
Hari berikutnya di Kota Deedalee. Pagi-pagi udaranya masih terasa dingin, dan membuat kami menggunakan jubah saat keluar dari kamar. Hari ini niatnya kami ingin mencari informasi. Entah itu di guild petualang, atau bar.
Setelah sarapan di penginapan, aku bertanya kepada pemilik penginapan itu dimana letak guild petualang atau suatu bar yang ramai.
Awalnya pemilik penginapan itu memberitahuku letak guild petualang yang agak jauh dari sini, tapi dia tidak menyarankan untuk datang ke tempat seperti bar.
Setelah menjelaskan tujuanku untuk mencari informasi, pemilik penginapan itu akhirnya mengerti dan memberitahuku tempat yang tepat menurutnya.
Dia memberitahu kami sebuah bar yang cukup populer dikalangan petualang dan pengembara. Bar itu cukup ramai dan sering dijadikan tempat berdiskusi, mengobrol, dan bertukar informasi. Letaknya tidak jauh dari sini, dan harga makanannya agak lumayan tinggi.
Aku tertarik mendengar tentang bar itu. Momo bilang kalau dia sedikit keberatan jika berada di tempat yang ramai. Tapi selama kami memakai jubah, maka orang-orang di sekitar tidak akan terlalu memperhatikan kami.
"Momo, kau sudah siap?"
"Iya."
Kami berdua pergi keluar dari penginapan dan bertemu dengan suasana pagi Kota Deedalee.
Seperti kota yang lainnya, banyak penduduk yang sudah beraktivitas di pagi hari. Ada beberapa petualang yang terlihat, dan pastinya lebih banyak para pedagang yang sedang membawa barang-barang mereka.
Jalan yang kami ikuti sekarang masih bukan jalan utama distrik pedagang. Ini merupakan jalan cabang untuk tempat-tempat sampingan seperti penginapan, dan bar kecil.
Di jalan utama sudah pasti dibanjiri oleh para pedagang dan kedai-kedai besar yang kerumuni oleh para pembeli mereka. Karena ini memang distrik perdagangan.
Jumlah penduduk di Kota Deedalee hampir dua kali lipat dari Kota Ciatar. Kota ini bisa dibilang menjadi salah satu kota dengan jumlah pedagang yang banyak dan kualitas barang mereka yang baik. Itu membuat banyak sekali para pembeli yang berasal dari luar kota.
Bahkan Stasiunnya pun dibuat menyatu dengan Pasar Utama Kota Deedalee. Karena sumber pendapatan mereka memang dari hasil penjualan barang dagangan.
Para petualang di kota juga tidak kalah hebat meski yang ditonjolkan para pedagangnya. Mereka sering menjadi pengawal dalam perjalanan para pedagang membawa barang dagangan mereka dari dalam maupun luar kota.
Di dekat kota ini tidak ada satupun dungeon. Jadi kau harus pergi sedikit lebih jauh ke Kota Ciatar jika ingin menjelajah ke dalam dungeon.
Sekadar fakta menarik, kedua dungeon yang ada di Kota Ciatar, yaitu Dungeon Nawa dan Dungeon Nugul, penjelajahnya lebih banyak yang berasal dari luar Kota Ciatar.
Aku jadi merasa kecewa padahal kedua dungeon itu berada dekat dengan kota tempatku tinggal. Tapi para petualang di kotaku itu sama sekali tidak memiliki ambisi untuk menjadi lebih kuat dan menjelajahi dungeon. Hingga gajinya Clara gak pernah naik.
Aku dan Momo sudah berjalan sesuai arahan pemilik penginapan. Dia memberitahu kami sebuah bar dengan deskripsi yang agak umum sih sebenarnya. Di depan kami terdapat beberapa tempat dengan deskripsi yang hampir sama seperti yang dikatakan pemilik kedai.
"Kak Riel?" Momo memanggilku.
"Ya, ada apa, Momo?"
"Aku yakin kau sudah tahu. Di depan kita ada banyak tempat yang sesuai dengan deskripsi si pemilik penginapan. Lalu kita harus pergi ke tempat yang mana?" Tanya Momo.
"Kemana ya?" Eeeh... Jujur aku sendiri tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan pemilik penginapan. Aku hanya mengingat jalan menuju bar itu, dan sedikit ciri kalau bar tersebut sepi. Makanya tempat itu cocok untuk bertukar informasi.
"Oke, kita akan pergi ke bar yang sepi itu." Aku melangkah duluan dengan mantap.
"Eh! Tapi... baiklah." Momo di belakang mulai mengikutiku.
Di kanan-kiri kami terdapat beberapa kedai dan bar yang ramai hingga sangat ramai. Aroma makanan dapat tercium bahkan dari luar bangunan. Mereka sepertinya memasak menggunakan banyak rempah.
Aku berdiri di depan bar yang kupilih. Tempat itu tidak berisik, sepi, dinding kayunya sedikit rusak, dan cukup gelap. Aku teringat tema bar di film barat atau cowboy. Bahkan pintu masuknya terlihat sama persis. Hanya saja warna bangunannya sedikit keabuan.
Momo berdiri di sampingku sambil memperhatikan bar itu. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan rasa takut. Aku baru ingat kalau dia memang tidak menyukai tempat yang ramai, jadi pilihanku sekarang sepertinya sudah tepat.
"Ayo masuk, Momo."
Kami berdua berjalan ke arah bar itu dan membuka pintunya. Pintu masuk bar ini terasa sangat berat dan dibutuhkan tenaga lebih untuk membukanya. Suara karat dari engsel pintu terdengar sewaktu kami membuka pintu ini.
"Selamat datang." Sebuah suara menyambut kami dari ujung ruangan. Di sana terlihat seorang gadis kelinci yang sedang mengelap sebuah gelas.
Clara! Eh, tidak. Itu bukan Clara.
__ADS_1
Gadis kelinci itu bukanlah seorang resepsionis, melainkan bartender. Dia memiliki rambut perak panjang dan penutup mata di sebelah kiri matanya. Ekspresi wajahnya juga tidak semenyenangkan Clara, yang satu ini terlihat seperti seorang pembunuh.
Bar ini sangat sepi. Aku hanya bisa melihat dua atau tiga orang yang duduk di pojok ruangan dan sedang memperhatikan kami. Mereka terlihat seperti orang-orang jahat.
"Kalian datang ke tempat yang salah, gadis kecil. Taman kanak-kanak bukanlah di sini." Bartender itu langsung mengusir kami dengan tatapan matanya yang judes.
Gadis kecil ya. Biar aku kasih paham temannya Clara ini.
Padahal kami sudah memakai jubah dengan tudung yang menutupi hampir seluruh tubuh kami. Tapi kelinci itu tetap bisa mengenali kami bahkan sesaat setelah kami masuk ke bar. Manusia setengah hewan di sini memang memiliki kepekaan yang kuat terhadap orang lain.
"Tidak apa. Aku rasa kami sudah datang ke tempat yang tepat." Aku berjalan ke arah meja bartender diikuti oleh Momo di sebelahku.
Kelinci itu menatap kami berdua dengan heran. Dia tetap melanjutkan membersihkan gelas-gelas lainnya dengan lihai.
"Apa yang ingin kalian pesan?" Tanya dia.
"Informasi." Aku menjawabnya dengan agak pelan.
"Hmm?" Kelinci itu terlihat sedikit curiga dengan kami. Matanya menatap lebih judes, dan ekspresinya tidak jauh berbeda dengan penjaga gerbang Dungeon Nugul.
"Aku akan membayar lebih." Bisikku lagi.
"Naiklah ke lantai dua, di sana hanya ada satu orang yang sedang duduk di dekat balkon. Waktumu hanya setengah jam."
Yosh! Aku berhasil di tahap pertama!
"Minuman apa yang ingin kau pesan?"
"Hmm..." Apa ya?
Tidak mungkin aku dan Momo akan memesan alkohol. Kami berdua masih belum cukup umur.
"Apa ada semacam jus?" Tanyaku.
"Tidak ada. Tapi kami mempunyai sari apel yang belum di fermentasi, kurasa aku bisa menghidangkannya untuk kalian."
Kami berdua jalan ke arah tangga di dalam bar. Tiga orang di pojokkan itu terus menatap kami sambil membisikkan sesuatu yang tidak dapat kudengar. Momo di belakangku terlihat waspada dengan mereka, wajahnya terus tegang sejak kami dari meja bartender.
Tangga kayu yang kunaiki ini tidak seburuk pintu bar. Mungkin terlihat rapuh dan sedikit rusak, tapi tidak menghasilkan bunyi berisik yang mengganggu pelanggan lain.
Di lantai dua bar tidak segelap lantai dasar. Ada cahaya yang masuk dari balkon dan beberapa ventilasi kecil di setiap dindingnya. Meja-meja tersusun rapih dengan kursinya yang masih tersimpan di bawah meja. Hanya ada satu meja saja yang sudah tersiap di dekat jendela balkon.
Aku melihat satu orang di sana. Seorang pria dewasa dengan jas jubah berwarna kecoklatan. Rambutnya hitam pendek dan wajahnya mirip seperti pemburu zombie yang kukenal. Dia duduk sendirian sambil menikmati secangkir kopi yang terlihat sudah dingin dan membaca sebuah buku kecil.
Ada kopi ya. Kenapa aku tidak memesan itu saja?
Kami berjalan ke arah meja tempat pria tersebut. Di sana terdapat empat kursi, satunya sedang dia duduki, satunya masih tersimpan di bawah meja, dan duanya lagi tersedia untuk di duduki.
Pria itu sekilas melihat kami dengan wajahnya yang sedikit tersenyum. Dia terlihat hangat, tapi tidak semenyeramkan bangsawan di kereta itu.
"Kalian sedang mencariku? Duduklah di sana." Pria itu menyilahkan kami tanpa terlihat sedikit keberatan.
"Terima kasih telah menerima kami." Kami berdua duduk di kursi yang terlihat seperti sudah disiapkan sebelumnya. Jiwa fantasiku mengatakan kalau orang ini sudah tahu kami akan datang dan menyiapkan kursinya untuk kami.
Aku harus hati-hati. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, terlebih ini kota yang baru kukenal. Kota ini bisa jadi tidak sebaik Kota Ciatar.
"Apa ada yang bisa aku bantu, nona petualang dan seorang gadis kucing?"
Apa-apaan ini!? Kedua kalinya identitas kami dapat diketahui langsung padahal baru bertemu pertama kali. Pria ini jelas berbeda dengan bangsawan yang ada di kereta itu.
Orang-orang di sini lebih berbahaya dari yang aku pikirkan. Tapi Momo tidak terlihat waspada seperti sewaktu bertemu dengan pria yang di kereta.
"Oh, wah! Kau bisa langsung mengetahui identitas kami. Apakah kami terlihat semencolok itu dari luar?" Aku mencoba mengikuti terlebih dahulu alur pembicaraanmya.
__ADS_1
Menanyakan langsung informasi memanglah salah satu peraturan bertukar informasi. Tapi lagi-lagi aku bertemu dengan orang yang terlihat ramah, dan sudah pasti ingin sedikit perbincangan.
"Kau bertanya tentang hal itu? Kenapa kau tidak lihat sendiri bagian atas tudung yang dipakai oleh temanmu?" Pria itu menunjuk bagian atas tudung jubah Momo.
Aku mengikuti arah yang ditunjuknya dan... Astaga.
Selama ini telinga kucingnya tercetak dengan jelas di tudung jubahnya Momo. Pria itu sedikit tertawa. Kenapa selama ini aku tidak menyadari itu?
Tapi seingatku sewaktu pertama kali bertemu Momo, dia juga mengenakan jubah dan tidak terlihat cetakan telinga kucingnya di tudung.
"Whoaa!" Momo sedikit terkejut begitu menyadarinya juga.
Dia mencoba menutup telinganya dengan tangan lalu melepaskannya kembali, dan telinga itu sudah tidak tercetak lagi!?
Oh, mungkin dia bisa membuat telinganya tertutup seperti saat sedang ketakutan atau malu. Clara juga pernah seperti itu.
"Haah, baiklah. Sudah tidak ada gunanya lagi kami menutup diri." Aku membuka tudungku dan memperlihatkan wajahku, serta mengeluarkan rambut yang kumasukkan di dalam jubah.
Momo juga mengikutiku. Aku dapat melihat telinganya yang tertutup seperti yang aku pikirkan tadi.
Beberapa saat kemudian telinganya kembali berdiri.
"Ahaha, aku minta maaf. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang seperti kalian, jadi aku menikmatinya." Pria itu tertawa dengan ramah. Aku jadi merasa semakin nyaman dengan orang ini.
"Perkenalkan, namaku Riel, dan gadis kucing ini Momo. Kami baru tiba di kota ini dan sedang mencari beberapa informasi." Langsung mulai sajalah, gak usah basa-basi lagi.
"Hoo, Nona Riel dan Momo. Nama yang bagus." Pria itu memuji kami. " Perkenalkan juga, namaku Juan. Juan Nicolae. Aku hanya seorang jurnalis yang sedang menetap di kota ini. Sepertinya pilihan kalian tepat karena bertemu denganku."
Juan Nicolae. Nama ini terlihat cukup normal bagiku, dibandingkan dengan bangsawan yang terlihat seperti mayat di kereta.
"Jadi kau seorang jurnalis. Aku pernah sedikit mendengar tentang profesi itu. Kenapa kau tertarik dengan pekerjaan seperti itu?"
"Hmm, kenapa aku tertarik ya?" Juan menutup buku catatannya dan meletakkannya di meja. "Aku suka pengetahuan umum, terlebih lagi yang berkaitan dengan keadaan sosial sekarang di kerajaan ini. Jadi aku menjadi jurnalis dan berkeliling kota."
"Ini minuman kalian."
"Hii!" Aku dan Momo terkejut bersamaan.
Kelinci bartender itu datang tanpa aku sadari sama sekali. Dia meletakkan minuman pesanan kami dengan biasa tanpa menghiraukan kami yang terkejut.
"Apa ini bir apel? Bukankah mereka belum boleh meminum minuman beralkohol?" Juan mengomentari minuman kami. Sekilas dari warnanya memang terlihat mirip dengan bir.
"Ini sari apel yang belum di fermentasi. Jadi aku rasa akan baik-baik saja untuk mereka." Setelah menjawab pertanyaan Juan, dia pergi kembali menuju ke lantai dasar.
Juan terlihat seperti sudah saling mengenai dengan kelinci bartender itu. Terbukti sewaktu kelinci itu menjawab pertanyaan Juan dengan santai.
"Namanya Adele. Salah satu ras manusia setengah hewan yang sudah jarang di kota. Dia merupakan bartender yang baik hati dan sangat hebat membuat minuman, itulah yang membuatku terkadang datang ke sini." Juan menjelaskan sedikit tentang kelinci itu.
"Ras manusia hewan sudah jarang di kota? Memangnya apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka?" Tanyaku.
"Padahal temanmu sendiri adalah seorang dari mereka. Mengapa kau tidak tanya saja kepadanya?" Juan membalas pertanyaanku.
Aku tidak kepikiran bertanya tentang hal itu kepada Momo. Mungkin karena kami tidak memiliki banyak waktu untuk mengobrol lebih dalam satu sama lain.
Pandangan Momo tertunduk mendengar hal itu. Telinganya juga ikut turun mengikuti keadaan emosinya. Sepertinya memang aku tidak boleh menanyakannya, atau lebih baik bukan dia yang mengatakannya.
"Yaa, sepertinya temanmu itu merasa tidak nyaman jika kita membahas hal tersebut..."
"Tidak apa."
Hmm? Momo memotong perkataan Juan.
"Tidak apa-apa. Tolong beritahu Kak Riel tentang kami, aku tidak mau mengatakannya sendiri."
__ADS_1
Oh, Momo. Aku sangat minta maaf karena telah menyinggung perasaanmu.
"Baiklah. karena temanmu yang memintaku demikian, aku akan menceritakan yang kuketahui tentang ras manusia setengah hewan. Pastikan kau tidak salah menangkap informasi dariku."