
"Aku tidak tahu dan tidak peduli dari mana kau berasal. Tapi dimana pun kau berada, kau harus tetap bersikap sopan santun terhadap orang lain."
"Iyaa."
"Aku ingin bertanya padamu. Apakah sebelumnya kau belum pernah tahu tentang petualang?"
Bagaimana menjawabnya, ya?
Aku tahu kok! Bahkan dulu aku pernah menjadi seorang petualang terhebat di game lain. Hanya saja sistem petualang di dunia ini berbeda dengan yang pernah aku ketahui.
"Aku tidak tahu." Jawabku.
Saat kami berdua terus berjalan, Shin menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Riel?" Panggilnya.
"Ya?"
"Siapa yang mengajarimu menggunakan pistol?"
"Heh?!" Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu. Aku menjadi sangat dicurigai siapapun sejak tiba di dunia ini.
Menurutku pertanyaannya memang masuk akal, karena bagi mereka naik level di hari pertama itu bukanlah hal yang wajar. Lalu bagaimana cara aku menjawabnya?
Aku dulu adalah seorang pro player game FPS?
Mana mungkin dia tahu. Shin bukan seorang pemain yang berasal dari duniaku. Dia adalah seorang pribumi.
"Aku... belajar sendiri." Apakah dia akan percaya? Seharusnya sih tidak.
"Oh, kau cukup pekerja keras rupanya." Daripada memilih untuk mengintrogasiku lebih lanjut, Shin malah meresponnya seolah tidak peduli. Tapi itu bagus sih.
"Hmm! Iya dong! Tidak mungkin aku bisa mengalahkan monster ular itu hanya dengan keajaiban."
"Baiklah, baiklah. Kau yang menang."
Humu! Begitulah seharusnya.
"Memangnya ada apa itu? Apakah pengguna pistol itu sangat jarang?" Tanyaku penasaran.
"Tidak juga." Jawab Shin. "Hanya saja, tidak semua orang bisa belajar menggunakan pistol. Panah lebih mudah digunakan dan dikembangkan tekniknya."
Itu menurut kalian. Tapi bagiku tentu saja pistol lebih mudah dan akurat.
Tak lama setelah kami berjalan dari Guild Petualang, kami tiba di sebuah toko senjata yang terlihat cukup besar. Ada sebuah papan bergambar pedang, dan banyak senjata yang dipajang di balik kaca toko.
Aku masuk kemudian setelah Shin. Di dalam kami di sambut oleh seorang pria tua jenggotan yang sedang duduk di mejanya.
"Selamat datang! Oh, rupanya itu si bocah Shin. Sudah lama aku tidak melihatmu datang ke sini." Sapa orang tua itu.
"Selamat pagi, Kakek Chang Ku. Aku ingin kau melihat sebuah senjata."
Uhek, uhek! Apa?!
Kakek... Cangkul?
"Apa itu? Apa pedang yang pernah kau pesan itu sudah rusak? Tunjukkan padaku."
Kami berdua menghampiri meja kakek itu, lalu Shin menyuruhku menyerahkan pistol kepadanya.
Aku pun menyerahkan salah satu pistolku yang rusak kepada Kakek Chang Ku.
__ADS_1
"Oh! Rupanya senjata milik gadis ini. Sudah lama sekali aku tidak melihat pistol." Kakek itu mengambil pistolku lalu mulai mengamatinya dengan rinci. "Ini rusak."
"Ya. Shin yang melakukannya."
"Benarkah? Hahaha! Dasar, bagaimana ceritanya pistol ini bisa rusak di tangan seorang pengguna pedang?"
"Kami sedang berlatih tanding, tapi Riel menggunakan pistolnya untuk menangkis seranganku." Jawab Shin.
Berlatih? Bisa banget.
"Hee, pantas saja." Kakek itu meletakkan pistolku kembali ke meja. "Tapi bukankah kau..." Dia lanjut menatap Shin dengan curiga.
Aku yang melihat kakek itu, ikut merasa curiga kepada Shin. Ada apa?
Shin yang dirinya ditatap oleh dua orang, tetap memasang wajahnya tanpa ekspresi. Apakah Shin menyembunyikan sesuatu?
"Ma-maafkan aku, aku terlupa. Aku tidak bermaksud demikian." Kakek itu berhenti menatap Shin, kemudian pindah menatapku juga sebentar. Setelah itu dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku tidak bisa memperbaiki pistol atau membuat yang baru. Tapi aku bisa meminta saudariku di ibukota untuk melakukannya."
Rupanya kakek ini memiliki saudari yang seorang penempa senjata juga. Aku sudah bisa mengira siapa namanya.
"Bagaimana, Riel?" Tanya Shin.
"Yaa, tidak apa-apa sih. Selama biayanya kau yang bayar."
"Baiklah." Shin meletakkan beberapa material yang di dapat dari monster ular kemarin. Niatnya ingin digunakan sebagai material untuk membuat senjataku. Kristal sedang, beberapa sisik hitam, dan sepasang taring.
"Hmm, material ini terlihat sangat bagus. Sepertinya semua ini lebih dari cukup dibuat menjadi dua pistol." Kata Kakek Chang Ku.
"Berapa hari yang dibutuhkan hingga senjata itu selesai dibuat?" Tanya Shin.
"Aku akan mengirim surat dan material ini terlebih dahulu, dan itu bisa mencapai 1 minggu untuk sampai ke ibukota. Lalu hingga pistol itu dibuat, dan dikirim lagi ke kota ini, mungkin bisa sekitar 1 bulan."
"Paling cepat 2 minggu lebih beberapa hari. Lamanya adalah selama di perjalanan, belum lagi jika pesanan di sana sedang ramai."
"Berapa biayanya?" Tanyaku to the point.
"Siapkan saja 2 juta nira."
"Apa?!" Shin terkejut mendengar biaya pembuatan pistolnya. "Ta-tapi, pedang yang aku pesan saja harganya tidak sampai 1 juta. Kenapa untuk sebuah pistol bisa semahal itu?"
Waaw. Pertama kali aku melihat ekspresinya berubah. Aku masih belum tahu berapa nilai mata uang di dunia ini. Jadi uang yang kudapatkan kemarin itu masih terlihat kecil.
"Tentu saja harga segitu masuk akal, bocah Shin. Kau pasti sudah tahu pistol itu senjata yang langka, dan biaya pembuatan senjata oleh saudariku itu lebih mahal." Kakek Chang Ku menjelaskan alasannya.
"Ta-tapi..." Shin kehilangan kata-katanya. Sepertinya dia sudah pasrah dengan harga itu.
"Lalu, dua taring ini tidak di perlukan untuk membuat pistol. Mau dijual saja?"
"Tidak, kek! Aku juga bisa bertarung jarak dekat. Jadi aku ingin dibuatkan sepasang belati juga."
"Oho, baiklah! Serahkan saja itu padaku. Tapi biayanya jadi bertambah, ya."
"Shin yang bayar."
"Oke!"
Kami berdua saling mengacungkan jempol. Entah sejak kapan aku menjadi setuju dengan kakek bernama unik ini.
Shin hanya bisa pasrah mendengar biaya pembuatannya akan naik untukku saja. Tapi itu adalah akibat sudah berurusan dengan Riel yang hebat!
__ADS_1
"Tenang saja, Shin. Aku juga akan membantu untuk membayar biaya pembuatannya."
Aku memberinya semangat, meskipun aku tidak tahu sesulit apa mencari uang di dunia ini.
"Terserah. Masih ada waktu panjang untuk mencari uang di guild." Jawab Shin.
Setelah kami memesan senjata untukku di toko tersebut, kami lanjut pergi ke luar kota untuk menyelesaikan permintaan dari guild.
Saat di guild, Shin yang meminta Clara untuk mencarikan permintaan untukku. Sampai sekarang aku belum tahu permintaan seperti apa yang diberikan olehnya.
"Kita mau kemana?"
"Hutan."
"Hutan terlarang?"
"Hutan biasa."
Huu, gak seru kalau di hutan biasa. Tidak ada monster yang besar dan menantang untuk dikalahkan.
Setelah kami sampai di tengah hutan hijau nan rindang, Shin berhenti dan ingin memberitahuku apa yang harus aku lakukan.
Sebelum itu dia sempat mencabut sebuah rumput yang tumbuh di sekitar pohon, lalu menunjukkannya padaku.
"Sekarang carilah tumbuhan herbal yang seperti ini." Dia menunjukkan rumput yang terlihat seperti rumput. "Namanya Rumput Penyihir. Tanaman ini bisa digunakan untuk berbagai macam ramuan."
Aku coba mencabut beberapa rumput di sekitarku. "Seperti ini?"
"Itu rumput biasa."
"Tapi apa bedanya dengan rumput yang kau genggam itu?!"
"Coba perhatikan lebih baik." Shin mendekatkan rumput di tangannya kepadaku. Warnanya lebih gelap, lebih panjang, dan juga lebih tebal dari rumput yang kupegang. "Bagaimana?"
"Baiklah, aku akan coba lagi." Aku berjalan di sekitar sambil mencari rumput yang mirip dengan Shin. Lalu aku datang kembali setelah mencabut beberapa macam rumput.
"Sudah ketemu?" Tanya Shin.
Aku menunjukkan rumput yang aku ambil kepada Shin.
"Itu rumput beracun."
"Apa?!" Aku melempar rumput itu dan menggosok-gosokkan tangan. "Kenapa bisa ada jenis rumput yang beracun, sih?"
"Itulah sebabnya kau harus belajar."
"Iyaa, baiklaah." Kenapa orang ini tiba-tiba menjadi guruku?
Belajar? Asal kalian tahu, aku ini adalah pemegang peringkat 5 besar di dalam kelas!
Dari belakang.
Setelah beberapa kali percobaan gagal, mulai dari mengambil rumput beracun hingga rumput biasa saja, akhirnya aku bisa membedakan jenis-jenis mereka.
Kami berdua mengumpulkan Rumput Penyihir sebanyak satu karung kecil sebagai salah satu permintaan dari guild. Begitu selesai, Shin menunjukkanku jenis rumput herbal berikutnya.
"Tidaaakk!! Aku tidak mau mengumpulkan rumput-rumput liar ini lagi! Membosankaan!"
Aku mengeluh dan berusaha kabur dari hutan itu untuk mencari monster. Tapi tiba-tiba Shin sudah muncul di hadapanku dari balik sebuah pohon.
"Masih ada 3 jenis rumput lagi yang harus dikumpulkan. Tenggatnya sore hari ini, dan kau yang akan melakukannya."
__ADS_1
"Tidaakk!!"