setan kecil

setan kecil
part 22


__ADS_3

"Hiks... Hiks... Hiks... "


Suara isak tangis seseorang terdengar samar. Tetesan air menetes ke pipi Alexis. Dia melenguh, perlahan matanya terbuka menunjukkan iris merahnya. Bayangan samar seseorang di depannya terlihat bahunya bergetar seiring dengan suara isak tangisnya.


"Hmmm... " Alexis berusaha bangun.


Aslyn yang melihat Alexis bangun tersentak kaget dan segera membantunya. Alexis meringis kesakitan saat Aslyn menyentuh lengannya.


"Ma.. Maaf!!" Dengan cepat gadis itu melepas pegangannya dari lengan Alexis.


"Kau tidak apa-apa?" Alexis menatap Aslyn.


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu." Aslyn menyeka air matanya dan menatap Alexis. "Apa kau baik-baik saja?"


"Entahlah... Dadaku terasa sakit... " Alexis memegang dadanya, nafasnya mulai berat. "A... Aku rasa.. Aku... Tidak akan... Bertahan... Lagi.... "


"Ta... Tapi, Howen... Dia pergi mencarikan obat untukmu, kenapa dia tidak kembali..." Aslyn terlihat mulai panik.


"Ti.. Dak.. Apa, kata... Kan pada Howen... Dia... Pengawal... Yang luar.... Biasa... " Alexis terlihat mulai kesulitan bicara. "Uhukkk... Uhukkk... Uhukkk... " Alexis terbatuk, nafasnya semakin berat.


"Tidak, tidak bertahanlah aku mohon... " Aslyn memulai panik.


Tubuh Alexis mulai melorot kembali, dengan cepat Aslyn meraih kepala Alexis dan menopang kepala pria itu. "Bertahanlah, jangan bicara lagi... Kau harus selamat... " Aslyn semakin panik, air matanya kembali beruraian.


"To... Long... Selesai... Kan.. Misi... Ku." Tangan Alexis terjatuh lemas, kepalanya bersadar ke dada Asyln lemas.


Aslyn terbelalak kaget, dia mulai panik dan menangis. "Hikss... Seseorang apa ada yang mendengarku!!" Aslyn berteriak sekuatnya berharap ada orang yang mendengarnya. Tapi, tak ada siapapun di sana. Tubuh Alexis telah lemas, Aslyn semakin terisak saat melihat tubuh Alexis.


"Seseorang tolonglah!! Aku mohon.. " Aslyn menunduk sedih air mata membanjiri pipinya.


Tak berapa lama Howen muncul sesaat tubuh Howen membeku melihat tubuh Alexis. Aslyn yang melihat kedatangan Howen langsung membaringkan tubuh Alexis perlahan. Gadis itu berlari menghampiri pengawal Alexis yang terdiam membeku.


"Tuan, tolong Alexis. Aku mohon... Dia... Aku rasa dia sudah meninggal.." Isak tangis sesekali terdengar di setiap kata yang ia ucapkan. "Anda pasti bisa menyelamatkannya kan... Dia mungkin pangeran yang menyebalkan... Tapi, sejujurnya dia pria yang tampan... Dan baik... " tangis Aslyn semakin menjadi saat ia ingat karena dirinya Alexis menjadi seperti ini.


Alexis membuka sebelah matanya mengintip ke arah Aslyn yang memunggunginya. Howen terkejut dan hendak melangkah mendekat kearah Alexis. Tapi Alexis segera memberi isyarat pada Howen untuk tak mendekat dan memintanya untuk diam. Alexis kembali membaringkan tubuhnya dan menutup matanya saat Aslyn menengok kearahnya. "Tuan Howen... Bagaimanapun Alexis... Adalah pria yang luar biasa... Sejujurnya hatiku... Terasa sakit melihatnya seperti ini... Sulit untuk mengendalikan perasaanku saat dia menatapku.. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku menyukainya.. Tapi dia tak akan pernah tahu... Hal ini... Hwaaaa... Apa yang harus aku lakukan... Tuan Howen, semua terjadi karena salahku... Huhu..."


Howen menatap Aslyn datar tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. "Tuan, kenapa kau diam saja... Lakukan sesuatu..."


Alexis terus mencoba menahan tawanya agar tidak meledak. Setiap kalimat Aslyn dia mendengarkan dengan seksama. "Ck... Harusnya kau jujur dari awal kalau pesonaku terlalu kuat." kata Alexis dalam hati.


"Kenapa kau tidak menciumnya saja?" Terdengar suara seseorang.


Aslyn menatap Howen tak percaya. Tapi Howen tak mengatakan sepatah katapun. "Maksudku ciuman mesra yang sangat berkesan, agar aku tidak bisa melupakannya meskipun setelah aku mati." Alexis bangkit berlahan. Dia memegang bahunya dan meringis menahan sakit.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


"Ba... Bagaimana.. Kau... " Aslyn terlihat kebingungan.

__ADS_1


Alexis berjalan mendekat kearah Aslyn dengan senyum menggoda. "Kenapa? Kau senang aku masih hidup? Panah itu beracun dan sangat mematikan bagi manusia, tapi sebagian dari diriku kebal terhadap racun apapun." Alexis mengedipkan matanya.


"Dasar brengsek!! Aku sudah berpikir kalau kau akan mati." Aslyn menatap Alexis marah.


"Bukankah itu lebih baik? Sekarang kau bisa menyatakan semua perasaanmu padaku." Goda Alexis.


"Lebih baik, kau mati saja!!" Teriak Aslyn kesal dan berjalan menjauh dari Alexis.


Alexis menatap Howen bingung. "Kenapa dia malah marah padaku? Dia yang mengatakan kalau dia suka padaku kan?"


"Maaf, Yang Mulia saya tidak mengerti." Jawab Howen seraya membungkuk meminta maaf.


Alexis terdiam tak percaya menatap pengawalnya. "Lupakan saja, tak seharusnya aku membicarakan ini denganmu." Alexis menghela nafas panjang.


*****


"Gghhhggrrrr..." Terdengar suara geraman kesakitan dari seseorang.


"Kekeke..." Terdengar kekehan mengejek seseorang.


Adrian muncul dalam cermin, menatap anaknya yang merintih kesakitan. "Bukankah itu terlalu kuat, sudah ku katakan buat ramuannya lebih dulu. Darah dari kaum duyung akan membuatmu kekal Rhodri dengan itu tubuhmu akan dapat menerima setiap jiwa iblis yang kau serap."


"Diam... Kau...!!" Rhodri melempar sebuah fas kearah cermin.


Prang....


Cermin tersebut pecah, pantulan Adrian terlihat semakin banyak. Pantulan suara tawa dalam ruangan terus menggema memenuhi kepala Rhodri.


Perlahan cermin yang pecah menyatu kembali menjadi utuh. "Kau terlihat menyedihkan, karena itu kau tidak akan pernah menjadi lebih baik darinya."


"Ggggrrraaaaa... " Suara teriakan Rhodri memenuhi seluruh Kastil Timur.


******


Alexis mencoba menyusul langkah cepat Aslyn di depannya. "Hmm.. Kau yakin, tidak ada yang ingin kau sampaikan padaku." Alexis terus menggoda Aslyn.


Aslyn berhenti dan menatap tajam Alexis. "Semua yang aku katakan adalah bohong, agar kau cepat sadar... "


"Apa aku akan dengan mudah percaya?" Alexis membungkuk mensejajarkan matanya dengan Aslyn. "Tapi matamu mengatakan sebaliknya, sepertinya kau harus segera mengatakannya padaku. Katakan saja, aku tidak akan tertawa."


Aslyn memegang pundak Alexis yang terluka dan menekan luka itu. "Aaaahhhhh... " Alexis merintih kesakitan.


Dengan sigap Howen menatap ke arah Alexis. "Jangan main-main denganku!" Aslyn memperingatkan dan berjalan meningglkan Alexis.


"Ck.. Dia cukup keras kepala." Alexis menatap punggung Aslyn. "Tapi aku suka!!" Langkah cepat Alexis segera menyusul Aslyn.


"Bisakah, kau menjauh dariku?" Tanya Aslyn kesal.

__ADS_1


Alexis menggeleng cepat. "Tidak!" jawab Alexis singkat.


"Rasanya aku ingin membunuhmu." Teriak Aslyn kesal.


"Jika aku mati, kau akan menangis lagi." Alexis mengedipkan sebelah matanya.


Aslyn menatap Alexis semakin emosi. Sepanjang jalan Alexis terus menggoda gadis yang bersamanya. Hingga mereka sampai di ujung hutan.


Daerah bebatuan tandus, langit-langit gua memberi kesan semakin menyeramkan. Bagian dalam terlihat gelap.


"Tempat apa ini?" Tanya Aslyn.


Mata gadis itu membulat sempurna, rasa kagum dan juga takut berpadu menjadi satu. Suasana bagai neraka, bebatuan hitam pekat yang memiliki retakan menyala kemerahan bagai lava panas. Langit-langit gua hanya menunjukkan cahaya temaram ke merahan.


"Lembah kematian, sedikit lagi kita akan sampai." Guma Alexis.


Alexis hendak melangkah ke area tersebut, tapi langkahnya terhenti saat Aslyn menahan lengannya. "Jangan, aku rasa di sana berbahaya."


Alexis menatap gadis itu, terlihat jelas raut wajah takut, khawatir dan gelisah di wajahnya yang cantik.


"Tidak apa-apa." Alexis tersenyum.


Tangan Alexis meraih jemari lentik Aslyn yang menahan lengannya dan dari lengan tangan Aslyn kini di pindahkan Alexis ke genggaman tangannya.


Gadis itu menatap iris merah Alexis dalam, Alexis membalasnya dengan senyuman. "Kau akan baik-baik saja, akan ku pastikan itu."


Aslyn hanya mengangguk entah apa yang membuatnya percaya pada Alexis.


"Howen, kau siap?" Alexis menatap Howen di sampingnya.


Howen mengangguk mantap mengiyakan.


*****


"Kalian sudah mendapat informasi tentang siapa pengguna segel terlarang itu?" Devian menatap satu persatu orang dalan ruangannya.


"Ampun Yang Mulia, sangat sulit mendeteksi pengguna segel tersebut. Seperti ada kekuatan lain yang menghalangi kami untuk melacak kekuatannya." Jelas salah satu prajurit yang di tugaskan Devian. "Bahkan beberapa dari kami ada yang menghilang." sambungnya lagi.


"Akan gawat kalau dia menangkap kalian dan menyerap semakin banyak jiwa iblis. Haruskah aku turun tangan sendiri?" Devian terlihat berfikir.


"Untuk saat ini, kami masih bisa menanganinya yang mulia."


"Baiklah, lacak dimana mereka berada. Jangan mendekat atau melawan mereka, langsung berikan informasinya padaku. Jika sampai dia menyerap semakin banyak jiwa Iblis itu akan sangat berbahaya."


"Baik, Yang Mulia!!"


"Baiklah, kau boleh pergi."

__ADS_1


Prajurit itu langsung memberi hormat pada Devian sebelum pergi.


"Sebaiknya, kau cepat kembali sebelum keadaan menjadi lebih buruk." Gumam Devian.


__ADS_2