
Alexis duduk dalam kereta kudanya dengan santai, membuat Rhodri semakin gusar melihatnya. Sedangkan, Howen segera duduk di samping kusir kereta kuda tersebut.
"Jalan!!" Perintah Alexis.
Kuda-kuda tersebut langsung berjalan meninggalkan Rhodri yang penuh emosi.
"Kau akan menyesal karena keluar dari persembunyianmu." Gumam Rhodri penuh emosi.
Alexis tersenyum penuh kemenangan. "Howen, aku rasa ini awal yang baik." Seru Alexis senang.
Howen hanya diam tak membalas ucapan Alexis.
*****
Sampai di pintu gerbang Aldwick, seorang penjaga menghentikan laju kereta kuda mereka. Howen dengan cepat merogoh sakunya dan memberikan undangan kerajaan pada penjaga itu dan tak berapa lama pintu gerbang kerajaan Aldwick terbuka.
Istana megah dengan beberapa menara yang menjulang tinggi. Bendera lambang kerajaan Aldwick berkibar hampir di seluruh penjuru istana. Halaman luas dengan Taman yang di penuhi bunga dan tanaman hias, tak lupa puluhan patung berdiri kokoh di sepanjang jalan dan setiap sudut halaman yang begitu luas.
Kereta berjalan perlahan, di dalam Alexis tak bisa menyembunyikan kegugupan dan kegelisahannya. Sama seperti saat dirinya pertama kali datang kemari, tapi bukan lagi mimpi Indah tentang ayahnya yang ia pikirkan melain kenangan buruk tentang ayahnya.
Alexis segera menepis semua kenangan buruk itu dan mencoba menenangkan dirinya.
Tak berapa lama kereta telah berhenti, Howen segera turun dari kereta dan segera membukakan pintu kereta untuk Alexis.
"Silahkan, Yang Mulia!" Howen menunduk.
Tapi Alexis tak beranjak dari tempat duduknya.
"Yang Mulia!" Panggil Howen.
Alexis menatap Howen. "Ayo, kita kembali saja ke Malbork."
"Yang Mulia, lebih baik anda memberi salam dulu Pada Yang Mulia Devian. Kita sudah sampai." Howen mengulurkan tangannya pada Alexis.
"Lupakan, kau tak akan mengerti penderitaanku." Alexis menepis tangan Howen dan segera melangkah turun. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasa tak ada yang menyayangiku." Gumam Alexis lirih.
Kereta kembali berjalan menjauh begitu Alexis turun. Mata Alexis terpaku pada seseorang yang tengah berdiri di pintu masuk istana.
Pria dengan rambut pirang dengan iris biru itu langsung menunduk memberi hormat pada Alexis.
"Se.. Selamat datang Yang Mulia." Sapa Aiden.
Alexis segera melangakah mendekat kearah Aiden.
"Mari saya antar anda menemui Yang Mulia Devian." Aiden segera memimpin mereka menunjukkan jalan menuju ruangan Devian.
"Kenapa kau mengusir bibi Beryl dari istana?" Alexis melirik kearah punggung Aiden yang berjalan di depannya.
"Istana saat ini tidak lagi aman." Jawab Aiden singkat.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Alexis penasaran.
"Itu rahasia kerajaan Aldwick, saat ini anda bertamu sebagai Raja Malbork bukan sebagai pangeran Aldwick. Jadi, saya tak bisa memberi tahu anda." jelas Aiden.
"Kau benar, tapi paman kau terlihat bertambah tua."
"Manusia, akan semakin menua seiring berjalannya waktu." Jawab Aiden.
"Kau benar lagi." Alexis tersenyum tipis. "Tapi, kenapa semua orang mengenaliku dengan mudah. Padahal aku sudah banyak berubah."
__ADS_1
"Karena, mata anda masih menunjukkan hal yang sama." Jawab Aiden.
Mereka akhirnya sampai di depan pintu besar sebuah ruangan. "Yang Mulia, Raja Al.... "
"Paman!" Alexis memanggil Aiden untuk menghentikan Aiden. "Buka saja pintunya."
CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI
"Tapi.... "
"Lakukan saja!!" Perintah Alexis.
Penjaga langsung membuka pintu untuk Alexis. Suara langkah kaki anak itu memenuhi ruangan. Ruangan besar yang kosong, hanya ada satu kursi singgasana yang begitu megah dan tinggi.
Alexis meletakkan tangannya di dada dan membungkuk hormat pada Devian. "Salam hormat untuk Raja Lucery dan Aldwick."
"Terimakasih, kau mau datang ke mari." Devian bangkit dari tempat duduknya.
"Anda boleh duduk disana, aku tidak ingin berlama-lama disini." Alexis mencoba mencegah ayahnya untuk mendekat.
"Aku ingin bicara sesuatu yang penting." Devian terus berjalan semakin mendekat hingga dia dapat melihat wajah putranya dengan jelas.
Wajah Devian tak berubah sama sekali, hanya raut wajahnya semakin dingin dan sendu. Alexis terdiam membeku, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
"Ikut aku!" Devian berjalan lurus dan sebuah pintu kegelapan terbuka.
Tanpa banyak bicara Alexis segera mengikuti Devian dari belakang. Mereka tiba di sebuah ruangan. Seluruh tubuh Alice masuk kedalam air dalam akuarium. Kulitnya terlihat semakin memucat. Alexis berjalan mendekat kearah ibunya. Jemarinya mengusap kaca penghalang tersebut.
"Ibu!" Panggilnya lirih.
Devian berjalan mendekat, mengamatai wajah pucat sang istri dengan wajah sedih.
"Keadaannya semakin memburuk setelah kau pergi." suara Devian terdengar lirih.
Devian diam tak menjawab.
"Kau akan selalu seperti ini, melimpahkan semua kesalahan padaku." Alexis segera berbalik menjauh dari ibunya.
"Tidak, aku yang mengawali semua kesalahan ini. Karena itu aku membutuhkan bantuanmu untuk menebus semua kesalahanku." Devian melirik kearah putranya.
Alexis menunduk memikirkan apa yang harus ia katakan. "Kau ingin aku menangkap seekor Putri duyung, atau mengambil buah apel iblis?"
"Tidak keduanya." Jawab Devian cepat.
Alexis menatap ayahnya tak mengerti.
"Jadilah Raja sementara untuk Aldwick dan Lucery." Sorot mata Devian meredup, wajah yang penuh dengan keputus asaan.
"Apa maksudmu?" Tanya Alexis tak mengerti.
"Aku butuh seseorang yang bisa melindungi Alice. Aku pikir hanya kau yang bisa, kerajaan ini tidak lagi aman untuk saat ini."
Alexis kembali teringat apa yang dikatakan oleh Aiden pada saat dia baru sampai.
"Kau membesarkan seorang pengkhianat dengan baik di sini." Celetuk Alexis.
"Karena itu kau harus menjaga semua yang ada di kerajaan ini, menggantikan aku."
Alexis menatap tajam ayahnya. "Lalu, bagaimana dengan dirimu?"
__ADS_1
"Aku yang akan pergi mencari Buah apel iblis, atau menangkap seekor Putri duyung untuk ibumu." Jawab Devian. "Selama aku pergi kau.... "
"Aku yang akan pergi." Alexis memotong kalimat ayahnya dengan cepat.
"Apa maksudmu?" Tanya Devian tak mengerti.
"Aku yang akan berangkat, tetaplah disini dan jaga ibu dengan baik. Setidaknya jika aku tidak kembali, kau tak perlu lagi memikirkan dosa yang pernah kau perbuat." Alexis menunduk dalam, menyembunyikan setiap kesedihan yang ia rasakan.
"Tidak, akan lebih baik jika kau disini. Dia akan marah jika tau aku membunuh putranya juga." Devian melirik kearah Alice.
"Jangan meremehkan aku! Aku tidak berniat mati semudah itu." Alexis meninggikan suaranya. "Aku tumbuh di luar istana, melewati banyak hal dan menjadi kuat. Aku akan menemukan buah itu. Jaga saja ibuku dengan baik, dengan begitu aku akan memaafkanmu." Alexis segera melangkah pergi meninggalkan Devian dari ruangan itu.
****
Diluar Aiden dan Howen menunggu Alexis. Terlihat wajah Aiden mulai gelisah.
"Mereka tidak akan saling membunuh lagikan?" Tanya Aiden pada Howen.
"Saya rasa tidak, jika itu terjadi Yang Mulia Alexis pasti sudah memanggil." Jawab Howen.
Tak berapa lama pintu besar itu terbuka Alexis melangkah keluar dari sana dengan wajah serius. Saat pintu di tutup Alexis menatap Howen ekspresi wajahnya seketika berubah.
"Howen!" Raut wajahnya terlihat sedih. "Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Alexis pada Howen.
"Pa.. Pangeran saya sudah menyiapkan kamar untuk anda."
Alexis menatap Aiden. "Apa di saat seperti ini aku bisa istirahat tidur dan makan?"
Aiden terdiam, ekspresi khawatir kini terlihat di wajahnya yang mulai menua.
"Tunjukkan jalannya." Kata Alexis tiba-tiba.
Aiden mengangkat Alisnya, tak mengerti apa yang di maksud Alexis.
"Kamarku, tunjukkan jalannya!" Perintah Alexis.
Aiden menatap Alexis tak percaya. "Kamar?"
"Aku juga butuh istirahat." Alexis menatap aiden dengan wajah polos.
"Baiklah, mari saya antar." Aiden segera menunjukkan jalan menuju kamar tamu kerajaan. 'Aku rasa dia ada masalah dengan otaknya. Seharusnya Yang Mulia Devian menemukan anak ini lebih cepat.' Pikir Aiden.
****
"Dengar aku ingin semua berjalan sesuai dengan rencana." Terdengar suara seorang pria memenuhi ruangan.
"Bisakah ayah diam! Aku sudah cukup pusing dengan kedatangan Alexis." Rhodri menatap cermin besar dihadapannya dengan emosi.
Bayangan seseorang terlihat berjalan di dalam cermin mendekat kearah Rhodri.
"Devian akan mengirim putranya untuk mendapatkan buah itu dengan bantuannya kau bisa memakan buah iblis dan kau akan bisa membangkitkan kekuatanmu serta diriku. Kita akan menguasai seluruh dunia bersama." Adrian menatap anak semata wayangnya.
Rhodri mengangkat sebelah alisnya, seakan meminta penjelasan lebih lanjut tentang apa yang di rencanakan ayahnya.
"Saat anak itu mendapatkan apel iblis, kau datang dan merebutnya. Pekerjaan yang lebih mudah bukan?" Adrian tersenyum seakan keberuntungan sedang berpihak padanya.
"Aku rasa aku punya rencana yang lebih baik." Rhodri menatap ayahnya, sebuah sorot mata yang berbeda terlihat di mata Rhodri.
Catatan : ada sebuah mitos yang mengatakan daging Putri duyung dapat membuat orang yang mengkonsumsinya akan hidup abadi karena itu di sini Alexis akan mencari Putri duyung.
__ADS_1
Sedangkan apel iblis sebenarnya terinspirasi dari cerita Yunani dimana ada apel emas yang membuat orang yang mengkonsumsinya akan menjadi dewa.
Karena itu jika Alexis tidak dapat menemukan Apel iblis dia harus memburu Putri duyung untuk mendapatkan dagingnya. Atau bisa juga cerita bisa berubah sewaktu-waktu karena inspirasi author kadang akan berubah-ubah setiap saat.