setan kecil

setan kecil
part 18


__ADS_3

Alexis melemparkan pedangnya kearah Gyles. Pedang melesat tepat di samping kepala sang lawan, iris keemasannya mengikuti arah pedang itu, yang berakhir menancap di tanah.


"Hahahaha.. Kau meleset." Gyles menatap kearah Alexis berdiri tapi dia sudah tidak berada di tempatnya.


"Disini, bodoh!" Alexis sudah berada tepat di samping Gyles. Bersiap dengan tendangan ke arah kepala Gyles, namun tendangan Alexis berhasil di tahan dengan pergelangan tangan iblis itu.


Gyles menyeringai dan meraih kaki Alexis dengan tangannya yang bebas dengan mudah dia melempar tubuh Alexis dengan sekuat tenaga. Tubuh Alexis melesat cepat menghantam beberapa pohon yang langsung hancur.


"Kau yang bodoh, tidak memperhatikan lawanmu." Teriak Gyles penuh percaya diri.


Gyles beralih pada Aslyn yang dari tadi menatapnya dengan wajah ketakutan. Tubuh gadis itu bergetar saat Gyles berjalan mendekat kearahnya, tangan mungil Aslyn meraba tanah di dekatnya. Berharap menemukan sesuatu yang bisa di jadikan senjata. Tangannya menyentuh Batang pohon kering ukuran sedang. Dengan cepat gadis itu berdiri, memasang kuda-kuda dan mengacungkan Batang pohon ke arah Gyles.


"Haha.. Apa kau ingin membunuhku dengan beda itu? Hahaha.. " Suara tawa Gyles menggema dipenjuru hutan. "Manusia memang bodoh, dari pada kau mengantarkan ajalmu. Lebih baik kau menjadi istriku. Aku lebih baik dari pada bocah itu.. "


"Istrimu? Lebih baik kau bercermin dulu sebelum mengatakan hal menjijikkan seperti itu padaku." Aslyn terlihat emosi.


"Jaga bicaramu, manusia bodoh. Jangan membuatku kesal.." Gyles terus mendekat kearah Aslyn.


Melihat hal itu Aslyn langsung melemparkan Batang pohon di tangannya ke arah Gyles. Tapi, Gyles segera menepis Batang itu dengan lengannya.


"Kau menantangku!!" Seru Gyles.


Gyles mengayunkan tangan besarnya ke arah Aslyn. "Hhyyaaaa.. Mati kau!!!"


Crasss..


Darah hitam pekat mengalir membasahi tanah dibawahnya.


Bukk...


"Kyaaa!!! " Aslyn berteriak sekuat tenaga hingga suaranya terdengar diseluruh penjuru hutan.


Sebuah tangan besar dengan kuku hitam nan panjang terjatuh di atas tanah. "Ggrraaaa!!! " Gyles mengerang kesakitan. Dari lengannya darah hitam pekat masih mengalir.


"Jauhkan, tangan kotormu darinya!!" Iris merah Alexis berkilat marah.


Alexis mengarahkan sebuah tendangan ke perut Gyles membuat iblis itu terlempar beberapa meter dan menghantam sebuah pohon besar.


"Kau tidak apa-apa?" Alexis melirik Aslyn yang berdiri di belakangnya.


"T... Ta.. Ta.. Tangannya... " Aslyn terlihat Shock dan terkejut.


"Tunggu disini biar ku habisi dia!" Alexis menatap garang kearah Gyles. "Tak akanku biarkan kau mati dengan mudah."


Gyles masih berusaha untuk berdiri saat Alexis melesat ke depannya.


"Bukankah kau sudah tau, kalau aku sangat sulit mengendalikan emosiku." Alexis bersiap menikam Gyles.


Tapi Gyles menendang tubuh Alexis, sigap Alexis menghindari tendangan Gyles dengan melompat kebelakang. Gyles berusaha berdiri, tatapan tajam menatap waspada kearah Alexis. "Harusnya aku tidak menganggap remeh dirimu. Hyaaaa...!!"


Gyles menghantamkan tinjunya ke tanah, membuat tanah di sekitarnya bergetar seperti gempa yang begitu kuat. Tanah mulai retak memanjang dari tempat Gyles lurus kearah Alexis, membuat Alexis terpaksa melompat menghindar menjauh. Pada saat itulah, Gyles melompat melesat cepat kearah Aslyn yang masih berdiri ketakutan di dekat pohon.


Sesaat Alexis terkejut, iris Alexis berpendar kemerahan dan dia menghilang.

__ADS_1


Crassss...


CERITA BERSAMBUNG DI BAWAH INI


Suara sabetan senjata terdengar, darah merah berceceran dan sisa darah menetes dari pedang Alexis. Dia berdiri tepat diantara Aslyn dan Gyles. Cakar hitam Gyles berhasil menyentuh kulit pipi Aslyn hingga menyisakan luka gores.


"Ck.. Kau membuatku muak Gyles." Alexis menendang perut Gyles yang baru saja terkena sabetan Alexis.


Tubuh Gyles melesat membentur pohon dan dia terkulai lemas tak bergerak. Alexis berbalik menatap gadis di belakangnya dengan khawatir. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alexis.


Mata Aslyn membulat sempurna, tubuhnya gemetar. Darah segar terlihat keluar dari luka gores di pipi gadis itu. Alexis hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh luka gadis itu.


"Ja.. Jangan menyentuhku!!" Teriak Aslyn panik.


Dia langsung berjalan mundur dengan wajah ketakutan. "Kau kenapa?" Tanya Alexis kebingungan.


"Ka.. Kau bukan manusia. Jangan mendekat.. " Aslyn terus berjalan mundur, sebisa mungkin menjauh dari Alexis.


Alexis berusaha mendekati Aslyn. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Ku mohon, jangan takut padaku." Terdengar suara Alexis yang lembut berusaha menenangkan Aslyn.


"Kau membunuh makhluk itu dengan mudahnya, lalu bagaimana denganku?" Aslyn semakin bergetar ketakutan.


"Aku tidak membunuh orang tanpa alsan, jangan katakan aku pembunuh." Alexis berhenti mendekati Aslyn, suaranya berubah menjadi putus asa.


"Orang yang membunuh orang lain dengan atau tanpa alasan mereka tetaplah pembunuh. Lalu bagaimana denganku? Suatu saat kau pasti juga akan membunuhku." Gumam Aslyn dengan suara bergetar.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Sekarang ataupun nanti akan tetap sama saja. Aku akan membunuhmu... " Iris Alexis menyala merah.


Dia melesat dengan cepat kearah Aslyn.


Bentura keras terdengar begitu nyaring.


Kkrraakkkk.. Brrakk...


Suara pohon perlahan patah dan jatuh menghantam tanah dengan keras. Tubuh Alexis terkulai di tanah.


"Anda tidak apa-apa nona Aslyn?" Howen melirik kearah Aslyn. "Syukurlah, aku datang tepat waktu."


Howen segera menghampiri tubuh Alexis. "Dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya, kemungkinan dia kesulitan mengendalikan emosi dan kesadarannya." Howen menjelaskan pada Aslyn.


"Tapi dia... Akan... "


"Dia tidak akan melukai anda, karena itu tolong jangan mengatakan kalau Pangeran seorang pembunuh. Dia hanya ingin melindungi orang di sekitarnya." Howen mengangkat tubuh Alexis. "Sebaiknya kita pergi dari sini." Howen melirik tubuh Gyles yang sekarat.


Howen menuntun dua kuda di tangannya, Alexis masih tak sadarkan diri di atas kuda. "Maaf Yang Mulia, saya terpaksa membawa anda seperti ini." kata Howen dalam hati.


"Apa dia akan baik-baik saja? Maaf, tadi aku terlalu takut." Aslyn menunduk menyesal.


"Saya tidak akan melukai Pangeran, anda bisa membicarakan masalah itu dengan Pangeran." Jawab Howen.


"Tapi, kenapa kau begitu menuruti perintahnya? Bukankah dia sedikit menyebalkan?" Aslyn menatap Howen.


"Karena itu bagian dari tugas saya." Jawab Howen singkat.

__ADS_1


"Dia seorang pengawal yang Setia." pikir Aslyn. Sesaat Aslyn melirik kearah Alexis yang masih tak sadarkan diri.


******


"Kasihan sekali, dia salah satu iblis bangsawan tapi dia begitu lemah." Seorang pria mengamati tubuh sekarat Gyles.


"Tuan Rhodri, bagaimana anda bisa sampai kemari?" Tanya Salah satu orang suruhannya yang mengikuti Alexis.


"Aku ada urusan dengan iblis ini." Rhodri melirik kearah Gyles. "Bawa iblis ini, aku membutuhkannya untuk persiapan perang." Rhodri menyeringai.


*****


Matahari baru saja terbit, Aslyn terlihat duduk bersandar di pohon matanya masih terpejam, menikmati dunia mimpinya.


"Ehmm.. " Alexis terlihat menggeliat. Dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Sesaat matanya terbuka mengamati sekelilingnya dan segera bangun.


"Ahh... Ck, aku kehilangan kendali lagi." Gumamnya frustasi. Tapi, iris merahnya menatap lurus kearah gadis yang tengah tertidur dibawah pohon.


Wajahnya terdiam tanpa ekspresi, entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun, dia segera berpaling dari gadis itu dan menatap lurus ke arah matahari terbit.


"Anda sudah bangun Yang Mulia." Howen menunduk memberi hormat.


"Apa semalam aku terlihat mengerikan?" Tanya Alexis pada Howen.


"Saya dapat menghentikan anda sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk." Jawab Howen.


"Itu Bagus." Alexis melirik kearah Aslyn. "Harusnya kita tidak membawanya, untuk pertama kalinya aku menyesali keputusan yang aku buat." Alexis tersenyum kecut.


"Kita bisa mengirim gadis itu ke desa terdekat." Usul Howen.


"Meninggalkannya tanpa siapapun di tempat baru. Ck, kau lebih kejam dari pada aku." Alexis melirik Howen kesal.


"Lalu apa yang anda inginkan?" Tanya Howen.


"Entahlah!" Jawab Alexis singkat. "Untuk pertama kalinya, aku tidak memiliki rencana apapun." Alexis menghela nafas. "Baiklah, sebaiknya kita bergegas. Kita tidak punya banyak waktu."


Alexis melangkah mendekat kearah Aslyn. Dia duduk di depan gadis itu, mengamati setiap inci dari wajah Aslyn hingga iris merahnya melihat luka gores yang dibuat Gyles. Tangan putih pucatnya terulur ke arah luka Aslyn, namun sebelum jemarinya berhasil menyentuh wajah sang gadis Aslyn telah membuka matanya.


"Kkyaaaaa...!!!" Aslyn berteriak sekuat tenaga. Membuat burung-burung beterbangan dari pepohonan.


Mendengar teriakan keras Aslyn, sigap Alexis membungkap mulut mungil gadis itu. "Haruskah, kau berteriak sepagi ini? Kau hampir membuat gendang telingaku pecah." omel Alexis.


Aslyn menepis tangan Alexis dari mulutnya dengan kasar. "Dengar, hanya pria brengsek yang mencuri kesempatan untuk menyentuh seorang gadis saat dia tertidur." Omel Aslyn tak mau kalah.


"Hah!! Pria brengsek? Dengar aku hanya ingin memastikan kalau wajahmu itu tidak apa-apa. Apa kau pikir aku tertarik padamu?" Alexis berdiri dan menatap gadis di hadapannya dengan emosi.


"Kenapa dengan wajahku? Hah, kau hanya sedang mencari alasan untuk menyentuhku. Dimana-mana pria itu sama saja. Jangan kau pikir aku ini gadis bodoh." Aslyn segera berdiri dan menatap Alexis garang.


"Terserah kau saja!" Alexis melengos pergi meninggalkan aslyn.


*****


Tubuh Gyles telah berada di atas kereta dengan di tutup jerami kering. Rhodri dan beberapa pengawalnya mengikuti gerobak itu dari belakang.

__ADS_1


"Tuan, apa yang akan anda lakukan dengan tubuh iblis yang sudah hampir hancur ini?" Tanya seorang pengawal.


"Aku berhasil melakukan metode yang biasa di lakukan para iblis dalam membuat perjanjian. Diamana mereka akan memanfaatkan jiwa manusia untuk di jadikan kekuatan dan juga memperpanjang usia mereka. Tapi, disini aku akan membalik keadaannya. Jiwa mereka yang akan aku gunakan untuk kekuatanku, butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan cara yang sempurna dan saat ini waktu yang tepat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan." Rhodri menatap gerobak di depannya dan tersenyum penuh kepuasan.


__ADS_2