
Beberapa pengawal menggiring seorang anak memasuki istana dengan pengawalan ketat. Dari kejauhan Alexis yang tengah berlatih segera menghentikan aktifitasnya dan terlihat mengamati mereka. Seperti dapat membaca keadaan Alexis segera berjalan cepat keluar dari arena latihannya dan diam-diam mengikuti mereka bersama Howen.
Tak berapa lama para Prajurit itu membawa anak itu keruang singgasana Raja Devian dan setelah itu mereka segera keluar. Alexis segera menyusup keruangan tersebut.
"Jadi, siapa namamu?" Suara Devian terdengar memenuhi ruangan besar yang sepi.
"Rhodri Yang Mulia." Jawab Rhodri singkat.
"Rhodri, dimana kau tinggal? Dan dengan siapa kau dibesarkan?" Tanya Devian.
"Saya tinggal di tepi hutan, saya tinggal sendiri Yang Mulia. Ibu dan ayah saya telah meninggal." Terlihat wajah Rhodri menunduk sedih.
Devian terlihat tersenyum miring. "Begitukah, aku turut berduka."
"Kau berduka setelah membunuh ayahku!" kata Rhodri dalam hati.
"Baiklah, istana akan menjadi rumahmu. Aku akan meminta Aiden untuk membawamu berkeliling.. "
"Terimakasih, Yang Mulia." Rhodri menunduk hormat.
"Aku, yang akan membawanya berkeliling!" Alexis keluar dari persembunyiannya bersama Howen.
Devian menatap tajam kearah putranya. "Sejak kapan... "
"Apa kau keberatan?" Tanya Alexis menatap tajam ayahnya.
"Jaga bicaramu."
"Haruskah aku melakukannya?"
"Howen, bisa membantuku untuk membawa Rhodri berkeliling istana dan mengantarkannya ke kamar tamu?" Devian bertanya pada Howen.
"Howen, kau tetap bersamaku." Perintah Alexis.
"Maaf, Yang Mulia saya tidak bisa melawan perintah Pangeran Alexis."
Alexis menyerangai penuh kemenangan. "Begitulah, cara menggunakan kekuasaan ayah. Apa kau juga tidak mengerti?"
Dengan emosi Devian berjalan cepat kearah Alexis, tapi sebelum Devian sampai di depan Alexis, Howen segera berdiri di depan Alexis sebagai tameng.
"Maaf, Yang Mulia mohon agar tidak bertindak lebih jauh." Howen memperingatkan.
Devian tersenyum miring. "Kau cukup pandai." Devian menatap tajam Putra semata wayangnya itu. "Aiden!!" Teriak Devian.
__ADS_1
Tak selang berapa lama Aiden memasuki ruangan dengan sedikit terburu-buru. "Ya, Yang Mulai! " Aiden segera memberi hormat pada Devian.
"Bawa tamu kita ke ruangannya." Perintah Devian tanpa berpaling dari Alexis.
"Baik, Yang Mulia!" Aiden memberi hormat pada Devian dan beralih pada Rhodri. "Mari, saya akan mengantar anda berkeliling."
Setelah Rhodri dan Aiden pergi Devian segera beralih pada putranya. "Apa kau mencoba menantangku?" Tanya Devian emosi.
"Kau yang memulainya, ayah. Aku hanya mengikuti permainmu." Alexis menatap tajam Devian.
Perlahan iris Alexis berubah memerah, sesaat Devian terkejut melihat perubahan itu. "Howen, bawa pergi anak pembangkang ini. Sebelum kesabaranku habis." Perintah Devian cepat seraya berbalik meninggalkan Alexis.
"Apa kau mulai takut? Sebaiknya, jaga baik-baik mahkotamu itu sebelum aku mengambilnya dan membawa ibuku pergi." Teriak Alexis penuh amarah.
Devian berhenti sesaat dan melirik kearah putranya. "Berani kau menyentuh istriku, akan ku potong tanganmu." Gumam Devian.
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
*****
Rhodri berjalan di belakang Aiden. Anak yang beranjak remaja itu terlihat memperhatikan lorong yang baru saja di lewatinya. "Maaf, Tuan Aiden. Kalau boleh tahu siapa anak yang bertengkar dengan Raja tadi?" Tanya Rhodri penasaran.
"Dia adalah Pangeran Aldwick, Putra satu-satunya Raja Devian. Hmm.. Dan yang terjadi di sana itu bukan sebuah pertengkaran mereka hanya berbeda pendapat. Jadi, sebaiknya hati-hati saat bicara diistana. Rahasiakan apapun yang kau lihat dalam istana, informasi tentang keluarga kerajaan dilarang disebar luaskan. Kau mengerti?" Aiden menjelaskan.
Mereka berdua akhirnya berhenti disebuah pintu besar sebuah ruangan. Aiden membuka pintu kamar tersebut, sesaat mata Rhodri terbelalak. Sebuah kamar super besar, dengan jendela-jendela kaca besar dan tinggi yang begitu kokoh. Terdapat, sebuah tempat tidur super besar, satu set meja dan kursi empuk berlapis kain beludru merah untuk menerima tamu di kamarnya. Perapian dalam ruangan dengan kursi malas di depannya. Di sudut ruangan terdapat bendera kebesaran Aldwick dan patung prajurit besi. Rak dan almari berjejer di sepanjang tembok ruangan dan beberapa lukisan tergantung didinding.
Rhodri mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Matanya berbinar-binar penuh rasa takjub.
"Ini adalah ruanganmu, setiap pagi akan ada pelayan yang datang untuk membangunkanmu dan membantu seluruh keperluanmu. Besok pagi pelayan pribadimu akan datang namanya Tuan Bill dia akan membantumu selama kau disini dan juga, kamar Pangeran Alexis juga berada di Kastil ini jadi tolong jaga sikapmu." Aiden memperingatkan.
"Ohh, tentu. Saya akan melakukan yang terbaik untuk kerajaan ini." Rhodri tersenyum ramah.
"Apa kau ingin menanyakan sesuatu?" Tanya Aiden.
"Tidak, terimakasih." Jawab Rhodri cepat.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Aiden segera keluar dari sana.
Rhodri terlihat terdiam dan saat pintu ruangannya tertutup. Dia terlihat semakin bahagia. "Benar yang dikatakan kakek, disini memang lebih baik. Kamar besar milikku sendiri, pelayan yang melayaniku dan istana... " Rhodri terdiam sesaat. "Benar, istana ini tidak akan bisa jadi milikku. Selama anak itu masih ada dan juga si pembunuh itu. Aku harus menemukan ruangan itu dan membuat rencana untuk menyikirkan mereka."
*****
Di dalam ruang gelap, sebuah kotak kaca besar dimana Alice terbaring di dalamnya. Beberapa orang yang terlihat berlalu lalang diruangan itu dengan gelisah. Tak berapa lama Devian masuk kesana dengan langkah terburu-buru.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Devian saat melihat raut kegelisahan para bawahannya.
"Ini diluar dugaan, setelah kejadian pangeran datang waktu itu keadaan Ratu tidak stabil."
Devian mendekat kearah Alice melihat tubuh lemah istrinya dan menyentuh kaca penghalang yang mengurung istrinya.
"Kau tabib kerajaan Iblis yang terbaik, apa hanya itu kemampuanmu?" Devian menatap tajam kearah tabib itu.
"Proses penyembuhan Ratu, berjalan sangat lambat berbeda dengan iblis. Dan air dari danau kehidupan ini sebenarnya Raja Erebos mencurinya karena itu hasil yang akan diberikanpun tak akan maksimal." Jelas sang tabib.
"Apa maksudmu?" Devian mendekat kearah tabibnya iris merahnya berkilat tajam.
"Raja Erebos mencuri air itu dari Kerajaan yang pernah ia taklukkan. Mungkin jika air itu diambil langsung dari danau kehidupan dengan cara yang benar maka itu akan lebih berkhasiat. Tapi, melihat keadaan Ratu saat ini akan tetap sulit." Jelas Tabib dengan nada sedih.
Devian langsung meraih kerah tabib kerajaannya itu penuh emosi. "Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan? Jangan berbelit-belit, bagaimana menyelamatkannya? Sebaiknya lakukan semua yang kau bisa sebelum aku melemparmu kedasar neraka." Devian melepas kerah tabib itu dengan kasar.
"Yang Mulia, jika anda begitu menginginkan keselamatan Ratu ada satu cara." Lanjut sang tabib Ragu.
Devian terlihat memperhatikan. "Bagaimana?"
"Air danau kehidupan belum cukup kuat untuk menyembuhkan Ratu. Tapi jika kita membuat Ramuan dari Air danau dan beberapa bahan lain. Mungkin bisa, tapi jika Yang Mulia ingin hasil yang cepat. Ada sebuah pohon di tengah Danau kehidupan, pohon yang hanya akan berbuah satu kali dalam ribuan tahun. Buah yang tidak akan pernah busuk, buah yang bisa membunuh manusia yang memakannya. Tapi, jika manusia bisa melewati rasa sakitnya dan prosesnya dia akan menjadi Iblis. Iblis seutuhnya." Jelas sang tabib yakin. "Tapi, tak ada yang tahu apakah itu benar atau tidak, karena menurut legenda pohon itu dijaga oleh beberapa iblis terkuat."
"Aku akan mencarinya." Jawab Devian yakin. "Ada atau tidak aku akan mencarinya."
"Tidak, Yang Mulia!!" Seseorang menentang keputusan Devian.
Devian melihat kearah asal suara itu, jenderal pasukan iblisnya terlihat menentang niat Devian.
"Kursi tahta tidak boleh kosong, Putra mahkota belum siap untuk duduk diatas tahta sebelum kebangkitan. Kerajaan Iblis akan dalam ancaman jika anda pergi."
Devian nampak berfikir sesaat dan melirik kearah istrinya yang masih terbaring. "Aku akan mencoba memikirkan jalan keluarnya, cari tahu dimana letak danau itu dan bagaimana caranya kesana." Perintah Devian pada jenderalnya.
*****
Alexis berjalan cepat menyusuri koridor istana, dengan wajah kesal Alexis menumpahkan kekesalannya pada patung prajurit besi. Dia memukul patung itu sekuat tenaga hingga patung itu jatuh berserakan dilantai. Beberapa bagian terlihat penyok akibat pukulan Alexis.
"Ayah, benar-benar ingin bermain denganku. Howen, aku ingin pergi ke istana iblis buka gerbangnya." Perintah Alexis.
"Baik, Yang Mulia." Howen mundur perlahan.
Iris keemasannya berpendar, perlahan dia mengangkat tangannya dan di saat itu sulur emas muncul dari lantai membentuk ukuran-ukuran rumit di tembok yang perlahan membentuk sebuah pintu. Sesaat kemudian, mata Howen meredup dan pintu di hadapannya telah berbentuk dengan sempurna.
"Silahkan, Yang Mulia." Howen membukakan pintu untuk Alexis.
__ADS_1
Alexis berjalan masuk kesana diikuti Howen dari belakang dan sesaat setelah mereka masuk. Pintu tersebut menghilang tanpa bekas.