
"Ini kamarku?" Alexis mengamati setiap sudut ruangan itu.
Sebuah ranjang besar dengan seprei berwarna merah. Bantal dan selimut ditata sedemikian rupa hingga terlihat rapi. Pada sandaran tempat tidur terdapat ukuran-ukuran Indah, setiap sisi terdapat tiang dengan kelambu yang di ikat rapi di setiap tiangnya. Beberapa lukisan menghiasi tembok kamar, jendela besar dengan tirai putih transparan. Perapian lengkap dengan kursi di depannya. Di bagian tengah ruangan terdapat satu set meja dan kursi yang di bawahnya terdapat permadani Indah berwarna merah.
"Aku ingin kamarku yang lama." Alexis melirik Aiden.
"Tapi sayangnya, kastil Timur saat ini hanya untuk Pangeran Rhodri." Aiden menatap Alexis ragu.
"Aku tidak suka, jika ada orang yang mengambil milikku. Howen, ayo kita ambil kembali kamarku!" Alexis menatap Howen.
"Tenang saja kamar anda di tutup oleh Yang Mulia Devian. Jadi, tuan Rhodri tidak bisa menggunakannya." Aiden mencoba mencegah Alexis pergi ke kastil Timur.
"Apa disana begitu berbahaya? tenang saja aku bisa menghadapi mereka semua." Alexis terlihat percaya diri.
"Yang Mulia Devian, membatasi interaksi antara pemerintahan kerajaan dengan pangeran Rhodri. Saat ini, Yang Mulia Devian tengah menyelidiki dan mengumpulkan bukti keterlibatan Rhodri dengan kekacauan di istana." Jelas Aiden.
"Kenapa kau menceritakan masalah kerajaanmu pada utusan kerajaan lain. Seharusnya kau bilang dari tadi kalau kastil Timur itu terlarang untuk para tamu kerajaan." Alexis melangkah kearah kursi dan membaringkan tubuhnya disana. "Kau boleh pergi, aku akan istirahat sebelum jamuan makan malam."
Aiden menghela nafas panjang. "Baiklah, saya permisi. Jika, ada sesuatu yang anda butuhkan... "
"Aku mengerti, aku akan segera memanggilmu." Alexis segera memotong kalimat Aiden.
Aiden segera keluar dari kamar Alexis. "Kenapa setelah dewasa dia semakin menyebalkan." Gumam Aiden lirih.
"Howen!" Alexis menatap Howen yang berdiri di dekatnya. "Cari tau dimana aku bisa mendapatkan apel iblis. Aku ingin mendapatkan laporan secepatnya."
Howen menunduk hormat dan tak berapa lama dia menghilang. Sejenak Alexis terdiam memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Aiden. "Sepertinya keadaannya semakin kacau setelah aku pergi." Gumam Alexis.
Hari berlalu dengan cepat, matahari kini di gantikan oleh rembulan. Langit malam terlihat semakin gelap kala awan keabuan mulai menghalangi sinar rembulan.
Tak... Tuk.. Tak... Tuk...
Suara langkah kaki memecah kesunyian sepanjang koridor kastil. Alexis terlihat berjalan santai menyusuri koridor panjang kastil, kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. Langkah kakinya terhenti di pintu besar ruang perjamuan makan malam.
Penjaga langsung membukakan pintu untuk Alexis begitu dia sampai di depan pintu. Dengan santai dia melangkah masuk, Devian dan juga Rhodri terlihat sudah hadir disana.
"Maafkan aku Yang Mulia, sudah membuat anda menunggu." Alexis segera bergabung dengan mereka.
Beberapa pelayan segera menuangkan minuman ke dalam gelas Alexis dan memberikan piring berisi makanan pembuka untuknya.
"Bagaimana kemajuan dari kerajaanmu?" Tanya Devian pada Alexis.
"Cukup baik, Malbork bisa melewati krisis hanya dalam waktu 2 tahun di bawah kepemimpinanku." Alexis menjawab dengan santai. "Tidak mudah bagi anak berusia 17 tahun untuk mengatur suatu Negara. Tapi, aku menikmatinya." Alexis memasukkan makanan ke mulutnya.
"Itu Bagus! Aku harap hubungan kerja sama ini berjalan dengan baik. Jika, Malbork membutuhkan bantuan dari kerajaanku kau tinggal mengatakannya." Devian menatap Alexis.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Aku bisa mengatasi semua masalahku sendiri." Alexis terlihat menundukkan kepalanya sesaat. "Lalu, bagaimana dengannya?" Alexis menatap Rhodri.
"Apa maksud anda?" Tanya Rhodri bingung.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya penasaran saja apa yang telah kau perbuat pada kerajaan ini hingga kau merasa begitu berkuasa?"
"Saya hanya menjalankan setiap peraturan dan perintah Raja untuk menjadikan kerajaan ini menjadi lebih baik." Jawab Rhodri.
"Apakah itu termasuk menghadang utusan kerajaan di tengah jalan?" Alexis memamerkan smirknya.
Rhodri menatap Alexis tajam dan melirik Devian yang tengah menikmati makan malamnya. "Saya hanya ingin memastikan tidak ada penyusup masuk ke Aldwick."
"Aku sudah meminta beberapa pasukan untuk mengawasi perbatasan, kekhawatiranmu terlalu berlebihan." Devian menatap Rhodri.
Sesaat Rhodri terlihat gugup. "Bukankah kita harus mencegah setiap kemungkinan yang mungkin terjadi."
"Hmmm... Aku setuju denganmu, akan ada kemungkinan posisimu terancam setelah kedatanganku." Alexis memamerkan senyum manisnya.
Rhodri menggenggam kuat jemari tangannya. "Tentu saja tidak, saya hanya bagian kecil di kerajaan ini."
Perjamuan makan malam akhirnya berakhir, Rhodri meninggalkan ruang makan dengan emosi karena Alexis terus melemparkan sindiran tajam untuknya.
"Sepertinya aku juga harus kembali ke kamarku." Alexis segera berdiri dari kursinya dan menunduk hormat sebelum pergi.
"Apa kau benar-benar akan pergi?" Devian menatap putranya serius.
"Aku mungkin suka bermain-main, tapi aku akan selalu memegang perkataanku. Besok, aku akan pergi. Jangan cemas! Jaga saja ibu dengan baik." Alexis segera berbalik hendak meninggalkan Ayahnya.
"Bagaimana kau mencari tempat itu?" Tanya Devian.
Alexis berhenti sejenak dan menoleh kearah ayahnya. "Aku akan mencarinya dengan caraku." Alexis segera melangkah pergi meninggalkan ayahnya.
*****
Tangan mungilnya dengan cekatan memasukkan semua barang yang ia butuhkan ke dalam tas. Sebuah pedang di sandarkan di tepi meja. Di atasnya terdapat lukisan keluarga. Seorang pria dengan pakaian rapi di dadanya tersemat pangkat militer dan seorang wanita dengan gaun biru muda tersenyum. Di tangan wanita itu seorang bayi mungil terlihat berusaha meraih wajah sang ibu.
Gadis itu hendak meraih pedang di samping meja, tapi sesaat keraguan menguasai dirinya.
"Aslyn hanya gunakan di saat terdesak." Gumamnya pada diri sendiri dan segera meraih pedang itu.
Aslyn segera menenteng tas dan pedangnya, iris coklatnya menatap lukisan di atas meja.
"Ayah, ibu mungkin kalian akan kecewa dengan semua yang aku lakukan. Tapi, aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup." Aslyn segera melangkah keluar dari gubuk kecilnya.
****
Alexis berbaring dengan alas lengannya sendiri. Iris merahnya mengamati langit-langit kamar. Bayangan ibunya terus memenuhi benaknya.
"Yang Mulia!!" Terdengar suara seseorang menyapa Alexis dengan menunduk hormat.
"Howen, kenapa kau lama sekali?" Alexis segera bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Maaf Yang Mulia, tidak banyak yang tau tentang Apel itu. Tapi, saya berhasil mendapat info dari seorang penyihir."
"Penyihir? Terakhir aku berurusan dengan mereka, aku harus mendengar ceramah masa depan dan ramalan konyol mereka. Kenapa kau memilih bertanya padanya?" Tanya Alexis sedikit kesal.
__ADS_1
"Maaf, tapi tidak ada pilihan lain."
"Lalu, apa yang ia katakan?" Alexis menatap Howen penuh Rasa penasaran.
"Buah itu berada di sebuah gua dasar laut, dia mengatakan tentang dunia lain di bawah laut." Howen mulai menjelaskan.
"Dunia dasar laut?" Alexis mengerutkan keningnya.
"Dia mengatakan, jauh di dasar laut kita akan menemukan jalan masuk untuk menuju kesana. "Keyakinan hati dan ketulusan akan menuntunmu kepada apa yang kau inginkan"." Howen mengakhiri Laporannya.
"Dia juga mengatakan kalimat yang sulit di mengerti." Alexis menghela nafas.
"Ada pesan lain." Howen menatap Alexis.
"Apa lagi?" Alexis menatap Howen.
"Akan ada kaum mermaid yang akan menghadang perjalanan kita, "buat satu ikatan dan mereka akan menunjukkan jalannya".
"Buat ikatan dan mereka akan menunjukkan jalannya? Apa aku harus mengikat para duyung untuk membuat mereka menunjukkan jalannya? Seperti seekor anjing? Bukankah menculik salah satu dari mereka lebih mudah dari pada harus masuk kedalam air dan mempertaruhkan nyawaku?" Alexis kembali membaringkan tubuhnya.
"Para duyung memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pikiran dan mengendalikan lautan." Howen mengingatkan.
"Aku hanya perlu menggunakan penutup telinga dan menjerat mereka dengan jaring."
Howen hanya menghela nafas panjang. "Sebaiknya kau istirahat, besok pagi temui aku di gerbang istana." Alexis menatap Howen.
"Baik, Yang Mulia!" Howen segera memberi hormat dan pergi meninggalkan Alexis.
*****
Alexis sudah bersiap di samping kuda putihnya. Aiden berjalan mendekat kearah Alexis.
"Kenapa denganmu paman?" Tanya Alexis bingung.
"Anda baru saja tiba dan harus pergi sekarang." Aiden terlihat sedih.
"Paman, jangan memasang wajah seperti itu, Kau terlihat jelek!! Aku jadi bertanya-tanya kenapa bibi Beryl bisa tertarik padamu? Bukankah, aku 1000x lebih baik darimu?" Alexis menatap Aiden dengan ekspresi polosnya.
"Sepertinya kau memang harus pergi sekarang!!" Aiden menatap Alexis dengan kesal.
"Kau ingin membawa beberapa pengawalku?" Terdengar suara Devian yang baru saja keluar.
"Hmm... " Alexis berdehem dan dengan canggung memberi hormat pada Ayahnya. "Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri dan Howen juga akan bersamaku."
"Baiklah, kalau begitu!" Devian berjalan mendekat kearah putranya dan dengan canggung dia mengulurkan tangannya.
Alexis mengerutkan keningnya saat tangan sang ayah berhenti di depan dadanya. Namun, tangan Devian segera bergerak ke pundak Alexis dan menepuk pundak putranya. "Kembalilah dengan selamat!" ucapnya singkat.
Alexis terdiam membeku, sesaat kemudian dia mengangguk mengiyakan. "Aku sebaiknya segera pergi."
Alexis segera menaiki kudanya dan memacu sang kuda meninggalkan Rumahnya untuk kedua kalinya, tapi kali ini dia berharap untuk bisa kembali pulang.
__ADS_1