
"Siapa anak ini? Bagimana dia bisa bersama seorang iblis?" Pikir Darga dalam hati.
"Howen, bagaimana menurutmu?" Alexis menatap Howen seakan tengah meminta persetujuan.
"Tetaplah waspada, Yang Mulia. Dia orang yang mudah emosi dan juga licik." Bisik Howen.
"Aku mengerti." Alexis menatap tajam kearah lawannya. "Apa yang ingin kau pertaruhkan? Aku harap kau mempertaruhkan sesuatu yang berharga."
"Seluruh hasil kemenanganku hari ini.. "
"Hanya itu?" Tanya Alexis tak percaya. "Howen keluarkan semuanya!!"
Howen menaruh beberapa tas yang di penuhi mutiara, berlian dan juga emas. ""Ck... Aku tidak tau kalau kau seorang raja miskin." Alexis tersenyum menghina. "Bagikan kartunya!" Perintah Alexis.
Alexis telah memegang kartunya, dengan ekspresi datar Alexis menghela nafas. "Kau yakin hanya menginginkan ini?" Tanya Alexis meyakinkan.
Darga terlihat tersenyum begitu melihat kartu di tangannya, seakan Dewi keberuntungan tengah berpihak padanya. "Kau anak kecil akan ku buat kau menangis saat kau kalah."
"Tidak seru jika tidak ada taruhan lain." Alexis menantang Darga kembali.
"Sombong sekali kau ini?" Darga tersenyum miring.
"Sejujurnya, aku sudah bosan tinggal di istana Lucery." Alexis melirik kearah Darga mencoba menangkap ekpresi wajah Darga.
Sesaat Darga terkejut. "Lucery?" Tanya darga tak percaya.
"Kau tak bisa mengenaliku dengan baik rupanya. Aku Alexis Windsor, Pangeran dari kerajaan iblis Lucery." Alexis tersenyum lebar.
"Apa kau pikir aku bodoh? Seorang pangeran berkeliaran di tempat seperti ini?" Darga terlihat tak percaya.
"Kau yang bodoh, kau juga Raja tapi berkeliaran di sini dan membiarkan kerajaanmu jatuh miskin. Aku punya ide yang Bagus, bagaimana jika kita tukar kerajaanmu dengan semua Harta dan kesenangan disini?"
"Ck, aku tidak sebodoh itu." Gumam Darga kesal.
"Bagaimana kalau kita bertaruh, jika kau menang, kau bisa mengambil semua hartaku di atas meja ini dan juga akan ku bantu kau mendapatkan Lucery. Tapi jika aku yang menang, serahkan kerajaanmu yang sudah bangkrut itu padaku." tawar Alexis.
Brakkk...
Darga memukul meja dengan keras karena emosi. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada, hanya saja bayangkan jika kau menang.. " Alexis menatap ekspresi Darga yang mulai penasaran. "Atau jika kau takut, tidak masalah kita bisa melanjutkan yang ini." Alexis kembali beralih pada kartu-kartu di tangannya. "Bahkan ini pertama kalinya aku bermain kartu, bisa saja keberuntungan berpihak padamu." imbuh Alexis setengah berbisik. "Dan jika ku lihat dari ekspresimu Dewi keberuntungan sedang berpihak padamu." Alexis memasang wajah datar.
"Sepertinya kau menyadarinya, kau tahu aku ini raja yang penuh keberuntungan." Darga membusungkan dadanya dengan bangga.
"Begitukah? Sayangnya kau juga raja yang penakut." Ejek Alexis.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Darga menatap Alexis emosi.
"Tidak ada, hanya saja.... "
"Baiklah, aku terima tantanganmu." Darga menatap Alexis tajam.
"Kau yakin?" Tanya Alexis.
"Tentu saja, aku tidak akan kalah dari bocah ingusan sepertimu."
Howen dan Alexis saling berpandangan, Alexis tersenyum pada Howen. "Baiklah, kalau begitu. Jika kau mengingkari semua perjanjiannya kau akan mati di tanganku." Alexis menatap Darga.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Baiklah, lagi pula aku tak akan kalah darimu." kata Darga penuh percaya diri.
Darga dengan percaya diri meletakkan kartunya dan tertawa lepas penuh kemenangan. Tapi, begitu Alexis meletakan kartunya di atas meja tawa itu seketika sirna. Alexis tersenyum penuh kemenangan.
"Sepertinya Dewi keberuntungan memilih untuk menghianatimu." Alexis menyilangkan kakinya dan berasandar di kursi dengan santai. "Kau yang disana!" Alexis memanggil orang yang baru saja kalah dari Darga. "Ambil uangmu kembali!"
"TUNGGU!!" suara Darga memenuhi seluruh ruangan. "Kau pasti curang!" Tuduh Darga.
"Kau sama sekali tidak kreatif." Gumam Alexis. "Aku baru saja mendengar kalimat itu, sayangnya tidak ada bukti maupun saksi yang membenarkan pernyataanmu. Jadi Malbork dan juga semua Harta itu milikku."
*flash back end*
"Sebenarnya dia cukup keras kepala, kami terpaksa berduel. Cukup sulit untuk bisa mengalahkannya. Aku membutuhkan hampir dua Bulan untuk menyembuhkan diri. Bukankah begitu Howen?" Alexis melirik Howen.
Howen hanya mengangguk setuju. Alexis kembali beralih pada Torn. "Apa yang diinginkan orang itu?" Tanya Alexis pada Torn. "Saat aku mulai menikmati hidupku kenapa dia malah mengusikku?"
"Sebenarnya ada masalah ini tentang ibumu." Torn menatap tajam Alexis.
Ekspresi Alexis mengeras begitu mendengar ibunya. "Kenapa dengannya?"
"Yang Mulia Devian sudah mengerahkan cukup banyak pasukan untuk mencarimu, awalnya dia pikir kau kembali ke Corfe. Tapi, kau ternyata juga tidak pergi ke sana. Dia juga tidak tau jika kau bisa keluar masuk kerajaan iblis. Itu membuatnya sedikit kesulitan menemukanmu. Hingga, ada salah satu mata-mata melihatmu memasuki Malbork dan dia.... "
"Dia ingin mencariku yang kini berstatus buronan." Alexis tersenyum miring. "Bahkan dia tak pernah berubah. Bagaimana dengan ibu?"
"Keadaannya memburuk, Yang mulia terus berusaha menemukan cara untuk menyembuhkannya."
"Air dari danau kehidupan... "
"Efeknya mulai berkurang, air itu telah di gunakan selama bertahun-tahun. Sejak kau pergi keadaannya semakin memburuk. Yang Mulia Devian berniat untuk mencari buah apel iblis di lembah kematian. Hanya ada satu orang yang pernah kesana dan kembali dengan selamat." Torn memandang Alexis.
"Kakek." Tebak Alexis. "Dia orang yang cukup licik, tidak heran jika dia bisa kesana."
__ADS_1
"Begitulah, tapi karena itu pula penjaga pohon itu begitu membenci seluruh keturunan Yang Mulia Erebos dan Yang Mulia Devian.... "
"Dia tidak bisa meninggalkan ibu?" Tebak Alexis lagi.
"Bukan, dia tidak bisa meninggalkan kerajaan tanpa pemimpin. Yang Mulia bahkan tidak bisa menjamin dirinya bisa pulang kembali dengan selamat. Karena itu dia butuh bantuanmu." Torn menatap Alexis penuh arti.
"Dia akan mengorbankan aku?" Alexis tersenyum kecut.
"Bukankah, akan lebih baik jika kau datang dan bertanya padanya." Torn memberi saran.
"Aku tidak bisa meninggalkan kerajaanku." Jawab Alexis datar.
"Benarkah? Aku mendengar kabar jika kau jarang berada di kerajaan untuk pergi keluar bersama gadis-gadis. Jika ayahmu tau mungkin saja dia akan langsung memerintahkan penutupan tempat itu atau yang terburuk dia akan meratakan tempat itu dengan tanah."
Alexis masih diam tak merespon perkataan Torn.
"Ayahmu tidak akan menerima kata tidak. Baiklah, sebaiknya kau berfikir dulu. Aku akan pergi sekarang." Torn segera berdiri.
"Tunggu, aku akan ke sana. Tapi aku akan berkunjung sebagai tamu kerajaan, bukan anak dari Raja Devian dan jangan beritahu dia kalau aku menjadi Raja di Malbork."
"Baiklah, saya akan menantikan kunjungan anda Yang Mulia Al." Torn menunduk memberi hormat dan tersenyum. "Aku permisi!"
Setelah Torn keluar Alexis terdiam kembali. Dia kembali mengingat perkataan Torn. "Ibu kau akan baik-baik sajakan?" Gumam Alexis lirih.
Alexis menghela nafas panjang. Membuat Howen menatap cemas tuannya.
*****
"Apa dia sudah menemukan keberadaan mereka?" Tanya Rhodri pada pelayan paruh baya di belakangnya.
"Sepertinya mereka juga kesulitan mencari keberadaan pangeran dan juga pengawalnya." Jawab pria itu.
"Bagaimana bisa mereka tidak bisa menemukan keberadaannya, aku harus bisa menemukan Alexis sebelum Yang Mulia Devian." Terdengar suara keras Rhodri memenuhi ruangan itu.
"Tenangkan dirimu, Tuan Rhodri! Yang Mulia Devian berencana untuk melakukan perjalanan untuk waktu yang lama dan beberapa hari kedepan. Dia akan memilih seseorang untuk menjadi Raja pengganti. Dia tidak akan memiliki pilihan lain kecuali anda." Pelayan itu tersenyum pada Rhodri.
Rhodri melirik pelayannya itu tak percaya. "Apa kau yakin, Bill?"
"Tentu saja!" Jawab Bill mantap.
"Baiklah, dia tidak akan memiliki pilihan lain. Jika pangeran kecil itu belum di temukan dia akan tetap memilihku." Senyum Rhodri senang.
*****
Alexis masih termenung di kursi kamarnya, tak berapa lama Howen masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
"Howen, bersiaplah! Kita akan pulang."