setan kecil

setan kecil
part 24


__ADS_3

"Seperti inikah ketika hidup akan berakhir." setiap kenangan kembali memenuhi otak Aslyn. Samar bayangan perlahan mendekat ke arahnya, saraf-saraf tangannya perlahan merasakan sentuhan yang hangat.


Seseorang menarik tangan Aslyn ke permukaan membawa tubuh mungil gadis itu ke tepi danau, dengan susah payah Alexis membawa tubuh Aslyn ke daratan.


"Uhuk... Uhuk.. " Aslyn terbatuk.


Alexis dengan cepat membantu gadis itu untuk duduk. Aslyn terbatuk mencoba mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya. Perlahan gadis itu membuka matanya. "Apa kita sudah mati?" Tanya Aslyn lemah.


"Kalau memang ingin mati... Mati saja sendiri jangan mengajakku." Jawab Alexis kesal.


"Jadi, aku belum mati?" Aslyn mengecek kembali ke adaan tubuhnya, menyentuh dada kirinya memastikan jantungnya masih berdetak. Tak berapa lama wajahnya terlihat lega. "Syukurlah.." Gumamnya gembira.


"Kita sudah di seberang." Alexis menatap pohon besar di hadapannya.


Pohon apel yang biasanya pendek, tapi di hadapannya berdiri pohon besar dengan daun lebat berwarna ke emasan. Lebih mirip daun yang hampir kering. Terdapat beberapa buah apel hitam pekat menggantung di sana. Alexis hendak berjalan mendekat ke arah pohon, tapi Aslyn menggenggam tangan Alexis.


Alexis menatap gadis itu bingung. "Hati-hati, bisa saja ada penjaga lain."


"Tenanglah!!" Alexis mendekat perlahan. "Aku tidak punya banyak waktu, keadaan ibuku semakin memburuk."


Alexis perlahan mendekat kearah pohon itu. Perlahan akar-akar pohon bergerak, menghalangi jalan Alexis. Sesaat pemuda itu berhenti menatap ke arah pohon yang telah berdiri ribuan tahun itu. "Begitu banyak yang harus aku lalui hanya untuk sampai di sini.... " Alexis berhenti sejenak dan menunduk dalam. "Aku hanya membutuhkan satu buah dari pohon ini, mungkin dahulu kakekku telah mengelabuhi penjagamu dan mengambilnya untuk ke untungannya sendiri. Tapi, aku benar-benar membutuhkannya aku mohon biarkan aku melihat, memeluk dan membalas setiap kebaikan yang dia berikan olehnya padaku. Bantu aku... " Perlahan Alexis melangkah.


Akar-akar pohon perlahan-lahan menjauh dari langkah Alexis. Aslyn melangkah cepat mengikuti elexis dari belakang. Perlahan dahan pohon turun, menunjukkan beberapa buah hitam pekat. Perlahan Alexis meraih satu buah apel itu dan memetiknya. Sesaat setelah dahan itu naik kembali setelah Alexis mendapatkan satu buah.


Tapi, baru saja Alexis memasukkan satu buah ke sakunya akar-akar pohon mulai terangkat dan menyerang ke arah Alexis dan Aslyn. Akar-akar melayang ke udara dengan cepat dan menghentakkan kembali ke tanah meninggalkan bekas retakan yang mengerikan. Cepat Alexis menghindari setiap serangan akar pohon itu.


Saat akar pohon melayang di atas kepala Alexis, siap untuk menghantam pemuda itu. Howen tiba-tiba muncul di hadapan Alexis menahan akar pohon yang berusaha meremukkan badan Alexis.


"Anda baik-baik saja?" Howen menatap Alexis.


Alexis mengangguk mantap dan segera menarik Aslyn menjauh dari sana.


"Howen buka gerbang untuk keluar dari sini!!" Perintah Alexis.


Howen mengangguk dan segera melepas akar pohon itu. Bergerak cepat ke arah Alexis, iris ke emasannya bersinar. Lubang hitam terbuka Alexis segera menarik tangan Aslyn saat salah satu akar itu meluncur lurus ke arah mereka dan Howen segera mengikuti dari belakang.


Mereka muncul di tepi tebing, awal mereka menuju jalan masuk ke dunia bawah laut. Aslyn bernafas lega, matanya melirik ke arah Alexis.

__ADS_1


"Matamu... Berubah lagi?" Tanya Aslyn penasaran.


"Benarkah? Tapi aku menyukai mata ini." Jawab Alexis santai.


"Sayang sekali, kau lebih tampan dengan mata biru." Aslyn melirik ke arah lain menyembunyikan ke gugupan dalam suaranya.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Sepertinya kau sudah jatuh dalam pesonaku." Alexis tersenyum. "Bagaimanapun misiku sudah selesai. Setelah ini kau ingin kemana?" Alexis menatap Aslyn.


Aslyn menunduk dalam, seakan dia kembali teringat akan hal lain.


"Kau... Kenapa?" Alexis menatap Aslyn.


"Aku hanya penasaran, jika temanmu ini bisa membuat jalan pintas yang lebih mudah kenapa kau memilih melewati jalan sulit dan mempertaruhkan nyawamu. Hah!!" Aslyn menatap Alexis kesal.


"Karena kami belum tahu pasti tempatnya, jadi akan sulit menentukan lokasinya dan lagi butuh energi ekstra untuk membuat jalan pintas." Alexis melirik Howen yang nampak pucat dan letih. "Kembalilah dulu ke Malbork, pulihkan dirimu!!"


"Tapi, anda... "


"Apa kau bisa menjagaku saat kondisimu seperti sekarang? Lagi pula, aku hanya perlu membawa apel ini ke Aldwick. Aku akan baik-baik saja." Alexis menatap Howen. "Jangan membuatku mengulangi perintah yang sama."


Aslyn menatap Alexis kagum. "Aku pikir kau seorang pengecut yang hanya bersembunyi di balik pengawalmu."


"Dia bukan hanya pengawalku, dia ayah, ibu, kakak, sahabat dan satu-satunya keluargaku." Alexis menunduk dalam.


"Karena itu kami sama... " Aslyn menatap Alexis dalam.


"Baiklah, ayo kita pulang!" Alexis hendak melangkah kembali. Tapi, lengannya di tahan oleh Aslyn.


"Ja... Jangan! Jangan lewat jalan itu.. " Aslyn menatap Alexis memohon.


"Kenapa? Akan lebih cepat lewat jalan ini." Alexis menatap lengan Aslyn yang gemetar.


"Ada sesuatu yang salah?" Alexis tersenyum seakan mengetahui apa yang ada di kepala gadis itu. "Kau juga harus menyelesaikan misimu, bukan?"


Aslyn terkejut, mata bulatnya menatap Alexis. "Ba.. Bagaimana... "

__ADS_1


Alexis tersenyum. "Robbin... Terlihat jelas dalam pikiranmu, harusnya kau tidak terlalu memikirkannya saat bersama iblis sepertiku. Tapi, sejujurnya aku lebih tampan darinya... " Alexis menatap lurus ke depan. "BUKANKAH BEGITU ROBBIN!!" Alexis meninggikan suaranya.


Dan dari Bali semak-semak muncul beberapa orang memakai topeng. Di bagian paling depan terlihat seorang pemuda menatap tajam ke arah Alexis.


"Atau aku harus memanggilmu, Rhodri?" Alexis menyeringai.


Pemuda itu melepas topengnya. "Karena kau sudah tahu, aku tidak perlu repot-repot menyembunyikan wajahku. Kali ini aku akan menangkapmu. Atau jika kau ingin lebih mudah, serahkan apel itu dan menyerahlah."


"Kau masih sama saja, banyak bicara!!" Alexis menatap Rhodri kesal. "Menyingkir dari jalanku. Ahhhh... Dan gadis ini dia pacarmu, sayang sekali dia sudah jatuh Cinta padaku." Alexis tersenyum mengejek dan merangkul pundak Aslyn.


"Aslyn, bawa apel itu padaku. Kita akan bersama lagi, kita akan tinggal di istana bersama. Tak ada lagi yang akan kesepian dan kita balaskan dendam orang tua kita bersama. Kemari, kau sudah menyelesaikan misimu dengan baik."


Alexis melepas pelukannya di pundak Aslyn. Membuat gadis itu menatap Alexis nanar, perasaan takut mulai menyusup kedalam hatinya. Takut jika dia harus berjauhan dengan pria di hadapannya, takut jika dia tak akan pernah bisa melihatnya. "Al.. Alexis... " Gumam Aslyn lemah.


"Aku sudah tahu dari awal, kau tak perlu memandangku seperti itu. Aku sengaja membawamu." Alexis menatap Aslyn dan tersenyum. "Aku ingin membuat semua menjadi lebih menarik. Karena itu aku membawamu, membuatmu bingung dengan perasaanmu."


"Aslyn, cepat kemari!!" Rhodri terlihat mulai tidak sabar.


"Ro.. Robbin, maaf aku rasa kau salah dengannya. Dia tidak sejahat yang kau ceritakan, dia sama seperti kita. Dia di tinggalkan oleh orang tuanya, jadi.. " Aslyn mencoba menghentikan Rhodri.


"ASLYN!!!" Rhodri berteriak. "Sadarlah, dia anak dari Devian orang yang membunuh ayahmu enam tahun yang lalu di persembunyiannya. Dia yang memulai semua penderitaan kita, dia yang membuat keluarga kita terpecah belah."


Air bening perlahan mulai jatuh membasahi wajah gadis itu.


"Haruskah kita bertarung sekarang? Aku benci harus melibatkan seorang gadis dalam kekerasan, apa lagi harus melihatnya menangis." Alexis menatap Rhodri dingin.


"Kau menantangku?" Tanya Rhodri emosi.


"Bukankah itu yang sering kau lakukan?" Di tangan kanan Alexis muncul sebilah pedang peraknya. Dia segera maju ke arah Rhodri dengan santai.


Rhodri menatap Alexis penuh amarah. Rhodri melesat cepat ke arah Alexis, mengarahkan sebuah serangan dengan pedang hitam yang mendadak muncul. Alexis menahan serangan itu dengan pedanganya.


"Kau menggunakan kekuatan terlarang rupanya, karena itu kau butuh apel ini?" Alexis menyeringai. "Kau memang pecundang!!" Alexis mendorong pedangnya, hingga menimbulkan suara gesekan pedang.


Rhodri terhuyung kebelakang, dia menatap garang ke arah Alexis. "Jaga bicaramu."


"Sebaiknya, jangan memaksakan dirimu!!" Alexis tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Ayo, kita lihat siapa di antara kita yang pecundang." Tantang Rhodri.


__ADS_2