setan kecil

setan kecil
part 37


__ADS_3

Alexis membaringkan tubuh lemah Aslyn, darah segar perlahan mengalir dari luka di punggungnya.


"Panggilkan tabib!!" Perintah Alexis.


Beberapa penjaga langsung berlari kearah garis belakang, dimana para tabib berada. Tangan Aslyn perlahan bergerak menyentuh wajah Alexis yang tertutup noda darah kering dan juga debu.


"Kau tetap saja terlihat luar biasa." Gumam Aslyn lemah dengan tersenyum. "Alexis... Meskipun kau ....tidak ingin menemuiku, tapi di kehidupan selanjutnya aku.. Yang akan.. Menemuimu... Entah aku atau kau yang tidak bisa mengingatnya... Tapi... Aku berjanji, di kehidupan selanjutnya... Aku hanya akan.. Mencintaimu... Meskipun kutukan ini ak... An membunuhku....ber... Ulang kali" Nafas Aslyn mulai tersengal.


Darah terus mengalir dari lukanya, Alexis mencoba menahan air matanya. "Berhenti bicara, biarkan tabib datang. Simpan sedikit tenagamu." Alexis perlahan mengusap cairan bening yang mengalir membasahi pipi putih Aslyn.


"Aku... Mencintaimu... " Bisik Aslyn.


Tato di belakang telinga Aslyn perlahan berpendar, perlahan tubuh Aslyn menjadi transparan seperti air dan menjadi butiran-butiran air berkilauan yang perlahan mengalir ke dalam tanah.


Alice, berjalan perlahan menghampiri putranya yang duduk terdiam membeku, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Perlahan Alexis mendongakkan kepalanya menatap ke arah Howen dan juga Alice. "A... Apa yang baru saja terjadi?" Gumam Alexis seakan tak percaya.


"Pangeran!!" Gumam Howen.


Jemari lentik Alice perlahan meraih putranya, dia berlutut di hadapan Alexis dan memeluknya dengan erat. "Tidak, apa-apa. Menangislah, ibu akan menyembunyikan semua rasa sakitmu!!"


Perlahan tubuh Alexis bergetar, sesekali isak tangis terdengar. Alice perlahan menepuk lembut punggung putranya. "Tidak apa-apa!!" Gumam Alice mencoba untuk menahan air matanya.


Devian hanya berdiri menatap istri dan anaknya. Beberapa tentara yang di bangkitkan Rhodri hancur menjadi debu menyatu dengan tanah di sana. Devian mengedarkan pandangannya menatap beberapa panglima yang mendampinginya.


"Perintahkan, seluruh pasukan untuk kembali. Peperangan ini telah kita menangkan secara tak terduga." Kata Devian sambil menatap punggung istrinya.


Devian mengedarkan pandangannya, menatap tubuh Rhodri perlahan dia berjalan menghampiri tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


Devian meraih kalung di leher Rhodri, mengamati kalung yang retak. "Kau pikir kau sudah menang?" Terdengar suara Adrian. "Aku hanya perlu mencari tubuh pengganti... "


"Aku rasa kau salah, kau akan tersegel disini selamanya tak akan ada satupun yang bisa mengeluarkanmu dari sini." Mata Devian berpendar.


Tanah bergetar dan perlahan terbelah menjadi dua. Dari dalam tanah lava panas mengalir bagai sungai dengan air yang menyala kemerahan sesekali kobaran api terlihat menjilat keluar.


"Bagaimana menurutmu?" Devian menyeringai. "Ini akan menjadi rumah barumu, tak akan ada iblis atau manusia yang bisa membawamu keluar dari sana."


"Kau tidak akan berani melakukannya?" Kata Adrian mulai panik.


"Aku tidak butuh keberanian untuk melakukan ini." Devian melempar kalung tersebut.


Perlahan larva mulai menelan kalung itu. "Kau akan menyesal Devian... Kau... "


Suara Adrian tidak terdengar lagi saat tanah kembali menyatu. "Akhirnya kedamaian." Gumam Devian.


******


"Apa dia baik-baik saja?" Terdengar suara lembut Alice.


Ekspresinya terlihat khawatir, sesekali dia melirik ke arah putranya yang tengah terlelap.


"Pangeran, baik-baik saja dia hanya... "


"Tapi, bagaimana luka di wajahnya? Tangannya juga banyak luka? Apa kepalanya juga akan baik-baik saja?" Tanya Alice semakin panik.


"Yang Mulia.... "


"Seharusnya lukanya sudah sembuhkan, Devian juga cepat sembuh. Bagiamana jika lukanya sangat parah?"

__ADS_1


"Bu... Bisakah, ibu membiarkan aku sendiri." Gumam Alexis.


"Kau sudah sadar? Kenapa terus memejamkan matamu? Kau membuat ibu cemas. Katakan bagian mana yang sakit? Kau ingin sesuatu? Kau butuh sesuatu?"


Alexis menghela nafas.


"Dia bukan anak kecil, biarkan dia istirahat. Sejak tadi kau sama sekali tidak memperdulikan aku." Terdengar suara kesal Devian yang baru saja masuk.


Alexis mengubah posisi tidurnya membelakangi sang ayah. Alice terlihat menghela nafas. "Baiklah, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan." Alice tersenyum mengusap kepala Alexis. "Ibu akan segera kembali."


Alice pun beranjak berdiri meninggalkan Alexis sendiri. Sesaat Alexis terdiam, dia menyentuh rambutnya. "Ini juga bukan mimpi, apa aku tidak bisa memiliki semuanya?" Gumamnya lirih.


******


Di dalam ruangan besar, dengan perapian dan jendela besar. Alice dan Devian duduk berjauhan, suasana canggung terasa memenuhi ruangan. Alice terus menatap tajam ke arah suaminya.


"He'em, apa matamu tidak lelah?" Tanya Devian.


"Aku rasa aku memiliki kekuatan yang cukup untuk terus menatapmu." Kata Alice dengan nada kesal.


"Kau marah?" Tanya Devian tak percaya. "Kau baru saja bangun dan sudah marah padaku?"


"Kau baru saja menempatkan putramu dalam bahaya, apa kau tidak sadar?" Tanya Alice meninggikan nada suaranya.


"Dan apa kau sadar kau bicara dengan siapa sekarang?" Devian juga mulai meninggikan suaranya.


"Maaf, saat ini aku tidak sedang bicara dengan seorang Raja tapi aku sedang bicara pada suamiku ayah dari putraku." Alice melesat ke arah Devian, mencengram kuat kerah leher Devian dengan tatapan tajam. "Jelaskan semuanya!!!" Perintah Alice.


"Hei, kau jadi semakin sexy saat marah!! Turunkan tangamu, akan aku jelaskan tanpa kau harus berbicara kasar seperti itu. Cobalah untuk menaha emosimu." Devian meraih tangan istrinya.


Terlihat cahaya kebiruan, muncul dari sela genggaman tangan mereka. Emosi Alice perlahan mulai mereda. "Merasa lebih baik?" Tanya Devian dengan suara lembut.


"Pasti berat, ini hari pertamamu menjadi iblis. Emosi akan terus mengusai hati iblis, karena itu sumber dari kehidupan dan kekuatan iblis." Devian mengusap lembut Kepala istrinya.


"Rasanya seluruh tubuhku terbakar begitu juga hatiku." Gumam Alice. "Ini seperti bukan diriku."


"Tidak apa-apa! Kau akan mulai terbiasa." Devian mengecup lembut punggung tangan istrinya.


"Anda tidak marah lagi padaku?" Gumam Alice. "Aku bahkan sudah lupa, kapan kejadian itu?"


"Akulah yang bersalah, tidak seharusnya aku meninggalkanmu di saat yang sulit." Gumam Devian dengan nada menyesal.


*flash back*


17 tahun yang lalu.... 5 bulan sebelum Alexis lahir...


Alice berlari penuh semangat melintasi setiap lorong-lorong panjang dalam bangunan kastil tinggi kerajaan Aldwick.


Brakkkkk....


Pintu terbuka lebar, ruangan di penuhi oleh pejabat tinggi kerajaan yang tengah menghadiri pertemuan penting.


Semua orang dalam ruangan serentak berdiri membungkuk memberi hormat pada Alice. Devian terlihat menatap istrinya dari singgasananya.


Alice berlari cepat ke arah Devian, tapi saat dia menaiki beberapa tangga kakinya tersandung membuat gadis itu hampir terjatuh. "Awas!!" Terdengar suara Devian yang terkejut.


Terdengar suara beberapa orang yang terkekeh saat melihat kejadian itu. Devian menatap tajam ke arah bawahannya membuat suasana kembali diam. Alice mendongak memamerkan senyumannya.

__ADS_1


Devian segera melangkah turun, meraih tangan istrinya. "Tidak biasanya kau menyusulku dalam.... "


"Aku hamil!!" Lirih Alice dengan senyum cerah.


Devian membeku, wajahnya berubah pucat pasi. "Aku awalnya tidak yakin, tapi belakangan ini aku mengeluh mual, pusing, tidak nafsu makan. Lalu aku memangggil tabib istana... "


"T... Tunggu, kau bicara apa??" Tanya Devian seakan tidak percaya.


"Apa anda juga terkejut? Aku juga, aku berniat menunggu anda untuk datang tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Jadi, aku menyusulmu kemari."


"Aiden!!!" Devian berteriak memanggil penasehatnya.


Aiden buru-buru menghampiri Devian. "Iya, Yang Mulia!!"


"Batalkan pertemuan ini!!!" Gumam Devian.


"Apa??" Aiden mengerutkan keningnya. Devian meraih pergelangan tangan istrinya dan menarik tubuh mungil Alice keluar dari ruangan tersebut.


Alice terlihat kebingungan, hingga mereka masuk keruang kerja Devian. Alice menundukan kepalanya dalam. "Apa kau tidak menyukainya??" Gumam Alice kecewa.


Devian menghela nafas, saat menatap wajah sedih Alice. "Tidak... " Terlihat raut kebingungan di wajah Devian. Seakan dia mencoba untuk mengatakan suatu tapi dia tidak tega melihat wajah istrinya.


"Lalu, kenapa???" Tanya Alice menatap Devian dengan mata berkaca-kaca.


"Ahhh, Alice.... " Devian menarik istrinya dalam pelukannya. "Ini... Sangatlah rumit... Tapi, aku ingin... Makluk itu segera disingkirkan... " kata Devian


Alice segera mendorong tubuh suaminya menjauh, matanya membulat sempurna seakan tak percaya apa yang baru saja di dengarnya. "Tidak!!!" Alice memeluk perutnya seakan mencoba melindungi apa yang berada di dalamnya. "Kau sudah gila!!!" teriak Alice. Air mata perlahan turun membasahi pipinya yang putih pucat. "Devian, aku pikir kau adalah malaikat dalam tubuh iblis. Tapi aku salah iblis tetaplah iblis." Alice mundur perlahan dan segera berbalik berlari keluar dari sana.


Braakkkk...


Devian menendang salah satu kursi disana. "Apa kau sadar? Aku berusaha menyelamatkanmu." Gumam Devian.


Di kamarnya Alice terisak, Beryl terlihat berlutut di samping tuannya dengan setia. "Yang Mulia!!" Gumam Beryl sedih.


"Beryl, bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Tabib bilang kalau ini hampir memasuki minggu keduanya, aku bahagia saat tahu akan memiliki bayi. Tapi, suamiku bahkan tidak menginginkannya." Sesekali isak tangis terdengar dari sela bibir Alice. "Beryl, apa dia tidak mencintaiku lagi? Atau dia... "


"Aku mencintaimu!!" Terdengar suara Devian yang baru saja masuk.


Alice segera menyeka air matanya dan menatap waspada ke arah Devian. "Jangan mendekat!!!" Alice memperingatkan.


"Jika kau menginginkan makluk yang kau sebut bayi, kau bisa memilikinya. Sebanyak yang kau mau, aku bisa meminta Aiden mencarikannya." Devian terlihat masih meyakinkan Alice.


Dengan cepat Alice berjalan ke arah Devian.


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi Devian. "Apa kau pikir mereka anak anjing?" Tanya Alice marah.


"Baiklah, jika kau ingin mengandung maka aku akan mencari... "


"Diam!! Apa kau juga akan menyamakan aku dengan pelacur?? Apa yang salah dengan mengandung putramu, putra kita." Air bening kembali meluncur turun dari mata Alice.


"Tidak, aku tidak peduli. Apapun akan aku lakukan untuk menyingkirkan makluk itu?" bentak Devian.


"Apa sebegitu bencinya kau padanya?" Pekik Alice.


"Ya!! Jadi jangan keras kepala dan dengarkan aku!!" Bentak Devian.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau membenci makluk tak berdosa... "


"Karena dia bisa membunuhmu!!!"


__ADS_2