setan kecil

setan kecil
part 38


__ADS_3

"Me... Membunuhku? Jangan bercanda? Apa yang bisa di lakukan bayi mungil padaku? Anda terlalu berlebihan." Alice menatap Devian nanar. "Keluar dari kamarku!!" Lirihnya.


"Alice... "


"Aku mohon!! Keluar dari sini." Ulang Alice.


Devian terdiam sesaat, kemudian berjalan keluar. "Aku akan kembali bersama tabib dari Lucery." Gumam Devian sebelum menutup pintu.


Alice terhuyung kebelakang, tangannya berusaha meraih sesuatu untuk di jadikan penopang tubuhnya. Sigap, Beryl segera menahan tubuh Alice. "Yang Mulia anda baik-baik saja!" Tanya Beryl cemas.


"Aku hanya merasa pusing." Gumam Alice.


"Sebaiknya anda berbaring!" Beryl membantu Alice untuk berbaring di ranjangnya.


Saat malam menjelang, tak berapa lama Devian kembali datang. Terlihat perut Alice sedikit membuncit. Beryl baru saja membereskan makan malam Alice saat Devian masuk. "Keluarlah, aku ingin bicara dengam istriku!" Perintah Devian.


"Apa kau akan membunuhku?" Gumam Alice.


"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Devian dengan nada dingin.


Beryl segera berjalan keluar meninggalkan Devian dan Alice berdua. "Apa kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman?" Tanya Devian.


"Apa yang anda harapkan? Sejauh ini aku baik-baik saja, setidaknya sebelum anda datang dan membuatku cemas dan takut." Alice menatap Devian tajam.


"Jadi, kau lebih takut padaku dari pada makluk asing yang mulai menggerogoti sumber kehidupanmu?" Tanya Devian kesal. "Kau harus tahu sesuatu, tabib masuklah!"


Tak berapa lama seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan tersebut. Dahinya terlihat mengkerut mengamati Alice, tidak lebih tepatnya menatap perut Alice. "Seorang manusia mengandung bayi iblis, garis asli keturunan dari keluarga kerajaan ibli." Gumamnya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Devian.


"Dia sama kuatnya dengan anda saat berada dalam kandungan putri, dalam waktu 4 bulan dia akan terlahir dan selama masa itu sedikit demi sedikit dia akan menyerap sumber kehidupan ibunya hingga saat kelahiranya." Jelas tabib wanita itu.


"Lalu, apa yang akan terjadi?" Alice manatap wanita itu.


"Kematian untuk si ibu, mengandung iblis bangsawan sangatlah beresiko bahkan untuk kaum iblis sekalipun. Untuk iblis pemulihan tenaga dan kekuatan dapat dilakukan lebih cepat. Tapi untuk manusia saya rasa ini akan mustahil." Jelas sang tabib dengan wajah serius.


"Aku tidak peduli, apapun yang terjadi akan aku pertahankan anak ini." Teriak Alice. "Jika anda disini hanya untuk membual, sebaiknya anda pergi."


"Apa? Sekarang kau sudah berani mengusirku?" Tanya Devian tak percaya. "Dalam sehari kau berani padaku hanya untuk makluk asing itu?" Teriak Devian Marah.


"Lalu, bagaimana dengan anda?" Alice menatap Devian dengan mata berkaca-kaca. "Semalam, anda masih membisikkan kata cinta padaku dan hari ini kau terus berkata kasar dan menampakkan kebencian padaku." Air bening mulai meluncur turun.


"Lupakan, tak seharusnya aku bicara padamu." Devian mengajak tabib untuk keluar bersamanya.


3 bulan 2 minggu...


Seorang wanita dengan kulit pucat tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Matanya terlihat sayu, menatap kosong keluar jendela. Tubuhnya tertutup selimut tebal, perutnya yang terlihat besar nampak bergerak naik turun seirama dengan pernafasannya yang berat.

__ADS_1


Krekkk..


Mendengar suara pintu tertutup wanita itu langsung menoleh ke arah datangnya suara.


"Maaf, Yang Mulia! Apa saya membuat anda terkejut?" Tanya si pelayan yang baru saja masuk.


"Tidak, Beryl." Terdengar nada kecewa dari suaranya yang lemah.


Dia kembali menatap keluar jendela, sesekali tangan pucatnya mengelus perutnya yang membesar.


****


"Kenapa dia begitu keras kepala?" teriakan marah Devian memenuhi seluruh ruangan aula yang sepi.


Di depannya hanya ada Aiden yang hanya bisa menatap Devian dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Yang Mulia, sangat masuk akal jika Yang Mulia Ratu mempertahankan kandungannya." Gumam Aiden.


"Tapi kenapa? Apa tidak cukup hanya mencintaiku saja? Aku tidak butuh penerus dalam waktu dekat?" Devian menatap tajam Aiden.


"Tapi, tidak untuk Yang Mulia Ratu. Dia manusia yang memiliki batas waktu yang singkat." Aiden mengingatkan Devian.


Devian terdiam seakan semua itu tidak pernah terpikir olehnya selama ini. "Tapi, dia tidak harus melakukannya."


"Jika, anda berada di posisi Yang Mulia Ratu......"


"Sudah berhari-hari anda tidak menengok Yang Mulia Ratu, mungkin saat ini beliau tengah menunggu anda." Aiden mengingatkan.


Devian menghela nafas berat. "Aku tidak tega melihatnya mati perlahan."


"Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan Ratu?" Tanya Aiden.


"Aku tengah meminta beberapa orangku untuk mencari sesuatu di istana kakek. Ada banyak benda berguna disana. Tapi, mereka belum mendapatkan apapun yang bisa di gunakan untuk situasi saat ini." Jawab Devian dengan wajah lesu.


*****


Dalam ruangan dengan cahaya temaram, tangis bayi terdengar begitu kuat di seluruh penjuru lorong-lorong panjang. Devian berdiri mematung di depan pintu ruangan tersebut menatap kosong ke arah ranjang dimana istrinya terbaring.


Seprei putih di penuhi darah, tubuh pucat Alice terbaring lemah. Sesekali terlihat nafasnya yang semakin jarang, di dalam dekapan Beryl bayi laki-laki yang masih berlumuran darah terus menangis merobek kesunyian malam yang kelam untuk ayahnya.


Devian melangkah cepat kearah tubuh istrinya. "Alice!!!" Panggil Devian. "Buka matamu!!" Perintah Devian dengan suara keras.


Devian melirik ke arah dada kiri istrinya mempertajam pendengaran iblisnya.


Deg. . . . Deg. . . .deg


Detak jantung Alice semakin lambat, tanpa pikir panjang Devian merengkuh tubuh istrinya dan menggendongnya keluar, meninggalkan Beryl yang juga terisak di sana menatap bayi di dekapannya.

__ADS_1


*****


"Aiden!!!?" Suara keras Devian menggema memenuhi ruangan kerjanya yang luar.


Dengan langkah cepat Aiden menghampiri Devian.


"Umumkan kematian Ratu, masukkan apa saja ke dalam peti untuk menyamarkan kematiannya." Perintah Devian.


Mata Devian tertuju pada tubuh Alice dalam dekapan Devian.


"Tapi... "


"Lakukan saja!!" ulang Devian.


Tak berapa lama di hadapan Devian sebuah gerbang gelap terbuka. Dia segera melangkah masuk meninggalkan Aiden yang terdiam kebingungan.


Devian membaringkan tubuh istrinya di atas meja marmer hitam, beberapa pelayan menghampiri tubuh Alice. Membersihkan setiap inci tubuh Alice dan mengganti gaun Alice yang penuh dengan darah denga gaun putih bersih. Tak berapa lama beberapa orang muncul mengitari tubuh Alice. Bibir mereka mulai merapalkan mantra, dari kejauhan terlihat cahaya biru dalam kotak kaca besar. Beberapa orang membawa kotak itu mendekat, Devian segera menggendong tubuh istrinya memasukkan tubuh sekarat ke dalam kotak kaca besar, yang diisi oleh air yang begitu jernih.


Tubuh Alice terlihat mengambang, matanya tetap terpejam. Rambut peraknya mengambang dalam air.


"Saya tidak yakin apakah air dari danau kehidupan mampu menyembuhkannya, tapi setidaknya air ini mampu memperpanjang masa hidupnya sebelum kita menemukan obat terbaik untuk membangunkan Ratu kembali." Jelas sang tabib.


*flash back end*


"Jadi, anda memalsukan kematianku?" Alice mengangkat sebelah alisnya. "Apa anda benar-benar mengharapkan hal itu?" Tanya Alice cemberut.


Devian melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya. Menarik tubuh istrinya untuk lebih dekat ke arahnya. Perlahan Devian mengecup tengkuk sang istri, menghirup perlahan aroma yang begitu ia rindukan. "Aku bahkan sangat takut jika hal itu benar-benar terjadi." Gumam Devian.


Alice mendekap kepala Devian menyandarkan kepala sang suami di bahunya. "Apa anda begitu mencintaiku?" Tanya Alice lembut.


"Sangat, bahkan aku berfikir untuk bunuh diri jika saja kau tak bisa kembali." Devian mengangkat wajahnya menatap dalam iris biru istrinya. "Kau bahkan masih sama." Gumam Devian.


"Apa sekarang anda juga pintar merayu wanita? Seingatku anda begitu dingin."


"Benarkah? Apa kau menginginkan kehangatan, sayang?" Devian mengangkat sebelah alisnya.


Devian perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alice. "Apa yang sedang anda pikirkan?" Alice menahan wajah Devian. "Putramu baru saja patah hati." Alice segera bangkit dan menatap kesal Devian.


"Apa kau sadar? Kau juga baru saja membuatku patah hati." Devian menatap kesal Alice. "Sebaiknya urus saja anak pembangkang itu, jangan pedulikan aku."


Alice tersenyum melihat tingkah suaminya. "Apa anda cemburu?" Goda Alice.


"Hah!! Aku bisa mendapatkan yang lebih dari dirimu." Devian memalingkan wajahnya.


Chup...


Sebuah kecupan kilat di bibir Devian membuat pria itu terkejut. "Coba saja dan anda akan melihat orang itu mati di hadapan anda." Alice mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi keluar meninggalkan Devian.

__ADS_1


"Bagaimana kepribadiannya berubah? Apa selama ini dia menahan semuanya dan bersikap malu-malu hanya padaku?" Gumam Devian dengan senyuman.


__ADS_2