setan kecil

setan kecil
part 16


__ADS_3

Drapp... Drapp... Drapp...


Terdengar suara kencang derap kaki kuda yang di tunggangi Alexis dan Howen. Mereka baru saja keluar dari ibu kota Aldwick. Matahari terlihat condong kebarat, semburat oranye menghiasi sebagian langit sore yang Indah. Namun, Alexis maupun Howen masih terus memacu kudanya semakin cepat. Meninggalkan kepulan debu di sepanjang jalan yang baru saja mereka lewati.


Saat menjelang malam mereka baru saja memasuki perkampungan kecil, hanya ada beberapa rumah yang di jadikan penginapan dan bar. Tempat ini biasa di gunakan oleh orang-orang beristirahat sejenak saat perjalanan. Alexis menarik tali kekang kudanya, membuat si kuda memperlambat jalannya dan dia menghentikan kudanya di depan sebuah penginapan.


Seorang pria segera menghampiri Alexis dan Howen. "Tuan!" Sapanya sambil menunduk.


Alexis melirik kearah Howen dan segera masuk ke dalam. "Urus kuda-kuda ini!" Howen memberikan beberapa koin perak pada pria itu.


"Baik, Tuan!!" Dengan sigap pria itu segera menarik kuda-kuda itu kebelakang penginapan.


Howen segera menyusul Alexis yang telah terlebih dahulu masuk. Terlihat Alexis baru saja menerima kunci kamarnya dari pemilik penginapan. Alexis segera melangkah mendekat kearah pengawal setianya itu. "Aku lapar, ayo kita cari makan."


Alexis melangkah kearah Bar di samping penginapan. Sampai di sana dia segera duduk di salah satu kursi kosong.


"Paman, bawakan aku makanan!" teriak Alexis.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Jawab Si pemilik bar.


"Apa kau sudah dengar kabar? Belakangan ini sering terjadi perampokan." Terdengar suara salah satu pelanggan bercerita.


"Apa itu benar?? Ada yang bilang peramponakan itu terjadi di hutan, jadi tak ada yang bisa menolong mereka. Beberapa dari korbannya di bantai dengan kejam itu yang aku dengar." terdengar komentar lain dari temannya.


"Karena itu sebaiknya jangan kesana saat malam hari." sahut yang lain.


"Tapi ada yang bilang kalau perampoknya adalah seorang gadis cantik." seorang pria yang dari tadi hanya diam menambahkan.


"Mana mungkin, jangan mengarangnya." kata salah seorang dari mereka meragukannya.


"Howen!" Alexis menatap Howen. "Bagaimana kalau kita mencari tahu?"


Howen menatap Alexis bingung.


"Jangan katakan kau tak mengerti maksudku." Alexis menatap Howen kesal.


"Saya tidak bisa membaca pikiran anda, maafkan saya Yang Mulia." Howen menunduk menyesal.


"Lupakan saja, aku terlalu berharap banyak darimu." Alexis menghela nafas panjang.


Dua porsi makanan telah terhidang di hadapan mereka, Alexis dengan cepat melahap makanannya dan dalam waktu setengah jam telah menyelesaikan makan malamnya. "Ahhhh.. Aku kenyang." Alexis menyandarkan tubuhnya. "Aku ingin segera istirahat."


"Saya akan membayarnya, silahkan anda pergi terlebih dahulu." Howen segera bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Alexis mengamati ruangan tersebut, beberapa orang yang tengah bergosip saat dia datang tadi telah meninggalkan tempat itu. Alexis segera bangkit dari tempat duduknya, dia melangkah keluar dari pintu bar dengan santai. Tapi, dalam gerakan cepat Howen menyusul Alexis.


Ttingg....


Beturan dua senjata terdengar nyaring. Alexis sedikit terkejut, tapi dengan cepat dia mengendalikan dirinya.


"Anda tidak apa-apa Yang Mulia?" Howen melirik kearah Alexis.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Hmmm.. Aku baik-baik saja." Jawab Alexis.


Howen beralih menatap si penyerang yang berdiri di depannya. Iris coklat dengan rambut coklat terurai panjang. Alexis mengamati gadis di hadapannya dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu memakai baju putih lengan panjang, dengan rompi kulit bertali di bagian luarnya. Celana kulit coklat ketat dan juga sepatu boot kulit.


"Howen, jangan terlalu kasar pada seorang gadis." Alexis menyentuh pundak Howen.


"Tapi, dia berusaha melukai anda." Howen menatap waspada gadis di hadapannya.


"Aku akan mengatasinya." Alexis berjalan perlahan mendekati gadis itu.


"Sebaiknya perhatikan langkahmu, tuan. Aku sedang membawa senjata, aku bisa saja membunuhmu dalam hitungan detik." Gadis itu memperingatkan.


"Baiklah, aku akan mulai menghitung. Seberapa cepat kau bisa membunuhku." Alexis memamerkan senyumnya yang paling menawan.


"Ahh, kau terlalu lambat dan lemah. Aku akan mulai menghitung dari sekarang." Alexis tersenyum saat gadis itu melirik kearahnya dengan wajah marah. "Satu.. "


Alexis memutar tubuhnya kedepan dan mengampit tangan sang gadis yang tengah menggenggam pedang. "Dua.. " Alexis memukul tangan sang gadis hingga tanpa sadar di melepas pedangnya. "Tiga.. " Alexis menariknya dan berakhir dalam pelukannya.


Gadis itu terbelalak kaget, mata bulatnya menatap wajah Alexis yang terlihat begitu dekat.


"Dalam hitungan detik kau berakhir dalam pelukanku." Bisik Alexis dengan senyum lebar.


"Lepaskan aku, dasar brengsek!" Teriak gadis itu marah.


"Aahh.. Kau yang akan merampokku tapi kenapa aku yang brengsek?" Tanya Alexis tidak terima.


"Apa kau punya bukti, kalau aku perampok." tantang gadis itu.


"Jika, aku benar maka kau akan ku masukkan dalam penjara. Bagaimana?"


Gadis itu terdiam membeku, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


"Diam berarti iya." Tangan Alexis meraih sesuatu yang tergantung di pinggang sang gadis dan melemparkannya pada Howen.

__ADS_1


"Itu buktinya, sebuah kantong penuh dengan kepingan emas. Ahhh, jika tidak salah di dekat sana ada sebuah tas penuh dengan barang rampasan. Ckckckc.. Kau gadis yang menakutkan." Alexis menatap gadis di hadapannya. "Baiklah sudah aku putuskan karena kau bersalah kau akan menjadi tahananku."


"Siapa kau berani memutuskan aku bersalah atau tidak seenaknya?" Tanya gadis itu marah. "Kau tidak tau siapa aku?"


Alexis menatap Howen dan menatap gadis di hadapannya. "Apa kau salah satu wanita yang pernah tidur denganku?" Alexis langsung melepas pelukannya dengan ekspresi terkejut dan menutup mulutnya.


Gadis itu mengkerutkan keningnya tak mengerti. "Jadi kau memang pria brengsek. Kau sama saja dengan... "


"Heii, aku bukan laki-laki seperti itu. Aku hanya mengagumi ciptaan dewa." Alexis mengelak. "Baiklah, karena kau tahananku sekarang perkenalkan dirimu. Aku Alexis Windsor dan kau?" Alexis mengulurkan tangannya.


"Aslyn Rowley." Jawabnya singkat. "Kembalikan barangku!" Pinta Aslyn dengan tatapan dingin.


"Itu bukan milikmu. Howen, kembalikan pada keamanan perbatasan dan segera kembali. Gadis ini akan tetap bersamaku." Alexis menatap Howen.


Tak berapa lama Howen menghilang, membuat Aslyn mendadak takut. "Ke.. Kemana dia?" Tanya Aslyn.


"Dia akan segera kembali, kau ikut aku!" Alexis segera meraih tangan Aslyn dan menariknya ke penginapan.


*****


Aslyn duduk di kursi merapatkan kakinya, menunduk dalam dengan tangannya di atas pangkuannya. Sedangkan Alexis berdiri di depan gadis itu dengan wajah penuh selidik.


"Kau baru mulai merampok, bukankah begitu?" Tebak Alexis.


"Dari mana kau tau?" Tanya Aslyn


"Kau masih terlalu amatir, caramu memegang pedang, caramu menyerang yang tanpa perhitungan. Akan ada kemungkinan pihak keamanan melakukan patroli dalam waktu dekat karena banyaknya laporan perampokan di dekat sini." Jelas Alexis.


"Tapi, bukan aku yang melakukannya ada kelompok lain yang... "


"Kau pikir pihak keamanan akan percaya? Sebaiknya kau bersamaku untuk sementara, aku juga butuh hiburan selama perjalananku." Alexis menatap Aslyn yang masih menunduk. "Kau bisa menggunakan tempat tidurku, aku akan tidur di kursi."


"Tidak apa-apa, aku akan tidur di sini."


"Baiklah." Alexis segera melangkah ke tempat tidurnya mengambil satu bantal dan selimut lalu memberikannya pada Aslyn. "Selamat malam, besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan. Jadi, jangan tidur terlalu larut."


"Kenapa kau ingin aku ikut bersamamu?" Terdengar suara Aslyn yang lirih.


"Entahlah, aku hanya merasa kalau ada banyak persamaan diantara kita." Alexis melangkah meninggalkan gadis itu sendirian.


Aslyn terdiam sesaat, ingatannya kembali pada hari-harinya yang begitu sepi tanpa siapapun di dekatnya.


Alexis menatap langit-langit kamarnya. "Ibu bertahanlah sedikit lagi, aku akan membawakan obatnya." Gumam Alexis.

__ADS_1


__ADS_2