
"I...ibu.. !!" Panggil Alexis dengan suara bergetar.
Alexis perlahan mendekat kearah peti kaca itu, terlihat tarikan nafas pelan dari wanita didalamnya. Mata Alexis membulat, dia mengedarkan pandangannya kesegala arah mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memecahkan peti tersebut.
"Ibu!! Bangun, bu!!" Alexis memukul kaca tersebut.
Berteriak seperti orang gila dan terus memukul peti kaca itu dengan tangan mungilnya. "IBU!!! "
terlihat bagian bola mata Alice sedikit bergerak. Tapi, tak ada respon gerakan lainnya. Alexis segera berkeliling diruangan itu mencari benda yang bisa dia gunakan untuk memecahkan peti tersebut. Kemudian, Dia mengingat melihat patung penjaga besi diluar ruangan. Alexis segera keluar dan mengambil pedang ditangan patung tersebut.
Prang.....
Seluruh badan patung roboh, bagian kepala besi berguling turun. Alexis mengabaikannya dan segera masuk kembali, bersiap mengayunkan pedangnya untuk memecahkan kaca peti yang mengurung ibunya.
"BERHENTI!!!! " seseorang pria menghentikan alexis.
Dengan wajah marah pria tersebut melangkah kearah Alexis dan merebut pedang itu dari tangannya. Dengan kasar pria itu menarik lengan Alexis, menyeret si pangeran kecil itu keluar dari sana. Alexis menatap punggung pria itu, melihat rambut keperakan yang ia miliki.
"Ayah, kenapa kau membiarkan ibu terkurung disana?" Tanya Alexis emosi.
"Diam kau!!!" Bentak Devian.
Devian melempar Alexis di aula kastil Timur. Matanya berkilat merah penuh kemarahan.
"Apa kau mau membunuhnya lagi!!!" Tanya Devian penuh amarah. "Siapa yang membiarkan mu masuk kesana? Sebaiknya kau tetap diam dikastil ini dan jangan pergi kemanapun. Atau aku akan membuangmu." Devian segera berbalik dan pergi dari sana.
Alexis terdiam shock, perkataan ayahnya menusuk perasaannya. Bagaimana mungkin dia ingin membunuh ibu yang telah melahirkannya? Dia bahkan ingin merasakan pelukan dari tangan ibunya.
Howen perlahan mendekati Alexis. "Pangeran, anda baik-baik saja?" Howen menatap Alexis.
Dimata anak itu telah tergenang cairan bening yang tertahan. "Ho.. Howen, kenapa ayah marah padaku? Aku tidak pernah ingin mencelakai ibu." Air mata perlahan menetes dari matanya.
Howen memeluk tuannya dan menepuk punggung Alexis. Mencoba menenangkan tuannya tersebut.
******
Devian kembali ke tempat Alice terbaring dengan wajah menunduk dalam. "Maaf, harusnya aku memberikan penjagaan ekstra disini." Gumamnya sedih.
Devian menempelkan tangannya dikaca peti, menatap dalam kearah wajah istrinya yang masih terpejam. "Sampai kapan kau akan bertahan? Aku akan segera menemukan cara lain. Bersabarlah!!" Gumam Devian.
Devian menghela nafas panjang dan melangkah keluar dari sana. Tidak lupa Devian mengunci rapat ruangan dimana istrinya terbaring. Saat Devian telah keluar, perlahan air bening menetes dari kelopak mata Alice yang masih terpejam. Menetes turun hingga menyatu dengan air.
*******
Di ruang singgasana, puluhan menteri, pejabat dan bangsawan berkumpul menunggu Devian datang. Saat Devian masuk mereka segera berdiri menunggu sang Raja sampai di singgasananya. Setelah Devian duduk, mereka menunduk hormat dan kemudian kembali duduk.
"Hmmm.. Baiklah, ada masalah apa hari ini?" Tanya Devian memulai pertemuannya.
Salah seorang menteri berdiri dari tempat duduknya. "Hormat Yang Mulia, Beberapa hari yang lalu saya melakukan perjalanan kunjungan ke negeri Goliath seperti perintah anda untuk menawarkan perdamaian dan kerja sama politik. Tapi, Raja Goliath menginginkan anda untuk menikahi Putri tertuanya sebagai tanda perdamaian."
__ADS_1
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Aku menolak!!" Jawab Devian tegas. "Ada yang lain?" Devian segera beralih menatap pejabat lain.
"Tapi Yang Mulia, perjanjian ini akan sangat menguntungkan bagi kita. Lagi pula Putri kerajaan Goliath terkenal akan kecantikannya." Terlihat sang menteri masih mencoba meyakinkan Devian.
"Apa aku terlihat seperti Raja yang hanya mencari keuntungan. Jika aku mau aku bisa meratakan kerajaan bodoh itu dalam waktu sekejap. Jadi, sebaiknya kau diam sebelum ku lempar kau keluar dari ruangan ini." Devian menatap tajam sang menteri.
Menteri tersebut langsung menunduk dalam dan kembali duduk. Lalu, seorang menteri keamanan berdiri. "Salam dan hormat untuk anda Yang Mulia." Menteri tersebut memberi hormat pada Devian.
"Sebaiknya laporanmu lebih baik dari pada laporan tadi." Devian memperingatkan.
"Ampun Yang Mulia, beberapa hari yang lalu petugas kami menghadapi sedikit masalah keamanan di ibukota. Seorang pencuri berkeliaran dan meresahkan masyarakat..."
"Lalu, apa kau kesulitan menghadapi seorang pencuri saja?" Tanya Devian tajam.
"Bukan begitu Yang Mulia! Kami mendapat informasi jika anak itu adalah Putra dari Pangeran Adrian. Kami berusaha mencari dan menangkapnya tapi kami kesulitan menemukan tempat tinggal atau tempat persembunyiannya." Jelas menteri tersebut.
"Putra Adrian?" Devian terlihat berfikir. "Bagaimana jika aku membawanya ke istana?"
Semua orang langsung terkejut, suara riuh penolakan terdengar dari semua pejabat kerajaan. "Tidak, Yang Mulia!! Kami menolak, jika benar dia Putra dari Pangeran Adrian keberadaannya akan mengancam keselamatan Putra Mahkota."
"Putra Mahkota?" Tanya Devian heran. "Aku belum memutuskan anak itu menjadi putra mahkota, lagi pula aku masih bisa memimpin dua kerajaanku sekaligus."
Semua terdiam sesaat. "Tapi, jika putra Pangeran Adrian sampai masuk istana itu akan sangat berbahaya. Ayahnya adalah penghianat dan juga penyebab Aldwick harus menanggung penghinaan." Protes pejabat lain.
"Tapi, bagaimana jika anak itu akan membahayakan anda atau kerajaan ini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku sendiri yang akan memenggal kepalanya." Jawab Devian. "Cari anak itu dan bawa dia kepadaku hidup-hidup."
Setelah pertemua selesai Devian segera keluar dengan didampingi oleh Aiden. Terlihat Aiden memandang Devian dengan tatapan kesal dan juga tidak mengerti.
"Berhenti menatapku seperti itu!" Perintah Devian.
"Yang Mulia, apa anda begitu membenci pangeran Alexis??" Tanya Aiden frustasi.
"Entahlah, kenapa kau bertanya hal itu?"
"Anda membawa putra musuh anda kedalam istana, apa karena anda tidak bisa membunuh Pangeran Alexis dengan tangan anda?"
Devian berhenti dan berbalik menatap Aiden. "Entahlah, aku hanya ingin tahu bagaimana dia akan mempertahankan posisinya jika seorang pesaing muncul. Apakah dia akan menjadi lemah atau semakin kuat? Aku ingin mengujinya, sebelum mengirimnya kedalam lubang maut." Devian tersenyum tipis dan berbalik pergi meninggalkan Aiden yang menatap Devian tak mengerti.
*****
Alexis baru saja menyelesaikan pelajaran politiknya saat Howen datang Dengan Buru-buru untuk menemuinya.
"Pangeran, sesuatu telah terjadi." Howen langsung menunduk memberi hormat pada Alexis.
"Apa yang terjadi?" Tanya Alexis.
__ADS_1
"Raja Devian, akan membawa Putra Pangeran Adrian ke istana." Lapor Howen.
"Begitukah? Kenapa ayah membawanya? Apa kau tahu alasannya?" Alexis menatap tajam kearah Howen.
"Saya belum mengetahuinya, Pangeran."
Alexis menatap lurus kedepan. "Howen, Cari tahu semuanya secara rahasia. Jangan biarkan ayah tahu, aku akan menyelidiki tentang keberadaan ibu dan kenapa ayah membiarkannya disana."
"Baik, pangeran!" Howen menunduk hormat dan menghilang.
"Haruskah, aku berhenti bersikap kekanakan dan menunjukkan sifat asliku, Ayah?" Gumam Alexis dengan iris biru yang perlahan berubah memerah.
*****
Aleysia mondar-mandir di ruang tamu gubuk kecilnya.
"Aleysia bisakah kau berhenti bergerak kesana kemari, kau membuat kepalaku sakit." Protes sang ayah.
"Ayah, Rhodri belum kembali sampai sekarang. Bagaiaman jika sesuatu terjadi padanya?"
"Lalu, apa yang kau inginkan? Apa kau ingin ayah untuk ke kota dan bertanya pada semua orang dan memberi tahu kalau Sir Bernett kembali, setelah itu kau akan menemukan kepala ayahmu tergantung di alun-alun kota." Barnett terlihat marah. "Bersabarlah, dia pasti kembali." Gumam Bernett pada putrinya.
Tak selang berapa lama seseorang masuk kedalam rumah dengan wajah penuh peluh.
"Rhodri, apa yang terjadi?" Tanya Aleysia begitu melihat putranya kembali dengan wajah letih.
Dia mengusap lembut kening putranya yang dipenuhi keringat. "Ayah, ambilkan air putih untuk putraku!" Perintah Aleysia.
Dengan malas Bernett berdiri dan mengambil gelas tembaga yang sudah penyok, mengisinya dengan air dan memberikannya pada putrinya.
"Minumlah, dulu Rhodri! Lalu, ceritakan apa yang terjadi!"
Rhodri meminum air itu dengan sekali teguk dan terduduk dikursi. "Para petugas keamanan mengejarku, mereka berusaha menangkapku."
"Kenapa? Apa mereka tahu kalau kau anakku?" Tanya Aleysia cepat, wajahnya terlihat begitu cemas dan khawatir.
"Ti.. Tidak, bu!!" Jawab Rhodri cepat. Dia terlihat begitu gugup.
"Lalu, apa kesalahanmu? Kau tidak mencurikan? Dengar kau adalah seorang Pangeran dan bangsawan kau tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak terhormat Rhodri." " Omel Aleysia.
Plakkkk...
Sebuah tamparan mengenai pipi Rhodri, menyisakan rasa panas dan perih dipipinya.
"Jaga bicaramu, bersikaplah sopan pada ibumu!"
"Ibu, menamparku? Kenapa? Apa yang ku katakan ini salah? Aku hanya berusaha memberi makan ibu dan juga kakek." Rhodri terlihat frustasi. "Haruskah, aku masuk ke istana itu dan berteriak pada Raja untuk mengembalikan semua pada kita? Apa yang harus aku lakukan, hanya untuk membuat ibu senang?"
"Rhodri!!" Lirih Aleysia lemah. Dia perlahan memeluk Putranya. "Maafkan ibu, bersabarlah sedikit semua pasti akan kembali seperti semula." Gumam Aleysia lemah.
__ADS_1