
Seorang pria terlihat memengang gelas anggur di tangannya. Duduk bersandar di sebuah kursi dengan menyilangkan kakinya. Bibirnya sesekali menyesap minuman di dalam gelas.
"Yang Mulia, kapan kita akan pergi?" Tanya seorang pria di belakangnya dengan lembut.
"Howen, haruskah kita pulang?" Alexis menatap Howen ragu. "Kemarin aku tidak sadar saat mengatakan akan pulang. Sebaiknya jangan pulang, biarkan dia yang kemari."
"A.. Apa yang anda bicarakan?" Tanya Howen tak mengerti.
"Dia bilang mencari buronan, tapi paman Torn bilang dia mencariku. Apa aku buronannya? Bagaimana jika itu hanya jebakan?" Alexis menatap Howen penuh rasa khawatir.
"Anda terlalu berlebihan." Howen berusaha menenangkan.
"Aku belum siap mati." Alexis menatap Howen dengan berkaca-kaca.
"Saya akan melindungi anda, anda sudah berjanji untuk datang. Sebaiknya anda segera bersiap."
"Bagaimana jika aku menyuruh seseorang untuk menyamar menjadi aku, paman Torn tidak bilang kalau Raja Malbork adalah anaknya." Alexis mencoba mencari jalan keluar.
"Hmm.. Saya rasa itu sesuatu yang tidak bertanggung jawab." Howen mencoba meyakinkan Alexis.
"Baiklah, ayo pergi. Kita bisa mengambil jalan yang paling panjang untuk kesana. Bagaimana dengan jalan kaki?" Usul Alexis.
Howen mendekat kearah Alexis dan membantu pangeran muda itu bangkit dari tempat duduknya. "Mari! Saya akan membuka pintu untuk anda."
Alexis terlihat pasrah saat Howen membawanya masuk kedalam pintu yang biasa mereka gunakan untuk menuju Aldwick.
*****
Pintu terbuka tepat di gerbang masuk menuju Aldwick. Alexis menatap tajam ke arah Howen di sampingnya.
"Howen, kenapa kau tidak membunuhku saja?" Alexis menatap Howen emosi.
"Maaf Yang Mulia" Howen menunduk. "Haruskah kita kembali ke rumah?" Tawar Howen lagi.
"Sudahlah, lupakan. Kita sudah berada dirumah, memangnya kau mau membawaku kemana lagi?" Alexis menghela nafas panjang.
Bukannya masuk ke istana Alexis segera berbalik melangkah menjauh dari istana. Membuat Howen menatap Alexis penuh dengan rasa kebingungan. "Ya.. Yang Mulia, anda pergi kemana?" Howen segera menyusul langkah Alexis.
"Aku lapar, sebaiknya kita makan dulu." Jawab Alexis datar.
"Bukankah, akan ada perjamuan makan jika ada tamu kerajaan datang." Sahut Howen.
Alexis menatap Howen frustasi. "Bagaimana jika pria jahat itu tak memberiku makan? Kau tau dia tak akan peduli bahkan jika aku di makan seekor hellhound sekalipun." Alexis segera melangkah dengan kesal mendahului Howen.
Brukkk...
"Jessie.. Sudah ibu katakan untuk hati-hatikan." terdenger omelan seorang ibu pada anaknya yang baru saja menabrak Alexis.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir." Alexis tersenyum menatap anak kecil di depannya.
"Maafkan, Putri saya dia... " perempuan itu terdiam membeku menatap pria dihadapannya, begitu pula Alexis.
"Bi.. Bibi Beryl?" Alexis menatap wanita di hadapannya tak percaya.
"Pa.. Pangeran!" Panggil Beryl ragu. "A.. Anda masih hidup." genangan air bening terlihat mulai muncul di mata perempuan itu.
Alexis terlihat tersenyum canggung. "Hmmm.. Ada beberapa orang... "
__ADS_1
Beryl langsung memeluk Alexis dengan isak tangis yang mulai pecah. Alexis pun terlihat canggung, namun dia berusaha menenangkan Beryl. "Bi.. Bibi tenanglah orang-orang akan berpikir aku melakukan sesuatu padamu." Bisik Alexis pada Beryl yang kini dalam pelukannya.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
Beryl segera melepas pelukannya dan mengajak Alexis kerumahnya.
"Pangeran anda ingin minum sesuatu?" tanya Beryl begitu mereka sampai dirumah Beryl.
"Dia tidak mengijinkanmu tinggal di istana?" Tanya Alexis seraya duduk pada salah satu kursi di ruang tamu tersebut, mata Alexis mengamati rumah kecil yang sederhana.
"Tuan Aiden ingin kami tinggal di luar istana sementara waktu." Jelas Beryl.
"Kau menikah dengannya?" Tanya Alexis tak percaya.
Beryl hanya tersenyum malu-malu dengan wajah memerah.
"Hwa... Kau bahkan tidak mengundangku. Bibi kau menyakiti hatiku." Alexis berpura-pura memasang wajah sedihnya.
"Ibu, siapa kakak ini?" Tanya Putri Beryl padanya.
"Jessie, dia adalah Pangeran Alexis." Jelas Beryl lembut.
"Jadi dia pangeran kesepian, yang selalu ibu ceritakan padaku?" Jessie menatap Beryl dengan matanya yang bulat.
"Jessie, sebaiknya kau masuk ke kamar dulu. Ibu ingin bicara serius dengan kakak ini."
"Baiklah." Jessie tersenyum dan berlari masuk ke kamarnya.
"Bibi kau banyak berubah, kau jadi lebih pendek." Alexis tersenyum lembut.
"Itu karena anda semakin tinggi Yang Mulia." Beryl tersenyum.
"Pangeran?" Beryl mulai berkaca-kaca.
"Bibi juga masih cengeng." Alexis terkekeh saat melihat Beryl mengusap Air matanya.
"Kapan anda akan menemui Yang Mulia? Apa perlu ku panggilkan tuan Aiden untuk mengantarmu?" Beryl menatap Alexis penuh arti.
"Dia suamimu tapi kau masih memanggilnya tuan, itu terdengar lucu bibi." Alexis tersenyum pada mantan pelayan ibunya. "Aku akan kesana sendiri, aku hanya ingin menyiapkan diriku."
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Beryl mengusap lembut punggung Alexis. "Sebaiknya aku siapkan makanan untuk kalian berdua, tunggu sebentar ya."
*****
"Tuan, saya menemukan Pangeran Alexis." Lapor seseorang pada Rhodri yang tengah berdiri menatap keluar jendela. "Dia berada di Aldwick."
Rhodri berbalik menatap orang yang baru saja menyampaikan laporan padanya. "Kau yakin? Setelah sekian lama kau mencarinya dan dia berada di Aldwick selama ini?" Rhodri menatap orang setianya itu tak percaya.
"Saya rasa Pangeran Alexis terus berpindah-pindah selama ini." Jelasnya.
"Ck... Aku yang akan mengurusnya, dimana dia sekarang?" Tanya Rhodri.
"Di rumah, Nyonya Beryl istri dari Tuan Aiden."
"Akhirnya kita akan bertemu lagi." Gumam Rhodri dan segera melangkah keluar.
*****
__ADS_1
"Bibi terimakasih makanannya." Alexis tersenyum lalu berjongkok menatap Jessie Putri Beryl. "Berapa umurmu?" Tanya Alexis tersenyum lembut.
Jessie merapatkan tubuhnya pada Beryl dan menggenggam gaun ibunya dengan erat. "E.. Empat tahun." Lirihnya.
"Kau sangat cantik, aku harap aku bisa mengunjungimu kapan-kapan." Alexis membelai lembut rambut coklat gadis kecil itu. "Baiklah, sebaiknya aku segera pergi." Alexis berdiri dan segera beranjak meninggalkan rumah Beryl.
"Hati-hati Pangeran." Beryl tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya.
"Howen, kapan kau akan menikah?" Alexis melirik kearah Howen.
"Kapan kita akan menemui Yang Mulia Raja?" Howen menatap Alexis.
"Ahhh.. Howen, kenapa hari ini kau sama sekali tidak mendengarkanku? Kau selalu bertindak berlawanan dari apa yang aku inginkan." Alexis menatap Howen frustasi.
"Saya melakukan apa yang terbaik untuk anda." Howen memberi alasan.
"Ck.. Lakukan apapun yang kau mau." Gumam Alexis.
Saat mereka berjalan santai menyusuri jalanan ibukota Aldwick, beberapa orang berkuda memacu kuda-kuda mereka dengan cepat. Beberapa orang yang awalnya berjalan dengan tenang segera bergerak menyingkir memberi jalan pada penunggang-penunggang kuda itu. Sebaliknya Alexis berhenti diam di tempatnya seakan membiarkan orang-orang itu menabraknya.
Kuda-kuda meringkik berhenti saat sampai di hadapan Alexis. Seluruh kuda terlihat gelisah dan bergerak kesana kemari. Membuat para penunggangnya sedikit gusar.
"Hei, kau!! Minggir dari jalan kami. Kau tau kami utusan yang di kirim Raja." Teriak salah seorang dari mereka yang berada paling depan.
Alexis menghela nafas panjang dan menatap Howen. "Hmm... Sebaiknya kalian menyingkir sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk." Alexis memperingatkan.
"Ha!! Siapa kau berani memerintah kami?" Tanyanya lagi dengan emosi.
"Aku? Aku tamu kerajaan, aku diundangan oleh Raja kalian." Jawab Alexis.
"Jangan bercanda, Raja kami... "
"Cukup!!" Seseorang maju dengan menunggangi kudanya pelan.
Alexis melirik kearah penunggang kuda itu. Sesaat Alexis menghela nafas dan segera memalingkan wajahnya dengan malas.
"Siapa kalian berada di istana Aldwick tanpa ijin?" Tanya Pria beriria abu-abu itu lantang.
"Bukankah, aku baru saja menjawabnya. Jangan-jangan kau tuli." Alexis tersenyum mengejek.
"Apa tamu kerajaan terlihat seperti ini? Tanpa hadiah, tanpa pengawal dan tanpa kereta kerajaan? Apa seorang utusan berjalan kaki?" Tanya pria itu lagi.
"Aku sudah mengirimkan hadiah. Aku juga punya pengawal. Kenapa kau tidak bilang kalau aku perlu kereta kuda untuk bertamu di kerajaan ini? Harusnya kau memberi tahuku."
Alexis menjentikkan jemarinya dan tak berapa lama lingkaran hitam muncul di belakangnya, dari sana muncul sepasang kuda putih yang menarik sebuah kereta kuda kecil berwarna putih dengan paduan warna emas pada setiap ukirannya. Pada bagian atas kereta terlihat ukiran-ukiran Indah dengan sebuah bendera lambang kerajaan Malbork burung phoenix emas. Kereta tersebut berhenti di samping Alexis dan lingkaran hitam itupun menghilang.
Seorang kusir terlihat memberi hormat padanya. Saat semua orang ternganga melihat kemunculan kreta kuda tersebut, Howen segera melangkah kearah Alexis memakaikan jubah kebesaran kerajaan Malbork, tak lupa sebuah mahkota indah dengan hiasan burung phoenix emas di bagian depan mahkota. Tak lupa taburan batu-batu mulia menghiasi mahkota tersebut.
"Bagaimana? Sekarang aku lebih dari pantas bukan?" Alexis menatap Rhodri yang masih berada di atas kudanya.
"Kau masih saja sombong." Gumam Rhodri kesal.
"Bukankah itu hal yang normal, akan terlihat aneh jika kau yang menyombongkan diri." Alexis menyeringai pada Rhodri.
"Apa?" Rhodri melompat turun dari kudanya dan berjalan mendekat ke arah Alexis.
"Tidak ada, aku hanya ingin bilang bahwa seberapapun kerasnya usaha yang kau lakukan kau tidak akan pernah bisa sebanding denganku. Di saat kau menjadi pangeran, aku sudah menjadi Raja. Jadi, berhenti saja jangan terlalu memaksakan dirimu. Sejujurnya aku sedikit kasian padamu." Alexis segera berbalik menuju kereta kudanya.
__ADS_1
"Semua usaha yang aku lakukan tidak pernah sia-sia. Lihat saja kau akan menyesal, akan aku ambil semua yang telah di ambil dariku." Gumam Rhodri frustasi.