setan kecil

setan kecil
part 27


__ADS_3

Iris merah Alexis menatap ke arah pergelangan tangannya yang telah terlepas. "Bodoh!!" Gumamnya lirih.


Alexis berusaha untuk bangun, dengan sedikit sisa tenaganya dia menghancurkan semua penahan di lengan dan kakinya. Saat Alexis berdiri, sesaat dia terhuyung karena lemas dan pemulihan tenaganya terhenti. Dengan susah payah dia melangkah keluar dari sana.


Dia terlihat terkejut saat mengamati ruangannya tanpa penjagaan. "Tidak ada penjaga? Ini aneh... " gumamnya penuh rasa curiga.


Tapi dia tak menyia-nyiakan kesempatan Alexis segera melangkah keluar berjalan perlahan menyusuri koridor panjang, sesekali dia berpegangan pada tembok agar tidak ambruk. Saat semakin mendekati pintu keluar penjagaan terlihat semakin ketat, beberapa pasukan terlihat berlalu lalang. Di gerbang bagian depan terlihat beberapa iblis penjaga juga berdiri di depan pintu. "Bagaimana ini?" Gumamnya perlahan.


Seorang iblis penjaga terlihat mengerutkan keningnya. Beberapa kali dia mengendus udara seakan mencium sesuatu. Alexis menatap waspada ke arah iblis itu, bersiap dengan kemungkinan terburuk dia akan kembali tertangkap. Saat iblis itu hendak berbalik, seseorang menarik tubuh Alexis masuk ke dalam sebuah ruangan. "Kau salah jalan!!"


Alexis menatap iris coklat gadis di hadapannya. "Aku selalu kesulitan menemukan arah tujuanku." Gumam Alexis datar. "Aku akan mencari jalan lain." Alexis melepas tangan Aslyn dari lengannya.


Saat Alexis hendak keluar Aslyn segera menahan lengan Alexis. "Aku akan mengantarmu, aku sudah bilang kalau aku gadis yang serakah. Kali ini aku akan menyelamatkanmu.. " Gumam Aslyn seraya melangkah keluar dari sana terlebih dahulu.


Gadis itu mengamati keadaan di luar, lalu menoleh ke arah Alexis. "Cepat, ikuti aku!!"


Alexis melangkah keluar, melirik ke arah beberapa penjaga yang tengah berjaga di jalan masuk. Aslyn berjalan ke arah sebaliknya, langkah kakinya dengan cepat berbelok menuju koridor sempit tanpa penerangan. Alexis dengan langkah perlahan mengikuti gadis di depannya, hingga langkah kaki mereka berakhir di ujung koridor yang cukup terang. Aslyn mengintip memastikan tidak ada penjaga lain. "Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, hanya ada dua penjaga akan aku alihkan perhatian mereka. Kau pergilah ke arah kiri beberapa langkah dari sini kau akan menemukan gerbang kecil di sana akan ada orang yang menunggumu." Aslyn hendak melangkah meninggalkan Alexis tapi Tangan Alexis segera menahan pergelangan gadis itu.


"Kenapa kau tidak pergi saja denganku?"gumam Alexis lirih. "Berhentilah menjadi gadis serakah dan akan aku pastikan kau bahagia." Alexis menatap iris coklat Aslyn.


Aslyn menunduk sesaat dan tersenyum menatap Alexis. "Akan ada masa di mana kita bisa bersama, tapi aku rasa tidak disini. Kau harus mencapai tujuanmu."


"Aku bahkan mulai ragu dengan tujuanku, sudah aku bilangkan aku kesulitan menentukan arahnya."


"Kalau begitu kau harus membuatnya semakin jelas." Aslyn meraih tangan Alexis dan meletakkan sesuatu di tangan pria itu.


Sesaat mata Alexis melebar ekspresi terkejut terlihat jelas di wajahnya yang tampan. "Ba... Bagaimana ini... "


"Aku memetiknya saat kau memetik apel itu." Jawab Aslyn lirih.


"Karena itu pohon itu menyerang kita???"


"Bukan... Dia hanya ingin menyerangku, tapi karena kau terus berdiri di depanku dia juga menyerangmu. Karena itu aku orang yang sangat serakah, sekarang kau bisa menyelamatkan ibumu dan aku akan menghentikan robbin... "


"Tidak, berhentilah menyebutnya robbin. Dia pria yang jahat, dia sedang membodohimu. Apapun yang kau lakukan tidak akan mampu mengubahnya." Alexis mencoba membujuk Aslyn.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Lalu, apa aku harus diam saja? Dia akan menghancurkan dunia ini, saat sahabatku tersesat aku harus membantunya menemukan jalan untuk kembali." Aslyn menatap Alexis dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Alexis kecewa.


"Meskipun aku pergi denganmu, kutukan ini akan tetap menyertaiku. Seberapa besar aku menginginkanmu, kita tidak akan mungkin bersama."


"Apa maksudmu? Kutukan? Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Alexis tak mengerti.


"Tawanan kabur!!! Cepat cari di seluruh mansion!!!" terdengar teriakan samar dari kejauhan.


"Sudah tidak ada waktu, cepat pergi dari sini." Aslyn menatap Alexis panik.


Gadis itu segera menarik tangan Alexis, menyeret pria itu menuju pintu belakang mansion. Sesaat mata Alexis menangkap simbol aneh di belakang telinga Aslyn, simbol yang menyerupai gambar duyung kecil dengan mengangkat buah apel di tangannya tapi gambar itu terlihat sangat kecil. Saat Alexis berhasil melihat dengan jelas simbol itu, rambut Aslyn turun dan menutup simbol di belakang telinganya.


Beberapa penjaga berlari kearah gerbang utama beberapa menyebar mencari di dalam mansion dan koridor-koridor. Suara langkah kaki cepat menyebar hampir ke segala penjuru mansion.


Alexis dan Aslyn tiba di bagian belakang mansion. Pagar besi tua yang di tumbuhi tanaman merambat, sebuah gerbang besi kecil tua yang tidak tertutup sempurna karena engselnya yang sudah mulai lepas karena karat. Aslyn berusaha membuka gerbang tua itu, tapi bagian bawahnya tersangkut dengan bebatuan. Dengan sekuat tenaga Aslyn menendang gerbang itu.


Drakk... Drakkk... Draaakkk... Brakkk...

__ADS_1


Gerbang kecil itu berhasil terbuka, Aslyn menarik Alexis keluar. Masuk kedalam hutan di belakang mansion, tak berapa lama gadis itu berhenti dan berteriak.


"Dia di sini, cepat bawa dia pergi!!!"


Srrkkkk...


Terlihat semak-semak bergerak dan dari baliknya muncul Devian, Howen serta pasukan Torn.


"Ho.. Howen!!!" Alexis terlihat mengerutkan keningnya.


*flash back*


Sesaat setelah Alexis di sekap...


"Aku sudah bilang hanya untuk mengikutinyakan!!" Terdengar teriakan keras Rhodri ke pada Aslyn.


"Aku mencoba untuk membalaskan dendam ayahku, bukankah itu yang selalu kau janjikan." Aslyn menatap tajam Rhodri.


"Dengar, jika sampai terjadi sesuatu padanya kau yang akan menjadi gantinya. Tubuhmu lah yang akan menjadi rumah baru untuk penguasa abadi kita." Rhodri memperingatkan.


"Kau sudah berubah." Aslyn menatap Rhodri kecewa.


"Setiap manusia berubah untuk maju, jika kau tidak bisa menyesuaikan dirimu kau akan lenyap dari dunia ini dengan cepat. Apa kau juga tak mengerti?"


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan dengan tubuh tak berguna itu?"


"Tak berguna kau bilang, jika saja efek yang ditimbulkan buah ini pada manusia tidak berbahaya tentu saja aku yang akan memanfaatkan tubuhku sendiri. Tapi, karena dia anak seorang iblis dan manusia dia akan mampu bertahan atau bisa juga mati, setelah apel di berikan jiwanya akan melemah selama beberapa saat dan tubuhnya akan memiliki energi yang begitu besar. Pada saat itulah, Raja Adrian akan melakukan pertukaran jiwa. Jiwa anak itu akan terkurung dalam cermin selamanya dan ayahku akan membangkitkan pasukan iblisnya kembali dan menyerang Aldwick dan juga Corfe. Setelah itu satu persatu kerajaan itu akan kami rebut dan dunia akan berada di bawah kekuasaannya. Pada saat itulah peranku di mulai aku akan memperkuat diriku dengan menghisap jiwa-jiwa iblis kotor, membalik ke adaan dimana aku yang akan memangsa mereka dan di saat aku berhasil menjadi yang terkuat akan aku kalahkan ayahku."


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


Aslyn terdiam begitu mendengar rencana Rhodri. "Baiklah, lakukan sesukamu. Aku ingin mendinginkan kepalaku." Aslyn beranjak pergi dari sana.


"Aku tidak akan kemana-mana." Jawab Aslyn datar seraya melangkah keluar.


Langkah kaki gadis itu segera melangkah cepat meninggalkan ruangan Rhodri. Berjalan sejauh mungkin dari ruangan itu. "Dia sudah gila, dia bukan orang yang aku kenal." Gumamnya sepanjang jalan. "Aku harus melakukan sesuatu... " Sesaat langkah kaki Aslyn terhenti, dia segera berbalik arah berlari cepat menuju ruangan lain.


Braaakkkk..


Pintu terbuka lebar, tubuh Alexis yang masih penuh luka terlihat terbaring lemah tak berdaya. "Aku harus mengeluarkanmu dari sini, tapi bagaimana?" Gumam Aslyn panik.


Aslyn terdiam sejenak, mencoba berfikir untuk menemukan jalan keluar. Tak berapa lama gadis itu segera melangkah keluar dengan langkah cepat dia menuju belakang mansion. "Dia bisa melarikan diri dari sini tapi dengan ke adaannya saat ini, tidak akan mungkin dia akan dengan mudah tertangkap."


Aslyn segera melangkah keluar melompati pagar besi disana. Menyusuri hutan, berusaha menemukan tempat bersembunyi untuk Alexis jika dia kabur nanti.


Takk...


Terdengar suara ranting patah Aslyn menatap waspada ke sekelilingnya. Hingga sesuatu bergerak dengan cepat ke arahnya dan sebilah pedang perak telah menempel di lehernya. "Dimana pangeran??" Tanya Howen dengan suara penuh amarah.


"Tuan Howen!!!" Aslyn menatap Howen terkejut.


"Sepertinya gadis ini tidak asing." Devian berjalan mendekat dari balik pepohonan. "Siapa kau??" Tanya Devian.


"A.. Aslyn.." Jawab Aslyn gugup.


Iris merah yang terasa begitu menyeramkan, menatap lurus ke arah Aslyn. Mata itu 1000 kali lebih mengerikan dengan milik Alexis. Devian maju perlahan ke arah Aslyn.


"Alexis dalam bahaya!" Aslyn dengan cepat mengatakannya.

__ADS_1


Langkah Devian terhenti, sesaat dia mengerutkan keningnya heran. "Dia langsung mengatakannya, tanpa harus di ancam." Gumam Devian.


"Aku akan membawanya keluar. Kalian datang untuk menolongnya kan?" Aslyn menatap Devian penuh harap.


"Hmmm.. Sebenarnya aku hanya... "


"Tuan Howen, bisa kau turunkan pedangmu."


"Kau menghianati Pangeran sekali tak akan ku biarkan kau lolos untuk ke dua kalinya." Howen menekan pedangnya ke kulit leher Aslyn.


"Howen, beri dia kesempatan. Kita tidak punya banyak waktu sekarang." Devian mencoba menenangkan Howen.


Dengan terpaksa Howen menurunkan pedangnya. "Jika, terjadi sesuatu pada Pangeran Alexis. Akan ku pastikan kau orang pertama yang akan ku kirim ke neraka."


"Aku akan menyelamatkannya." Aslyn menatap Howen yakin. "Kau masih bisa teleportasi bukan? Begitu dia sampai di sini langsung bawa dia pergi, sebelum Rhodri dan pasukannya datang. Sisanya aku yang akan mengurusnya."


"Bawa saja anak itu kemari dan sisanya aku yang akan mengurusnya. Apa kau meremehkan aku?" Tanya Devian tersinggung.


"Tidak, maksudku saat ini Alexis benar-benar terluka parah. Rhodri membuatnya tak sadarkan diri. Aku hanya ingin dia selamat, jika dia bisa pergi sejauh mungkin dari sini maka Rhodri tidak akan bisa menjalankan rencana jahatnya." Jelas Aslyn.


"Rencana? Apa yang dia rencanakan?" Devian menatap tajam gadis di depannya.


"Dia akan membangkitkan Raja Adrian, Raja terdahulu sebelum Raja Devian berkuasa."


"Dasar Penghianat, akan aku ratakan tempat ini." Mata Devian menyala merah.


"Tunggu!!! Saat ini Rhodri tengah mengumpulkan setiap kekuatan iblis untuk di serap. Sebaiknya.... "


"Jangan meremehkan aku bocah!!" Devian menatap tajam Aslyn. "Kau tidak tahu siapa aku?"


"Saya tahu, anda Raja Devian. Tapi, bukankah waktu anda juga tidak banyak. Aku akan membawa Alexis beserta Apel Iblis. Dengan begitu anda bisa menyelamatkan istri anda. Sebaiknya, anda bersiap dengan pasukan yang lebih banyak atau anda akan kalah dari Raja Andrian dan Rhodri pada perang kali ini." Aslyn menunduk hormat seraya pergi dari hadapan Devian.


"Apa maksud gadis itu?" Gumam Devian. "Torn perintahkan salah satu prajurit untuk menuju Lucery, minta para tabib untuk bersiap dan sampaikan pesan pada para panglima perang untuk menyiapkan seluruh pasukan mereka." Perintah Devian lantang.


*flash back end*


"Baiklah, saatnya kita pergi." Devian berbalik mendekat ke arah Howen dan Torn.


"Tunggu!! Sebaiknya kau ikut dengan kami." Alexis menggenggam tangan Aslyn.


"Maaf!" Aslyn melepas pegangan tangan Alexis. "Kita akan segera bertemu." Aslyn tersenyum.


Devian segera menarik putranya mendekat. "Tunggu! Apa yang kau lakukan?" Alexis berusaha memberontak.


"Diamlah! Dia sedang berusaha menyelamatkanmu!" Bentak Devian marah.


"Kau yang diam!!" Teriak Alexis.


Saat Alexis hendak melangkah ke arah Aslyn. "Howen, Torn. Sekarang!!" Perintah Devian.


Dalam sekejap kepulan Asap abu-abu tebal muncul mengelilingi mereka Tangan Alexis mencoba meraik Aslyn. Tapi, wajah gadis itu perlahan menghilang tertutup asab tebal. Saat asab itu mulai menipis mereka telah sampai di istana iblis Lucery.


Alexis terdiam, menatap ayahnya penuh amarah. "Apa yang sudah kau lakukan?" Teriak Alexis marah.


"Itu adalah kesepakatan yang sudah dibuat, aku tidak bisa melakukan apapun. Berikan apelnya!!" Devian mengulurkan tangannya.


Dengan wajah kesal Alexis memberikan apel iblis itu pada sang ayah dan dengan cepat dia melangkah meninggalkan sang ayah. "Ibumu membutuhkanmu dalam kebangkitannya." Devian mengingatkan.

__ADS_1


"Aku akan ke sana begitu semua sudah siap." Jawab Alexis datar dan segera melangkah pergi.


__ADS_2