setan kecil

setan kecil
part 19


__ADS_3

Rembulan bersinar lebih terang dari biasanya. Langit terlihat cerah, bintang-bintang menghiasi hamparan langit malam. Semilir angin membawa segarnya bau Lautan, sesekali terdengar suara deburan ombak yang menghantam karang dan tebing dari ujung daratan.


Alexis segera turun dari kudanya, berjalan perlahan mendekat ke arah tepi tebing. Mengamati ganasnya ombak besar lautan di bawahnya.


"Akan sulit untuk turun kesana." Alexis menatap Howen. "Kita harus menemukan salah satu dari mereka dan menjalankan rencananya. Membuat ikatan" Alexis melirik Aslyn.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Aslyn tak terima.


"Gunakan dia sebagai umpan, duyung tidak begitu menyukai perempuan cantik." Alexis melangkah kearah kudanya.


"Kau sudah gila? Kau ingin membunuhku atau apa?" Aslyn menatap Alexis tak percaya.


"Bukankah, akan sangat berbahaya jika mereka tau nona Aslyn adalah manusia fana." Howen memperingatkan.


"Kita hanya perlu menyelamatkannya sebelum mereka menyeret gadis ini ke dalam lautan." Alexis mengambil tali dari tas penyimpanannya.


"A... Apa yang akan kau lakukan?" Aslyn menatap Alexis yang mulai mendekat kearahnya.


"Diamlah, kita butuh umpan untuk memancing." Jawab Alexis bersiap dengan tali di tangannya.


Aslyn berjalan mundur menjauh dari Alexis. "Kau sudah gila!! Dengar kalau kau butuh umpan jadikan dirimu sendiri sebagai umpan." Teriak Aslyn marah.


"Jika aku umpannya, lalu siapa yang akan menangkap buruannya? Jangan konyol diam dan ikuti saja rencanaku." Omel Alexis.


"Dasar pria brengsek!! Apa kau sudah gila? aku tidak akan menuruti satupun perintahmu." Aslyn memperingatkan.


Alexis melirik kebelakang Aslyn. "Sebaiknya kau berhenti... "


"Hah!! Agar kau bisa mengikatku dan melemparku ke laut. Jangan harap..." baru saja Aslyn bicara salah satu kakinya terperosok ke tepi tebing untungnya Alexis sigap menarik tangan gadis itu.


"Aku sudah memperingatkanmu." Alexis tersenyum.


Sesaat Aslyn terdiam menatap wajah Alexis yang begitu dekat. Tapi, saat kesadarannya kembali Alexis sudah berhasil mengikat tangan dan tubuhnya. "Alexis, lepaskan aku!!!!" Teriak Aslyn panik dan terus menggeliat berusaha melepaskan ikatan tali pada tubuhnya.


"Bisakah kau diam!!" Alexis menarik tali yang mengikat Aslyn membuat tubuh gadis itu mendekat pada Alexis.


"Pria brengsek, kau mencoba mencari kesempatan.. " Aslyn berusaha menjauh dari Alexis.


Tapi tangan Alexis menahan pinggang gadis itu dan semakin merapatkan tubuhnya pada Aslyn. "Aku akan menyelamatkanmu sebelum mereka mencelakaimu, yang perlu kau lakukan hanya diam disana dan jangan melakukan apapun." Alexis berbisik ditelingan Aslyn.


Entah kenapa Aslyn merasa benar-benar gugup saat ini. Dia membuang muka dan menatap kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ji... Jika kau tidak menyelamatkanku tepat pada waktunya, aAku akan membuat perhitungan denganmu.... di alam baka." Aslyn memperingatkan.


Alexis mencoba menahan tawanya. "Hmmm.... Kau bisa menungguku disana untuk membalasku." Alexis melepaskan pelukannya di pinggang Aslyn.


Bruuukkk..


"Kyaa.. Dasar pria brengsek!!!" Tubuh Aslyn terjatuh begitu Alexis melepas pelukannya dari gadis itu.

__ADS_1


"Maaf!" Alexis berjalan meninggalkan Aslyn yang berusaha untuk bangkit.


Alexis mengintari tebing di sekita tempatnya berada. "Kau turun dari sini, Howen akan mengawasimu dan aku akan mencoba mencari duyung yang terpisah dari kelompoknya. Kau hanya perlu mengalihkan perhatiannya, selagi aku... "


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Kau benar-benar tidak waras, menyuruh seorang gadis turun ke dalam laut dengan ombak setinggi tiga meter. Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja, hah?" Aslyn menatap Alexis marah.


"Meskipun kau mati, kau tidak akan mati sia-sia." Alexis tersenyum menggoda.


"Haha.. Kau pikir itu lucu !! Meskipun kau bukan manusia, apa kau juga tidak punya hati?" Aslyn semakin emosi.


"Kau membuat telingaku sakit, Howen turunkan dia sekarang." Alexis menatap Howen.


Howen segera mengangkat tubuh Aslyn dan melompat turun. "Kyaaaa...!!" Teriakan Aslyn terdengar cukup keras namun teriakannya akhirnya hilang di kalahkan suara ombak.


Tak berapa lama Howen kembali naik ke atas. Alexis mengamati Aslyn dari atas. Gadis itu di dudukkan di atas karang yang cukup landai. "Alexis.. Akan ku buat kau menyesal!!!" Terdengar teriakan samar Aslyn yang penuh emosi.


"Kenapa anda harus mengikat tubuhnya?" Tanya Howen heran.


"Jika aku tidak mengikatnya, dia pasti sudah menceburkan dirinya kedalam laut. Setidaknya dia akan tetap diam disana, akan lebih mudah menyelamatkannya saat para duyung sadar akan keberadaan kita. Kau awasi dia, jika para mermaid melakukan sesuatu padanya segera bawa dia naik. Aku akan mencoba mencari yang mudah di ajak bicara." Alexis segera melompat turun.


Mata Alexis menatap waspada ke segala penjuru. Deburan ombak yang menghantam tebing dan karang terdengar di segala penjuru. Samar suara teriakan amarah Aslyn terdengar. Membuat Alexis menghela nafas jengkel.


"Ahhh, keputusan membiarkan dia ikut adalah yang terburuk. Apa dia tidak lelah terus bicara seperti itu?" Omelnya frustasi.


"Itu meraka!!" Alexis tersenyum penuh semangat.


Mereka berenang cepat menuju kearah Aslyn. "Duyung tidak begitu menyukai wanita, karena terlalu banyak wanita dalam kelompok mereka dan saatnya untukku menemukan satu yang paling menarik."


Pada saat Alexis melihat satu duyung yang berenang di bagian terakhir dia langsung melompat ke dalam air.


Byurrrr...


Alexis menjatuhkan dirinya dalam ombak, menahan tubuhnya agar tidak terbawa arus ombak yang begitu besar. Samar Alexis menatap seorang duyung berenang kearahnya. Saat itulah dia terlihat terkejut, ombak membawa tubuhnya menghempaskannya ke Batu karang yang keras. Alexis berusaha ke permukaan untuk menghirup oksigen sebelum persediaan dalam paru-parunya habis. Tapi, saat Alexis berusaha berenang ke permukaan ombak menghantam tubuhnya membuat tubuhnya kembali terhempas ke bebatuan.


Alexis pun mulai kehabisan nafas, tangannya mulai menggapai-gapai kepermukaan berharap menemukan pegangan untuknya agar bisa muncul ke permukaan. Tapi oksigen dalama paru-parunya mulai menipis, perlahan gerakan Alexis melemah dan tubuhnya mulai tenggelam.


Saat tubuh Alexis mulai tenggelam, seseorang menggapai tangannya. Menarik tubuh pangeran muda itu kepermukaan dan membaringkannya di atas Batu karang yang landai.


"Uhuk.. Uhuk.. " Alexis terbatuk mencoba mengelurakan air yang hampir masuk kedalam paru-parunya. "Hmm..." nafasnya tersengal-sengal. Perlahan Dia mulai membuka matanya samar dia melihat sosok penolongnya.


Seorang gadis muda dengan rambut ungu dan iris mata kebiruan.


"Kau tidak apa-apa?" suara gadis itu terdengar begitu indah bagai suara dentingan lonceng yang begitu merdu.


"Hmmm... Apa aku di surga?" Tanya Alexis dengan suara lemah, dia berusaha untuk bangun.

__ADS_1


Gadis itu berusaha menolong Alexis, dia menyentuh lengan Alexis dengan tangan yang memiliki selaput. Alexis melirik kearah pergelangan tangan gadis itu, terdapat sisik dan juga sesuatu yang menyerupai sirip disikunya.


"Ja..jangan takut, aku tidak akan melukaimu." gadis itu menatap kearah mana mata Alexis.


"Ma...maaf." Alexis menunduk.


Alexis terlihat terkejut dan mengamati sekelilingnya dengan panik. "Tunggu!!! Dimana perahu dan temen-temanku?"


"Perahu, tidak ada perahu yang lewat sini. Apa terjadi sesuatu?" Tanya gadis itu cemas.


"Aku berlayar kemari untuk menemukan obat. Ibuku hampir mati..." Alexis menunduk fruatasi. "Tapi, aku mengacaukannya. Aku kehilangan kapalku dan juga tidak tahu kemana harus pergi." Alexis terlihat mulai berkaca-kaca.


Gadis itu menatap Alexis iba. "Obat apa yang kau cari?"


"Apel iblis." Jawab Alexis singkat.


"Tidak ada apel iblis di dunia ini." Jawab Gadis itu dengan tatapan hampa.


"Jadi, percuma saja." Alexis tersenyum kecut. "Bagaimanapun aku berusaha, ibuku tetap tidak akan bangun" genangan air mata mulai terlihat di mata Alexis. "Mungkin akan lebih baik jika aku mati disini." Alexis menunduk putus asa.


"Kau bukan manusia?" Gadis itu menatap mata Alexis.


Sesaat Alexis terdiam menatap iris mata gadis di hadapannya. "Kau juga bukan.. "


"Hmm.. " Gadis itu tersenyum. "Aku seekor duyung." Gadis itu menyelam ke dalam laut dan melompat keudara memamerkan ekor ikannya yang berkilau di bawah sinar rembulan.


Alexis mengangkat sebelah alisnya. "Permainan sebenarnya dimulai." katanya dalam hati dengan senyum puas.


Saat Gadis itu mendekat senyum di wajah Alexis menghilang. "Siapa namamu?" Tanya Alexis ragu.


"Aku tidak bisa memberi tahu namaku pada manusia atau orang asing." Gadis itu menunduk sedih.


Alexis mengulurkan tangannya pada sang gadis, membuat lawan bicaranya menatapnya bingung. "Aku Alexis, setangah iblis." Alexis memamerkan senyumannya.


Sesaat duyung itu tersipu dan dengan ragu mengulurkan tangannya yang memiliki selaput. "Aku, Luna!"


"Luna, maukah kau membuat ikatan denganku dan menjadi teman?" iris Alexis bersinar merah.


Iris luna mendadak menatap Alexis kosong dan dia mengangguk mengiyakan. "Bagus, tunjukkan jalan menuju pohon apel iblis. Apa kau tau?"


"Ya, aku tahu. Akan ku tunjukkan jalannya." Jawab luna dengan wajah datar.


Alexis menatap ke atas dimana Howen berada, di sampingnya Aslyn menatap Alexis dengan garang. Alexis menggelengkan kepalanya mengusir setiap pikiran buruk.


"Cepat turun!! Aku menemukan pemandu kita."


Howen segera menyusul Alexis, tidak lupa Aslyn juga ikut dalam perjalanan mereka. Masuk kedalam lautan.

__ADS_1


__ADS_2