
“Di mana putraku?” terdengar suara merdu seorang wanita.
“Pangeran?” seorang pelayan terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan wanita itu. “Ampun Yang Mulia Ratu!” pelayan itu menunduk dalam.
Seorang pria tua mendekat kearah wanita itu menunduk memberi hormat. “Ratu Alice, saya baru saja mendapat laporan jika Pangeran Alexis melawan perintah Yang Mulia Devian dan memilih pergi ke medan perang.” Lapor pira itu.
Dahi Alice mengkerut heran, iris birunya menatap tajam kearah pria tua itu. “Medan perang?” Alice terlihat kebingungan.
“Aldwick diserang oleh pasukan iblis karena itu Raja Devian menurunkan seluruh pasukan Lucery untuk berperang di Aldwick.” Jelasnya lagi. “dan menurut laporan Pangeran datang untuk membantu Yang Mulia Devian.”
“Sepertinya mereka dekat.” Gumam Alice, terlihat senyuman menghiasi bibir tipisnya. “Aku sempat khawatir Devian…”
“sejujurnya hubungan mereka sangat buruk.” Celetuk salah satu pelayan.
Pria tua itu menatap tajam kearah pelayan itu yang tanpa sadar mengatakan hubungan Alexis dan Devian yang tidak baik.
“Apa maksudmu?” Alice menatap pelayan itu.
“Sebenarnya, keadaannya sangat sulit di jelaskan. Jadi, akan lebih baik jika anda melihatnya secara langsung.” Pria tua itu menyarankan.
“kalau begitu antar aku kesana?” Alice berdiri dari tempat duduknya.
“tapi, keadaan anda belum setabil kekuatan anda saat ini mungkin akan sulit di kendalikan. Jika…”
“antar saja aku kesana!!!” Alice manatap pria tua itu tajam.
“Baik Yang Mulia!” pria itu menunduk dalam.
****
Medan pertempuran terlihat sudah luluh lantah, Rhodri melayang di udara, Alexis terlihat cukup menyedihkan dengan tubuh penuh luka, darah kering terlihat mengotori beberapa bagian baju zirah dan wajahnya. Devian melirik putranya “sepertinya proses penyembuhanmu tidak secepat diriku. Sebaiknya kau mundur saja.”
“Sudah aku katakan jangan meremehkan aku lagi.” Alexis melirik kesal ayahnya. “luka seperti ini bukan apa-apa untukku.”
Alexis terlihat kembali bersiap, tapi Devian maju ke depan Alexis. “kali ini aku yang akan mengalihkannya. Jika sampai ibumu melihat ini." Devian menghela nafas. "Akan sangat merepotkan."
“tapi….”
“kau melihat kalung itu?” Devian menatap lurus kearah dada Rhodri. “dia terus berusaha melindungi benda itu dari setiap seranganku, cari kesempatan untuk mengambilnya atau setidaknya hancurkan benda itu.”
“Apa itu sebuah rencana?” Tanya Alexis heran.
“jangan banyak Tanya, lakukan saja perintahku.”
“sebelumnya aku tidak pernah menerima perintah.” Gumam Alexis seraya bersiap dengan kuda-kuda.
Rhodri menatap kedua lawannya dan tersenyum miring. “Apapun yang akan kalian lakukan, hasilnya akan tetap sama.”
Dari kejauhan Aslyn menatap pertarungan mereka, Devian menedang tanah dan tubuhnya meluncur cepat kearah Rhodri. Dia mengarahkan tendangan pada Rhodri yang dengan mudah di tahan lawannya hanya dengan satu tangan.
“kau jadi semakin lemah Devian, atau aku yang semakin kuat.” Rhodri menyeringan dan melayangkan sebuah pukulan pada Devian meskipun Devian menahan pukulan itu dengan lengannya tapi tetap saja tubuhnya terpental. Tubuhnya meluncur cepat kebawah dan menghantam tanah hingga debu dan kerikil beterbangan.
__ADS_1
Alexis menatap kesal kearah Rhodri dengan emosi. “Howen, sekarang saatnya kita melakukan semua dengan cara kita.”
Howen berjalan kearah Alexis. “Berikan perintah anda, Yang Mulia!” Howen menunduk Hormat.
Alexis melirik kearah ayahnya yang baru saja bangkit. “Benar, akulah tokoh utamanya kali ini. Aku yang akan menghancurkannya.” Alexis beralih pada musuhnya.
“kali ini apa rencanamu?” Tanya Rhodri. “kau akan menjadikannya tamengmu?”
“Howen, Lakukan seperti biasa.”
“Baik Yang Mulia!”
Alexis meluncur cepat kearah Rhodri, bersiap dengan tendangannya. “Kalian ayah dan anak memang sama-sama bodoh, serangan yang sama tidak akan mempan terhadapku.” Kata Rhodri dengan sombong.
Saat jarak Alexis semakin dekat dengannya, Rhodri bersiap untuk menyerang Alexis lebih dulu. Tapi begitu jarak mereka semakin dekat dan Rhodri mengarahkan serangannya, Alexis menghilang. Membuat mata Rhodri membulat sempurna dan saat bersamaan Alexis muncul tepat di atas Rhodri siap dengan tendangannya, kaki Alexis menghantap bagian belakang tubuh Rhodri dengan kuat membuat tubuhnya melesat cepat dan menghantam tanah.
Bledarrr…
Suara ledakan terdengar, Alexis mengamati dari atas. Asap debu masih mengepul menghalangi pandangan. Devian mempertajam penglihatannya untuk memastikan keadaan Rhodri. Bayangan hitam seseorang terlihat samar di antara kepulan asap tersebut. Serangan Alexis sama sekali tidak bisa menggores tubuh Rhodri.
“butuh lebih dari sekedar tendangan kecil untuk membunuhku.” Rhodri menepuk bahunya menyingkirkan debu yang mengotori baju zirah barunya.
“Itu hanya percobaan, serangan sesungguhnya baru akan dimulai.” Alexis menyeringai.
Mendadak sosok Alexis menghilang, membuat Rhodri terkejut sesaat. Dia menatap waspada ke seluruh penjuru, mengira-ngira dari arah mana dia akan mulai menyerangnya. Di saat perhatian Rhodri terpecah Devian melesat cepat kearah Rhodri mengarahkan serangan pedangnya pada Rhodri. Sigap, Rhodri menahan pedang Devian dengan pedangnya.
“Kau sangat licik, Devian! Menyerang saat perhatianku terpecah.” Kata Rhodri mengejek.
Saat bersamaan, Alexis muncul tepat di belakang Rhodri menghantap bagian belakang tubuh Rhodri dengan pedangnya. Baju zirah Rhodri terlihat retak di bagian yang terkena serangan Alexis, Rhodri melirik kearah Alexis penuh emosi. Dia segera berbalik, menyerang Alexis dengan membabi buta melupakan keberadaan Devian.
“beraninya kau!!!” Teriak Rhodri penuh amarah.
Alexis terus berusaha, menghindar dan menangkis serangan Rhodri yang bertubi-tubi. Tak berapa lama Alexis kembali menghilang dari pandangan Rhodri. “kemari kau, jangan bersembunyi seperti pengecut!!!” teriak Rhodri penuh amarah.
“Pengecut? Kau salah. Ini yang dinamakan rencana.” Alexis muncul tiba-tiba di depan Rhodri pedangnya berhasil menghantam kalung Ruby di dada Rhodri. Retakan kecil terlihat jelas di kalung itu. Rhodri menatap kearah kalung itu seakan tak percaya apa di lakukan Alexis.
“beraninya kau!!” Rhodri berteriak penuh emosi.
Ledakan kekuatan besar tak kasat mata seakan menghantam Alexis membuat tubuhnya terlempar sejauh beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sebelum tubuhnya menghantam tanah Howen menahan tubuh tuannya. “Yang Mulia!!!” Terlihat wajah Khawatir Howen.
“aku baik-baik saja!!” kata Alexis.
Aslyn terlihat berlari menghampiri Alexis dengan wajah khawatir. Alexis menatap gadis itu sejenak. “jangan kemari, disini…”
“kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan.” Aslyn melirik kearah Alexis. “kau menghancurkan penahan kekuatannya.”
“apa maksudmu?” Tanya Alexis tak mengerti.
“Rhodri sengaja tetap mengenakan kalung itu untuk mempertahankan sediki kesadarannya, karena dia takut jika Raja Adrian mengingkari janjinya.” Aslyn menatap kearah Rhodri yang kini berteriak kesakitan di tengah medan pertempuran.
“mengingkari janjinya?” Gumam Alexis.
__ADS_1
“Rhodri berusaha mengusirku sebelum ayahnya tahu kalau kami memiliki hubungan, tapi aku bersikeras untuk membantunya dan memanfaatkanmu.” Jelas Aslyn tanpa menatap Alexis.
Alexis menatap gadis di sampingnya tak percaya. “baiklah, sekarang baru terasa menyakitkan.” Gumam Alexis. “Lalu apa lagi recana hebat kalian?” Tanya Alexis kesal.
“semua mulai tak berjalan sesuai rencana saat aku mulai ragu dengan semua sikapmu, karena itu aku bermaksud untuk mengubah pikiran Rhodri, tapi sebagian jiwa iblis yang di serap tubuh Rhodri mulai mempengaruhi jalan pikiran dan emosinya. Dendam setiap iblis itu seakan menjadi satu dengan satu tujuan untuk membunuhmu.”
“jika, ingin membantunya kau hanya tinggal menusukkan belati kecil itu langsung ke jantungku. Itu terdengar lebih mudah, dari pada harus mendengar semua omong kosong ini.”
“sekarang kalungnya hancur dan Seluruh kesadaran Rhodri akan di telan oleh Raja Adrian, Rhodri akan di belenggu dalam tubuhnya sendiri dan dia akan membunuh siapa saja.”
“baiklah, terimakasih ceramah singkatnya. Kau boleh kembali kepadanya.” Alexis bersiap untuk melawan Rhodri sebelum dia kembali sadar.
Tangan Aslyn meraih lengan Alexis. “Tidak, kau tidak mengerti Alexis!”
Alexis menepis tangan Aslyn kasar. “tidak, aku mengerti semua dengan sangat jelas! Dengar, akan lebih baik untuk aku tidak melihatmu lagi setelah perang bodoh ini." Alexis melesat cepat dengan marah, bersamaan dengan Devian yang meluncur dari arah berlawanan.
Keduanya bersiap dengan kekuatan terbesar mereka mengarahkannya pada Rhodri sebelum kekuatan Adrian dapat bangkit secara utuh.
Bledarrrr.....Gggrrrr.....
Cahaya menyilaukan muncul bersamaan dengan suara ledakan dan gemuruh dari benturan kekuatan mereka, tanah bergetar kuat. Tubuh Alexis dan Devian terpental berlawanan arah, beberapa panglimana Devian langsung melesat menahan tubuh Devian sebelum menghantam tanah.
Howen berusaha meraih tubuh Alexis tapi tubuh Alexis meluncur cepat menghantam tanah dan terseret beberapa meter. Tubuh, Rhodri terlihat hangus baju zirah hitam telah hancur menjadi beberapa bagian. Terlihat, Rhodri masih bernafas meskipun perlahan melemah.
Aslyn berlari cepat menghampiri Alexis yang berusaha bangkit, gadis itu mencoba untuk membantu Alexis berdiri. Tapi, dengan cepat pria itu menepis tangan Aslyn.
"Ma'afkan aku!" Gumam Aslyn.
"Akan aku anggap semuanya lunas, jadi pergi dari hadapanku." Gumam Alexis yang masih berusaha berdiri, dari sela bibirnya mengalir sedikit darah.
Alexis mengusap bagian tepi bibirnya dengan punggung tangannya, menatap darah yang menempel di punggung tangannya. "Ck, menyebalkan!!" Gumamnya emosi hendak melangkah pergi.
"Tunggu!!" Aslyn memegang Tangan Alexis.
Alexis berbalik menatap Aslyn datar. Tak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya.
"Aku tahu, seharusnya..."
"Kau membuatku, muak!!" Gumam Alexis.
Mata Aslyn membulat. "Awas!!!" Aslyn menarik tangan Alexis dan memutar tubuh mereka mengubah posisi Alexis.
Creepp.. Crepp...
Beberapa jarum beracun menancap di punggung Aslyn, tubuh Aslyn terjatuh kedalam pelukan Alexis. Mata Alexis tertuju pada Rhodri yang mengarahkan jemarinya ke arahnya, sebuah seringai terlihat di bibir, terlihat bibir Rhodri bergerak menggumamkan sesuatu membuat tubuh Alexis membeku.
Tanpa Alexis sadari matanya mulai berkaca-kaca, tangannya masih menahan tubuh Aslyn yang mulai merosot.
Tapp... Creepp...
Mendadak di samping Rhodri muncul seorang wanita dengan gaun putih, menancapkan pedang perak panjang tepat di punggung Rhodri hingga menembus jantungnya.
__ADS_1
"Beraninya kau mencelakai putra dan suamiku!!!" Gumamnya dengan tatapan dingin.