Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 35: Cerita Clara


__ADS_3

Setiba di penginapan, kami bertiga menyiapkan tempat untuk ngobrol sambil ngemil. Kami juga mengenakan piyama yang baru kami beli dengan uang kami masing-masing, dan langsung memakainya malam ini.


Seperti yang Clara katakan padaku di bar, dia akan menceritakan sedikit tentang adiknya Shin dan keterkaitan White Shadow.


"Apa tidak apa-apa, jika kau menceritakannya pada kami?" Tanyaku.


"Tenang saja, aku yakin Shin juga ingin menceritakannya padamu. Hanya saja dia masih ragu karena... lupakan."


"Apa aku perlu keluar?" Tanya Momo.


"Tidak perlu, Momo. Kau juga boleh mendengarkannya. Lagipula ini kejadian yang sudah lama terjadi dan tidak akan pernah berubah." Tubuh Clara menggigil. Malam ini cukup dingin, dan sepertinya Clara tidak terbiasa dengan suhunya.


Aku mengambilkan selimut milikku dan menutupi sebagian tubuhnya.


"Terima kasih."


"Tidak perlu dipikirkan." Jawabku. "Kenapa cemilannya tidak dimakan? Padahal dengan mengemil bisa menghangatkan tubuh kita juga, lho."


"Aku masih kenyang." Momo mengusap-usap perutnya.


"Baiklah, selamat makan." Clara mengambil sate daging yang kami beli tadi. "Enak! Sate ini terbuat dari daging apa?"


"Daging kelinci." Jawabku.


Clara berhenti mengunyah, dan telinganya turun seperti bunga yang layu.


"Hanya bercanda, sate ini terbuat dari daging sapi. Kau tidak akan menjadi kanibal dengan itu."


"Ahaha, dasar Riel." Clara kembali mengunyah satenya.


Aku juga ikut mencobanya. Mmm! Bumbunya benar-benar meresap! Pantas saja harga sate ini cukup mahal.


Momo terlihat ingin mencobanya juga. Aku menyodorkan sate yang kupegang, dan dia menggigit satu daging di tusuknya.


"Mmm, sangat enak."


"Kau boleh makan lagi kok, tapi jangan salahkan aku jika berat badanmu akan naik."


"Tidak, aku hanya ingin mencobanya sedikit..."


Aku menyodorkan satu tusuk sate daging di dekat wajahnya, menggerakkan-gerakkannya agar aromanya bisa terhirup Momo.


"Ayolah, tidak perlu ragu-ragu. Kau ingin mencobanya lagi 'kan?"


"Baiklah. Mungkin beberapa tusuk saja, haauup!"


Momo menggigit sate yang kupegang, dan kembali menikmatinya.


Sepertinya suasana di sini sudah cocok untuk bercerita. Aku menyilahkan Clara untuk memulai kapanpun dia mau.


Clara mengangguk, lalu dia memulai ceritanya. Tentang Shin dan adiknya yang dibunuh oleh White Shadow dua tahun lalu.


Saat itu party mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah dungeon. Lalu mereka dihampiri oleh burung pembawa pesan yang berasal dari guild petualang.


Pesan itu juga diturunkan dari kantor kesatria, jadi mereka tidak punya pilihan lain selain menjalankan perintahnya.


Di dalam surat itu, kepala kesatria menyuruh party mereka untuk mengehentikan para pemberontak yang kabur ke dalam hutan. Itu adalah hutan yang sering mereka lewati, tanpa persiapan spesifik pun party mereka tidak akan kesulitan bertarung di hutan itu.


Lalu setelah mereka tiba hutan, langit menjadi mendung dan mulai turun rintik hujan. Sejauh ini mereka berhasil mengamankan beberapa pemberontak yang bersembunyi di dalam sana, kemudian lanjut mencari sisanya.


Bantuan dari kota perlu waktu lama untuk datang. Ditambah hujan yang semakin deras, petualang atau kesatria dari kota pasti terhambat untuk datang membantu party mereka.


Tapi pada saat hujan sudah deras, para pemberontak itu malah keluar dan berbalik menyerang.


Jumlah para pemberontak itu terlalu banyak, dan mereka ternyata mempunyai strategi untuk bertarung di dalam hutan. Shin dan yang lainnya pun terjebak.


Untuk sesaat, mereka bisa menahan berbagai serangan dari para pemberontak. Namun tak lama kemudian, salah satu dari pemberontak itu memanggil seekor naga darat dan menyuruhnya untuk menyerang desa terdekat.


Ketua mereka pergi untuk menghentikan naga tersebut, tapi party mereka jadi kehilangan seseorang yang biasanya berada di garis depan. Pertarungan bersama para bandit menjadi lebih sulit setelah itu.


Sakin terdesaknya, party mereka sampai terpisah di dalam hutan. Shin bersama dengan adiknya, dan Clara bersama dengan dua anggota lainnya.


Para pemberontak menghalangi Clara untuk menemukan Shin dan adiknya. Mereka sengaja melakukan itu karena ingin melakukan sesuatu kepada mereka. Clara dan dua temannya terus di desak selama beberapa saat, hingga akhirnya para pemberontak itu mundur dengan sendirinya.


Saat itu juga, ketua mereka berhasil mengalahkan naga darat yang akan menyerang desa. Lalu mereka langsung pergi menyusuri hutan untuk mencari Shin dan adiknya.


Tak lama kemudian, mereka menemukan Shin di dekat sebuah reruntuhan di dalam hutan. Hujan masih turun dengan deras, tapi air yang tergenang di bawah bercampur dengan darah.

__ADS_1


Mereka menemukan Shin dan adiknya... yang sudah tidak bernyawa.


...


Nama adiknya adalah Kirin Raiden. Dia adalah seorang Sorcerer berelemen api, dan usianya tidak jauh denganku. Sekolah di akademi yang sama dengan kakaknya, serta ikut berpetualang untuk mencari pengalaman baru.


Kalau kata Clara, aku sedikit mirip dengannya. Mungkin itu adalah penyebab Shin menjadi lebih perhatian kepadaku.


Jadi... aku mirip dengan adiknya.


...


Kalau dilihat-lihat lagi, Shin juga lumayan mirip dengan kakakku. Asal dia menggunakan topi dan memegang senjata, mungkin aku tidak akan bisa membedakan mereka.


Kenyataan tersebut cukup mengejutkanku.


Aku jadi merasa tidak enak saat berada di dekat Shin.


Selama ini dia seperti itu karena alasan tersebut. Aku mirip seperti adiknya, dan ingin menjagaku sebaik mungkin.


Dia tidak ingin kehilangan diriku seperti kehilangan adiknya. Aku mungkin merasa senang dia perhatian denganku, tetapi senangnya terasa berbeda.


Aku suka, tapi tidak bahagia. Aku ingin, tetapi tidak terasa nyaman.


Aku merasa tidak cocok berada di sampingnya. Tapi, orang itu membutuhkanku.


Clara juga bilang kalau Shin mulai sedikit berubah akhir-akhir ini, lebih tepatnya sewaktu aku tiba di kota dan menjadi petualang. Sebelumnya Shin tidak lebih dari seseorang yang tidak punya tujuan hidup.


"Hei, Clara." Panggilku.


"Hiks, hiks... ya?"


Dia yang bercerita, dia juga yang menangis. Kali ini aku tidak akan mengatainya cengeng, karena aku juga bisa merasakan apa yang dia rasakan.


Momo di sampingku hanya termenung mendengar cerita tersebut. Dia masih memikirkan tentang gurunya yang mungkin seorang White Shadow. Dia juga takut Shin akan membencinya karena dia adalah murid dari orang yang membunuh Kirin.


"Tenang saja Momo. Mereka mengatakan kalau White Shadow itu adalah sebuah organisasi. Belum tentu gurumu adalah pelaku yang membunuh adiknya Shin." Kataku.


"Tapi, bukankah itu artinya aku telah dibesarkan oleh orang yang jahat?"


"Itu belum tentu, kok. Tidak semua yang terlihat jahat melakukan hal jahat. Kita kan belum tahu apa tujuan mereka melakukan hal tersebut.


Sepertinya Clara tersinggung saat aku mengatakan itu.


"Maaf Clara. Tapi aku hanya ingin memberi pendapat dari sudut pandang yang umum."


"Tidak apa, Riel. Hanya saja jangan katakan itu di depan Shin."


"Ya, aku mengerti."


Dengan begitu, Clara pun mengakhiri ceritanya. Kami bertiga sudah mengantuk dan bersiap-siap untuk tidur.


Momo tidur bersamaku. Dia memintanya, dan aku amat sangat tidak keberatan.


Yaa, tidak butuh waktu lama dan kucing ini langsung tertidur. Dengkuran kecilnya membuatku tenang.


Di tempat tidur satunya, Clara berbaring dengan membelakangi kami. Cahaya bulan yang cukup terang memang mengenai wajahnya, dan itu sudah pasti bukan alasannya berbalik.


Aku jadi merasa bersalah saat membela Momo tadi. Aku benar-benar tidak berniat membela orang yang sudah membunuh adiknya Shin. Aku hanya ingin menjadi penengah di antara mereka.


Mungkin aku masih belum cukup mahir dalam menengahi suatu masalah, tapi aku sudah berusaha mencobanya.


***


Pagi yang cerah dan dingin, di hari berikutnya.


Tok! Tok! Tok!


Aku terbangun karena mendengar ketukan pintu.


Tok! Tok! Tok!


Aaahh, berisik.


Aku jadi teringat kejadian saat wanita griffon itu datang, dan langsung bangun dari tempat tidurku.


"Siapa di sana!?" Aku mengambil pistolku dan mengarahkannya ke pintu kamar. Jaga-jaga jika yang datang adalah seseorang yang tidak kuharapkan.

__ADS_1


"Hmm, ada apa Riel?" Clara terbangun karena suara berisikku. Telinga kelinci pasti sangat sensitif.


"Mmm?" Momo juga terganggu. Telinga kucingnya juga sensitif.


"Nona Riel, ada tamu untukmu." Kata seseorang dari balik pintu.


Ah, ternyata itu hanya ibu pemilik penginapan. Atau jangan-jangan dia menyamar menjadi ibu pemilik penginapan?


Cukup Riel. Halusinasimu terlalu jauh.


"Ya! Aku akan segera datang!" Jawabku.


Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Dia sudah pergi dari depan kamar kami.


"Siapa itu, Riel?" Tanya Clara.


"Ibu pemilik penginapan. Dia bilang ada tamu untukku."


"Tamu? Memangnya kau memiliki kenalan di kota ini?"


Benar juga ya. Siapa yang aku kenal di kota ini? Lalu siapa orang yang ingin menemuiku pagi-pagi begini?


Adele? Hana? Atau jangan-jangan... si Jurnalis Juan?


"Aku juga tidak tahu. Tapi aku akan mengeceknya ke bawah."


"Tidakkah itu mencurigakan? Bagaimana jika kita bertiga turun bersama." Saran Clara.


"Ide bagus." Sahutku.


Kami bertiga bersiap-siap, mengganti pakaian kami dan berdandan seadanya. Aku belum mandi pagi, dan langsung pergi untuk menemui tamu. Salah dia karena datang terlalu pagi.


Setelah siap, kami bertiga keluar kamar dan berjalan menuju lantai dasar. Ada beberapa orang yang sedang sarapan di sana, dan ada juga seseorang yang kukenal sedang duduk di antara mereka. Dia tidak di sini untuk sarapan, melainkan menunggu kami.


Rupanya itu Shin. Aku paham kenapa dia tidak datang langsung ke kamar kami.


"Shin." Panggilku.


Kami bertiga duduk berhadapan di meja yang sama. Momo duduk paling jauh, dia masih tidak nyaman berada dekat dengan Shin.


"Aku minta maaf soal yang kemarin."


Hmm?


"Kemarin aku terlalu terbawa emosi. Sekali lagi aku minta maaf, Momo. Aku tidak bermaksud menuduh gurumu."


Dari reaksi Clara yang kulihat, sepertinya Shin belum pernah terlihat seperti ini.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu tahu tentang mereka." Jawab Momo. "Aku harap guruku bukan orang yang membunuh adikmu itu."


Baguslah kalau begitu. Akhirnya mereka sudah saling memaafkan satu sama lain. Eh, Shin yang minta maaf ke Momo.


Setelah itu kami saling diam sebentar. Clara mencolekku dengan jarinya, dan memberi isyarat padaku untuk mengatakan sesuatu.


Hei. Kenapa harus aku?


Clara memang sudah memberitahuku tentang Shin, dan alasan dia memperhatikanku. Clara menyuruhku untuk membalas perhatian kepadanya juga, tapi itu tidak semudah perkiraan.


Apalagi setelah tahu kalau Shin menganggapku seperti adiknya. Aku jadi agak canggung saat berbicara dengannya.


"Eeh, syukurlah kalau begitu. Lalu Shin, bagaimana dengan kabarmu? Dimana kau tidur malam ini?" Apakah pertanyaanku salah??


Shin melihat ke arahku sebentar. Dia menatap mataku dengan lamat.


Hei! Jangan buat aku salah tingkah dengan tatapan dinginmu itu!


"Aku tidur di penginapan."


Itu saja? Jawaban yang singkat. 


"Apa kau sudah sarapan, Shin? Bagaimana jika kita sarapan bersama di sini?" Ajakku.


"Aku belum lapar. Terima kasih atas tawarannya."


Clara, tolong aku!! Apa yang harus aku katakan kepadanyaaa??


"Kalian bertiga," Panggil Shin.

__ADS_1


Kami menengok ke arahnya, menunggu apa yang akan dia katakan.


"Aku akan pergi ke desa itu sendiri. Riel, kau bisa mengadopsi anak kucing ini, lalu pulanglah ke Kota Ciatar. Clara, tolong antarkan mereka dan jangan mampir ke manapun sampai aku kembali. Aku akan pergi selama tiga hari."


__ADS_2