringai menyeramkan menghiasi wajah Rhodri. Segel bersinar, tubuh Gyles perlahan melayang di udara.
Sinar dari segel semakin menyilaukan mata, selang beberapa detik sinar itu mulai menghilang dan tubuh Gyles hanya menyisakan Batu merah berkilau. Rhodri berjalan mendekat dan meraih Batu tersebut. "Aku akan mengalahkanmu." Rhodri tersenyum miring.
*****
Devian terbangun dari tidurnya, dia menatap sekeliling seakan memastikan tak ada orang lain yang berada disana.
"Kekuatan apa yang aku rasakan barusan?" Devian menatap keluar jendelanya.
Dari kejauhan terlihat pendar cahaya kemerahan. "Anak itu.. " Gumamnya.
Devian beranjak keluar dari kamarnya, dengan langkah cepat dia berjalan menuju sebuah ruangan. Ruangan yang gelap, tak ada penerangan apapun disana.
"Aku Devian Aaron Windsor Raja Iblis Lucery, memanggil kalian para bangsawan iblis." Gumam Devian.
Sesaat ruangan yang gelap gulita, perlahan mulai terang. Saat satu persatu obor mulai menyala secara misterius dan satu persatu kursi kosong mulai di tempati oleh iblis-iblis yang Devian panggil.
"Yang Mulia!" Mereka secara serempak memberi hormat pada Devian.
"Sesuatu yang buruk akan terjadi, aku merasakan kekuatan yang cukup besar. Segel terlarang, kembali digunakan oleh seorang anak manusia." Jelas Devian.
"Apa? Bagaimana mungkin mereka mengetahui kekuatan itu? Kekuatan terlarang telah di hapus dari setiap ingatan kaum manusia." Salah satu bangsawan menatap Devian tak percaya.
"Tapi, inilah kenyataannya. Saat kakek meninggal dia memperingatkanku tentang perjanjian yang ia langgar. Batu dimana harusnya di gunakan untuk mengurung setiap jiwa dari manusia yang melakukan perjanjian, milik kakek ada beberapa yang menghilang dan juga jiwa saudaraku bebas. Jika, dia menemukan tubuh baru untuk jiwanya... " Devian berhenti sesaat menatap lurus kedepan menerawang kemungkinan yang mungkin terjadi. "Aku bahkan tidak tau apa yang akan terjadi. Kita harus menemukan Batu itu dan menghancurkannya. Kirim beberapa orang untuk mencari tahu keberadaannya. Torn, kau dekat dengan putraku bukan?" Devian menatap Torn. "Kawal dia begitu dia menemukan apel itu, jika Dia bisa mendapatkan apel itu dan memberikannya pada seseorang.... Bahkan aku sendiri tak akan bisa menanganinya."
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia. Saya akan menyiapkan pasukan untuk mengawal Yang Mulia Alexis." Torn menunduk hormat.
"Semoga kita bisa segera menghetikan mereka."
******
Howen berjalan memimpin jalan, Alexis sesekali melirik ke belakang untuk memastikan gadis yang bersamanya tidak salah melangkah. Aslyn masih mengagumi gua yang baru saja di masukinya.
"Tempat ini benar-benar mengagumkan." Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut gadis itu.
"Atap gua ini tak akan runtuh, jadi perhatikan saja langkah kakimu." Alexis mengingatkan Aslyn.
Aslyn menatap Alexis dengan kesal. "Aku tahu kemana kakiku harus melangkah."
"Hmmm... Terserah kau saja." sahut Alexis kesal.
Saat Aslyn melangkah kakinya tanpa sengaja menginjak Batu yang licin. Membuat kakinya tergelincir dan membuatnya hampir terjatuh, jika saja Alexis tak menangkap lengan gadis itu. Mata bulat Aslyn menatap Alexis.
"Aku sudah mengingatkanmu. Lebih baik kau berjalan di depan." Alexis meminta Aslyn untuk berjalan di depannya.
"Terimakasih." Gumam Aslyn.
"Simpan itu untuk nanti, saat aku bisa membawamu keluar dengan selamat." Alexis mengamati sekelilingnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Aslyn.
"Maksudku, aku tidak suka sendiri. Jadi paling tidak jika aku harus mati disini, aku memiliki teman." Jawab Alexis asal.
"Maksudmu, kau membawaku sejauh ini. Melemparku ke kerumunan duyung menyeramkan. Hanya untuk mati bersamamu?" Tanya Aslyn tak percaya.
"Hmmm... Bukankah itu juga sesuatu yang romantis." Alexis tersenyum tanpa dosa.
"Kau sudah gila!! Aku mau keluar dari sini." Teriak Aslyn panik.
"Kau mau keluar duluan, kau bisa menghadapi duyung itu. Mereka benci wanita cantik." Alexis mengingatkan. "Setidaknya, jika kau tetap bersamaku ada sedikit jaminan kau akan selamat dan bisa menyelesaikan tugasmu.. Aku sedang membantumu." Alexis tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
Sesaat Aslyn terdiam. "Kau bercanda, membantu apanya? Kau mau membunuhku, lagi pula tugas apa yang kau maksud hah.. " Aslyn segera berbalik menghindari tatapan Alexis.
"Jika aku bisa aku ingin membunuhmu sekarang." Alexis menatap punggung Aslyn dengan ekspresi dingin.
"Hah... Jika kau bisa?" Aslyn menatap Alexis kesal.
"Hmmm.. Jika aku bisa, sayangnya kau sudah mengambil sebagian perhatianku." Alexis menatap dalam mata Aslyn.
Aslyn terdiam, butuh sepersekian detik untuk dirinya mengerti apa yang di maksud Alexis. "Apa maksudnya?" Gumam Aslyn tak mengerti.
"Artinya, cepat jalan... Kita tak punya banyak waktu." Jawab Alexis dengan kesal.
Alexis berjalan mendahului Aslyn mencoba menyusul langkah cepat Howen.
__ADS_1