
Aku akhirnya sampai di Kota Ciatar saat matahari terbit. Kemarin aku dan Paman Reinald menyusuri seluruh hutan untuk mencari Riel dan gadis kucing bernama Momo itu. Kami terus melakukan pencarian dari sore, hingga larut malam.
Paman Reinald bersama teman-teman pemburunya menyuruhku untuk beristirahat, tapi aku tetap melakukan pencarian sampai di luar wilayah hutan. Setelah aku sudah menyusurinya terlalu jauh, aku memutuskan untuk kembali ke desa dan menghadap ke paman itu.
Dasar keras kepala! Aku menyuruhnya untuk ikut pulang bersamaku tapi dia malah pergi bersama gadis kucing itu. Dia pikir kemampuannya cukup untuk melawan para bandit di markas mereka?
Pertama jumlah mereka di sana pasti mencapai puluhan orang. Lalu yang namanya markas pasti terdapat pemimpin mereka yang levelnya setara atau lebih dariku.
Hingga tengah malam aku masih berada di desa itu. Mereka sangat baik karena memberiku tempat untuk bermalam, dan juga transportasi untukku pulang ke kota esok harinya.
Tapi sebelumnya Paman Reinald menegaskan kepadaku, kalau mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kami lebih jauh.
Aku paham. Ini bukan salah mereka, melainkan kelalaianku. Begitulah yang terjadi kemarin hingga aku tiba di Kota Ciatar pagi ini.
Setelah turun dari kereta kuda, aku tidak kembali ke penginapanku terlebih dahulu. Aku langsung berlari menuju guild petualang dan mencari Clara.
Saat aku masuk dan membanting pintu guild, perhatian semua orang langsung tertuju padaku. Mereka semua kebanyakan terkejut dan menggerutu karena tindakanku. Ini kedua kalinya ada seseorang yang membuka pintu guild dengan kasar di musim ini.
"Apa yang terjadi, Shin? Kenapa kau membuka pintu dengan kasar?" Clara memanggilku dari meja tempatnya berjaga. "Lalu jelaskan padaku kenapa kau pulang satu hari lebih lama?"
Dia bertanya padaku dengan kesal. Dia menyuruhku untuk menjemput Riel setelah aku sembuh, dan pulang sesegera mungkin karena ada kabar kalau bandit sedang berada di sekitar sini. Namun faktanya aku pulang satu hari lebih lama.
Aku berjalan ke mejanya dengan tergesa-gesa, bahkan menyerobot beberapa petualang yang sedang mengantri. Para petualang itu tentu marah dan menggerutu, tapi aku tidak peduli dengan mereka.
"Dimana Riel? Apa dia juga sudah kemba..."
"Clara, Aku pinjam dirimu sebentar." Aku memotong pertanyaannya.
"Eh? Tunggu, apa maksudmu?" Clara tidak mengerti yang aku katakan.
"Pulang ke penginapanmu dan bersiap-siaplah. Ikut aku ke Kota Deedalee sekarang juga."
"Hee, tu-tunggu dulu! Apa maksudmu tiba-tiba ingin menculikku?"
Aaaah! Dasar kelinci bodoh. Aku memutar masuk ke dalam ruangan resepsionis dan menarik tangan Clara untuk menyeretnya keluar.
"Shin! Tunggu dulu! Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Clara melawan balik saat kutarik. "Aku tidak bisa meninggalkan shift-ku tanpa persetujuan Guild... Kyaaa!!"
__ADS_1
Karena kelinci ini cerewet, aku ganti menjadi menarik telinganya sambil berjalan.
"Sakit! Sakit, Shin! Jangan menarikku dengan kasar seperti ituuuu~~"
Ini memang cara terampuh untuk memaksa Clara. Dia jadi mengikutiku dengan pasrah hingga keluar dari guild. Sebenarnya aku hanya menggenggam telinganya dengan kuat dan menariknya dengan pelan. Dianya saja yang berlebihan.
"Huuuu~~ Kenapa kau selalu menarik telingaku seperti itu...?" Clara terduduk sambil terisak. Tangannya terus memegangi telinganya yang kelihatan baik-baik saja.
"Jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan menurut."
"Setidaknya jangan menarik mereka dengan kasar!"
"Baik-baik, aku minta maaf."
Aku menunggu Clara tenang dulu. Dia masih menatapku seperti orang jahat sambil memegangi telinganya. Aku kan sudah minta maaf, jadi kenapa kau masih menatapku seperti itu?
"Apa yang terjadi?" Clara bertanya. Dia akhirnya bisa fokus kepada masalah utama.
Pertama aku menceritakan apa yang terjadi sejak tiba di desa itu. Mulai dari bertemu Riel, ras manusia setengah kucing, dan juga aktivitas para bandit.
Setelah itu aku juga bilang kalau Riel tiba-tiba pergi bersama gadis kucing itu, untuk menyelamatkan teman-temannya di markas para bandit.
"Jadi maksudmu, kau ingin aku ikut untuk Mencari Riel di Kota Deedalee?"
"Ya."
"Tapi, jika aku belum meminta izin..."
"Orang itu tidak akan mengizinkanmu, selama aku masih terlibat di dalamnya."
"Eeehh... Padahal, padahal sudah lama aku memutuskan untuk tidak memegang senjata lagi. Tapi aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada Riel."
Aku tahu maksudmu.
Clara pernah memiliki sebuah trauma saat terakhir kali kami berada dalam satu party. Saat itu juga Clara merasa kalau bubarnya party kami adalah kesalahannya. Padahal sudah aku jelaskan kalau mau tidak mau kejadian itu akan menimpa kita juga.
"Aku tidak keberatan jika kau tidak ingin ikut. Lagipula aku sendiri cukup untuk mengurus satu markas para bandit."
__ADS_1
"Eh? lalu untuk apa kau mengajakku?"
Ya, dia pasti akan menanyakan hal ini. Bandit itu bukanlah apa-apa bagiku, apalagi bos mereka yang mungkin levelnya setara atau bahkan lebih tinggi. Aku masih bisa mengalahkan mereka semua sendiri.
Tapi ada satu hal yang membuatku tidak nyaman sejak saat itu.
Sewaktu aku sedang mencari Riel di hutan dekat Desa Arin, aku menemukan bekas kemah para bandit di salah tempat kosong.
Para penduduk desa termasuk pemburu di sana tidak mengetahui kalau ada kemah bandit di dekat desa mereka. Itu karena para bandit menggunakan kristal sihir sebagai pengganti penggunaan api unggun dan penerangan. Jadi tidak akan terlihat atau tercium aroma asap dari tempat mereka.
Namun sewaktu aku pergi lebih jauh ke luar hutan, aku menemukan mayat-mayat bandit di dekat sungai. Mereka semua berserakan dengan darah dimana-mana dan kondisi kereta mereka yang masih utuh.
Tempat itu sangat jauh dari rel kereta. Jadi para bandit itu pasti sedang pergi menuju tujuan mereka selanjutnya, lalu di tengah jalan mereka bertemu dengan maut mereka.
Seseorang telah membantai mereka semua dan membawa para anak-anak ras setengah kucing itu. Riel pergi dengan tujuan yang kosong, dan seseorang itu juga sedang berkeliaran di dekat sini.
"Maris Rufus."
Mata Clara terbelalak mendengar nama itu, kedua telinganya juga ikut menegang ke atas.
"Dimana dia?" Tanya Clara dengan nada yang berubah drastis.
"Di tempat aku akan mengajakmu." Jawabku.
Clara langsung bangun dari posisinya, dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Aku tidak ingat kapan terakhir kali melihatnya seperti ini, itu sudah lama sekali.
"Kita akan bertemu di stasiun setengah jam lagi." Clara langsung pergi meninggalkanku.
Sekarang jadi siapa yang memimpin siapa.
Maris Rufus. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah dia perbuat kepada party kami. Dialah salah satu penyebab party kami bubar dan Clara mendapatkan traumanya.
Aku bisa tahu keberadaannya, karena caranya membunuh para bandit itu tidak lain adalah ciri khas dirinya.
Tebasan pedang yang menggores anggota tubuh para bandit itu dan tidak membuatnya putus, tapi sangat fatal karena melumpuhkan pergerakan mereka. Lalu setelah mereka semua tidak bisa bergerak, permainan selanjutnya baru akan dimulai.
Aku bergegas kembali ke penginapanku untuk menyiapkan perlengkapan. Setengah jam lagi kami akan bertemu di stasiun dan berangkat menuju Kota Deedalee menggunakan kereta. Kami seharusnya dapat tiba sebelum tengah hari, dan lanjut mencari Riel di sana.
__ADS_1
Riel tidak boleh sampai bertemu dengan orang itu.