setan kecil

setan kecil
part 40


__ADS_3

Alexis memandangi langit-langit kamarnya, sudah hampir empat jam dia membaringkan tubuhnya. Tapi, dia sama sekali tidak bisa menutup matanya.


"Jadi, ada kemungkinan dia akan kembali." Gumamnya. "Aku harus senang atau marah?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


******


Langit Aldwick di penuhi bintang-bintang, Devian menatap langit-langit malam bersama sang istri. "Apa yang anda pikirkan?" Tanya Alice.


"Sekarang aku mengerti apa yang di rasakan ayahku, aku juga melakukan hal yang sama pada anak itu." Devian menatap istrinya dalam.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan?" Tanya Alice.


"Aku terbiasa memperhatikannya dari jauh, saat Malbork mengalami kemunduran karena Rajanya yang suka berjudi. Dia datang padaku dan memintaku untuk membeli seluruh kerajaannya sebelum kerajaan itu jatuh ketangan iblis yang lebih buruk lagi darinya. "


*flash back*


"Aku mohon bantu aku Devian!" kata seorang pria yang terlihat masih berusia empat puluh tahunan.


"Apa yang kau inginkan? Serahkan saja kerajaanmu pada Raja Diomed. Ku pikir dia akan dengan senang hati menerimanya sebagai ganti atas hutang-hutangmu padanya." Devian terlihat enggan menatap pria itu.


"Apa kau gila? Dia sama buruknya denganku, dia akan mempermalukanku di depan rakyatku sendiri. Menjual kerajaanku di meja judi, yang benar saja. Hanya kau yang bisa membantuku, apa kau lupa aku adalah sekutu kakekmu." Pria itu terlihat meyakinkan Devian.


"Baiklah, tapi bagaimana jika kau memberikannya pada anak ini!! Berduel lah dengannya dan mengalah padanya. Pura-puralah mati dan menghilang dari jangkauannya. Anak ini masih sangat naif, buat dia sedikit terluka dan di saat terakhir kau harus kalah." Devian mengangkat sebelah alisnya.


"Kau menyuruhku mengalah pada anak setengah iblis ini? Apa kau bercanda?" Tanya pria itu tak percaya.


"Dia putraku dari istri manusiaku. Jika kau keberatan lupakan saja, kau bisa mengurus sendiri Malbork." Devian terlihat tak peduli.


"Baiklah, akan aku lakukan. Tapi berjanjilah kau harus menjadikan Malbork kerajaan yang lebih baik dan jangan lupa berikan permata-permata itu secepatnya." Pria itu tersenyum.


"Tenang saja, Malbork akan menjadi tempat yang lebih baik." Gumam Devian sembari tersenyum.


"Devian!" Panggil pria itu lagi saat akan keluar dari ruangan besar itu.


"Ada apa lagi?" Tanya Devian.


"Jangan sampai ada orang yang tau tentang hal ini, hanya kau dan aku yang tau." pria itu menatap Devian serius.


"Tenang saja, aku juga tidak ingin anak itu tau jika aku melakukan ini. Jadi, buat dia menggunakan kemampuan terbaiknya." Devian menyeringai.


*flash back end*


"Jika Alexis tau, dia akan... "


"Karena itu aku memilih memperhatikan dari jauh, itu akan lebih baik." Gumam Devian. "Sekarang dari pada membahas itu, bagaimana kalau sekarang kita membahas tentang kau dan aku." Devian melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, menarik wanita itu mendekat ke arahnya.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Alice sedikit malu-malu.


"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?" Tanya Devian balik bertanya.


Dengan mudahnya, Devian mengangkat tubuh ramping istrinya membopong Alice, masuk ke dalam.


Perlahan Devian membaringkan tubuh sang istri, pria itu menatap lekat wajah Alice.


"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Alice buru-buru meraba wajahnya.


"Tidak!" Sigap tangan Devian menggenggam tangan mungil Alice. Wanita itu membeku, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Meskipun Devian telah menjadi suaminya selama bertahun-tahun, tapi entah mengapa setiap bersamanya dia masih saja merasa berdebar dan gugup.


Wajah Alice semakin memerah saat perlahan wajah Devian mendekat ke arahnya, hembusan nafas Devian dapat ia rasakan menerpa wajahnya. Membuat pori-pori wajahnya semakin panas, mamacu jantungnya semakin kuat. Alice memejamkan matanya, satu.... Dua... Tiga... Dalam hati Alice menghitung seakan menunggu apa yang akan terjadi.


"Kenapa kau menutup matamu?" Terdengar bisikan lembut di telinga Alice.


Membuat wanita itu langsung membuka matanya, Devian telah **** tubuh Alice. Wajah Devian tepat berada di atasnya, Alice dapat dengan jelas menatap wajah sempurna suaminya bahkan dari dekat.


"Apa anda sedang menggodaku?" Tanya Alice, bibir mungilnya mengerucut.


"Apa kau kecewa?" Goda Devian.


"Kenapa saya harus kecewa?" Alice berusaha mendorong tubuh suaminya untuk menjauh darinya.


Tapi, bibir Devian mengecup bibir Alice. Membuat mata gadis itu membulat sempurna, ciuman singkat yang hangat. Devian tersenyum menatap istrinya. "Untuk saat ini, ayo kita tidur saja!" Devian merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Tangan kekarnya melingkar memeluk tubuh Alice, mengusir hawa dingin malam menjauh dari tubuh istrinya.


"Anda akan langsung tidur?" Tanya Alice dengan nada sedikit kecewa.


"Hmmm.. Aku lelah! Biarkan aku istirahat." Devian menyembunyikan wajahnya di tengkuk Alice, mencium aroma tubuh istrinya.


"Apa anda masih kesal?" Tanya Alice dengan nada lembut.


Devian menghela nafas panjang. "Aku tidak ingin membuat kesalahan lagi, untuk saat ini aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu. Aku tidak ingin melukai atau memberikan beban lagi untukmu."


Alice hanya diam tak menjawab, malam yang sunyi berlalu begitu saja.

__ADS_1


******


Malam semakin larut, Alexis berjalan keluar kamarnya menatap langit malam di Balkon kamarnya. "Howen!!" Alexis memanggil pengawal setianya.


Tak berapa lama pria berambut hitam muncul di belakang Alexis. "Ya, Yang Mulia!"


"Haruskah, kita kembali ke Malbork?" Alexis melirik ke arah Howen.


"Bukankah itu sudah menjadi kewajiban anda sebagai Raja Yang Mulia." Jawab Howen.


"Entahlah, aku merasa bosan dengan semua ini. Haruskah kita berkeliling?" Tanya Alexis lagi.


"Apa maksud anda?" Howen terlihat mengerutkan keningnya karena bingung.


"Aku ingin mencari suasana baru, aku akan bicarakan ini dengan mereka." Alexis menatap Howen. "Besok setelah acara pesta itu, aku akan bicara pada mereka."


"Apa anda yakin? Saya rasa Yang Mulia Ratu akan sangat sedih." Howen terlihat menatap Alexis ragu.


"Akan lebih baik jika, aku dan dia tidak berdekatan." Alexis terdiam sejenak. Memikirkan seluruh periatiwa yang belakangan ini menimpanya.


******


Di tempat lain, air samudra terlihat lebih tenang dari biasanya. Air laut yang dingin dan gelap, jauh di dalam samudra di titik terendah bumi. Tempat yang tidak pernah terjamah oleh manusia, berkumpul makluk-makluk laut. Seorang pria tengah duduk disinggasananya, rambut perak, dengan iris sebiru samudra, telinga yang menyerupai sirip ikan, wajah keriput tapi tak mengurangi sedikitpun ketampanannya.


Pria berbadan kekar dan memiliki ekor ikan pada bagian pinggang kebawah, di tangan kanannya dia menggenggam trisula yang berpendar kebiruan.


Di hadapannya ratusan makluk laut dengan berbagai wujud berkumpul. Wajah gelisah dan marah terlihat jelas di wajah mereka. Teriakan kemarahan dan kekecewaan terus terdengar bersahutan.


"Kita harus menyerang kerajaan mereka. Hancurkan seluruh daratan. Mereka semua tidak layak untuk hidup." Terdengar teriakan kemarahan dari balik kerumunan makluk-makluk laut.


"LUNA!!!!" terdengar teriakan keras sang raja memanggil nama seseorang.


Seorang duyung berenang perlahan mendekat kearah singgasana raja dengan wajah tertunduk. Iris birunya terlihat memancarkan ketakutan, kesedihan dan penyesalan.


"Ma.. Maafkan aku ayahanda." Gumamnya dengan suara bergetar.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini??" Tanya sang ayah penuh amarah.


"Aku dibawah pengaruh sihir. Dia... "


"Kau tergoda, karena itu sihirnya berpengaruh padamu. Lihat apa yang kau perbuat!!" Teriak Raja penuh amarah.


"Ma.. Maafkan aku Ayah.. " Guman Luna lirih, sorot matanya menunjukkan penyesalan yang begitu mendalam.


"Karena ulahmu, Air danau mengering dan penjaga danau, Putri Miya tewas di tangan manusia. Hidup kita bisa bertahan karena Air danau juga mengalir ke lautan, kau tau kehidupan kita bisa terancam karena kecerobohanmu." Ayah Luna menatap putrinya penuh dengan kemarahan.


"Ma'af Yang Mulia Levi!" Terlihat seorang merman berenang ke arah Ayah Luna dengan terburu-buru.


Sampai di hadapan Raja dia memberi hormat dan mendekat ke arahnya, merman itu membisikkan sesuatu di telinga Raja Levi. Ekspresi Raja Levi sejenak berubah.


Saat merman itu pergi, Raja Levi menatap putrinya dan beralih manatap seluruh rakyatnya.


"Aku baru saja mendapat berita baik dan berita buruk." Raja Levi berbicara lantang di depan seluruh rakyatnya. "Putri Miya meninggalkan kutukan mermaid pada pembunuhnya dan menjadikan dia penggantinya. Tapi, karena dia manusia dia tidaklah berumur panjang dan dia tidak seperti Miya yang bisa membuat air biasa menjadi air yang memiliki kekuatan seperti Danau kehidupan, itu berita buruknya." Raja Levi mengedarkan pandangannya melihat reaksi seluruh rakyatnya. "Sedangkan berita baiknya, Miya meninggalkan jiwanya ke dalam tubuh manusia itu. Jika kita bisa mengeluarkan jiwa Putri Miya dan mencari wadah baru dari kaum kita maka kita bisa menyelamatkan kehidupan seluruh lautan." Kata Raja Levi mengakhiri pengumumannya.


Sorakan makluk laut terdengar begitu antusias. Berbeda dengan luna yang semakin menunduk dalam menyembunyikan wajahnya.


"Luna karena kekacauan ini terjadi karena kelalaianmu maka ada misi khusus untukmu." Raja Levi menatap putrinya tajam.


Luna terdiam dan mendengarkan seksama setiap perintah yang di sampaikan sang ayah padanya.


****


Suara alunan musik lembut terdengar memenuhi ruangan, di tengah aula beberapa pasangan tengah berdansa dengan elegan salah satu dari pasangan itu adalah Alice dan Devian.


Senyum manis terus terlihat di wajah cantik Alice. Sedangkan Alexis terlihat duduk di kursinya yang berdampingan dengan kursi kosong kedua orang tuanya.


Wajahnya terlihat kusut, tangan kanannya menopang dagunya. Sesekali dia menghela nafas berat. Beberapa kali dia mengedarkan pandangannya, menatap beberapa gadis bangsawan yang terus memperhatikannya.


"Yang Mulia!" Howen menghampiri Alexis. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Howen khawatir.


"Aku bosan!" jawab Alexis singkat.


Howen menatap Alexis keheranan. "Ini berbeda sekali dengan diri anda." Gumam Howen semakin khawatir.


"Kau benar." Alexis kembali menghela nafas. "Bagaimana bisa aku mengabaikan semua gadis cantik itu?" Alexis menatap Howen kesal. "Sebelum aku pergi dari sini, setidaknya aku harus menikmatinya." Alexis segera bangkit dari temoat duduknya dan menghampiri para gadis-gadis bangsawan yang sedari tadi memperhatikannya.


Howen berdiri terdiam menatap Alexis yang pergi meninggalkanny. Hingga, seseorang datang. "Seharusnya, kau tidak menanyakan apapun padanya." Bisik Aiden.


"Saya rasa anda benar. Seharusnya saya hanya diam." Gumam Howen menyesal.


Dalam sekejap kesadaran Alexis telah di ambil alih oleh alkohol, di kanan kirinya dia diampit dua gadis cantik nan sexy.


"Apa kalian tidak merasa lelah?" Tanya Alexis pada kedua gadis itu.

__ADS_1


Kedua gadis itu terlihat mulai menempel pada Alexis, wajah mereka bertiga terlihat memerah karena mabuk. "Ayo kita mencari udara segar."


Alexis menggandeng kedua wanita itu keluar dari ruangan tersebut.


Keesokan harinya......


Tok.. Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, tapi pemilik ruangan itu sama sekali tidak bergeming.


"Yang Mulia, Ratu Alice menuju kemari!" Howen membangunkan Alexis dari jauh membelakangi ranjang pangeran muda itu.


Alexis langsung membuka matanya. "Apa?"


Alexis langsung meraih jubah tidurnya, dia menatap sekelilingnya yang terlihat kacau. Dua gadis telanjang masih terlelap di ranjangnya. "Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?" Tanya Alexis kesal.


"Saya sudah berusaha sejak tadi, tapi sepertinya anda kelelahan. Hmm.. Selain itu saya terpaksa harus menerobos masuk karena Ratu telah menuju kemari." Jelas Howen.


Tok.. Tok.. Tok...


Terdengar suara ketukan pintu lagi, Alexis menatap Howen panik.


"Sayang, kau sudah bangun!" Terdengar suara Alice dari balik pintu.


Alexis segera bangun dari tempat tidurnya, membuat kedua gadis yang tengah tidur lelap ikut terbangun.


"Pangeran apa yang.... " sejenak salah satu gadis saling pandang dengan temannya.


"Kyaaaaa.... " mereka berdua berteriak bersamaan.


"Alexis!! Apa yang terjadi??" Terdengar suara panik Alice dari luar.


"Tidak, bu!" teriak Alexis. "Aku... Aku hanya belum berpakaian... Bukan maksudku.. Aku akan segera keluar... " Alexis terlihat semakin panik dan gugup.


"Alexis windsor, sebaiknya buka pintu kamarmu sekarang!!" Perintah Alice mulai tidak sabar.


"Howen lakukan sesuatu!" Perintah Alexis panik.


"Ma'af yang mulia, kurang sopan jika saya tetap disini." Howen melirik ke arah Alexis dan menghilang.


Kedua gadis bangsawan itu buru-buru mencari pakaiannya dan mengenakan pakaiannya secepat mungkin.


Tok tok tok tok....


Suara ketukan pintu semakin keras. "Alexis, jika pintu ini tidak terbuka dalam hitungan... "


"Minggir, biar aku yang membukanya!" Mendadak Devian telah muncul di belakang Alice.


Devian menendang pintu besar kamar Alexis.


Brakkkkk...


Devian menatap Alexis yang tengah duduk di ranjangnya. "Ma'af, karena terlalu banyak minum aku jadi bangun kesiangan."


Devian tak menghiraukan Alexis dan berjalan masuk. "Aku mendengar suara gadis, dimana mereka?" Tanya Alice emosi.


"Gadis? Apa maksudmu, bu? Bagaimana bisa aku membawa.... "


Sraaakkkkk....


Terdengar suara tirai yang di tarik paksa, Devian melirik ke arah putranya. Dua orang gadis bangsawan terlihat terkejut dan langsung menunduk dalam.


"Bagaimana bisa kau membawa mereka?" Tanya Devian dingin.


"Bu.. Aku bisa menjelaskannya.. " Alexis segera beralih pada ibunya.


"Kalian berdua, ikut aku!" Devian segera berjalan keluar, tapi dia berhenti di depan Alexis. "Pakai bajumu dengan benar dan segera temui aku di kasti utama. Sebaiknya jangan buat ibumu menunggu, atau aku akan menyeretmu kesana." Gumam Devian emosi dan segera meninggalkan putranya.


Alexis terus bergumam sendiri, dari wajahnya dia terlihat begitu kesal. Saat dia hendak membuka pintu besar menuju ruang utama kastil ayahnya, dia terlihat menghela nafas panjang. "Kenapa aku harus setakut ini?" Gumamnya pada dirinya sendiri.


"Aku selama ini hidup bebas, tidur dengan gadis manapun dan melakukan apapun. Jadi, ini tidak akan masalah." Alexis mencoba menenangkan dirinya.


"Yang Mulia!" Terdengar suara Howen yang tiba-tiba muncul.


"Jangan bicara denganku!" Kata Alexis kesal.


"Ma'afkan Saya Yang Mulia, tapi anda tahu... "


"Aku tahu dan mengerti, tapi setidaknya kau membawa gadis-gadis itu pergi juga bersamamu. Atau menahan orang itu untuk masuk." Jelas Alexis.


Howen hanya memunduk mendengarkan ceramah Alexis. "Saya akan menerima hukuman dari anda."


"Sudahlah aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahanku." Gumam Alexis.

__ADS_1


Dengan langkah berat Alexis memasuki ruangan itu. Wajah marah terlihat menghiasi kedua orang tuanya.


END


__ADS_2