
Tempat yang begitu gelap hanya sorot cahaya kecil yang menyinari satu titik dalam ruangan itu. Di mana seorang gadis terbaring dengan mata terpejam. Samar suara-suara gaduh terdengar, namun tak ada seorang pun terlihat disana. Perlahan bola mata gadis itu bergerak, begitu pula jemarinya seakan suara-suara itu mulai mengusiknya. Sesaat kemudia perlahan gadis itu membuka matanya menunjukkan iris biru yang Indah. Dia mencoba menyesuaikan penglihatannya, melihat kesegala arah. Tapi sejauh matanya memandang yang ia lihat hanyalah kegelapan.
"Di mana ini?" Gumamnya.
Perlahan gadis dengan rambut perak itu bangun dari tidurnya. Kembali suara gaduh terdengar.
"Apa yang terjadi?" Terdengar suara gelisah seseorang. Suara yang terdengar tidak asing di telinganya.
"Devian!" Gumam gadis itu yakin.
"Ini diluar dugaan, setelah kejadian pangeran datang waktu itu keadaan Ratu tidak stabil." Terdengar suara lain yang juga sama cemasnya.
"A.. Alexis? Apa dia hidup?" Gumamnya terkejut. "Devian!!!" Gadis itu berteriak memanggil suaminya.
Tapi, tak ada jawaban. Alice segera bangkit dari tempatnya tidur. Melihat ke sekelilingnya,tapi yang ia lihat hanya kegelapan. Alice berlari kesembarang arah mencoba mencari dimana suaminya berada. "Devian, apa kau tidak mendengarku. Kau dimana?" Teriak Alice semakin keras.
Alice terus berlari dan sejauh apapun dia berlari dia akan kembali di tempat dia terbaring. Hingga berulang kali dia berlari dan terus terus berlari namun kembali kesana, ketempat dia terbaring sebelumnya.
"A... Apa ini?" Bibir Alice bergetar, Air mata perlahan menetes dari pipinya. "Ke.. Kenapa aku... " Tubuh Alice merosot ke lantai dia terus terisak mencoba melihat sekelilingnya apakah ada jalan keluar untuknya.
*****
Devian duduk di depan peti kaca Alice, sudah hampir dua jam pria beriris merah itu memandangi istrinya yang masih terbaring tak bergerak di sana. Untuk kesekian kalinya dia mengehela nafas berat, perasaan bersalah dan marah terus menghantuinya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkanmu?" Gumam Devian.
Saat Devian berdiri dan hendak pergi, pria itu melihat sesuatu. Dengan cepat Devian berbalik dan berjalan mendekat kearah istrinya.
"K.. Kau menangis?" Gumam Devian terkejut.
Iris merah Devian menyala sesaat peputup kaca menghilang. Dengan tangan bergetar Devian meraih pipi istrinya, menyentung ait mata yang baru saja turun dari mata sang istri. Dengan lembut Devian menghapus air mata Alice.
"Jangan menangis, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan mencari cara agar kau kembali padaku, apapun akan ku lakukan." Gumam Devian.
*****
Alice terdiam sesaat, dia dapat merasakan sentuhan di pipinya. Meski samar dia dapat melihat bayangan wajah sedih Devian.
"Ya.. Yang Mulia!" Gumamnya dengan air mata tertahan. "Ma'afkan aku... " Gumam Alice sedih.
__ADS_1
Tangan Alice terulur, mencoba menyentuh wajah suaminya. Tapi, jemarinya tak dapat meraih bayangan Devian. Membuat tangisnya kembali meledak. Isak tangis kembali terdengar dari sela bibirnya.
*****
Alexis berjalan berlahan memasuki wilayah istana iblis milik ayahnya. Sudah beberapa kali dia memasuki wilayah istana iblis, tanpa sepengetahuan ayahnya. Awalnya dia masuk istana iblis untuk melihat sang ayah, tapi dia tak pernah bertemu dengannya. Sesekali Alexis masuk kedunia Iblis untuk berlatih bersama Howen atau sekedar bertemu para tetua yang selalu bersikap baik padanya.
Dengan langkah cepat Alexis melewati jalanan sebuah kota. Langit kemerahan, kota dengan gedung-gedung bangunan tua dengan bebatuan hitam. Beberapa iblis berlalu lalang disana layaknya manusia yang tengah beraktifitas. Langkah kaki Alexis terhenti di hadapan mansion besar secara otomatis gerbang besar hitam bergeser terbuka, menimbulkan suara decitan besi pada engselnya.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
Saat sampai di depan pintu utama mansion itu, Howen segera mengetuk pintunya dan tak berapa lama pintu terbuka.
"Yang Mulia Pangeran." Seseorang dengan cepat membungkuk memberi hormat.
"Dimana Paman Torn?" Tanya Alexis sambil melangkah masuk kesana diikuti Howen.
"Pangeran kecil, apa yang membawamu kemari?" Tanya Torn saat melihat Alexis masuk ke dalam mansion besarnya.
"Aku bukan lagi anak kecil, paman." Alexis terlihat kesal.
"Howen, bagaimana kabarmu? Sepertinya pangeran kecil kita dalam suasana hati yang buruk." Torn tersenyum melihat Howen.
"Sebaiknya kau duduk dulu." Torn mempersilahkan.
Alexis duduk sambil menyilangkan kakinya dan Howen segera mengambil posisi berdiri disamping kanan Alexis. Alexis menatap Torn tajam. "Apa yang direncanakan oleh ayahku?" Tanya Alexis tanpa basa basi.
Sesaat ekspresi Torn mengeras. "A.. Apa maksudmu, Pangeran?"
"Ayah menyembunyikan ibuku disuatu tempat. Kau salah satu orang kepercayaan ayah paman, dimana ayah menyembunyikan ibuku? Apa yang ayahku rencanakan?" Tanya Alexis serius.
"Hmm.. " Torn berdehem, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Aku juga tidak tahu, sejujurnya aku juga baru mengetahuinya darimu." Jawab Torn mencoba setenang mungkin.
"Menurutku, kau mengetahui sesuatu. Aku dapat merasakan kehadiran iblis-iblis lain di kastil Aldwick. Jangan membodohiku Paman. Meskipun aku baru delapan tahun, tapi aku setengah iblis." Alexis menatap tajam Kearah Torn.
Torn melirik kearah Howen gelisah. Sejujurnya, dia tidak bisa melawan perintah Devian. Tapi Alexis anak yang cukup keras kepala. "Ibumu sekarat, itu yang aku tahu." Jawab Torn singkat.
Alexis terdiam membeku, membutuhkan beberapa detik lebih lama untuk mecerna kalimat yang baru saja dia dengar. "Se.. Sekarat?" Tanya Alexis tak percaya. "Kenapa? Apa yang ayah lakukan hingga ibu sekarat?" Teriak Alexis penuh amarah.
"Pangeran, sesuatu terjadi dan itu diluar kemampuan Yang Mulia Devian. Sejujurnya, Yang mulia juga tengah berusaha untuk mencari cara agar Yang Mulia Ratu kembali sehat." Torn mencoba menenangkan Alexis.
__ADS_1
"Aku.. Aku sendiri yang akan menyelamatkan ibuku." Air mata bening tertahan dimata Alexis, sekuat tenaga Alexis mencoba untuk menahannya.
"Pangeran, sebaiknya anda kembali. Sebelum Yang Mulia Devian tahu, anda keluar dari istana tanpa izin." Torn mengingatkan.
"Aku tidak peduli. Aku tidak takut padanya." Alexis segera beranjak berdiri dan melirik Howen. "Howen, ayo pergi dari sini." Ajak Alexis.
Alexis segera melangkah keluar diikuti oleh Howen. Alexis kembali menyusuri jalanan yang telah ia lewati dengan wajah tertunduk. "Howen, apa yang harus aku lakukan? Semua terasa begitu berat sekarang." Suara Alexis terdengar begitu putus asa.
Howen menatap punggung Alexis dan perlahan Pria itu mengulurkan lengannya dan menepuk punggung Alexis lembut.
Alexis berbalik menatap Howen dan tersenyum. "Kau yang terbaik Howen, kau yang terbaik." Alexis memeluk pengawal sekaligus pelayan setianya itu.
****
Sebuah ruangan kecil, barang-barang berserakan dimana-mana. Piring pecah, gelas-gelas besi penyok dan kursi yang berantakan. Terdengar suara isak tangis dari dalam kamar kecil di salah satu ruangan.
"Aleysia, tenangkan dirimu. Jika Rhodri bisa melakukan rencana kita secara mulus, kita akan kembali ke istana." terdengar seorang pria tua mencoba menenangkan putrinya.
"Lalu, bagaimana jika rencana kalian terbongkar? Rhodriku yang akan menanggung semuanya. Kenapa tidak ayah saja yang pergi kesana?" Teriak Aleysia marah dengan berurai air mata.
"Seandainya ayah bisa, pasti akan ayah lakukan." Jawab Bernett. "Lagi pula, kita butuh sesuatu yang tersimpan dalam ruangan Adrian. Tanpa benda itu kita tidak akan bisa membangkitkan Adrian." Bernett mencoba meyakinkan Aleysia.
"Dengar, ayah. Jika sampai rencana ayah gagal dan Rhodri dalam bahaya. Ayah akan aku bunuh dengan tanganku sendiri." Ancam Aleysia penuh amarah.
"Tenanglah, putriku.Semua akan berjalan dengan baik. Aku sudah meminta seseorang dalam istana agar dia membantu dan mengawasi Rhodri." Bernett menatap putrinya dengan senyum lebar.
"Pejabat mana yang akan membantu putraku?" Tanya Aleysia heran, karena seingatnya seluruh pejabat Negara yang berpihak pada Adrian telah dieksekusi.
"Hmm.. Sebenarnya dia hanya seorang pelayan." Jawab Bernett lirih.
"Apa!!" Aleysia terlihat begitu terkejut. "Anakku kau titipkan pada pelayan, apa ayah sudah gila? Dia sama sekali tidak memiliki kekuasaan politik atau pasukan yang melindungi putraku." Marah Aleysia pada sang ayah.
"Tapi, setidaknya tak ada yang akan mencurigainya." Jelas Bernett.
*****
Saat malam hari Alexis baru kembali ke kastil Timur, dengan malas dia berjalan kearah tempat tidurnya dan membanting tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Howen, kau boleh pergi. Istirahatlah!" perintah Alexis pada Pelayannya.
__ADS_1
Howen segera memberi hormat dan pergi keluar dari ruangan Alexis. Iris birunya mengamati langit-langit kamar dengan sedih. "Ibu, apa kau memimpikan aku? Apa kau juga merindukan aku?" Gumam Alexis sedih. "Tunggulah, aku akan menyelamatkanmu." perlahan mata Alexis mulai terpejam, membawa kesadarannya jauh kedalam dunia mimpi.