
Alexis baru saja tiba di Aldwick. Dia begitu terkagum-kagum dengan bangunan kerajaan ini bahkan lebih besar dari kerajaan Corfe.
"Pangeran Alexis." Sapa seseorang sambil menunduk hormat.
Alexis mengamati orang didepannya, pria berambut pirang dan iris biru. Wajah yang tidak asing, Alexis mengerutkan dahinya mencoba mengingat dimana dia pernah melihat pria itu.
"Kau siapa?" Tanya Alexis.
"Pangeran Alexis, dia Tuan Aiden beliau sering mengunjungi kita di Corfe." Jelas Howen.
"Anda masih sangat kecil saat terakhir kali saya bertemu dengan anda. Mungkin anda tidak begitu mengingatnya." Aiden tersenyum.
"Dimana bibi Beryl?" Tanya Alexis.
Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok pelayan almarhum ibunya.
"Anda tidak mengenaliku, tapi mengingat nona Beryl dengan baik." Gumam Aiden. "Mari, ada seseorang yang ingin bicara dengan anda."
Alexis menatap Howen bingung dan segera berjalan mengikuti Aiden dari belakang.
"Paman, apakah ayahku ada di istana?" Tanya Alexis penasaran pada Aiden.
"Anda akan segera mengetahuinya." Jawab Aiden.
"Seperti apa ayahku? Apa dia hebat? Apa dia tampan sepertiku?" Tanya Alexis.
Aiden melirik kearah Alexis. "Sebentar lagi anda akan mengetahuinya." Jawab Aiden
Alexis hendak bertanya lagi, tapi tangan Howen memegang pundak Alexis dan memberi isyarat untuk tidak bertanya lagi. Membuat wajah Alexis terlihat begitu kecewa.
Mereka akhirnya berhenti didepan sebuah ruangan besar, saat Aiden membuka pintunya Alexis begitu terkagum dengan ruangan itu. Kursi berderet dikanan kiri, untuk tempat duduk para menteri dan pejabat kerajaan. Jendela-jendela besar berjejer disepanjang ruangan itu, membuat ruangan itu cukup terang oleh sinar matahari. Empat pilar yang tinggi menyangga langit-langit ruangan itu. Tak lupa patung baju zirah besi dengan pedang ditangannya berjejer rapi. Di ujung ruangan ditempat paling tinggi singgasana Raja dengan kursi tahta yang terbuat emas yang dilapisi beludru merah dan berhiaskan permata dan berlian di bagian atas.
Disana seorang Raja yang terlihat masih muda terlihat duduk menyilangkan kakinya sambil menopang dagunya dengan punggung tangannya. Iris merahnya menatap dingin kearah Alexis, tak ada senyum atau pun sapaan darinya. Aiden segera berlutut memberi hormat begitu pula Howen.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu Howen. Kau masih terlihat sama." Sapa Devian.
"Anda juga terlihat masih muda dan tampan, Yang Mulia." Puji Howen.
"Aiden, kau boleh keluar."
Aiden segera berdiri dan keluar dari ruangan itu.
"Howen, kau tidak keberatan bukan?" Devian menatap Howen yang masih berlutut.
Howen segera berdiri dan langsung berjalan keluar menyusul Aiden. Tinggal Alexis sendirian diruangan itu, membuatnya sedikit gelisah. Alexis terus menunduk dalam, hingga tanpa disadarinya Devian sudah berada dihadapannya.
"Haruskah, aku memelukmu?" Tanya Devian dingin.
Alexis menggeleng pelan.
"Bagus kalau begitu." Gumam Devian.
"Si.. Siapa anda?" Tanya Alexis dengan suara begetar karena gugup.
"Aku Raja Aldwick, penguasa dari empat kerajaan." Jawab Devian.
"A.. Ayah.. " Alexis menatap Devian.
Devian terdiam saat bertemu pandang dengan putranya. Iris biru Alexis mengingatkannya pada Alice, Devian segera memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya sejenak untuk mengendalikan perasaannya.
"Mulai sekarang, kau tinggal disini. Jangan membuat masalah, dengarkan perintahku dan jangan membantah atau kau akan mendapat hukuman." Devian segera melangkah pergi.
__ADS_1
'Tu.. Tunggu..Ayah..!!" Alexis mencoba memberanikan diri memanggil Devian.
Sesaat Devian berhenti dan melirik kearah Putranya. "Aku seorang Raja, jaga sikapmu." Kata Devian dengan nada dingin dan segera pergi meninggalkan Alexis. 2
Alexis segera keluar dengan menundukkan wajahnya. Membuat Howen dan Aiden terlihat begitu khawatir.
"Yang Mulia, apa terjadi sesuatu?" Tanya Aiden khwatir.
Perlahan Alexis menatap Aiden dengan menahan senyumnya. "Paman, dia sangat luar biasa. Aku akan menjadi seperti ayah saat besar nanti." kata Alexis penuh semangat.
Howen dan Aiden terlihat bernafas lega melihat reaksi Alexis.
"Sekarang saya akan mengantar anda ke kasti Timur. Anda akan tinggal disana." Kata Aiden.
"Kapan aku akan bertemu bibi Beryl?" Tanya Alexis tidak sabar.
"Kenapa kau begitu ingin bertemu bibi Beryl?" Tanya Aiden penasaran.
"Aku ingin melamarnya." Jawab Alexis asal dan langsung berjalan cepat mendahului Aiden. 7
Aiden menatap Howen kesal. "Apa kau yakin dia baru berusia delapan tahun?"
"Mungkin sudah lebih lima Bulan." Jawab Howen.
Aiden menghela nafas panjang dan langsung menyusul Alexis yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Dia memang tumbuh selayaknya pangeran pada umumnya." Gumam Aiden lirih.
Alexis berbelok pada sebuah lorong dan masuk kedalam salah satu ruangan penyimpanan senjata yang tidak terkunci.
"Huaaahhh.." seketika mata Alexis melebar saat melihat beberapa pedang, perisai dan juga senjata-senjata lainnya. Alexis mengambil salah satu pedang disana dan mulai memasang kuda-kudanya. Pangeran muda itu menatap waspada lurus kedepan.
Imajinasi Alexis mulai bekerja, membayangkan dia tengah melawan penjahat seperti dalam teater boneka yang sering dia lihat bersama Raja Charles saat masih di Corfe. Alexis mulai mengangkat pedangnya tinggi diatas kepalanya dan menebaskannya kedepan. Kemudian dia mengayunkan pedangnya kesamping dan berputar. Saat dia tengah serius memainkan pedangnya dia mendengar suara seseorang.
"Yang Mulia!!! " Suara samar terdengar dari luar Alexis segera berlari kebelakang pintu sambil membawa pedangnya.
"Yang Mulia Pangeran... " Suara lain kembali terdengar.
Alexis menghela nafas panjang. "Aku masih ingin bermain." Alexis membanting pedangnya dan segera keluar dari ruangan itu.
Alexis segera berlari menuju Sumber suara yang memanggilnya.
"Howen, aku disini!! " Teriak Alexis pada pengawalnya.
Howen segera berbalik dan menghampiri Tuannya dengan cepat.
"Aku tadi tersesat, karena Paman Aiden lama jadi aku berjalan duluan." Alexis memberikan Alasannya.
Aiden terlihat mendekat kearah mereka sambil berlari disampingnya terlihat seorang wanita bersamanya. Beryl tersenyum lebar saat melihat Alexis.
"Pangeran!!" Panggil Beryl dengan melambaikan Tangannya.
"Bibi!!" Alexis memeluk tubuh Beryl dengan erat. "Bibi, aku sangat merindukanmu. Kau jarang mengunjungiku di Corfe belakangan ini."
"Maafkan aku pangeranku tersayang." Beryl mencubit pipi Alexis gemas.
"Bibi, sudah menikah?" Tanya Alexis.
"Dia akan segera menikah." Jawab Aiden cepat dengan nada memperingatkan. 3
Beryl tersenyum. "Sebentar lagi, bibi akan menikah Yang Mulia."
__ADS_1
"Jadi, bibi tidak akan menemuiku lagi? Jadi bibi lebih memilih paman itu." Alexis menunjuk Aiden dengan wajah kesal. 2
"Bibi akan selalu menemui Pangeran Alexis." Beryl kembali memeluk Alexis.
Saat Alexis menghadap Aiden dia menjulurkan lidahnya pada Aiden.
"Dia sengaja." Gumam Aiden kesal. 3
"Baiklah, sebaiknya anda segera beristirahat."
Beryl segera meraih tangan Alexis dan menggandengnya mengantar pangeran muda itu keruangannya.
*****
Ke esokan harinya, seperti biasa Howen membangunkan Alexis dengan membuka jendela kamarnya dan membiarkan sinar Mentari pagi untuk melanjutkan tugas selanjutnya. Alexis mengerutkan dahinya saat cahaya matahari menyorot langsung ke matanya. Pangeran muda itu mulai menggosok kedua matanya, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih melekat dikedua matanya.
Alexis kembali menguap dan kembali membenamkan wajahnya kedalam bantal.
"Pangeran Alexis, sudah saatnya anda bangun dan olah raga." Howen mengingatkan Alexis.
"Beri aku lima menit." Mohon Alexis.
"Pangeran... " Howen kembali mengingatkan Alexis.
"Baik-baik kau menang." Alexis membuang selimutnya dan berjalan kearah kamar mandi kamar besar itu.
Tak selang berapa lama Alexis telah berganti pakaian, pangeran muda itu telah duduk dimeja makan besar di kastilnya. Dia mulai memasukkan potongan roti gandum kedalam mulutnya.
"Aku lebih suka makan di Corfe." Komentar Alexis pada Howen yang dengan Setia berdiri disampingnya.
"Pangeran dilarang bicara saat ada makanan dalam mulutmu." Howen mengingatkan Alexis.
Alexis segera menelan makanannya dan menatap Howen. "Kau tidak ingin makan denganku."
"Saya baru saja selesai sarapan." Tolak Howen sopan.
Alexis kembali memasukkan roti kedalam mulutnya dan segera mengakhiri acara makannya.
"Ahh.. Aku selesai sarapan." Alexis segera bangkit dari kursinya. "Aku ingin berkeliling istana, berkuda, bermain dan..."
"Maaf, merusak jadwal anda Yang Mulia. Tapi, hari ini anda ada pelajaran etika, politik dan ekonomi." Jelas Howen memotong semua rencana Alexis.
"Aku akan menyelesaikan acara belajarku dengan cepat. Lalu.. "
"Lalu anda harus memulai... "
"Howen, jangan memotong pembicaraanku. Kau ingin mengisi otakku dengan omong kosong dalam buku-buku bodoh itu." Alexis marah dan dengan kesal segera keluar dari ruangan itu.
Howen segera berlari menyusul Alexis tapi dia sudah kehilangan pangeran muda itu. Howen segera mengelilingi kastil timur untuk segera menemukan pangeran Alexis.
Alexis, berjalan dengan santai menuju kearah kastil utama. Sesekali dia bersembunyi saat melihat beberapa Prajurit yang lewat. Alexis terus berjalan menyusuri lorong-lorong panjang di dalam kastil utama hingga langkah kakinya berhenti didepan pintu kayu tua. Dengan hati-hati Alexis membuka pintu tersebut dan disana terdapat sebuah anak tangga melingkar menuju kepuncak menara kastil.
Alexis mengedarkan pandangannya dan segera melangkahkan kakinya keatas. Alexis mulai menaiki satu persatu anak tangga yang cukup tinggi dan meliuk-liuk. Setiap lantai terdapat jendela-jendela kecil. Akhirnya saat Alexis mulai kehilangan tenaganya dia dapat melihat pintu di bagian atas menara.
Ragu Alexis mendorong pintu tersebut dan terbuka. Ruangan yang begitu gelap. Tapi Alexis masih bisa melihat sekelilingnya meski samar. Ruangan yang tidak besar tak ada apapun disana kecuali sebuah kursi di tengah ruangan yang didepannya terdapat sebuat kotak kaca besar berisi air yang begitu jernih, tapi memiliki warna bening kebiruan. Terlihat seperti air laut tapi juga bukan. Di dalamnya tubuh seorang wanita terapung diatas air itu, sebagian rambutnya masuk kedalam air dan melayang didalamnya. Tapi, di bagian yang tidak terkena air tetap kering. Perlahan Alexis mendekat kearahnya.
Alexis melihat seksama wanita dengan gaun satin panjang berwarna biru muda dengan mata terpejam. Alexis memiringkan kepalanya sangar dapat melihat lebih jelas, wajah yang tidak asing. Seketika itu ingatannya kembali ke lukisan dikamarnya tepatnya di kerajaan Corfe.
"I.. Ibu.. " Gumamnya dengan suara bergetar karena terkejut.
Tbc....
__ADS_1