setan kecil

setan kecil
part 28


__ADS_3

Perlahan tangan kekar Devian mengangangkat tubuh lemas istrinya dari dalam air. Air menetes dari tubuh Alice meninggalkan jejak tetesan air di sepanjang jalan yang dilewatinya, Devian berjalan lurus ke tengah ruangan dimana para tabib berdiri di sana. Di salah satu tangan tabib terlihat memegang sebuah wadah yang di penuhi cairan hitam encer.


Perlahan Devian meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur yang sudah di persiapkan di tengah ruangan. Sang tabib berjalan perlahan mendekat ke arah Alice.


"Dimana Pangeran Alexis?" Tanya tabib sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari.


"Anak itu disaat seperti ini selalu saja.... "


"Maaf, aku terlambat." Alexis masuk ke dalam ruangan, terlihat dia membenahi bajunya.


Dengan cepat dia menghampiri tempat ibunya berada dan berdiri di samping ayahnya. "Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alexis.


"Dalam tubuh anda mengalir darah Ratu, kami membutuhkannya untuk membangkitkannya." Seorang tabib menyerahkan sebilah belati perak pada Alexis.


Alexis meraih belati tersebut dan bersiap menggores telapak tangannya. Tabib lain segera menaruh wadah yang telah berisi cairan apel tersebut didekat Alexis.


Alexis menggores telapak tangannya, darah segar mengalir keluar dari luka sayatan tersebut menetes perlahan ke dalam wadah. Seseorang mendekat, mengambil belati dan juga cairan yang telah bercampur dengan darah Alexis. Seorang pelayan mendekat dan memberikan sapu tangan putih untuk Alexis, dia meraih sapu tangan itu menggunakannya untuk menutup luka di tangannya.


Tabib berjalan mendekat ke arah tetua yang sejak tadi telah berdiri di dekat Alice. Sesekali terlihat nafas Alice yang mulai melambat. Tabib mulai merapalkan beberapa mantranya, setiap rangkaian kalimat aneh terus terucap dari bibirnya.


Alexis terlihat menatap ibunya, tak berapa lama dia berbalik hendak keluar dari ruangan itu. Tapi, tangan Devian meraih lengan putranya. "Mau pergi kemana kau?" Tanya Devian dingin.


"Aku sudah tidak ada urusan lagi disini." Gumam Alexis.


"Tunggu sampai ibumu bangun kembali, jika sampai dia tidak melihatmu disini entah apa yang akan dia lakukan padaku."


Alexis kembali ke posisinya bersedekap menatap ke arah ibunya. Perlahan tabib mulai memasukkan obat ke dalam mulut Alice perlahan. "Apa kau takut padanya?" Tanya Alexis tanpa menatap ayahnya.


"Tidak juga, aku sudah terlalu banyak menyakitinya." Gumam Devian. "Bagaimana lukamu?" Devian melirik ke arah Alexis. "Sepertinya penyembuhannya mulai melambat."


"Apa kau mencemaskan aku?" Alexis menatap ayahnya dingin.


Devian diam dan menatap lurus ke arah istrinya.


********


Disaat yang sama, di lokasi berbeda....

__ADS_1


"Apa kau bilang????" Suara teriakan menggema hampir di seluruh ruangan. "Lalu bagaimana dia bisa bangkit tanpa tubuh pengganti? Dimana gadis bodoh itu?"


"Aku di sini sejak tadi." Aslyn berjalan santai mendekat ke arah Rhodri.


"Kau.. Kau yang telah membantunya?" Rhodri mencengkeram leher Aslyn dengan kuat. Membuat gadis itu meringis kesakitan dan mulai kesulitan bernafas.


"Ba.. Bagaiamana aku bisa melepaskannya, saat aku bersamamu?"


Rhodri melepas dengan kasar tubuh Aslyn, mebuat gadis itu ambruk dengan cukup keras. Aslyn menggosok lehernya perlahan, perih dan panas itu yang ia rasakan. "Dengar, apa kau pikir dengan melepaskannya rencanaku akan gagal?? Kau salah, akan aku gunakan diriku untuk melawan mereka."


Rhodri mengeluarkan apel dari sakunya. Mata Aslyn menatap sebuah kalung dengan Batu rubby merah yang berada di atas meja, yang segera di raih Rhodri.


"Rhodri hentikan apa yang akan kau lakukan?" Aslyn segera berlari kearah Rhodri berusaha mengambil Apel iblis di tangan pria itu. 2


"Diam, jangan menggangguku. Akan ku bunuh dia dan akan ku ambil segalanya. Akan ku buat mereka semua menyesal." Teriak Rhodiri makin tak terkendali.


"Hentikan, jangan biarkan iblis-iblis itu meracunimu." Aslyn mencoba meraih Apel di tangan Rhodri. Tapi, dengan sekali hentakan tangan pria itu tubuh Aslyn terpental hingga membentur salah satu kursi panjang di sana.


Rhodri menatap garang Aslyn, iris abu-abunya sesaat menyala merah. "Jangan ikut campur urusanku, kali ini akan ku bunuh si Alexis bodoh itu." Terdengar beberapa suara berbeda dari mulut Rhodri.


Aslyn terbelalak kaget. "Apa itu tadi?" Gumam Aslyn bergetar.


Dengan cepat dia memakan apel iblis di tangannya dengan rakus dalam hitungan detik apel di tangannya lenyap. "Aaagggggrrrrrrr.... " mendadak Rhodri mengerang keras.


Matanya terbuka lebar, tubuhnya mengejang dengan kuat membuatnya ambruk ke lantai. Pria itu mencengkram dadanya kuat, dia menggelepar menahan rasa sakit.


Aslyn yang melihatnya langsung terlihat bergetar menahan rasa takutnya sendiri. "Rho... Rhodri..!!" Panggilnya lirih dengan suara bergetar.


Tapi Rhodri hanya mengerang kesakitan, dia mencakar seluruh tubuhnya yang medadak seluruh tubuhnya serasa terbakar. "Aaaagggggrrrr...aaaaggggrrrr... " hanya suara erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya.


Aslyn berusaha memberanikan diri untuk mendekat, tapi baru beberapa langkah dari tempatnya berpijak. Mata Rhodri yang menyala merah menatap tajam ke arah gadis itu. Aslyn terhenti, tubuhnya semakin bergetar ketakutan. "Rho... Rhodri.. " Gumamnya dengan suara bergetar.


******


Tubuh Alice terlihat masih diam, seakan tak ada reaksi apapun. Tapi, beberapa tabib mengelilingi tubuh lemahnya mengalirkan setiap energi mereka pada sang Ratu.


Alexis beranjak dari tempat duduknya. "Sudah ku bilang untuk menunggunya." Gumam Devian tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.

__ADS_1


Alexis menghentikan langkahnya dan melirik ke arah sang ayah dingin. "Sudah lebih dari dua jam kita menunggu dan aku tak melihat kemajuan apapun. Terima saja kalau dia sudah mati." Alexis menunduk sejenak.


Dengan gerakan kilat Devian menghampiri putranya dan mencengkram erat kerah bajunya. Devian menatap tajam putranya dengan penuh emosi. "Jaga mulutmu, dia akan kembali."


Alexis menepis tangan ayahnya. "Dengar, aku juga harus menyelamatkan seseorang yang kau tinggalkan disana." Alexis meninggikan nada suaranya.


"Kau yakin dengan ke adaanmu sekarang? aku jamin kau akan langsung tersungkur dalam hitungan detik." Gumam Devian.


"Apa kau meremehkanku?" Tanya Alexis emosi.


"Aku hanya sedang menyadarkanmu, saat ini Dia bahkan menjadi lebih kuat dengan apel lain di tangannya, dia mendapat ke abadian dari darah kaum duyung dan menghisap beberapa iblis bangsawan yang kau buang. Dia sungguh pintar, memanfaatkan mereka." Jelas Devian.


"Apa maksudmu? Dari mana kau tahu dia... "


"Kau masih terlalu muda untuk mengerti seberapa busuknya hati manusia, kau juga masih terlalu muda untuk mengetahui bagaimana seorang Raja menjalankan kerajaannya. Kau masih terlalu naif... " Devian tersenyum miring dan kembali duduk di tempat duduknya.


Alexis juga mengikuti ayahnya, dengan terpaksa dia kembali duduk. Mata Devian menatap lurus ke arah Alice. "Aku rasa, kau juga tidak terlalu tahu dengan peperangan." Gumam Devian.


Alexis melirik ke arah Devian. "Apa kau mengejekku?"


"Tidak, pasukan Malbork terkenal dengan kelemahan mereka." gumam Devian.


"Tapi... "


"Pasukanmu mampu bertahan dan menang saat pertempuran dan mempertahankan wilayah mereka. Apa kau sadar? Kau selalu mendapat lebih banyak bantuan tanpa kau sadari." Devian melirik ke arah putranya.


Sesaat mata Alexis melebar mengingat kembali ke setiap kejadian perang-perangan besar yang pernah dia hadapi. Dia selalu melihat seorang panglimanya yang selalu memberi perintah dan mengatur strategi dengan baik. Tapi begitu perang usai dia selalu menghilang atau sulit di temui. Tak berapa lama dia menyadari sesuatu, sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya.


"Aku tahu dimana kau berada, tapi alangkah baiknya jika aku pura-pura tidak tahu dan menjagamu dari jauh." Gumam Devian seraya menunduk dalam.


Saat pembicaraan mereka mulai serius seorang tabib terkejut saat tubuh Alice mulai bergetar dan kejang. "Gawat, tubuh Ratu mulai melakukan perlawanan terhadap apel iblis. Jika, Ratu tidak dapat bertahan dia akan mati." Terdengar suara seorang tabib yang berteriak panik.


Devian dan Alexis segera melangkah cepat menuju ke araha Alice dengan cepat.


*****


Nafas Rhodri terlihat tak beraturan, keringat memenuhi tubuhnya. Iris matanya berubah, bagian kanan terlihat berwarna merah dan bagian lain berwarna keemasan. Tangan kanannya telah mencengram kuat leher Aslyn. "Harusnya kau tetap Setia padaku, dengan begitu akan ku biarkan kau tetap disisiku. Kau cantik tapi putraku yang bodoh ini terlalu percaya padamu. Begitu yakin kalau kau tak akan menghianatinya, lalu bagaimana kalau ku kirim kau pada Putra bodoh Devian." Rhodri menyeringai dengan mata menyala penuh kebencian.

__ADS_1


Sebuah kalung Batu ruby merah nampak menggantung di leher Rhodri, jauh di dalam kalung itu jiwa Rhodri terbelenggu terikat tak sadarkan diri.


__ADS_2