
Tes....
Suara tetesan air jatuh menimpa air tenang, menimbulkan riak melingkar di atas air. Gelap, tak ada apapun yang dapat di lihat.
Tubuh Alexis melayang di udara, darah mengucur dari sela bibirnya. Perlahan tangan-tangan merah muncul dari tanah mencoba menggapai tubuh Alexis.
"Hentikan... " Terdengar teriakan samar seseorang. "Alexis, buka matamu... Kau bilang kau kuat.. Alexis... Kau harus bangun....." Suara itu terdengar berulang kali dalam benak Alexis. "Alexis.... " teriakan terakhir yang begitu keras membuat Alexis terbangun dari tidurnya.
"Hah.. Hah.. Hah.. " Alexis terbangun dengan nafas tersengal, keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. "Aku tertidur lagi." Gumamnya lesu. Dengan langkah gontai dia bangkit dari tempat tidurnya. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat Aslyn tengah berdiri di ambang pintu memperhatikannya.
"Ahh, aku lupa kalau aku membawamu kemarin." Alexis menatap Aslyn yang tampak heran.
"Kau meracau saat tidur?" Tanya Aslyn tak percaya.
"Hmm.. Itu hanya terjadi saat aku kelelahan. Aku pikir kau akan kabur." Alexis segera melangkah menuju kamar mandi.
"Kau memintaku untuk ikut denganmu, jadi aku menunggumu." Aslyn menunduk menyembunyikan wajah canggungnya. "Aku akan membuat sesuatu untuk sarapan, tapi... "
"Tidak perlu, Howen akan menyiapkannya." Alexis masuk kedalam kamar mandi.
Aslyn berjalan menuju kursi, dia duduk kembali dan mengamati seluruh ruangan itu. 'Sebenarnya apa yang aku lakukan disini.' pikirnya.
Clak..
Seseorang membuka pintu kamar, Aslyn menatap orang yang baru saja masuk. Howen menunduk memberi hormat, membuat Aslyn berdiri canggung dan memberi hormat juga. Howen membawakan beberapa roti untuk Alexis dan Aslyn.
"Anda tidak duduk?" Aslyn menatap Howen yang berdiri di depan pintu kamar Alexis.
"Saya sedang bertugas." Jawab Howen singkat.
Tak berapa lama Alexis keluar dengan rambut basah dan kemeja putih yang tidak di kancingkan. Perut sixpack terpampang jelas di depan mata Aslyn. Sesaat mata Aslyn melihat otot perut tersebut namun dengan cepat gadis itu menundukkan kepalanya.
"Kau kenapa?" Tanya Alexis pada Aslyn.
"Ka.. Kau.. Bajumu.. "
"Ahhh, kau menyukainya?" Alexis meraih sebuah roti dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Yang Mulia, sebaiknya anda duduk dan menikmati makanan anda." Howen menyarankan.
"Bagaimana aku bisa menikmati makananku, jika dia tidak nyaman denganku?" Alexis menunjuk kearah Aslyn.
"Gadis mana yang akan bisa makan dengan nyaman dengan pemandangan seperti itu." Aslyn membuang muka kesal.
"Kau hanya tinggal mengatakan, kalau kau menyukainya." Goda Alexis sambil menggigit rotinya untuk kesekian kalinya. "Kemana kita akan pergi?" Alexis menatap Howen.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Ke daerah Utara, ujung daratan ada di sana. Di penuhi karang-karang tajam dan ombak besar itu adalah Sarang para duyung." Howen menjelaskan.
"Bagus, ayo bersiap-siap. Sebaiknya kau juga makan nona, karena kita tidak tau kapan bisa makan lagi." Alexis meraih satu roti dan memberikannya pada Aslyn.
Aslyn menatap Alexis dan mengambil Roti dari tangannya. Alexis tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "Aku akan menjagamu."
Entah mengapa tapi wajah Aslyn sedikit memerah dan dengan canggung dia menggigit roti ditangannya.
*****
Sepuluh orang berbaris di depan seseorang, dia duduk dengan menyilangkan kakinya. Iris abu-abunya mengamati satu persatu dari orang-orang itu.
"Kalian sudah ku siapkan untuk hari ini. Cari tau kemana perginya Alexis, berikan aku laporan setiap hari. Jangan sampai kalian tertangkap atau ketahuan olehnya dan pada saatnya nanti giliranku akan datang. kalian mengerti!" Pria itu menatap orang-orang itu.
__ADS_1
Mereka mengangguk menandakan mereka mengerti perintah yang di berikan oleh sang tuan.
"Bagus, kalian boleh pergi sekarang." Senyum puas terlihat menghiasi wajahnya.
Orang-orang itu langsung pergi keluar meninggalkan pria itu di dalam ruangannya. "Kita lihat saja Alexis siapa yang akan menang pada akhirnya nanti." Gumamnya penuh percaya diri.
"Jangan puas dulu, Rhodri!" Terdengar suara yang memperingatkan.
"Apa maksudmu?" Rhodri menatap cermin di depannya.
"Anak itu bukan manusia biasa, dia... "
"Apa kau meremehkanku? Aku telah berjalan sejauh ini dan kau masih bilang dia lebih baik dariku?" Rhodri menatap cermin di hadapannya emosi. "Kau bahkan tidak lebih pintar dariku."
"Kau benar, tapi tak dapat di pungkiri kalau dia lebih baik darimu. Dia bahkan bisa membuat kerajaannya sendiri." Suara Adrian mengingatkan putranya.
"Diam sebelum kupecahkan kacamu!" Teriak Rhodri penuh amarah.
"Tak masalah, jiwaku bukan di dalam cermin tapi... " Bayangan Adrian dalam cermin menunjuk bagian atas cermin sebuah Batu ruby merah terdapat disana.
"Tanpa aku kau tak bisa melakukan apa-apa." Rhodri mengingatkan.
"Dan tanpa diriku, kau tak akan bisa berjalan sejauh ini." Adrian menyeringai pada putranya. "Jadi, jangan meremehkanku."
Rhodri segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruangannya dengan emosi.
*****
Alexis memandang gadis yang tengah duduk di depannya. Meski dia sering bepergian dengan menunggang kuda, tapi dia belum pernah menaiki kuda bersama seorang gadis sebelumnya.
"Kenapa kau terus menatapku?" Tanya Aslyn tidak nyaman.
"Aku sedang melihat jalanan di depan, jangan terlalu percaya diri." Alexis melirik kearah lain menyembunyikan kebohongannya. "Butuh berapa lama untuk mencapai tempat itu?" Alexis menatap Howen.
"Baiklah, kita akan terus berjalan." Alexis menatap Howen, seakan meminta persetujuan.
"Baik, yang Mulia."
Kuda berlari semakin kencang membelah jalanan hutan belantara. Suara Bintang liar terdengar bersahutan. Howen terus memacu kudanya memimpin jalan dan memastikan keamanan sang pangeran.
Matahari berlahan mulai turun, langit perlahan mulai gelap. Tapi tak ada tanda-tanda Alexis berniat untuk berhenti atau beristirahat sejenak.
Sesaat mata Alexis menatap gadis di depannya. Dia terlihat terkantuk-kantuk.
"Howen, kita istirahat sebentar di sini." Alexis menatap Howen.
Howen segera memperlambat laju kudanya. "Tapi, saya rasa di sini tidak terlalu aman."
"Tidak apa-apa, hanya sebentar aku rasa dia butuh sedikit istirahat." Alexis menatap Aslyn. "Hey!!" Alexis mengagetkan Aslyn yang tertidur di atas kuda.
"Ahh..!!" Aslyn terkejut dan menatap Alexis yang sudah turun dari kudanya. "Apa sudah sampai?" Tanya Aslyn setengah sadar.
"Turunlah sebentar, kita istirahat sebentar di sini." Alexis mengulurkan tangannya membantu sang gadis untuk turun. "Howen, carikan buah di sekitar sini." Alexis melirik Howen dan beralih ke Aslyn. "Kau bisa menunggang kuda?"
"Aku pernah belajar saat masih kecil." Jawab Aslyn.
"Howen, apa daerah ini masih dalam kekuasaan Lucery?" Alexis menatap Howen.
Howen mengangguk. "Masih, tapi apa yang anda rencanakan? Anda tidak ingin mengirim gadis ini ke sana bukan?"
"Tentu saja tidak, manusia tidak boleh berada di sana. Aku hanya ingin meminjam satu kuda lagi dia akan menggunakan kudaku dan aku akan meminjam kuda iblis dari Lucery."
__ADS_1
"Saya yang akan ke sana, anda tetap di sini." Howen langsung menghilang dari sana.
"Ke mana dia pergi?" Aslyn menatap Alexis. "Kalian ini sebenarnya apa?"
"Howen, bisa teleportasi tapi hanya dirinya sendiri dan membuka gerbang menuju beberapa kerajaan iblis." Alexis menjelaskan.
"Dan kau?" Aslyn menatap Alexis penuh tanda tanya.
"Aku? Aku bisa melakukan apa yang di lakukan Howen, tapi teleportasi bukan keahlianku." Jawab Alexis.
"Kau bilang bahwa aku sama sepertimu apa maksudnya?" Tanya Aslyn penasaran.
"Karena kau tumbuh tanpa orang tua." Jawab Alexis singkat.
Aslyn sesaat terkejut dengan jawaban Alexis. "Da.. Dari mana kau tahu?"
"Seorang gadis yang memiliki orang tua tidak akan merampok. Kebanyakan dari gadis-gadis akan di rumah, mendengarkan ibunya dan menjalani perjodohan."
"Apa kau juga tidak punya orang tua?" Aslyn menatap Alexis penuh selidik.
Alexis tersenyum miring. "Apa kau sedang memastikan sesuatu?" Alexis menatap Aslyn. "Aku tumbuh di luar jangkauan mereka." Jawab Alexis kemudian.
"Apa maksudmu?"
Alexis mendekat kearah Aslyn mengamati wajah gadis itu seksama. "Maksudku, jangan terlalu penasaran denganku atau Kau akan jatuh Cinta padaku." Alexis mengedipkan sebelah matanya.
"YA!!! jangan harap aku akan suka pada pria brengsek sepertimu." Aslyn meninggikan nada suaranya dan memalingkan wajahnya yang memerah.
"Kau memanggilku brengsek lagi?" Tanya Alexis tak percaya.
"Kau sudah pernah tidur dengan banyak wanita kan?"
"Tapi aku tidak pernah memaksa mereka untuk menemaniku." Jawab Alexis.
Krakk...
Terdengar suara ranting patah, Alexis menatap waspada ke sekelilingnya. Di genggaman tangannya muncul sebilah pedang keperakan.
"A.. Apa yang... "
"Ssstt.. Diam.. " Alexis berdiri di depan Aslyn.
Ekor matanya menangkap sebuah pergerakan dari arah samping kirinya. Sesaat Alexis hendak menyerang, tapi seseorang telah lebih dulu menyerangnya. Sigap Alexis menggunakan pedangnya untuk menahan serangan senjata orang misterius itu.
"Gyles!" Panggil Alexis.
Iris merahnya menatap tajam ke arah mata lawannya. Seorang pria dengan iris keemasan. Gyles menyeringai pada Alexis.
"Sekarang tanpa pengawalmu kau bukan apa-apa." Senyum puas terlihat menghiasi wajah Gyles.
"Kau salah, tanpa dia aku akan semakin berbahaya." Alexis menyeringai.
Alexis mendorong pedangnya, membuat Gyles terdesak mundur beberapa langkah.
"Baiklah, aku tidak akan menahan diriku lagi." Gyler menatap Alexis penuh amarah. "Akanku rebut kembali kerajaanku dan kehormatan ayahku."
"Baiklah, tunjukkan apa yang bisa kau lakukan. Kecuali banyak bicara." tantang Alexis.
"Hyaaa... " Gyles berteriak sekuat tenaga.
Ledakan kekuatan muncul dalam dirinya, Alexis segera menjauh dari Gyles. Tubuhnya berubah memerah, kaki manusianya berubah menjadi kaki besar dengan cakar besar seperti kaki dinosaurus. Tubuh kekarnya mulai membengkak membentuk otot-otot yang lebih besar sayap tumbuh di punggungnya bagai kelelawar raksasa. Wajahnya semakin menyeramkan, taring besar mencuat keluar dari mulutnya. Dan sebuah tanduk muncul di dahi. Wujud asli dari Gyles pun terlihat. Moster setinggi dua meter lebih berdiri di hadapan Alexis dan Aslyn.
__ADS_1
"Hahaha.. Kau akan mati di tanganku Raja kecil." Suara Gyles menggelegar memenuhi seluruh hutan.