
Devian berusaha bangkit menatap lawannya penuh waspada. Rhodri menyeringai, tanduk besar terbentuk sempurna di kepalanya, jubah hitam menjuntai menyapu tanah. Baju zirah dengan warna hitam pekat terpasang di tubuhnya dengan sempurna dan sebilah pedang hitam telah berada di genggamannya. Dari pedang tersebut terlihat bayangan-bayangan kobaran api hitam yang seakan hidup.
"Bangkitlah, tidak seru jika kau menyerah begitu saja." Kata Rhodri dengan senyuman lebar.
"Kau benar!" Devian telah bersiap dengan kuda-kuda kakinya. "Meski merepotkan, aku harus tetap membunuhmu."
Rhodri bersiap, mengumpulkan setiap tenaga dalamnya dia melesat cepat ke arah Devian mengarahkan senjata iblisnya ke arah Devian.
Devian seakan tak mau kalah, dia melesat menghampiri Rhodri. Membuat senjata mereka saling beradu kembali. Dentingan suara nyaring dari logam baja yang saling berbenturan hingga mengeluarkan percikan api begitu kedua senjata saling bertemu.
Saat keduanya saling dorong senjata mereka melompat menjauh dari satu sama lain, Rhodri bersiap memusatkan tenaga dalamnya. Perlahan bayangan hitam di pedangnya semakin membesar bagai kobaran api hitam.
Devian segera menyiapkan dirinya saat Rhodri menebaskan pedangnya keudara bayangan hitam melesat cepat ke arah Devian.
Devian, juga melakukan hal sama menebaskan senjatanya ke udara hingga cahaya merah meluncur cepat.
Bledarrrr....
Suara ledakan kuat terdengar dari kedua kekuatan dahsyat yang bertemu.
Braakkk...
Terdengar suara benda yang membentur dinding perisai.
"Yang Mulia!!!" Teriak Panglima Lucery bersamaan, saat melihat tubuh Devian membentur dinding perisai.
Tubuh Devian ambruk, darah segar mengalir dari sela bibirnya. Luka-luka lebam dan memar terlihat di wajahnya. Devian mencoba untuk kembali berdiri, berusaha untuk mengumpulkan kembali setiap kekuatannya.
Perlahan Rhodri berjalan mendekat ke arah Devian, dia telah menghunus pedang panjangnya seakan siap untuk menghabisi lawannya sekarang juga. Tapi, saat Rhodri hampir mendekati Devian sesuatu terjadi.
Syuuuutttt... Draakkkk... Crep...
Sebuah anak panah menancap tepat di depan Rhodri, membuat pria itu terkejut dan mencari asal panah itu. Mata Rhodri membulat sempurna, ekspresi terkejut terlihat jelas di wajahnya. "Ba... Bagaimana.. " Dia menatap lubang pada perisai pelindung yang ia buat.
Kraaakkk... Kraakkk...
Terdengar suara retakan, di bagian atas pelindung retakan memanjang dan semakin meluas.
Prankkk...
Perisai Pelindung pecah berkeping-keping begitu seseorang menendang bagian atas perisai.
Tapp...
__ADS_1
Seseorang yang berhasil menghancurkan perisai yang di buat Rhodri kini berdiri membelakangi Devian. Devian mengamati punggung pria itu dan beralih pada busur di genggamannya.
"Panah ini? kekuatan ini? Bagaimana dia..." Devian menatap Putranya seakan tak percaya.
"Akhirnya kau datang juga!" Rhodri menatap Alexis. "Kau akan bekerja sama dengan ayahmu, suguh mengharukan."
"Aku kesini untuk membalas apa yang telah kau lakukan padaku, dan mengambil milikku." Jawab Alexis mantap.
"Milikmu?" Rhodri tersenyum. "Hahaha... " Tiba-tiba tawanya meledak. "Sejak kapan dia menjadi milikmu? Dia sudah memilih putraku."
"Putramu?" Tanya Alexis tak mengerti.
"Kau hanya bocah ingusan, tak akan mengerti apapun. Jadi mari selesaikan saja, ayah dan anak akan aku bunuh kalian semua di sini." Rhodri melesat ke arah Alexis.
Alexis menahan serangan Rhodri dengan busurnya. Mendadak dari atas serangan lain datang di antara mereka berdua. Membuat Rhodri terpaksa menghindar dan menjauh dari Alexis.
"Ma'af saya terlambat!" Howen menunduk memberi hormat.
"Tenang saja, aku belum memulainya." Alexis menatap Rhodri waspada.
Busur ditangannya perlahan berubah bentuk menjadi pedang perak. Devian segera berdiri di belakang putranya. "Kau tidak mendengarkan perintahku?" Tanya Devian dengan nada kesal.
Alexis melirik ayahnya kesal. "Cukup katakan terimakasih." Gumam Alexis.
Para panglima Lucery bergegas mendekat ke arah Devian. "Yang Mulia anda baik-baik saja?" Tanya Saleos cemas.
Para panglima Lucery langsung berdiri mengitari Devian, membuat pertahanan untuk melindungi sang Raja. Alexis melirik kearah ayahnya. "Sebaiknya kau mundur, akan ku selesaikan ini." Gumam Alexis.
"Jangan meremehkannya!"
"Huh, dia hanya beruntung sekali. Tak akan aku biarkan dia menang ke dua kalinya." Alexis menghunus pedangnya. "Howen!! Ayo maju." Alexis melesat ke arah Rhodri.
Rhodri tersenyum dan bersiap menyambut serangan Alexis, tapi saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah Alexis menghilang dari pandangan Rhodri, membuat Rhodri mengerutkan keningnya bingung. Sebuah serangan kejutan di lakukan Alexis, dia muncul tepat di atas Rhodri mengarahkan tendangannya dengan kuat ke arah Rhodri.
Bledaarrr...
Ledakan besar terdengar kembali, asap mengepul saat asap perlahan mulai menghilang terlihat tanah Rhodri berpijak telah hancur. Tapi, Rhodri berhasil menghindar.
"Nyaris saja kau mengenaiku." Gumam Rhodri. "Tubuhmu memang berbeda, bagaimana jika aku mengambilnya?" Rhodri menyeringai.
Rhodri memukulkan pedangnya ke tanah hingga ledakan kuat mengarah langsung pada Alexis.
Alexis segera menghindar, saat Rhodri terfokus pada Alexis tiba-tiba dari bawah tanah muncul tangan kemerahan meraih kakinya dan menariknya ke dalam tanah. Membuat pergerakan Rhodri menjadi terhambat, tak berapa lama sulur-sulur kemerahan muncul dari tanah mengikat tangan Rhodri berusaha menariknya ke dalam tanah.
__ADS_1
Semua orang masih kebingungan saat melihat kejadian tersebut, hingga teriakan Howen menyadarkan semua orang. "Pangeran sekarang!!" Teriak Howen.
Pedang Alexis kembali menjadi busur perak, dia merentangkan busurnya dan anak panah biru keperakan muncul. Saat Alexis sudah yakin dengan bidikannya dia melepas anak panah itu, cahaya kebiruan melesat cepat ke arah Rhodri.
Panah meluncur begitu saja dan saat panah itu mengenai Rhodri ledakan besar terdengar. Semua orang menatap ke arah kepulan asap tebal, mencoba menerka-nerka apakah serangan mereka berhasil atau gagal.
Rhodri masih berdiri tegak, beberapa bagian baju zirahnya hancur. Bagian lengan dan wajahnya terdapat beberapa luka goresan. Nafas Rhodri terlihat naik turun, wajahnya terlihat kesal dan juga marah.
"Halpas, berapa lagi senjata itu siap?" Tanya Rhodri kepada Halpas melalui telepati.
"Lebih lama dari dugaanku, hawa membunuh yang terlalu kuat dan berubah-ubah mempengaruhi setiap prosesnya." Jelas Halpas.
"Baiklah, sebaiknya percepat prosesnya aku tidak sabar untuk menghancurkan mereka semua."
Alexis menatap Rhodri penuh waspada. Rhodri melepas pelindung kepalanya dan menjatuhkannya begitu saja.
"Kekekeke... " Rhodri terkekeh. "Pertarungan ini benar-benar membuatku senang, karena itu aku tidak akan main-main lagi." Rhodri menghentakkan kakinya ke tanah membuat sebongkah Batu besar seukuran rumah melayang di hadapannya. "Rasakan ini!" Rhodri menendang Batu itu.
Bongkahan Batu besar meluncur cepat ke arah Alexis, Howen menggunakan teleportasinya muncul di hadapan Alexis dan mengarahkan pedangnya pada Batu. Batu besar terbelah menjadi dua bagian melesat ke dua arah berbeda hingga hancur berkeping-keping.
"Howen!!" Alexis melirik Howen. "Lakukan sekali lagi." Alexis bersiap dengan busurnya.
"Kau pikir kau bisa melukaiku untuk kedua kalinya?" Rhodri menatap Alexis emosi dan berlari ke arahnya.
"Clime sekarang!!" Teriak Howen.
Tak berapa lama terdengar suara alunan flute, perlahan suara itu menjadi cepat membuat Rhodri terdiam kebingungan. Mendadak dari barah tanah muncul tangan-tangan merah yang mencoba meraihnya. Rhodri terus berusaha menghindar, saat musik terdengar semakin cepat sulur hijau keluar dari tanah meluncur ke arahnya dengan cepat dan mengikat tubuhnya dengan kuat.
"Apa ini caramu bertarung?" Teriak Rhodri tidak terima.
Alexis mulai membidik dada kiri Rhodri. "Bukankah cara licik juga harus di balas dengan cara yang sama." Alexis menyeringai.
Dari kejauhan di tangan Devian telah muncul busur perak dia juga telah membidik Rhodri, anak panah perak dengan ujung kemerahan. Dalam waktu bersamaan Devian dan Alexis melepas anak panahnya.
Syuuttttt..... Bledarr....
Ledakan kuat terdengar begitu kedua senjata mengenai targetnya. Tapi, sosok Rhodri menghilang hanya ada sulur-sulur tanaman hangus yang ada di sana.
"Hahahahaha... Kalian sekarang bekerja sama rupanya." Rhodri melayang di udara.
Alexis menatap ke arah Rhodri. "Dia bisa lolos." Gumam Rhodri.
"Bagaimana jika kita undang saja dia kemari." Gumam Rhodri dengan seringai mengerikan.
__ADS_1
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki seseorang. Dengan baju zirah lengkap di tangannya terdapat sebilah pedang panjang keperakan yang berkilau di terpa cahaya rembulan. Saat dia berada di hadapan Alexis dia menatap pria itu garang.
"Aslyn!!!" Gumam Alexis tak percaya.