
Terlihat seseorang berjalan diantara kerumunan orang dengan memakai jubah usang berwarna kecoklatan terdapat beberapa tambalan di beberapa bagiannya. Kepalanya tertutup dengan tudung jubah hingga wajahnya tidak terlihat. Sesekali tanpa sengaja dia menabrak orang yang lewat, tapi dia mengabaikannya dan tetap berjalan. Langkah kakinya terus berjalan hingga memasuki gang kumuh yang sempit. Lalu tangannya dengan sedikit gemetar mengetuk pintu kayu di depannya.
Tok... Tok.. Tok..
Orang itu dengan sabar menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuknya.
Krieett...
Terdengar suara pintu kayu tersebut terbuka. Seorang pria terlihat mengintip dari balik pintu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya pria itu setengah panik.
"Ini aku, Bernett." Orang itu mengintip dari balik jubahnya, melihat orang dihadapannya.
"Aku tahu, cepat masuk sebelum penjaga menemukanmu." omel pria itu.
"Bagaimana, kau sudah menemui mereka?" Tanya tuan Bernett begitu masuk ke rumah orang tersebut.
"Mereka akan melakukannya jika, kau sudah menyiapkan semua syaratnya." Gumam Pria itu.
"Syaratnya akan segera siap, suruh mereka menyiapkan upacaranya."
"Upacaranya tidak bisa dilakukan begitu saja. Mereka masih harus menemukan waktu yang tepat untuk melakukan upacara itu dan lagi persiapannya tidak semudah itu."
"Baiklah, akan ku berikan semua yang mereka butuhkan asalkan
Adrian bisa kembali lagi." Bernett menatap tajam lawan bicaranya.
"Sebaiknya, kau segera pergi. Sebelum pihak keamanan menangkapmu."
Bernett kembali memakai tudung jubahnya dan keluar dari rumah orang tersebut. Bernett terus menundukkan kepalanya, melewati jalanan ramai hingga dia melihat kerumunan orang-orang didepan papan pengumuman. Penasaran, Bernett berjalan kearah kerumunan dan mencoba menerobos barisan orang-orang itu untuk melihat pengumumannya. Sebuah gambar sketsa wajah dipasang di sana dan juga tulisan pengumuman.
Pengumuman
Barang siapa yang melihat anak dengan ciri-ciri diatas, harap segera di bawa ke istana. Akan diberi hadiah yang dapat membawanya hidup-hidup dan tanpa luka kehadapan Raja.
Pengumuman itu dijaga oleh dua orang penjaga di sampingnya. Terlihat beberapa orang mendekati pengawal untuk menanyakan informasi tentang anak itu.
"Maaf, berapa hadiah yang akan diberikan Raja?" Tanya salah seorang pria.
"1000 keping koin emas dan sebidang tanah." Jawab Pengawal itu.
"Siapa anak itu? Kenapa Raja menginginkannya hidup-hidup?" Tanya Yang lainnya penasaran.
"Dia akan dididik dan di latih menjadi pengawal pribadinya dan juga akan dijadikan sebagai kaki tangan Raja." Jawab pengawal itu.
Semua orang berbisik-bisik satu sama lain. Tuan Bernett mendengar dengan seksama. Dia lalu melihat gambar seketsa wajah di sana seksama, mengingat kembali wajah yang tak begitu asing.
"Dimana, aku melihatnya?" Gumamnya penasaran.
Lalu selintas ia melihat seorang anak disampingnya dan sekelebat bayangan cucunya terlintas. Wajah yang di tunjukkan disana adalah wajah cucunya, tak salah lagi. Dengan cepat Bernett segera menyingkir dari kerumunan dan berjalan cepat.
"Tunggu!!" Seseorang berteriak menghentikan langkah pria tua itu.
Bernett berhenti dan menarik tudung kepalanya kebawah untuk menutupi wajahnya dari pandangan penjaga. Meskipun begitu tangannya terlihat gemetar, kalau-kalau dia mengenalinya. Penjaga itu menyipitkan matanya, mengamati pria tua dengan jubah lusuh yang terlihat menunduk dalam.
__ADS_1
"Dimana kau tinggal?" Tanya penjaga itu sambil memiringkan kepalanya berharap bisa melihat wajah pria tua itu.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Di.. Di Desa pinggir hu.. Hutan." Jawabnya gugup.
"Bawa ini, sebarkan pengumuman Raja." Penjaga itu memberikan sebuah kertas dengan sketsa wajah Rhodri.
Dengan tangan gemetar tuan Bernett meraih kertas itu dan dengan cepat kakinya melangkah menjauh dari penjaga itu.
*****
Alexis berjalan mengendap-endap di sepanjang koridor yang sepi. Dia menatap waspada sesekali dia melihat kebelakang. Meskipun dia sudah meminta Howen untuk berjaga-jaga tapi dia masih terus khawatir jika seseorang melihatnya.
Akhirnya dia sampai di pintu yang mengarah ke menara dimana ibunya terbaring. Dia mencoba membuka pintunya, tapi terkunci. Dia mencoba menggunakan pedang yang dipegangnya untuk merusak gagang pintu itu, tapi percuma pintu itu seperti memiliki pelindungnya.
Dengan menghela nafas kesal dia segera melangkah keluar dari sana. Menyusul Howen yang berjaga-jaga dijalan masuk.
"Howen, pintunya dikunci. Aku juga tidak bisa merusak pintunya." Gumam Alexis saat dia berada didekat Howen. "Ayah, pasti sudah mengetahui kalau aku akan datang kesana lagi."
"Apa yang anda lihat disana?" Tanya Howen.
"Ibuku, kau tahu itu." Jawab Alexis.
"Bukan, tapi bagaimana Ratu saat itu?" Howen menatap Alexis penasaran.
"Ibu berada dalam air dan bernafas perlahan. Dia masih hidup, aku harus menyelamatkannya." Alexis menatap Howen tajam.
Howen terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu.
"Saat ini seluruh sketsa wajahnya telah disebar, saya belum menemukan informasi apapun. Tapi, Saya mendapat informasi jika dia sering mencuri di ibukota."
"Kau punya sketsa wajahnya?" Alexis menatap Howen.
Howen segera mengambil kertas dalam sakunya dan memberikannya pada sang Tuan. Alexis segera membuka kertas di tangannya mengamati wajah di dalam sketsa itu. Alexis segera berjalan cepat menuju keruangan sang ayah.
Beberapa penjaga langsung menghalangi Alexis saat anak itu akan melangkah masuk ke ruangan sang Ayah. Alexis menatap tajam kearah mereka dan tetap berjalan maju hingga seorang penjaga mengajungkan senjatanya kearah leher Alexis. Sigap Howen langsung mengarahkan pedangnya menempel pada kulit leher si penjaga.
"Turunkan senjatamu!" Perintah Howen tajam.
Alexis tersenyum melirik kearah penjaga itu. "Jangan main-main denganku." Gumamnya memperingatkan. Menunjukkan iris birunya yang kini berubah merah.
Alexis dengan santai melangkah masuk di ikuti Howen di belakangnya. Devian yang tengah bekerja langsung menghentikan aktifitasnya, ketika melihat putranya masuk.
"Dimana sopan santunmu? Kau tak menghormatiku sebagai Raja?" Tanya Devian Tajam.
"Lalu, apa ayah menghargaiku sebagai Pangeran?" Alexis melempar kertas di tangannya kemeja kerja Ayahnya. "Jadi, aku tidak harus menjaga sikap lagi bukan. Kau sudah menyatakan perang, Ayah. Kau menahan ibuku dan ingin menggeser posisiku? Aku tidak butuh posisi konyolmu, tapi aku tidak akan memaafkanmu." Alexis menatap tajam Ayahnya.
"Omong kosong macam apa ini!" Devian berdiri marah menatap Putranya yang masih berusia 8 tahun itu. "Jaga bicaramu, kau hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa."
"Begitukah? Jadi, ayah tahu segalanya? Kau merusak mimpiku, kau menghancurkan harapanku. Jangan harap aku akan melepaskan ayah." Alexis berbalik dan melangkah keluar dengan cepat.
Devian melempar barang di mejanya dengan kesal dan marah. "Anak kurang ajar!" Devian menatap tajam kearah Alexis yang kini sudah menghilang dibalik pintu. "Apa itu yang di ajarkan kakeknya di Corfe? Dari mana dia mendapat sifat arogan dan tidak sopannya itu." Omel Devian kesal.
Devian membanting tubuhnya di kursinya. "Kau Yang membunuhnya, anak sialan. Harusnya aku mengatakannya." Gumamnya kesal.
__ADS_1
Alexis berjalan cepat menuju kastilnya, menahan setiap amarah yang ia rasakan saat ini.
"Pangeran, tenangkan diri anda." Howen mencoba meredakan emosi Alexis.
"Ayah, benar-benar ingin main-main denganku Howen. Aku tidak akan membiarkannya." Alexis terus berguman sendiri meluapkan setiap amarah yang ia rasakan.
*****
Bernett baru saja tiba dirumahnya. Dia segera masuk dan menemui putrinya yang tengah menata meja makan.
"Aleysia, ayah membawa kabar baik untuk kita." Bernett dengan semangat masuk dan duduk pada salah satu kursi di sana.
"Kabar baik?" Aleysia mengernyitkan dahinya.
Bernett memberikan selebaran yang ia dapat dari pengawal istana. Aleysia membaca barisan pengumuman di tangannya dengan teliti dan mengamati sketsa wajah di sana.
"Kenapa wajah anak ini mirip Rhodri?" Tanya Aleysia heran.
"Itu memang anakmu."
"Apa!! " Aleysia membelalak kaget. "Ba.. Bagaimana... Apa yang diinginkan Devian? Dia ingin membunuh putraku atau apa?" Aleysia terlihat emosi.
"Aleysia, Devian tidak tahu kalau Rhodri adalah anakmu atau anak Adrian. Mungkin dia melihat Rhodri saat di kota, kita gunakan kesempatan ini untuk membalasnya. Sedikit demi sedikit kita hancurkan Devian dan putranya, saat dia mulai lemah kita akan membangkitkan Adrian dan menguasai Aldwick kembali." Bernett terlihat bersemangat saat mengutarakan rencananya.
"Bagaimana jika ini hanya jebakan Devian? Bisa jadi, dia hanya ingin memancing Rhodri keluar agar dia bisa menangkap kita ayah. Aku tidak akan mengorbankan putraku." Tolak Aleysia.
"Aleysia, bayangkan jika putramu tetap di sini bagaimana dia akan belajar menjadi Putra mahkota kelak saat Adrian bangkit? Dia harus mendapatkan pendidikan istana, mempelajari beladiri dan semua pelajaran seorang pangeran. Jika Rhodri tetap di sini, apa dia akan mampu mengalahkan semua musuh-musuhnya yang semakin tangguh." Bernett terus berusaha membujuk Aleysia. "Lihat saja hadiah yang ditawarkan, kita bisa memperbaiki keadaan kita juga dan Rhodri akan tetap hidup nyaman dalam istana."
"Aku tidak akan menjual putraku." Teriak Aleysia mulai kesal.
"Ibu, apa yang terjadi?" Rhodri yang baru masuk terlihat bingung melihat ibu dan kakeknya yang tengah bertengkar.
"Rhodri, biar kakek jelaskan... "
"Rhodri, jangan dengarkan kakekmu. Cepat masuk ke kamarmu." Perintah Aleysia.
"Tapi.. Bu, apa... "
"Rhodri, jangan membantah cepat masuk." Perintah Aleysia.
Rhodri dengan ekspresi heran masuk kedalam kamarnya. Tak berapa lama terdengar suara pintu di banting. Keadaan dalam gubuk kecil itu mendadak sepi, perlahan Rhodri membuka pintu kamarnya. Dia berjalan perlahan kearah meja makan melihat keadaan sekelilingnya, tak ada seorang pun. Rhodri segera mengeluarkan selembar kertas dari saku di kantongnya, pengumuman yang sama yang dibawa Bernett kerumah.
"Aku harus bagaimana?" Gumamnya lirih. "Ibu pasti tidak akan membiarkan aku pergi, tapi aku membutuhkan pekerjaan yang lebih baik dari pada mencuri. Aku juga bisa mengubah ke adaan ini." Gumamnya.
"Kau benar Rhodri." Sebuah suara mengejutkan Rhodri.
Bernett muncul tiba-tiba di belakang Rhodri. "Pikirkan baik-baik, kau bisa membalas kematian ayahmu dan kau bisa mengubah hidupmu. Devian bukan Raja yang layak untul Aldwick, tapi Adrian yang lebih layak dan kau layak menjadi penerusnya." Bernett mencoba membujuk Rhodri.
Rhodri menatap sang kakek tajam. "Apa maksud kakek?"
"Kau tahu, Devianlah yang membunuh ayahmu dan merebut seluruh kekuasaannya dengan kejam. Membuang seluruh pendukung Adrian, menyiksa dan membunuh mereka semua tanpa ampun. Dia Raja yang kejam, dia adalah keturunan dari Raja Iblis. Tak seharusnya dia ada didunia ini."
Rhodri terlihat memikitkan setiap kata dari sang kakek. Membayangkan bagaimana kekuasaan ayahnya direnggut dan ke adaan mengubah nasib hidupnya.
"Aku akan masuk istana." Kata Rhodri mantap.
__ADS_1