setan kecil

setan kecil
part 21


__ADS_3

"Apa ini hutan?" tanpa sadar mulut Aslyn terbuka karena mengagumi dunia baru yang baru dia kunjungi.


"Begitulah." Jawab Alexis singkat.


Alexis segera berjalan mengikuti Howen. Aslyn yang tersadar dari kekagumannya segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Alexis. Sesekali dia masih mengamati setiap sudut hutan yang dia lewati. "Wow..!! Apa ada seseorang yang tinggal disini?" Tanya Aslyn penasaran.


"Jika tidak ada, kenapa? Kau ingin tinggal disini bersamaku?" Alexis menggoda gadis yang bersamanya.


"Hmmm... Satu-satunya hal yang membuat suasana di sini menjadi buruk karena dirimu." Aslyn berjalan cepat mendahului Alexis.


"Itu aneh, biasa gadis-gadis akan berebut untuk tinggal bersamaku. Atau jangan-jangan kau tidak menyukai pria." Alexis terlihat terkejut.


"Jika kau bicara sekali lagi akan aku lempar Batu ke wajahmu." Aslyn memperingatkan.


"Aku hanya menebak, kenapa harus marah."


Ssslllaapp.. Crep...


Sebuah anak panah melesat melewati Aslyn dan menancap di tanah. Alexis terlihat terkejut, Howen segera menarik pedangnya menatap waspada ke segala penjuru begitu pula Alexis. Memasang mata dan telinganya, mendengarkan setiap suara.


Ssllaapp....


Alexis melihat anak panah melesat kearah Aslyn dengan cepat dia meraih tubuh Aslyn mengubah posisinya agar Aslyn terlindung dari arah datangnya serangan seraya menariknya kebelakang pohon yang cukup besar. Alexis menatap waspada Howen yang telah berlindung di balik pohon yang lain.


Saat Alexis menatap gadis di depannya dia terdiam. aslyn terlihat khawatir dan takut.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alexis.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Aslyn singkat. "Siapa mereka?" Tanya Aslyn takut, gadis itu mencoba mengintip. Tapi, Alexis menarik tubuhnya agar tetap berada diposisinya.


"Tetaplah disini! Aku akan menghadapi mereka. Jangan lakukan apapun." Alexis menatap Aslyn serius.


Aslyn terdiam, saat gadis itu akan mengucapkan sesuatu Alexis telah melangkah meninggalkan Aslyn. Dia berdiri di tempat terbuka di antara pepohonan rindang yang menjulang tinggi. Howen segera menyusul tuannya menatap waspada mencari dimana posisi musuh mereka.


Ssrrrkk..


"Disana?" baru saja Alexis mengatakan keberadaan musuhnya sebuah anak panah melesat cepat ke arahnya.


Ssslllaaappp.. Ting..


Anak panah berhasil dihalau oleh Pedang Howen. "Anda tidak apa-apa Yang Mulia?" Tanya Howen cemas.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Siapa mereka?" Tanya Alexis penasaran.


"Mungkin mereka adalah yang terkutuk." Howen mengedarkan pandangannya berharap tak ada serangan. "Mereka adalah manusia yang di kutuk oleh pohon apel karena keserakahan mereka, mereka akan melindungi pohon dan buah iblis itu tugas mereka sampai mereka mati. Tapi, mereka akan kekal jika tak ada yang dapat membunuh mereka."


"Sulit di percaya, pohon itu lebih berbahaya dari dugaanku." Alexis menatap Howen tak percaya. "Baiklah, jangan main-main lagi." Mata Alexis berpendar merah dari tangannya muncul sebilah pedang perak. "Howen Ayo kita tangkap mereka." Alexis tersenyum.


Alexis maju dengan cepat menyeret ujung pedangnya meninggalkan bekas di atas tanah. Alexis memejamkan matanya dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, saat Alexis membuka matanya dia menancapkan pedangnya ke tanah.


Blaarrr....


Ledakan kekuatan begitu kuat menghantap tanah menyebar hingga menimbulkan angin besar dan udara panas menyengat. Daun-daun seketika mengering dan terbang terlepas dari dahannya.


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


Alexis menyeringai puas. "Tak ada tempat sembunyi lagi." Mata Alexis menatap lurus ke atas pohon.


Tiga orang memegang busur di tangan mereka, tatapan mata kosong bagai mayat hidup yang di kendalikan. Di bagian paling depan terlihat seperti pemimpin dari mereka semua, menatap tajam kearah Alexis. Dia memegang busur yang lebih kokoh, di punggungnya terikat tempat anak panah yang berjumlah puluhan.


"Berhenti disana, sebelum aku menjadikanmu salah satu koleksiku." Kata Pria yang paling depan mengingatkan.


"Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin main-main." Jawab Alexis dengan nada santai. "Howen." Alexis melirik Howen.


"Mereka bisa bergerak tanpa perintah, secara otomatis mereka akan melindungi diri mereka." Jelas Howen.


"Lalu bagaimana jika dia yang kita Serang." Alexis menatap kearah Pemimpin pemanah-pemanah itu.


"Maaf, Yang Mulia... "


"Kenapa minta maaf?" Alexis menatap pengawalnya tak mengerti. "Sudahlah, sebaiknya kita cari tahu." Alexis melesat dengan cepat. Memijakkan kakinya pada salah satu pohon sebagai tumpuan dan melompat ke depan pemimpin dari pemanah.


Srakkk...


Serempak para pemanah membidik Alexis. "Aku kira kau akan melawanku dengan jantan." Alexis melirik waspada ke arah pemanah-pemanah itu.


"Tentu saja, aku akan melawanmu sendiri." Lawan Alexis menyerang Alexis dengan cepat sebuah pukulan mengarah langsung ke wajah Alexis.


Dengan cepat Alexis menghalau pukulan itu dengan pergelangan tangannya, sebagai balasan Alexis mendorong lawannya dan mengarahkan sebuah tendangan ke dada lawan. Tapi dia sempat menghindar dan melompat menjauh dari Alexis. "Jadi kau tipe jarak jauh?" Gumam Alexis.


Alexis menatap pedangnya yang masih tertancap di tanah, dia memejamkan matanya sesaat dan pedang itu secara misterius telah berada di tangan Alexis.


Slaap... Slaap... Slaap...

__ADS_1


Para pemanah melepaskan anak panah mereka membidik Alexis, Alexis segera menghalau setiap anak panah yang menuju kearahnya dengan pedang di tangannya dan dia kembali melompat turun dari atas pohon. "Ck.. Aku harus mengubah rencana." Gumamnya.


Di genggaman Alexis pedang telah berubah menjadi busur keperakan. Di tangan yang lain butir cahaya membentuk spiral yang meruncing membentuk anak panah keperakan dengan ujung yang runcing. Alexis segera memasang anak panah pada busurnya mengarahkan anak panahnya pada salah satu lawannya. Dalam hitungan detik anak panah melesat ke atas menuju ke titik sasaran. "Howen, sekarang!!" Alexis memberi isyarat pada Howen.


Howen menghilang saat lawan Alexis menghindari anak panah yang menuju ke arahnya Howen muncul tepat di belakangnya, begitu dia menyadari keberadaannya. Pedang Howen sudah berhasil membelah tubuh pemanah itu.


"Boleh, juga! Kau akan menjadi koleksiku yang paling berharga. Anak-anak tangkap dia dan akan ku bebaskan kalian dari kutukan yang melelahkan ini." Dia mulai memberi perintah pada dua orang yang masih tersisa.


Dua pemanah itu melompat turun dengan mudahnya. Mereka bersiap menyerang Alexis dari jarak dekat, salah satu dari mereka melesat cepat ke arah Alexis. Sebuah pukulan mengarah padanya, Alexis segera menahan pukulan itu dengan lengannya dan menendang bagian samping lawannya membuatnya terhuyung. Howen yang mengetahui tuannya tengah dalam bahaya langsung turun dan ikut membantu Alexis.


"Howen, urus mereka. Dia akan menjadi urusanku." Alexis menatap tajam Ke arah pimpinan pemanah itu.


Mengetahui Alexis akan menyerangnya, pria yang mendi pemimpin Para pemanah langsung bersiap dengan busurnya. Mengarahkan bidikannya memastikan panah tak akan meleset dari sasaran, Alexis dengan cepat memasang anak panahnya dan mereka melepaskan busur secara bersamaan. Anak panah saling berbenturan, panah dari lawan Alexis terbelah menjadi dua dan panah Alexis menghilang menjadi butiran debu bercahaya.


Mereka berdua melesat dengan cepat ke udara, saling bertarung di udara mencoba untuk saling menyalahkan satu sama lain. Hingga, Alexis berhasil melayangkan tinjunya ke perut lawannya. Membuat lawannya terpental jauh dan membentur beberapa pohon yang akhirnya hancur. Alexis mendarat di atas dahan pohon yang cukup besar. Mengamati keadaan lawannya dan bersiap dengan serangan lain.


Lawan Alexis menarik kembali busurnya membidik sesuatu, mata Alexis mengamati kemana busur itu akan melesat. "Gadis itu." Mata Alexis melihat Aslyn yang berjalan diam-diam ke tempat persembunyian lain.


"Aslyn... Awas...!!" Anak panah melesat cepat ke arah gadis itu.


Dengan mengerahkan kekuatannya Alexis melesat cepat menabrak tubuh mungil Aslyn menyelamatkan gadis itu dari busur lawannya. Tubuh Aslyn terjatuh di atas tanah, Alexis tepat berada di atasnya menahan bobot tubuhnya dengan tangan kirinya agar dia tidak menimpa gadis itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alexis pada gadis itu.


Aslyn hanya mengangguk, iris mata gadis itu menatap ke bahu kanan Alexis yang terkena panah. Tidak sampai mengenainya tapi busur itu berhasil menggores bahu Alexis. Perlahan darah mulai merembes ke baju Alexis, meninggalkan noda merah darah segar disana.


Howen, yang baru saja mengalahkan lawannya langsung menghilang dan muncul secara tiba-tiba di belakang lawan Alexis. Howen segera melancarkan serangannya, dia mengayunkan pedangnya dan pria itu mencoba menangkis setiap serangan Howen dengan busur di tangannya.


Alexis berusaha menahan rasa sakit di pundaknya dan kembali berdiri. Alexis meraih busur di sampingnya dan mulai membidik musuhnya yang tengah bertarung dengan Howen. Saat Alexis akan melepas anak panah itu, pandangannya mulai memudar. Semua yang ia lihat seakan berputar-putar. Alexis menurunkan busurnya dan kembali memastikan penglihatannya.


"Kau tidak apa-apa?" Aslyn terlihat begitu khawatir.


"Ck, busur beracun." gumam Alexis dengan kesal. "Howen lakukan!!" Alexis berteriak pada Howen.


Howen semakin gencar menyerang Lawannya, hingga busurnya terjatuh dan dalam satu gerakan dia berhasil mengunci lawannya. "Yang Mulia, Sekarang!!"


Alexis merentangkan kembali busurnya, menggunakan sisa kekuatannya dan melepaskan anak panah itu. Busur melesat cepat ke arah musuh mereka dan saat Howen menghilang busur itu menancap tepat di dahi lawan Alexis.


Brukkkk....


Bersamaan dengan ambruknya musuh, Alexis juga jatuh pingsan. Busur di tangannya tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


__ADS_2