setan kecil

setan kecil
part 8


__ADS_3

"Harusnya aku memberitahumu sejak awal, bahwa karenamu dia seperti itu. Mungkin dia akan menjadi mayat jika aku tidak ada di sampingnya. Kau adalah anak iblis, itu yang harus kau tahu." Devian mengucapkan semua yang telah ia pendam di hatinya.


Alexis seketika membeku, pedang yang ia pegang terjatuh begitu saja dan menghilang. Sorot matanya meredup, anak itu mencoba untuk mencerna kembali kalimat yang ayahnya katakan.


"Ka.. Kau berbohong padaku.. " suara Alexis terdengar bergetar. "KAU PEMBOHONG!!! " teriak Alexis penuh kemarahan.


Bayangan merah pekat keluar dari tubuh Alexis mengitari tubuh anak itu. Alexis menatap tajam kearah Devian. "Kau pembohong, akan aku singkirkan sekarang juga."


Devian menatap waspada kearah anaknya. Dengan cepat bayang merah itu mengarah pada Devian bagai peluru yang telah di lepaskan. Ujungnya yang meruncing langsung menusuk kearah Devian, tapi dengan cepat Devian mengeluarkan pedangnya hingga ujung bayangan itu menyentuh pedang bajanya. Suara dentingan benturan kedua senjata itu terdengar nyaring.


Alexis bergerak cepat kearah ayahnya dan sesaat dia menghilang. Devian menatap waspada kesekelilingnya dan saat Devian sadar Alexis telah muncul di belakangnya. Sebuah tendangan mendarat di punggung Devian hingga dia terpental hingga menabrak jendela hingga pecah. 2


Dengan susah payah Devian bangkit dan meluncur kearah putranya sebuah tinju mendarat di perut Alexis membuat anak berusia 8 tahun itu terpental jauh hingga membentur tembok. Tubuh mungilnya tertimbun diantara reruntuhan tembok yang hancur.


Darah segar mengalir dari sela bibir Alexis, dengan susah payah dia kembali berdiri dari reruntuhan menatap tajam kearah ayahnya.


"Aku benci menjadi anakmu." Lirik Alexis.


Devian menatap datar putranya. Dengan susah payah Alexis mencoba untuk melangkah keluar dari reruntuhan.


"Kau tidak mudah menyerah." Guman Devian.


Devian kembali melesat kearah Alexis bersiap untuk memukul anak itu lagi. Tapi, seseorang berhasil memukul Devian dari arah samping hingga Devian terlempar ke samping.


"Maaf, Yang Mulia. Saya harus melindungi pangeran sesuai dengan perintah." Howen memberi hormat.


"Howen... " Lirih Alexis sambil tersenyum.


Pandangan anak itu perlahan kabur dan tak berapa lama semuanya menghilang. Alexis jatuh di tepat saat Howen menangkap tubuh mungilnya.


"Aku akan memaafkan yang ini, cepat bawa pembangkang itu pergi." Perintah Devian.


Howen mengangkat tubuh kecil Alexis di lengannya. "Pangeran Alexis, hanya ingin menjadi anak yang baik. Tapi, setelah ini saya pikir dia akan terus membenci anda atau yang terburuk dia bisa saja membantu musuh-musuh anda."


Howen segera berbalik pergi membawa tubuh lemah Alexis kembali ke kamarnya. Devian terdiam sesaat, bayangan masa kecilnya kembali terlintas di kepalanya. Bagaimana dia melewati setiap hari dengan rasa benci kepada ayahnya.


Howen berjalan melewati koridor-koridor sepi. Sesekali dia melirik kearah Alexis yang masih belum sadarkan diri.


"Bagaimana anda bisa kehilangan kendali?" Gumam Howen.

__ADS_1


Di kamar Alexis perlahan Howen membaringkan tubuh mungil Alexis. Dengan cepat Howen mengambil Air hangat dan handuk. Howen membersihkan darah dari bibir Alexis dengan lembut. Memeriksa setiap inci tubuh elexis yang mungkin terluka.


Perlahan Howen menyentuh kening Alexis iris keemesaannya sedikit bercahaya tak lama kemudian Howen tersenyum tipis. Dia membetulkan posisi selimut Alexis dan segera keluar dari kamar Pangeran muda itu.


Saat Howen akan keluar dia melihat seseorang datang. Dengan sigap Howen segera bersembunyi dibalik pilar-palar.


"Diamlah, kita bisa ketahuan." terdengar suara kesal seseorang.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


Howen mengintip dari balik pilar menatap waspada pada orang-orang yang baru saja memasuki kastil. Tangan Howen menggenggam pegangan pedangnya dengan erat, kalau-kalau mereka adalah pencuri atau orang berbahaya.


"Cermin ini lebih berat dari perkiraanku, kita akan ketahuan bukan karena berisik tapi karena cermin besar ini." " Terdengar suara seseorang menggerutu.


Howen menatap tajam kearah mereka, melihat benda besar yang mereka bawa. "Apa yang mereka lakukan?" Gumam Howen lirih.


Iris keemasannya menangkap sebuah Batu rubby merah dibagian atas cermin tersebut. Mata Howen berubah waspada tak berapa lama dia melangkah kedepan dan sekejap kemudian dia menghilang meninggalkan asap hitam pekat.


*****


Keesokan harinya, Howen menatap Alexis yang masih terlelap di tempat tidurnya. Sesekali Alexis terlihat mengerutkan keningnya, raut wajah tegang dan ketakutan terlihat jelas di wajah anak kecil itu. Bola mata Alexis bergerak cepat keringat dingin mulai membanjiri keningnya.


Alexis memeluk kakinya, dia membenamkan wajahnya diantara lengannya. Menyembunyikan sisa-sisa ketakutan yang masih ia rasakan.


"Yang Mulia, anda bermimpi buruk?" Tanya Howen cemas.


Alexis mengangkat wajahnya dan memberikan senyum tipis pada Howen. "Howen, bisakah kau membawaku pergi dari sini?" Alexis menatap Howen. "Aku tidak ingin melihatnya lagi."


Alexis menundukkan wajahnya, air mata bening jatuh menetes membasahi seprai pada tempat tidurnya. "Aku ingin menjauh dari mereka semua, dari orang-orang yang aku sayangi. Bisakah kau membawaku pergi?" 3


Howen terdiam, selama bertahun-tahun dia mengawal dan mengawasi Alexis. Dia selalu melihat senyum bahagia dan ketulusan dari anak itu, tapi saat disini di tempat seharusnya dia mendapat semua Kasih sayang dan kebahagiaan dia malah mendapatkan kebencian dari ayahnya sendiri.


"Kemana anda ingin pergi, saya akan selalu bersama dengan anda." Howen menatap Alexis iba.


"Sejauh mungkin, aku ingin pergi jauh dari ayahku. Aku membencinya sampai aku tidak ingin melihatnya lagi."


"Baiklah, saya akan meminta ijin untuk anda..."


"Tidak, aku tidak butuh izin darinya. Aku juga tidak ingin kembali, sebelum aku menemukan cara untuk menyembuhkan ibuku." Alexis menatap Howen yakin.

__ADS_1


*****


Rhodri mondar mandir di depan cermin besar berdebu yang baru saja dia bawa dari bekas kastil ayahnya. Sesekali remaja itu menggigit jemari tangannya dengan gelisah.


"Berhentilah, bergerak kesana kemari kau membuatku sakit kepala." Suara kesal seseorang terdengar dari cermin.


Terlihat sosok Adrian muncul dari cermin itu. "Apa yang kau pikirkan, Rhodri? Katakan padaku!" Tanya Adrian.


Rhodri menarik kursi kecil dan menempatkannya di depan cermin itu seraya duduk disana. "Apa kau ayahku? Bagaimana kau bisa di dalam sana? Bagaimana jika Raja Devian tahu, dia pasti akan membunuhku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rhodri bertanya dengan cepat pada Adrian.


"Aku juga tidak tahu kalau Aleysia ternyata mengandung dirimu. Aku berada disini, karena Raja iblis itu mengingkari perjanjian kami. Aku menjual jiwaku dengan syarat dia melindungi dan menjadikan aku raja Aldwick, tapi dia membunuhku untuk menyelamatkan cucunya. Karena itu jiwaku masih terjebak dalam Batu iblis ini, aku sengaja menempatkannya dalam cermin untuk mempermudah komunikasi dengan pendukungku. Tapi Devian telah membunuh mereka semua. Dia merebut semua dariku, reputasiku dan juga kehormatan yang harusnya aku miliki." Adrian menatap putranya.


"Tapi, sekarang semua akan kembali pada kita. Kau akan menjadi Putra mahkota dan kau akan membebaskan aku disini. Bukankah kakekmu sudah menceritakan semuanya padamu?" Adrian duduk dikursi tepat di belakangnya.


Adrian terlihat seperti bayangan Rhodri, yang membedakan hanya fisik mereka. "Aku akan melakukan semua yang kau butuhkan, Ayah." Rhodri tersenyum pada Adrian.


"Kau anak yang baik." Puji Adrian.


******


Hari mulai menjelang sore, saat Beryl berlari dengan buru-buru kearah kastil utama. Hingga tanpa sengaja Beryl menabrak seseorang.


"Ahhh.. Ma.. Maafkan saya... " Beryl buru-buru minta maaf pada orang yang baru saja ia tabrak.


"Kau kenapa?" Tanya orang yang ditabraknya barusan.


Beryl mendongak untuk melihat wajah orang itu. "Tuan Aiden!" Beryl segera menarik Aiden ke lorong sepi dan cukup gelap.


"No.. Nona Beryl kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Aiden gugup.


"Tuan Aiden, Pangeran dia pergi." Beryl menunduk sedih.


"Pe.. Pergi apa maksudmu?" Tanya Aiden terkejut.


"Pangeran menghilang sejak pagi, saat semua orang sibuk mencari Pangeran saya menemukan ini di kamar pangeran." Beryl menunjukkan secarik kertas pada Aiden.


Bibi, maaf aku harus pergi. Jaga dirimu dan semoga hubunganmu dan paman Aiden berjalan dengan baik. Aku sayang padamu bibi karena hanya bibi yang menyayangiku disini.


Air mata bening mulai menggenang di mata Beryl. "Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Pangeran?" suara Beryl bergetar karena menahan tangis.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, aku akan memberitahu Raja masalah ini. Kembalilah ke kastil Timur aku akan menemuimu lagi nanti." Aiden segera berlari menuju ruang kerja Devian dengan cepat.


__ADS_2