setan kecil

setan kecil
part 11


__ADS_3

"Raja dari Malbork tidak memberi izin pencarian?" Tanya Devian seakan tak percaya. "Kenapa? Bagaimana dengan hadiahnya?" Tanya Devian menatap utusannya yang baru pulang dari kerajaan Malbork.


"Dia mengembalikan semuanya." Jawab pemimpin utusan itu.


"Aku sedang berbaik hati menawarkan perdamaian tapi dia menolaknya." Devian menatap kesal pada para utusannya.


"Sejujurnya ada sesuatu yang aneh dengan Raja Al." Kata salah satu orang di sana.


Devian menatap salah satu bawahannya itu heran. "Apa maksudmu?"


"Saya merasa pernah melihatnya, tapi saya tidak yakin." pria itu terlihat ragu-ragu.


"Panggil Torn untuk menemuiku hari ini, jika Malbork tidak mengijinkan kita untuk melakukan pencarian maka peperangan tak bisa dielakkan lagi." Devian menatap orang di ruangan itu bergantian.


"Ta.. Tapi Yang Mulia, peperangan bukan jalan yang terbaik."


"Dengar, jika dalam waktu kurang dari satu minggu kalian tidak mendapat informasi apapun tentang keberadaan anak pembangkang itu kalian juga akan mati. Aku tidak peduli, jika aku harus meratakan seluruh dunia untuk menemukan anak itu aku akan melakukannya." Kata Devian marah. "Sebaiknya kalian segera pergi, sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kalian bayangkan."


"Ba.. Baik Yang Mulia!!" Dengan cepat mereka segera keluar dari ruangan itu.


*****


Alexis duduk di singgasananya yang cukup megah. Dia menopang dagunya dengan tangan kanannya. Sesekali iris merahnya melirik kearah para pejabat yang duduk di masing-masing kursi mereka yang terlihat lebih rendah dari singgasana Alexis.


"Ada masalah lain?" Tanya Alexis lesu. "Atau pendapat lain dan juga laporan lain?" terlihat Alexis menguap membuat matanya sedikit berair. "Kalian tahu, ini pertemuan paling membosankan yang pernah aku hadiri?" Kesal Alexis. "Ayo, kita akhiri saja, Aku ingin istirahat." Sambung Alexis seraya berdiri dari singgasananya.


"Ya.. Yang Mulia!" Panggil salah satu pejabat ragu.


Alexis menatap pejabatnya itu. "Ada apa?"


"Ru.. Rumor tentang buronan dari Lucery telah menyebar, sebagian rakyat khawatir jika.... "


"Itu berita bohong." Potong Alexis dengan nada datar. "Aku tidak ingin mendengar tentang kerajaan itu lagi atau apapun tentang mereka. Sebaiknya, kita akhiri pertemuan hari ini." Alexis segera melangkah pergi dari ruangan itu di ikuti oleh para pejabat kerajaannya.


Alexis duduk di salah satu kursi di dalam kamarnya, matanya terpejam meskipun dia tidak tidur. Tarikan nafasnya yang teratur, pahatan wajah yang terlihat sempurna.


"Pangeran!" Howen menunduk memberi hormat pada Alexis.


Tapi, Alexis sama sekali tidak merespon. Howen menatap wajah Alexis yang kini sedang tertidur.


"Sebaiknya, anda istirahat sejenak." Gumam Howen lirih.


*****


Seorang gadis tengah berlari tergesa-gesa menyusuri jalanan gelap hutan. Rambut coklat panjang terurai dan terlihat kusut dengan dedaunan yang terselip di beberapa bagian rambutnya. Sebilah pedang di genggaman tangannya, sayatan luka senjata tajam nampak masih mengucurkan darah segar dari lengan kanannya. Iris coklatnya sesekali melirik dengan waspada ke segala penjuru kalau-kalau ada seseorang yang mengikutinya.


Sesaat dia bersandar di balik pepohonan besar, dia kembali menoleh kebelakang dengan gelisah berharap tak ada seorang pun mengejarnya. Dengan nafas terengah-engah dia merosot ketanah. Dari sakunya gadis itu mengeluarkan sesuatu, sebuah kain putih yang sudah mulai usang dengan warna yang pudar. Dengan cekatan tangan mungilnya segera mengikat bagian atas lukanya.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Aslyn!!!" Sebuah suara keras sukses membuat gadis itu terlonjak kaget.


"A.. Apa yang kau lakukan disini?" Omel gadis itu, ekspresi terkejut masih belum hilang dari wajahnya.


"Aku ada urusan di sekitar sini, dan aku sedikit merindukanmu. Jadi, aku menyempatkan diri mampir kerumahmu. Tapi, kau tak ada disana dan disini aku menemukanmu." Jawab Pria itu dengan senyum tulus.

__ADS_1


"Diamlah, setidaknya bantu aku pulang dari pada kau terus bicara. Kau sama sekali tidak berubah." gadis itu mengulurkan tangannya pada si pria di hadapannya.


Dengan tersenyum dia meraih tangan gadis itu dan membantunya berdiri. "Aku akan mengobati lukamu dulu sebelum pergi." Tawar pria itu tulus.


"Kau tidak sibuk? belakangan ini kau melupakanku Robbin?" Aslyn menatap iris abu-abu pria di sampingnya dengan tersenyum getir.


"Hanya kau yang selalu memanggilku Robbin, aku tidak melupakanmu sama sekali. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu!" Robbin menatap Aslyn serius. "Ini tentang kematian keluargamu." Aslyn seketika membeku menatap temannya itu.


******


Tok... Tok.. Tok..


Terdengar suara pintu yang di ketuk. Mata dengan iris merah perlahan terbuka begitu mendengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya.


"Masuklah!!" perintahnya singkat.


Seorang buru-buru masuk dan memberi hormat padanya.


"Yang Mulia Alexis, kerajaan Lucery datang lagi bersama beberapa pasukan." Lapornya dengan wajah panik.


Alexis tersenyum miring. "Lebih cepat dari perkiraanku." Gumamnya lirih. Alexis segera bangkit dari tempat duduknya. "Sebaiknya, aku segera menyambut semua tamuku."


"Tunggu, Yang Mulia! Anda tetap disini, saya dan pasukan akan menyelesaikannya, hanya katakan saja apa rencana anda." Pria itu menunduk memohon.


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan melihat mereka bersama Howen." Alexis segera melangkah keluar ruangannya.


Tak berapa lama Howen muncul di samping Alexis. "Anda mencari saya, Pangeran?"


"Ayo, Howen!! Sepertinya kita akan dikunjungi oleh keluarga." Alexis segera berjalan mendahului Howen.


*****


"Kami tidak akan membiarkan kalian masuk, apa kau pikir hanya Lucery yang memiliki pasukan?" Penjaga itu melirik kearah atas Benteng sepanjang perbatasan.


Puluhan pasukan pemanah berjejer di sepanjang Benteng dengan busur yang siap di lepaskan, hanya tinggal menunggu aba-aba.


"Akan aku berikan satu kesempatan lagi padamu, buka pintu ini dan peperangan tidak akan terjadi." Torn kembali memberikan peringatan.


"Raja sudah membuat keputusannya, jangan harap kau bisa melewati pintu ini." Penjaga itu menatap tajam kearah Torn.


"Baiklah, aku sudah memberimu kesempatan." Torn berbalik kearah pasukannya.


Namun, dengan gerakan cepat Torn menyerang penjaga gerbang utama Malbork dengan tendangan memutar. Si penjaga pun terpental menerima serangan yang tidak sempat dia hindari. Si penjaga meringis kesakitan dan berusaha berdiri.


Seluruh pemanah bersiap mengarahkan busur mereka pada Torn yang telah menyerang rekannya. "Tahan serangan kalian!" terdengar suara lantang yang baru saja keluar dari pintu gerbang.


Dengan langkah santai Alexis melangkah keluar gerbang bersama Howen. "Bagaimana jika kau langsung saja berhadapan denganku?" Tawar Alexis saat Torn berbalik menatap kearahnya.


Torn mengernyitkan dahinya, sesaat dia kebingungan melihat Howen berada di sana. Tapi, melihat orang yang berdiri di hadapannya dengan angkuh membuatnya teringat dengan seseorang yang ia kenal.


"H... Howen, di.. Dia.. " Torn terlihat terkejut dan sesaat kemudian dia telah membungkuk memberi hormat. Membuat penjaga perbatasan di sana terlihat keheranan.


"Apa kabar paman?" Sapa Alexis dengan tersenyum miring.


"Ma.. Maaf saya membuat sedikit kekacauan."

__ADS_1


Alexis menatap kearah pasukan yang dibawa oleh Torn. "Kau bahkan membawa pasukan bersamamu."


"Karena itu saya minta ma'af." Jelas Torn.


"Sebaiknya kita bicara di istanaku." Ajak Alexis.


"Istana?" Torn mengernyitkan dahinya sambil melirik Howen.


*****


Alexis duduk sambil menyilangkan kakinya, Howen berdiri tepat di sampingnya. Sedangkan Torn duduk di seberang kursi Alexis, menatap Pangeran yang sudah lama tak di temuainya.


"Sepertinya Howen, menjagamu dengan baik." Torn melirik kearah Howen.


Alexis tersenyum simpul. "Dia melakukan segalanya untukku, bahkan dia membantuku mendapatkan tahta dan istana ini dari meja judi. Bukankah, aku hebat?"


Torn mengangkat sebelah alisnya heran seakan menuntut sebuah penjelasan dari lawan bicaranya.


*flash back*


Suara musik yang cukup keras memenuhi seluru ruangan. Orang-orang dengan pakaian rapi layaknya bangsawan-bangsawan kaya. Beberapa dari mereka duduk di sudut ruangan dengan di ampit wanita-wanita dengan pakaian minim dan sexy. Botol bir di dalam genggaman mereka, suara tawa keras sesekali terdengar.


Di bagian lantai dua sebuah ruangan dengan beberapa set meja judi di tata sedemikian rupa. Beberapa orang mulai bertaruh, jika di lihat seksama bukan hanya manusia yang berada di sana. Ada beberapa iblis juga menikmati ke senengan dunia bersama para manusia.


"Hahaha.. Aku menang lagi darimu." Terdengar ledakan tawa penuh kemenangan dari seseorang.


"Tidak.. Kau pasti curang... " Teriak lawannya marah karena kekalahannya.


"Sudahlah, Doughlas terima saja kekalahanmu." Kata lawannya dengan senyum mengejek.


Dengan santai dia mengumpulkan semua kemenangan ia dapat dari meja judi.


"Tidak, kau curang Darga. Kau pasti curang." Teriak Doughlas semakin tidak terima.


Sesaat mata Darga berpendar merah. "Jangan membuatku marah! Manusia hanya harus menerima setiap kekalahannya." Darga terlihat mulai kesal.


"Bagaimana jika kau melawan orang yang sepadan?" terlihat Alexis berdiri dari kursi di salah satu sudut ruangan.


Seorang wanita terlihat berdiri di sampingnya, menatap Alexis cemas.


"Tuan, dia orang yang berbahaya.. " Bisik gadis itu pada Alexis.


"Benarkah? Sayang, kau tidak perlu cemas aku akan mengambil semua yang ia miliki." Alexis mengedipkan sebelah Matanya.


Dengan santai Alexis menghampiri kursi Doughlas. "Menyingkirlah!" Perintah Alexis datar.


Sontak Doughlas langsung bergeser. "Apa kau takut, Raja Darga?" Tanya Alexis dengan senyum mengejek.


"Kau pikir aku takut pada anak ingusan sepertimu?" Darga langsung kembali duduk di kursinya.


Alexis tersenyum. "Howen!" Panggilnya.


Tak berapa lama Howen muncul tepat di samping Alexis, membuat Darga terkejut menatap kearah lawannya.


"Bagaimana? Bisakah kita memulainya?" Tanya Alexis menantang.

__ADS_1


__ADS_2