
Devian melangkah cepat melewati beberapa lorong yang gelap dan sepi. Di belakangnya Howen dan Aiden mengikuti langkah kakinya. Hingga di ujung lorong langkah kaki Devian terhenti, tembok bata abu-abu berdiri kokoh di hadapan mereka.
"Aiden, awasi aktifitas di kastil Timur. Siapkan semua pasukan dan kemungkinan adanya serangan dari dalam." Devian menatap Memberi perintah pada Aiden.
"Baik, Yang Mulia!!" Aiden mengangguk mantap.
"Howen, bawa aku ke tempat terakhir kalian berpisah." Devian menatap Howen dan beralih pada Aiden. "Selama aku pergi, aku serahkan semua padamu."
Iris keemasan Howen mulai berpendar, pintu kayu dengan ukiran misterius mendadak muncul dan terbuka. Devian segera melangkah masuk, begitu pula Howen.
Tak berapa lama mereka muncul di tempat Alexis di Serang. Di atas bebatuan terlihat bercak darah berceceran. Devian menatap bercak darah tersebut. Howen menunduk menyentuh noda darah itu dan mengendusnya.
"Tidak salah lagi, Pangeran Alexis dalam bahaya." Gumam Howen.
"Adrian.... " Devian mengepalkan tangannya kuat.
Devian mengedarkan pandangannya, mencoba melacak beradaan Torn yang tengah mengikuti putranya. Tak berapa lama Devian melesat cepat di ikuti oleh Howen.
******
"Bagaimana bisa kau membiarkan tubuh anak ini terluka?" suara emosi Adrian terdengar memenuhi ruangan.
"Apa kau pikir mudah membawanya kemari hidup-hidup tanpa terluka?" Protes Rhodri tak kalah kesal. "Harusnya kau berterimakasih karena aku tidak membunuhnya." Rhodri segera melangkah pergi meninggalkan cermin dengan bayangan ayahnya.
"Jangan pergi kau Rhodri!! Aku belum selesai bicara... " Teriak Adrian emosi.
Tapi Rhodri telah menghilang di balik pintu. "Kau terus saja memerintahku seenaknya, dan menggunakan tubuh anak itu untuk memerintahku juga. Kau membuatku muak!!" Gumam Rhodri penuh emosi.
******
Tes... Tes....
Suara air menetes, sesaat iris merah Alexis terbuka. Di ruangan yang gelap dirinya berdiri seorang diri, di hadapannya berdiri sebuah cermin besar dengan bayangan dirinya. Tapi, bayangan di dalam sana memiliki mata yang berbeda dengannya, ia memiliki iris biru. Alexis mengamati bayangannya seksama, perlahan tangannya terulur menyentuh cermin di depannya. Tapi, cermin itu seperti air saat dia menyentuhnya riak air menyebar tapi air itu sama sekali tidak tumpah. Dari bayangan di cermin terlihat seorang wanita dengan rambut perak berjalan mendekat ke arahanya.
Cepat Alexis berbalik, tapi tak seorang pun di sana. Masih dirinya yang berdiri sendiri tanpa seorang pun. Alexis kembali mengamati wanita dalam cermin itu, jemari lentiknya perlahan terulur kearah Alexis. Garis lengkung di bibirnya membentuk senyuman yang begitu Indah. Alexis terus mengamatinya dengan seksama, mengingat siapa wanita di hadapannya.
"I...ibu!!" Panggil Alexis ragu.
Wanita dalam bayangan itu tersenyum menatap ke arah Alexis yang tengah mengamatinya dan bayangan itu sirna.
__ADS_1
"Tidak!!!" Teriak Alexis.
Bayangan lain kembali terlihat, bayangan masa kecil Alexis. Masa kecil yang tidak pernah ia rasakan, bagaimana jika ibunya hidup seperti wanita normal. Ibu yang akan tersenyum padanya, ibu yang akan memberinya kecupan di keningnya saat akan tidur, ibu yang akan menghiburnya saat sedih. Semua bayangan yang selalu ia inginkan terlihat jelas dalam cermin besar itu.
Hingga bayangan Alice muncul, mengulurkan jemari lentiknya ke arah Alexis. Ragu Alexis mengulurkan tangannya ke arah sang ibu. Kembali jemarinya perlahan menyentuh cermin terbenam perlahan ke dalam cermin.
"Apa kau akan pergi begitu saja?" Sebuah suara di belakangnya mengejutkan Alexis.
Dia segera menarik jemarinya menjauh dari permukaan cermin, Alexis segera berbalik melihat gadis lain di hadapannya. "Apa kau akan menyerah begitu saja? Dasar pengecut!!" Umpatnya dengan tatapan tajam. "Laki-laki brengsek sepertimu biasanya hidup lebih lama, tapi sepertinya kau memiliki nasib yang berbeda." Gadis itu terus mengomel tidak jelas.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
Alexis menatap gadis beriris coklat di hadapannya dengan ekspresi bingung. Dia mencoba mengingat siapa gadis di hadapannya saat ini.
"Cepatlah sadar." Gadis itu sesaat tersenyum dengan air mata berlinang.
"Si.. Siapa.... " Gumam Alexis lirih.
Tapi, gadis itu menghilang menjadi kelopak-kelopak bunga yang tertiup angin. Cermin di belakangnya kini menghilang ruangan kembali menjadi gelap. Alexis terdiam mengamati sekelilingnya tak ada seorangpun disana.
"Apa yang terjadi pada diriku?" Gumam Alexis saat tubuhnya perlahan bercahaya.
"Apa kau akan menyerah?" Seorang gadis berjalan ke arah Alexis, rambut peraknya terurai panjang. Gaun putih panjang menyapu lantai, iris biru yang begitu Indah.
Alice mengulurkan tangannya, menyentuh pipi putranya lembut. "Ibu sangat ingin melihatmu, bagaimana kau tumbuh dewasa? Apa kau bahagia? Apa kau dekat dengan ayahmu? Aku ingin selalu menunggu saat itu, tapi sepertinya waktuku sudah tidak banyak lagi." Alice menunduk menatap jemari tangannya yang bercahaya. "Meskipun, ibu tak bisa bertahan lebih lama. Kau harus bisa bertahan lebih lama lagi. Jangan menyerah!!" Alice memeluk tubuh Putra erat.
Air mata perlahan menetes dari mata Alexis. Dia membalas pelukan ibunya dengan erat. "Aku sangat ingin melihatmu. Aku ingin terus bersama ibu." Terdengar suara Alexis bergetar.
"Suatu saat, pasti bisa bersama-sama lagi." Alice tersenyum dan perlahan tubuhnya menghilang menjadi butiran-butiran debu cahaya.
"Ibu.... " Perlahan tubuh Alexis mulai menghilang. Mata Alexis membulat terkejut. "Ke... Kenapa... Apa yang terjadi padaku?" Alexis terlihat mulai panik namun akhirnya tubuhnya menghilang.
******
Tubuh Alexis terbaring di sebuah ranjang kecil, dengan tangan dan kaki terkunci. Luka pada tubuhnya terlihat baru saja di obati. Perban terlihat melilit lukanya, dia masih terbaring tak sadarkan diri juga tak ada tanda-tanda akan sadar.
Terlihat seseorang melangkah mendekat, menatap Alexis dengan tatapan penuh kebencian. "Kenapa kau harus kembali? Harusnya kau tetap bersembunyi." Gumamnya dengan suara rendah.
"Aku sudah muak hanya dengan melihatmu, kenapa dengan mudahnya kau mendapat semua yang kau inginkan? Kita memiliki gelar yang sama dan posisi yang sama. Tapi, kenapa dunia ini selalu berpusat padamu? Apa kau pikir kau tokoh utamanya? Tidak, kali ini aku yang akan menjadi tokoh utama. Aku yang akan menjadi pahlawannya, saat dia memanfaatkan tubuhmu untuk menyerang kerajaan Aldwick dan mengalahkan Raja pada saat itulah peranku di mulai. Aku yang akan menjadi pahlawan dan kau akan menjadi penjahatnya. Semua orang akan memujaku dan mereka akan membencimu." Rhodri menyeringai ke arah tubuh lemah Alexis dan segera meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Tak berapa lama seorang gadis muncul dari bawah meja. Dia mengintip sesaat memastikan sudah tak ada orang lain di ruangan tersebut. Setelah memastikan ke adaan aman gadis itu segera keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan mendekat ke arah Alexis. Iris coklatnya mengamati pria itu dengan penuh rasa bersalah. "Maaf, aku harus melakukannya. Aku tidak ingin Robbin menyakitimu." Gumam Ashlyn.
Perlahan tangannya menyentuh jemari Alexis. Membiarkan jemari lentikknya membelai lembut kulit Alexis. Tak berapa lama jemari Alexis berkedut, Aslyn yang terkejut langsung menatap wajah Alexis.
"Aaggrrhhh... " Alexis mengerang kesakitan.
"Kau sudah sadar?" Tanya Aslyn cemas
Tak berapa lama dia membuka matanya, meski samar tapi Alexis dapat melihat siapa gadis di sampingnya. Sesaat dia mencoba bangkit, tapi karena tangan, kaki dan tubuhnya terkunci di sana dia tak bisa bergerak. Alexis terkekeh tak percaya. "Apa sebegitu takutnya kalian padaku?" Gumam Alexis.
Aslyn menunduk dalam. "Ma'afkan aku.. " Gumamnya lirih.
Alexis terdiam sejenak, iria merahnya menatap langit-langit gelap ruangan itu. "Kenapa kau meminta ma'af? Apa karena kau gagal membunuhku?" Alexis tersenyum kecut.
"Akan lebih baik kau mati, dengan begitu aku bisa menyelamatkan Robbin dari niat jahatnya...." Gumam Aslyn.
"Sebegitu berharganya dia untukmu." Alexis melirik Aslyn tajam.
"Tapi... Aku juga ingin menyelamatkanmu, apa aku terlalu serakah?" Aslyn menatap Alexis.
Alexis segera memalingkan wajahnya. "Bukankah itu sifat alami manusia." Jawab Alexis cepat.
Clakkkk...
"Owhhh... Kau sudah sadar rupanya, sepupuku!" Seseorang terlihat masuk ke ruangan itu dengan senyum lebar.
"Ck... " Alexis menatap kesal ke arah Rhodri.
"Bagaimana rasanya dikalahkan? Sebaiknya, mulai biasakan dirimu karena mulai hari ini akulah pemenangnya." kata Rhodri dengan sombong.
"Benarkah? Tapi sepertinya aku masih bisa merasakan ketakutanmu di setiap kata-kata yang kau ucapkan." Jawab Alexis santai.
"Jangan memprovokasiku, aku bisa saja langsung membunuhmu jika aku mau."
"Memprovokasi ya??" Gumam Alexis lirih.
"Sebaiknya aku segera menyiapkan semuanya, untuk perpindahan jiwamu." Rhodri segera berbalik untuk keluar dari sana. "Ashlyn, sebaiknya kau juga segera keluar dari sini. Sebelum aku melakukan sesuatu..."
Aslyn menunduk dalam. "Aku akan segera menyusulmu." Gumamnya lirih.
__ADS_1
Iris coklat Aslyn menatap Alexis penuh rasa penyesalan. "Ma'af, hanya itu yang bisa aku lakukan... " Gumam Aslyn sebelum dia pergi.
Alexis terdiam menatap punggung Aslyn yang mulai menjauh.