
Alexis duduk dengan dikelilingi beberapa wanita di sekelilingnya, ditangan kanannya dia memegang segelas anggur merah yang tinggal seperempat.
"Tuan, kau begitu tampan, kaya dan juga baik hati. Kenapa kau tidak menikah saja?" Tanya salah satu wanita pada Alexis dengan menggelayut manja di pundak Alexis.
"Aku tampan dan kaya, tapi aku bukan orang yang baik hati. Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan wanita secantik kalian sendiri. Bagaimana jika aku menikah dengan salah satu dari kalian dan menjadikan kalian Ratu di istanaku?" Tanya Alexis dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kyaaaa... Benarkah?" Tanya salah satu dari mereka seakan mencoba memastikan.
"Tapi, aku tidak bisa menikahi kalian semua. Bagaimana ini?" Alexis berpura-pura terlihat kecewa dan murung.
"Lalu, apa anda akan memilih salah satu dari kami?" Tanya salah satu dari mereka dengan manja.
"Jika anda harus memilih wanita seperti apa yang anda inginkan?" Seorang lainnya mengedip manja pada Alexis dengan memainkan jemarinya pada ujung rambutnya yang ikal.
"Aku ingin wanita yang seperti seorang ibu bagiku." Alexis menatap kosong ke bawah. Sesaat dia teringat ibunya.
"Apa kau menyukai seorang wanita yang sudah memiliki anak?" Tanya salah satu dari wanita itu terkejut.
Alexis segera tersadar dari lamunannya dan menatap kearah gadis-gadis disana satu persatu. "Aku menyukai semua wanita cantik disini, aku tidak akan bisa memilih satupun dari kalian karena kalian sangat berharga bagiku." Alexis menunjukkan smirknya yang sukses membuat wanita-wanita itu berteriak histeris.
Tok.. Tok.. Tok..
"Pangeran, sebaiknya anda keluar sebentar." Terdengar suara Howen dari balik pintu.
Alexis segera bangkit dari tempat duduknya yang membuat para gadis terlihat kecewa. "Aku akan segera kembali untuk kalian." Alexis mengedipkan sebelah matanya membuat semua wanita tenggelam dalam pesona bocah remaja itu.
Alexis menatap Howen yang tengah berdiri di depan pintu. "Ada apa lagi sekarang, tak bisakah kalian membiarkan aku bersenang-senang sejenak." Alexis menunjukkan ekspresi memohon.
Howen kemudian mendekat ke arah Alexis dan membisikkan sesuatu. Wajah Alexis mengeras, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Kau yakin, itu mereka?" Tanya Alexis seakan memastikan.
Howen mengangguk mantap. "Saya sudah memastikannya."
"Sebaiknya, kita segera pergi. Sebelum ada yang mengatakan sesuatu pada mereka." Alexis segera melangkah cepat mendahului Howen.
******
"Kami ingin bertemu Raja Malbork, kami ini utusan langsung dari Kerajaan Lucery yang di pimpin Raja Devian." Seorang pria dengan baju Besi tengah menatap penjaga gerbang kerajaan Malbork dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Raja sedang tidak berada di tempat, kalian bisa kembali lagi nanti." Jawab seorang penjaga santai.
"Dengar, kami tidak akan pergi sebelum bertemu Raja kalian." Jawab Pria itu kesal.
"Baiklah, silahkan menunggu." balas sang penjaga santai.
Tak berapa lama pintu gerbang terbuka dari dalam. Seorang iblis berkulit merah, dengan badan kekar, mata ke emasan dengan tanduk hitam di atas kepalanya, berjalan keluar menatap semua utusan yang di kirim Devian dari kerajaan iblisnya.
"Raja Al, memerintahkan utusan dari kerajaan Iblis Lucery untuk menghadap sekarang." terdengar suara lantang dan keras dari sosok iblis besar itu.
Beberapa utusan Devian berjalan mengikuti iblis berbadan kekar di hadapan mereka. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan pintu besar, secara otomatis pintu terbuka lebar dan para utusan berjalan masuk kedalam ruangan itu.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Salam dan hormat kami kepada anda Yang Mulia, semoga anda selalu bahagia." Sapa pemimpin utusan itu dengan memberi hormat.
"Terimakasih." Jawab Alexis datar.
Iris merahnya mengamati ke tiga utusan di hadapannya. 'Kali ini, apa yang kau inginkan ayah.' pikir Alexis.
"Terimakasih untuk hadiah yang kalian berikan, tapi kerajaanku tidak menginginkan semua itu. Jadi, kalian bisa membawanya pulang." Dengan malas Alexis segera beranjak untuk pergi. Sebenarnya dia ingin menghindari mereka.
"Pencarian? Apa yang kalian inginkan dari kerajaan kecilku ini?" Alexis berbalik menatap para utusan Devian penuh selidik.
"Sebenarnya ada seorang buronan yang kabur dan kami harus segera membawanya kembali." Jelas sang utusan berbohong.
Alexis tersenyum kecut. "Ternyata buronan lebih berharga dari pada anaknya sendiri." Gumam Alexis lirih.
"Tidak ada buronan yang memasuki wilayahku." Sahut Alexis datar.
"Tapi, Yang Mulia saya merasa pernah melihat anda." Sahut seorang utusan lain.
Utusan Devian saling berpandangan seakan mengingat kembali wajah yang pernah mereka lihat.
"Itu karena aku suka bepergian ke berbagai tempat, mungkin kita pernah berpapasan sekali." Alexis memberi alasan. "Sudah cukup bukan, bawa barang kalian pergi sekarang dari kerajaanku."
"Ta.. Tapi Yang Mulia, jika anda menolak..."
"Kenapa? Raja kalian akan menyerangku? Aku sama sekali tidak takut. Panglima Barron, bawa utusan ini kelaur dari kerajaanku!!" Alexis segera melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
*****
"Kau sudah mendapatkannya, bahan yang harus kau persembahkan untuk kebangkitanku?" Tanya Adrian pada anaknya tak sabar.
"Apa ayah pikir mencari apel emas dan daging Putri duyung itu mudah. Bahkan semua informasi itu seperti dongeng untuk anak-anak. Apa tak ada yang lebih masuk akal? Seperti kucing hitam atau buah labu. Aku bahkan mulai berfikir bahwa aku sudah gila karena selalu mendengarkan sebuah bayangan dalam cermin." Rhodri mondar mandir dengan kesal.
"Apa maksudmu? Apa kau ingin menghianati ayahmu? Kau tahu, aku adalah kunci dari semua kebahagianmu. Jika aku bisa terbebas, ibumu akan keluar dari penjara dan Devian dia yang akan menggantikan ibumu disana. Ayah memiliki cukup tentara iblis dan jiwa-jiwa yang dipenuhi rasa dendam pada Erebos."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tak bisa mendapatkan informasi apapun tentang semua yang dibutuhkan." Rhodri terlihat frustasi.
"Temui para penyihir kepercayaanku, mereka tinggal bersembunyi di tepi hutan dekat pegunungan di perbatasan kerajaan. Katakan kau Putra dari Raja mereka dan mereka akan membantumu." Adrian menatap anaknya penuh harap.
"Aku akan usahakan, tapi aku masih harus menyelesaikan tugas kerajaanku." Jawab Rhodri sedikit lesu.
"Kau masih memilih Devian dari pada aku ayahmu? Kenapa? Karena dia akan menjadikanmu Putra mahkota? Apa kau yakin? Dia memerintahkan pasukan iblisnya untuk mencari anak itu." Kata Adrian marah.
"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin? Raja Devian tidak pernah membicarakan apapun tentangnya." Rhodri menatap ayahnya tak percaya.
"Apa kau meragukanku? Aku dapat mengetahui apapun yang terjadi di kerajaan iblis maupun di tempat ini?" Adrian menatap sinis pada Rhodri. "Semua terserah padamu, percaya pada ayahmu sendiri atau pada orang yang suatu saat akan membuangmu." Adrian merendahkan suaranya membuat Rhodri berfikir kembali tentang apa yang dikatakan ayahnya.
"Lalu, bagaimana aku mencegahnya kembali?" Tanya Rhodri kemudian.
"Temukan dia sebelum Devian itu satu-satunya jalan untuk menjaga posisimu tetap aman." Adrian tersenyum lebar memandang Rhodri.
*****
Alexis mondar-mandir di dalam ruangannya dengan gelisah. Sesekali Raja yang terlampau muda itu terlihat menggigit bibir bawahnya, menampakkan gigi taringnya yang pendek.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" Tanya Howen cemas.
"Aku hanya penasaran, apakah ada buronan Kerajaan Lucery yang benar-benar kabur? Tingkat keamanan penjara bawah tanah cukup ketat, jika buronan itu bisa kabur dia bukan iblis sembarangan. Dia bisa mengancam ke amanan kerajaanku. Bukankah begitu, Howen?" Alexis menatap Howen seakan ingin memperkuat argumennya.
"Akan sangat sulit keluar dari penjagaan di penjara Lucery, pintu besi pada setiap sel di segel langsung oleh kekuatan Raja. Jika mereka bisa keluar Raja Akan langsung merasakannya. Pintu hanya bisa terbuka atas perintah Yang Mulia Raja dan keturunannya, selain itu besi sel tidak bisa dihancurkan dengan senjata apapun." Jelas Howen.
"Penjagaannya juga cukup ketat, setelah Seekor Hellhound kakek dicuri olehnya." Imbuh Alexis. "Apa yang utusan katakan itu adalah bohong dan dia mencoba untuk menyerang kerajaanku?" Alexis kembali berfikir.
"Yang Mulia Devian akan langsung menyerang tanpa peringatan jika tujuannya adalah memperluas kekuasaan." Howen menambahkan.
Alexis menghela nafas panjang dan menatap keluar jendela. Memandang langit kemerahan yang berada diluar kerajaannya. Mencoba menerka apa yang mungkin ayahnya inginkan...
__ADS_1