
Srrrkkkk...
Terdengar suara dari balik semak-semak, matahari telah menghilang sejak beberapa jam yang lalu, di kegelapan malam sekumpulan orang terlihat tengah mengintai sebuah mansion besar di tengah hutan.
"Yang Mulia!!" Seseorang berbisik dan melirik ke arah seorang pria di dekatnya.
"Apa anda yakin dia disini? Tempat ini terlihat sepi, tak ada penjagaan sama sekali. Bahkan aku tidak merasakan keberadaan iblis maupun manusia disini." Kata seseorang yang lain.
Terlihat iris merah menyala menatap tajam ke arah mansion kosong dan gelap di hadapannya. "Aku merasakannya!! Ayo masuk!!"
"Pangeran Alexis!!" Howen menghentikan langkah Alexis.
"Howen, aku akan membahasnya nanti. Saat ini aku harus menyelamatkan nyawa seseorang." Kata Alexis cepat.
"Belum terlambat jika anda ingin mengurungkan niat anda." Howen berusaha menghentikan niat Alexis.
"Apa kau menentangku sekarang?" Alexis menatap tajam ke arah Howen.
"Saya mencoba untuk melindungi anda. Saya merasa, ada sesuatu yang tidak beres." Jelas Howen.
"Tenang saja, kau hanya khawatir." Alexis menepuk pundak Howen dan tersenyum. "Ayo, kita selamatkan dia dan menemui ibuku."
Dengan terpaksa Howen mengangguk setuju dan mengikuti Alexis beserta prajurit pilihannya untuk masuk.
Saat mereka memasuki halaman mansion, tak satupun orang terlihat disana. Mansion yang kemarin masih ramai dengan suara bising prajurit manusia dan iblis yang tengah menyiapkan senjata seakan lenyap begitu saja.
"Apa mereka meninggalkan markasnya kosong tanpa penjagaan?" Tanya salah satu prajurit.
"Atau mereka memindahkan markasnya." Jawab Howen.
Alexis menatap Howen. "Memindahkan markasnya?" Alexis mengerutkan dahinya. "Mustahil!!" Alexis berlari cepat melewati halaman besar itu dalam sekejap dan membuka pintu besar mansion dengan kasar.
Hanya kegelapan, seluruh mansion gelap tak ada siapapun disana. Alexis menatap waspada ke dalam mencoba mempertajam setiap Indra yang ia miliki.
Krieettt...
Terdengar suara derak kayu di dalam, tanpa pikir panjang Alexis segera masuk kedalam. "Yang Mulia, tunggu!!" Beberapa prajurit mencoba menghentikannya tapi Alexis telah lebih dulu berlari masuk.
Alexis menyusuri beberapa ruangan, tapi dia tak menemukan siapapun disana. Hingga langkah kakinya berlahan turun menuju ruang bawah tanah.
Alexis berjalan perlahan menyusuri lorong sempit sepanjang ruangan tersebut. Tak ada siapapun hanya kegelapan.
Srrrkkkk....
Terdengar suara gesekan, Alexis langsung sigap menatap waspada kesegala penjuru.
Syutt.. Syutt.. Syuutt..
Beberala anak panah meluncur kearah Alexis.
Ting... Ting... Ting...
Mendadak seseorang muncul di hadapan Alexis menghalau semua anak panah yang mengarah pada Alexis.
"Yang Mulia anda baik-baik saja?" Tanya Howen cemas.
Alexis hanya mengangguk, iris merahnya menatap ke arah serangan itu berasal. Tak ada siapapun tapi kembali anak panah meluncur cepat ke arah mereka. Sigap Howen menghalau semua panah-panah itu dan dia melesat kedepan mengarahkan senjatanya ke arah panah-panah itu berasal.
Trang...
Terdengar suara besi berjatuhan, Alexis segera menghampiri Howen. "Ini hanya jebakan." Howen menunjukkan sebuah panah besi otomatis.
"Sial!!" Gumam Alexis kesal.
__ADS_1
Drap... Drap... Drap...
Terdengar suara beberapa orang berlari ke arah mereka. "Yang Mulia, anda baik-baik saja?"
"Jangan cemas, semua baik-baik saja." Jawab Alexis santai.
Sraaakkk... Draakkkk...
Pintu besi mendadak tertutup, tanpa mereka sadari mereka masuk ke dalam sebuah sel bawah tanah. Semua prajurit sigap memutari Alexis, menatap waspada ke segala arah untuk memastikan dari mana musuh akan menyerang, senjata di tangan mereka dengan mata waspada bersiap menghabisi siapa saja yang mengancam nyawa Raja mereka.
Syuuuttt.. Syuuttt... Syuuttt...
Mendadak puluhan anak panah meluncur cepat ke arah meraka sigap mereka menghalau semua anak panah.
"Bentuk priasai pelindung!!" Terdengar teriakan dari salah satu prajurit.
Cepat prajurit-prajurit Alexis menancapkan pedang mereka di lantai dan pelindung trasparan terbentuk mengintari mereka. Anak panah itu seakan membentur tameng besi tak tertembus dan berjatuhan dilantai.
Dari tangan Alexis muncul sebuah busur dan sebuah anak panah. "Aku akan menghancurkan ruangan ini."
"Apa?" Howen menatap Alexis tak mengerti.
"Pelindungnya tak akan bisa bertahan, kekuatan anda terlalu besar untuk perisai ini." Cegah salah seorang prajurit.
"Lalu, kau ingin aku terus disini dan berdesakan dengan kalian?" Tanya Alexis kesal.
Alexis menatap ke segala penjuru mengamati pola tembakan setiap anak panah. "Ada jeda sedikit, cukup untukku untuk melepaskan satu anak panah milikku."
Alexis bersiap dengan busurnya mengarahkannya ke atas, Howen menatap Alexis seakan mengerti apa yang akan dilakukan Alexis. "Anda akan meruntuhkan tempat ini?"
Alexis mengangkat sebelah alisnya. "Begitulah!!" Alexis melepas anak panahnya menembus pelindung yang dibuat prajuritnya menghancurkan perisai berkeping-keping dan meluncur menembus langit-langit sel.
Bleedaarr...
Ledakan besar terdengar memenuhi sel, asap dan debu mengepul memenuhi seluruh sel kecil. Serangan panah berhenti, tembok sel runtuh begitu pula dengan pintu sel.
"Kami baik-baik saja!" Jawab prajurit Alexis yang telah membentuk perisai baru setelah di hancurkan Senjata Alexis.
"Kalian sudah cukup berpengamalam."
Brukkk...
Terdengar suara benda jatuh dari langit-langit sel. Alexis berjalan mendekat dan menemukan iblis yang tertancap oleh anak panahnya.
"Dia? Row... " Howen mengerutkan keningnya.
"Kau mengenal iblis ini?" Tanya Alexis.
"Dia ahli jebakan dari Lucery, dia hanya salah satu iblis rendah." Jelas Howen.
"Apa yang dia lakukan disini?' Gumam Alexis heran.
"Hahahaha... Sepertinya perkiraanku tidak pernah meleset." terdengar suara Rhodri yang memenuhi ruangan.
Alexis menatap waspada sekelilingnya, bersiap menyambut serangan mendadak dari lawannya.
"Jangan memasang wajah serius seperti itu, aku sudah pergi dari sini. Begitu pula penghianat kita, aku memberikannya posisi yang sangat Bagus setelah dia menghianati aku."
"Keluar dan hadapi aku!!" Teriak Alexis.
"Kau sama seperti ayahmu, terlalu merendahkanku dan memandangku sebelah mata. Bagaimana jika kau menjemput penghianat kecil kita di Medan pertempuran? Dengan senang hati, akan aku biarkan dia menyambut kalian. Sampai bertemu disana." Dan suara Rhodri pun menghilang.
Alexis seakan membeku, dia terdiam begitu saja seakan masih mencoba meyakinkan diri apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
*******
Di Medan pertempuran asap tebal membubung tinggi, saat asap perlahan semakin menipis terlihat beberapa orang mengepung Devian. Sebuah perisai besar berbentuk kapsul raksasa transparan mengitari daerah di sekitar Devian dan lawannya.
Panglima tertinggi Lucery telah berada disana tapi mereka berada diluar perisai, dengan wajah cemas mereka terlihat masih siaga.
"Yang Mulia!" Panggil Malpas dengan panik.
Devian menatap panglimanya sejenak dan kembali waspada, pedang di tangannya terlihat berlumuran darah hitam. Tanduk di kepala Morak terlihat patah dan mengeluarkan darah hitam segar, begitu pula Alm perutnya hampir robek karena serangan terakhir Devian.
"Perisai ini tak akan mampu membalikkan ke adaan, sebaiknya menyerah saja dan akan aku kembalikan kalian ke asal." Tawar Devian.
"Mereka tak akan mendengarmu." Jawab Adrian. "Serang dia, hancurkan dia!!" Perintahnya cepat.
Para panglima melesat cepat ke arah Devian, melancarkan kembali serangan ke arah Devian. Morak meluncur mengarahkan tinjunya pada Devian. Sigap Devian melompat menghindar, tanah dimana Devian berpijak hancur berkeping-keping. Morak menatap ke arah Devian yang berada di atasnya, secara tiba-tiba Alm muncul di belakang Devian mengarahkan semburan Api besar ke arah lawannya.
Iris Devian berpendar kemerahan dan dalam sekejap dia telah berada di belakang Alm dan mengarahkan tendangannya ke punggung Alm.
Bledarrr....
Tubuh Alm membentur tanah, hingga retakan besar terbentuh di tanah. Tanpa Devian sadari Bune muncul dan menyerang Devian. Iris Devian melirik ke arah Bune dan mencoba menghindar tapi beberapa roh manusia yang di bangkitkan Bune memegang tubuh Devian, membuatnya kesulitan bergerak. Bune bersiap dengan kekuatannya mengarahkannya pada Devian.
Iris Devian kembali berpendar, dari lengan Devian muncul asap yang perlahan membakar tengan para roh tersebut, sebelum serangan Bune mengenainya dia lebih dulu berhasil menghindar.
Dari kejauhan Rhodri mengamati Devian yang bertarung tarung dengan mudahnya dengan mantan panglima tinggi Lucery. Rhodri menggenggam kuat tangannya, membiarkan buku-buku tangannya memutih. "Tak akan aku biarkan kau menang lagi!!"
Rhodri melesat cepat cahaya kemerahan melingkupi tubuhnya, dia melesat cepat ke arah Devian bagai kilat kemerahan. Devian bersiap dengan ancang-ancang dan melesat ke arah Rhodri dengan ke cepatan yang sama.
Dari kejauhan terlihat cahaya-cahaya yang saling berbenturan di udara. Getaran kekuatan mereka terasa hingga keluar perisai.
"Kita harus melakukan sesuatu!" Kata Saleos semakin cemas.
"Percuma saja, perisai ini tak bisa di hancurkan." kata Purson putus asa.
"Kita tidak bisa terus berdiam diri." Kata Malpas semakin cemas.
"Salah satu dari kita harus menghentikan Halpas dan yang lain harus mencari cara untuk menghancurkan perisai ini." Kata Balam sambil menengok ke arah Halpas yang fokus pada senjata iblis yang akan ia ciptakan.
"Aku yang akan melawannya." Kata Saleos kemudian.
Duaakkk... Kraakkk...
Suara benturan dan retakan terdengar keras buat semua panglima Devian langsung menoleh ke Sumber suara.
Retakan besar terlihat di perisai bulat besar, tubuh Rhodri di tekan kuat oleh Devian. Darah terlihat keluar dari sela Rhodri, tapi sebuah seringai terlihat jelas di bibirnya. "Aku tidak akan kalah disini!!"
Tangan kiri Rhodri mencengram leher Devian dan sesuatu terjadi perlahan tenaga Devian mulai berkurang. Devian terlihat mulai terkujut dan hendak melepaskan diri dari Rhodri tapi tangan Rhodri tak membiarkan Devian lolos.
Mata Devian kembali berpendar, leher Devian menyala kemerahan bagai lahar panas. Cepat Rhodri melepas tangannya dari leher Devian, tanpa membuang waktu Devian segera menjauh dari Rhodri. Terlihat jelas nafas Devian naik turun, keringat membasahi pelipisnya. Rhodri menatap tangannya yang terbakar, tapi dalam sekejap luka itu kembali sembuh.
"Tenagaku berkurang cukup banyak, sial!!" Gumam Devian dalam hati.
"Apa kau sudah kelelahan? Aku baru saja ingin memulainya." Kata Rhodri santai.
"Jangan banyak bicara!" Kata Devian kesal.
Kembali Panglima dari pihak Rhodri menyerang secara bersamaan, Devian mencoba menghindar tapi gerakannya menjadi lebih lambat dari sebelumnya. Saat Devian melompat ke udara musuh lain telah menyambutnya menendang tubuhnya hingga membentur tanah dengan kuat. Tanah di sekeliling Devian hancur, tanpa membuang kesempatan Morax melompat ke atas bersiap dengan gada besarnya mengangkat tinggi-tinggi gada besar itu dan bersiap menghantamkan senjata itu pada Devian.
Iris Devian berpendar sebuah kekuatan seakan menahan gada itu selama beberapa saat, memberikan kesempatan untuk Devian menghindari serangan mematikan Morax. Tapi, kekuatan Devian semakin terkuras dengan penggunaan kekuatan iblis.
Devian berdiri di sisi dinding perisai, tidak memberi kesempatan musuhnya untuk menyerang dari titik butanya. Nafas Devian terlihat semakin berat, tubuhnya di penuhi noda lumpur, ekspresi lelah terlihat jelas di wajahnya.
"Baiklah, sebaiknya aku akhiri sekarang!" Rhodri maju kedepan.
__ADS_1
Tubuh Rhodri perlahan tumbuh membesar, sepasang tanduk besar muncul di atas kepalanya. Kuku-kukunya memanjang dan tajam.
"Akan ku habisi kau disini!!" Teriak Rhodri keras.