setan kecil

setan kecil
part 7


__ADS_3

"Semua terasa membosankan kegelapan yang sama, aku ingin keluar berlari dari sini. Aku ingin melihat semua yang sudah aku tinggalkan." menangis dalam diam dalam tubuh yang terbaring bagai mayat dalam peti kaca itulah yang dilakukan Alice saat ini.


Jauh di dalam alam bawah sadarnya dia mencoba untuk keluar tapi begitu banyak kekuatan yang menahan tubuhnya. Sekuat apapun keinginannya itu tidak cukup, tubuhnya menginginkan hal yang berbeda dengan yang ia inginkan. Ingin rasanya meraih titik cahaya atau berteriak sekeras mungkin tapi semua terasa sia-sia. Tak ada yang bisa mendengarnya.


Keputus asaan itulah yang ia rasakan saat ini, meringkuk dilingkar cahaya satu-satunya Sumber cahaya di alam bawah sadarnya. Menunggu seseorang datang untuk membawanya kembali.


******


"Kenapa kau membawaku kemari?" terdengar suara kesal seseorang.


Malam sudah sangat larut, semua terlihat gelap hanya suara langkah kaki dan suara seseorang yang terus menggerutu.


"Diamlah, Tuan Rhodri!!" Terdengar suara seseorang yang tak kalah kesal.


"Bill haruskah kita kemari selarut ini?" Tanya Rhodri.


"Jika kau ingin ditahan oleh para penjaga kau bisa datang kemari besok pagi." Omel Bill yang mulai kesal mendengar keluhan Rhodri.


"Sebenarnya apa yang kita lakukan disini?" Tanya Rhodri penasaran.


"Berhenti bertanya dan bantu aku menyingkirkan rumput liar ini dari jalan." Bill mencoba memotong rumput-rumput liar yang tinggi dengan pedangnya.


Sebuah kastil kecil yang terpisah cukup jauh dari kastil utama, dinding-dinding Batu keabu-abuan yang dipenuhi tumbuhan liar. Seluruh halaman di penuhi tumbuhan liar berduri, suasana malam hari yang terasa mencekam tanpa adanya sinar rembulan. Bahkan tanpa di beritahupun semua orang pasti akan tahu kalau kastil ini tak berpenghuni atau yang terburuk mungkin ada makluk lain yang menempatinya.


Dengan kesal Rhodri menebas seluruh semak yang menghalangi jalan mereka hingga mereka bisa mencapai pintu utama kastil itu. Saat sampai di depan pintu Bill segera membuka pintu kastil.


Saat mereka memasuki kastil, hawa dingin mulai merasuk ke dalam tubuh mereka. Kegelapan memenuhi seluruh ruangan membuat seluruh kastil ini terasa semakin pengap.


"Bi.. Bill sebaiknya kita pergi." Bisik Rhodri cemas.


"An.. Anda harus mengambil sesuatu di ruangan tuan Adrian." bisik Bill.


Rhodri menelan ludah ketakutannya, mereka berjalan perlahan menyusuri ruangan gelap dengan hati-hati. Semua masih tersusun rapi, hanya semua perabotan tertutup oleh debu.


Akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan, Bill langsung meminta Rhodri mencari sesuatu di meja kerja ayahnya dan Bill mencarinya di bagian rak buku. Rhodri terus mengacak dalam laci meja kerja ayahnya, mengeluarkan semua isi didalamnya dan merogoh hingga ke bagian sudut laci. Tapi, benda yang ia cari tak dapat ditemukan. Begitupula bill dia telah mengacak semua buku dan laci di seluruh rak tapi benda yang ia cari juga tidak ketemu.


"Tidak ada, apa kakek yakin benda itu disimpan disini?" Tanya Rhodri mulai kesal.


"Dimana lagi kalau tidak disimpan disini? Cari saja sampai dapat dan jangan mengeluh. Kau baru disini beberapa hari sudah banyak sekali mengeluh." Bill terus menggerutu kesal.


Saat Rhodri melihat keluar jendela mendung yang menutup Bulan perlahan bergeser membuat sorot cahaya Bulan menembus celah-celah kaca jendela. Membuat ruangan itu seketika terang, pada saat itulah ekor mata Rhodri melihat tirai biru tua di dinding.


Perlahan Rhodri melangkah ke arah tirai tersebut. Angin yang perlahan berhembus menyibak sebagian tirai, terlihat bayangan sosok di balik tirai itu. Dengan tangan bergetar Rhodri mengulurkan tangannya, mencoba meraih bagian tirai untuk menyibaknya.

__ADS_1


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


Rhodri menelan ludah ketakutannya saat dia menggenggam tirai tersebut dan dengan sekali sentak..


Srakkkkk.....


"Ahhhhhhh... " Rhodri berteriak sekuat tenaga.


Terlihat bayangan seorang pemuda dengan wajah ketakutannya. Bill yang terkejut langsung melihat kearah Rhodri yang berteriak dengan memalingkan wajahnya dia terus menutup matanya.


"A.. Apa yang kau lakukan, bodoh? Itu bayanganmu sendiri. Jika kau berteriak seperti itu penjaga akan tahu." Bill menatap Rhodri kesal.


Perlahan Rhodri mengintip kearah cermin besar di hadapannya. Cermin setinggi dua meter dengan bingkai kayu yang memiliki ukiran-ukiran aneh. Rhodri berbalik dan mengamati kembali ukiran di bingkai cermin tersebut, wajah-wajah tersiksa, orang-orang yang dililit ular raksasa. Dari bagian bawah terlihat wujud-wujud iblis mengerikan, iblis bertanduk hingga iblis yang memiliki sayap dan tangan yang cukup banyak. Saat ukiran mulai mendekati bagian Puncak, ukiran berubah manusia-manusia telanjang seakan meraih sebuah singgasana dimana diatasnya berdiri seorang Raja dengan mahkota dan tongkat rubby semerah darah diatasnya.


"Cermin yang aneh." Rhodri menyentuh bagian bingkai tersebut mengagumi setiap detil dari semuanya. "Tapi, aku menyukainya."


"Berhenti main-main bantu aku mencarinya." Omel Bill yang masih sibuk mengacak bagian lemari lain.


Rhodri menghela nafas dan hendak berbalik.


"Rhodri.... " sebuah bisikan menghentikan langkah Rhodri.


Rhodri berbalik dan melihat sekelilingnya, tapi tak ada apapun yang ia lihat hanya cermin di hadapannya.


"Apa kau mendengar seseorang memanggilku?" Rhodri melirik kearah Bill.


"Mungkin aku salah dengar." Rhodri hendak berbalik lagi saat sosok bayangan lain muncul di cermin itu.


Rhodri terbelalak kaget hingga terjatuh dilantai, saat dia melihat sosok yang mengerikan dalam cermin dihadapannya setengah dari tubuhnya tertutup sisik-sisik tajam berwarna hitam dan sebagian lagi masih berwujud manusia. Iris matanya satu berwarna keemasan dan yang satu berwarna keabu-abuan.


"S... Siapa ka.. Kau?" Tanya Rhodri gugup.


Ketakutan mendadak menguasainya, keringat dingin membanjiri keningnya. Dia menunjuk ke dalam cermin dengan gemetar. Bill yang melihat hal itu ikut terkejut dan langsung berlari mendekat dan bersujud. "Ma.. Maafkan s... Saya tuan.... " Suara bill terbata dan bergetar karena takut.


"Rhodri, jadi kau Putra Aleysia. Kau sudah besar." terdengar suara sosok dalam cermin itu bicara.


"Si.. Siapa kau?" Tanya Rhodri mencoba terlihat lebih berani.


"Aku Raja Aldwick, penguasa dari kerajaan Aldwick. Aku adalah Raja Adrian." Adrian menyeringai menatap dua orang di hadapannya.


******


Alexis mengendap-endap di sepanjang koridor kastil utama. Setiap ada penjaga lewat anak itu langsung bersembunyi di antara bayangan pilar hingga penjaga itu pergi.

__ADS_1


"Aku seperti pencuri didalam rumahku sendiri." Gumam Alexis kesal.


Alexis kembali mengendap-endap melewati beberapa pintu hingga akhirnya dia sampai di pintu menuju menara. Dengan hati-hati Alexis mencoba membuka pintu kayu tersebut.


"Tidak dikunci?" Alexis terlihat heran, seakan tersadar akan sesuatu anak itu langsung berlari menaiki anak tangga menuju bagian menara tertinggi.


Hingga ia sampai diruangan paling atas. Kosong, ruangan yang tadinya terdapat peti kaca kini telah kosong. Hanya sorot cahaya rembulan yang menembus satu-satunya jendela kecil di bagian atas yang terlihat di tengah ruangan.


Alexis menggenggap erat tangannya, hingga buku-buku tangannya memutih. Perasaan kesal dan marah mengusai pikirannya.


"Apa yang dia rencanakan? Kenapa dia terus menyembunyikan ibuku?" Teriak Alexis kesal. "Aku akan membuat perhitungan dengannya."


Dengan langkah cepat Alexis segera turun, iris birunya perlahan berubah memerah. Di genggaman tangannya sebilah pedang perlahan terbentuk, pedang keperakan yang berkilat. Beberapa penjaga yang melihat Alexis segera menghadang anak itu.


"Pangeran apa yang anda lakukan di sini? Sebaiknya anda kembali ke kastil Timur." Salah satu penjaga memperingatkan.


"Diam kau, sebaiknya kalian menyingkir sebelum aku membunuh kalian semua." mata Alexis berkilat tajam menatap mereka membuat siapa saja bergidik ngeri.


Penjaga itu menelan ludah, ingin dia menghentikan Alexis tapi seperti ada kekuatan yang membuatnya takut untuk menghentikan anak itu.


"Kau tahu, aku adalah Pangeran dari kerajaan iblis. Jika kau berani maju satu langkah saja kau akan kehilangan nyawamu." Ancam Alexis.


"Siapa yang membuat keributan malam-malam begini?" Terdengar suara Devian dari balik bayangan pilar besar di koridor.


"Ya.. Yang Mulia..." seluruh penjaga langsung memberi hormat pada Devian.


Tapi, mata Devian menatap lurus pada Putranya. "Kalian boleh pergi."


Seluruh penjaga langsung pergi dari sana meninggalkan ayah dan anak sendiri.


"Kau... Di mana kau menyembunyikan ibuku?" Tanya Alexis menahan amarahnya.


"Kau melanggar peraturanku, aku akan menjatuhkan hukuman untukmu." Kata Devian datar.


"Aku tidak peduli dengan hukum konyolmu. Kembalikan ibuku sebelum aku melawanmu." Alexis menatap tajam ayahnya.


Devian menatap pedang yang di pegang putranya dan beralih menatap iris Alexis.


"Kau memang anak Iblis seharusnya kau tidak terlahir." Devian menatap Alexis datar.


"Salah siapa jika aku terlahir? Bukankah, itu juga karena dirimu." Alexis menatap ayahnya penuh amarah.


"Kau benar, kesalahan terbesarku adalah dirimu. Hingga aku harus kehilangan istriku." Terlihat sorot mata Devian yang sayu saat mengatakan kalimat terakhirnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Alexis semakin emosi.


"Haruskah aku mengatakannya? Bahwa kau penyebab Ibumu mati." Devian menatap tajam putranya.


__ADS_2