Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 40: Masa Lalu Momo Bagian 2


__ADS_3

"Master? Master?" Panggilku.


Sekali lagi aku pergi menuju tempat mereka berkemah dengan diam-diam, agar para penduduk desa tidak ada yang curiga denganku. Tapi begitu aku sampai di sana, aku hanya mendapati tenda mereka berdua yang kosong.


"Master?" Sekali lagi aku memastikan.


Sudah tiga hari berlalu sejak aku bertemu dengan mereka. Sejak saat itu juga aku sering mengobrol dengan mereka, dan mereka menjadi semakin dekat denganku.


Gaya penampilan mereka memang bisa dibilang menakutkan oleh orang-orang. Namun setelah kami saling mengenal, ternyata mereka bukanlah orang yang jahat seperti kelihatannya.


Tempo hari aku diselamatkan sewaktu terjatuh di sungai. Kemudian diam-diam mereka membersihkan sumber mata air desa yang mulai tercemar sihir. Juga, mereka memperlakukanku dengan penuh kasih sayang.


Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku diperlakukan seperti itu. Jadi, aku sangat menyukainya.


"Apakah mereka sedang pergi ke reruntuhan?" Pikirku.


Tujuan mereka berdua ke tempat ini memang ingin menjelajahi reruntuhan itu. Mereka bilang, ada suatu benda bagus yang ingin mereka cari di dalam sana. Hanya saja aku tidak boleh ikut karena di sana sangat berbahaya.


Oleh karena itu, aku memintanya untuk mengajariku sihir air seperti saat dia menyelamatkanku di sungai. Perempuan itu dengan senang hati menyetujuinya, dan sejak kemarin aku mulai memanggilnya, Master!


"Hai, Momo. Kau sudah datang rupanya. Apakah kami membuatmu menunggu cukup lama." Panggil seseorang dari balik hutan. Saat aku melihatnya, itu adalah Masterku bersama teman pria besar bertopi besar di belakangnya.


"Mhmm," aku menggelengkan kepala. "Aku baru tiba, kok. Apakah penjelajahan kalian lancar?"


"Waah! Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami..." Master memelukku dengan erat, dan menggoyang-goyangkan tubuhku seperti boneka.


"Heee! Masteer!"


"Tenang saja! Selama ada temanku yang bertopi besar di sana, aku tidak akan terluka sedikitpun!"


"Ba-baguslah kalau begitu."


Master melepaskanku, dan menurunkan tas yang dia kenakan di punggungnya. Dia membuka tas itu dan merogoh-rogoh sesuatu di dalam.


"Apa itu, Master?" Tanyaku penasaran.


"Lihat ini." Master mengambil sebuah batu kristal dan menunjukkannya kepadaku. Tidak seperti batu kristal yang pernah dia bawa sebelumnya, kali ini batu kristal itu mengeluarkan sebuah cahaya berwarna keemasan.


"Waaaaah!" Aku terpana melihat keindahannya. "Apa itu?"


"Namanya adalah batu sihir. Benda ini dijatuhkan oleh monster yang sangat kuat di dalam sana. Maka dari itu, benda ini akan menjadi sangat bernilai nantinya."


"Monster? Di dalam reruntuhan itu terdapat monster?"


"Ya. Mereka sangat besar! Ganas! Taring mereka sangat besar dan cakar mereka sangat tajam! Apalagi mereka sangat menyukai gadis kucing dengan rambut biru seperti Momo!"


"Unyaaa~"


"Tidak, tidak, tidak. Cup cup cup. Aku hanya bercanda, kok."


Meski dia sudah bilang kalau bercanda, tubuhku masih belum berhenti gemetaran.


"Oh, iya. Bagaimana dengan latihan sihir kemarin? Apa hari ini kau ingin melanjutkannya?" Master mengalihkan percakapan.


"Iya!" Jawabku dengan mantap.


"Wokeh! Ayo kita kita pergi ke air terjun!"


"Ayo!"


Saat mereka sudah selesai menjelajahi reruntuhan, Master akan menyempatkan waktunya untuk mengajariku dasar-dasar dari ilmu sihir. Seperti latihan pernapasan, pengendalian mana, hingga merapalkan mantra. Master bilang, aku memilik potensi untuk menjadi seorang penyihir yang hebat nantinya.


Selagi kami berlatih, pria besar bertopi besar akan pergi untuk menyiapkan makan siang kami. Aku sempat tidak percaya sewaktu mencicipi masakan buatannya.


Enak!

__ADS_1


Tapi yang masih aku sayangkan, sampai sekarang aku masih belum mengetahui siapa nama mereka berdua.


Berkali-kali aku mencoba menanyakan nama mereka, tapi mereka tidak pernah berniat ingin memberitahukannya. Meskipun aku keras kepala, dengan sabar mereka memintaku untuk memanggil dengan sebutan apa saja.


Awalnya aku sempat merasa dikucilkan. Tapi melihat mereka yang sangat baik kepadaku, lambat laun aku pun menuruti apa yang mereka katakan dan tidak memaksa keegoisanku lagi.


Master yang dengan senang hati ingin mengajariku sihir saja sudah merupakan hal yang sangat bagus. Oleh karena itu, aku akan bersungguh-sungguh belajar sihir air agar bisa menjadi seperti Master!


"Sekali lagi, Momo! Water Ball!"


"Water Ball!"


Kami berdua saling melepaskan sihir yang sudah kami rapal. Bola air milik Master sangat besar dan bertenaga, sedangkan bola air milikku hanya sebesar buah apel dan melesat beberapa kaki saja.


"Ada apa, Momo? Kemarin kau bisa melakukannya dengan lebih baik."


"A-aku..." Bagaimana ini? Aku malu ingin mengatakannya. "Aku... agak lupa mantranya."


"Ooh, tidak apa. Kita akan menghafalkannya lagi bersama-sama." Master menjawab dengan sangat baik.


Sebenarnya Master membawa sebuah buku sihir di dalam perjalanannya. Sayangnya, aku sama sekali tidak bisa membaca. Orang-orang di desaku mengisolasi dirinya dari dunia luar. Jadi pengetahuan kami tentang pendidikan, pengobatan, dan juga pertanian, semuanya serba tertinggal.


Tapi hal tersebut tidak menghalangi Master untuk berusaha mengajariku sihir. Bahkan, dia juga mengajariku baca-tulis dengan sangat sabar.


"Ken-da-li-kan, si-hir..." Aku mencoba membaca sebuah kalimat di dalam buku tersebut.


"De..."


"De-ngan, sejum-lah..."


Sedikit-demi sedikit aku dapat membaca beberapa huruf di dalam buku. Karena aku sampai hafal mantranya, aku dapat dengan mudah mengingat jenis hurufnya jika lupa.


Begitu juga dengan menulis. Master memberikanku sebuah buku kosong agar bisa aku gunakan untuk berlatih menulis. Master menyuruhku untuk menjadikannya sebagai buku harian juga, menulis mantra-mantra yang baru kuhafal, atau beberapa impianku di dalamnya.


Sekali-kali temannya juga bergantian untuk mengajariku, meskipun menurutku itu adalah ide yang buruk.


Di... di... di... Masterku yang satu ini mengajariku banyak kata baru yang belum pernah kudengar sebelumnya.


"Lalu, kalimat ini biasa diucapkan ketika sepasang kekasih sedang melakukan ritual bersama di malam yang indah. Mereka melakukan..."


Ini... itu... diulang-ulang...


"WAAAA! Jangan ajari Momo kata-kata yang tidak boleh!" Master menghampiri kami dari balik tendanya. Sepertinya dia mendengar apa yang sedang diajarkan kepadaku.


"Aku hanya mengajarinya kalimat yang ada di dalam buku ini." Pria itu memberikan buku yang ada di tangannya kepada Master.


Kemudian saat memegang buku itu, Master mulai bertingkah aneh.


Tubuhnya gemetar, dan dia juga menundukkan wajahnya.


"Dari mana... kau mengambil... buku ini...?"


Auranya sangat menusuk! Seluruh tubuhku ikut bergetar ketakutan. Aku seperti... melihat seorang pacar marah yang baru saja diceritakan pria ini.


"Aku mengambilnya dari tas milikmu."


"BODOOH!!!"


Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!


Master memukuli kepala temannya dengan sangat kuat menggunakan buku. Tapi yang dipukuli sama sekali tidak bergeming, dan topinya juga tidak bergeser sedikitpun.


"Dasar!"


Buk! Buk! Buk!

__ADS_1


"Penguntit!"


Buk! Buk! Buk!


"Mesum!"


Buk! Buk! Buk!


Aku belum pernah melihat Master semarah ini. Atau lebih tepatnya, marah untuk menutupi rasa malunya?


"Kau bilang buku apa saja 'kan? Jadi aku mengambil buku yang sering kau baca sendirian di tenda."


"DARIMANA KAU BISA TAHUU!!?"


Sementara Master terus memukuli temannya dengan kesal, beberapa jam sudah berlalu tanpa terasa. Master kelelahan sendiri dan akhirnya berhenti.


"Master?" Panggilku.


Master terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah. Dia masih memegang bukunya dengan erat, yang tidak hancur meskipun dibuat untuk memukuli baja.


"Apa yang dia... bacakan padamu, Momo?" Tanya Master.


"Seorang majikan yang disiksa budaknya, gadis yang cintanya tertolak, dan malam pertama yang sangat..."


"Hentikan. Aku mohon."


"Baik, Master!"


Hari ini proses belajar dan mengajarnya disudahi lebih awal. Master menyuruhku untuk melanjutkan latihan menulis, tapi aku ingin menunjukkan hasil tulisanku yang terbaru.


Master terpukau sewaktu melihat hasil latihanku. Dia tidak percaya aku dapat belajar dengan sangat cepat, baik itu membaca ataupun menulis.


Kemudian waktu terus berjalan dari hari menjadi minggu, dan sekarang sudah hampir satu bulan aku menghabiskan waktu bersama dengan mereka.


Penjelajahan mereka di reruntuhan kali ini memakan waktu lebih lama dari biasanya. Sekarang mereka akan berada di dalam sana selama dua hari satu malam, atau bahkan lebih lama. Selama itu, aku menghabiskan waktu sendirian di kemah mereka sambil terus belajar sihir dari buku milik Master.


"Jadi, jika aku bisa menggunakan sihir air, maka aku juga bisa mempelajari sihir es?" Begitulah yang aku baca di dalam buku sihir. "Sihir api, sihir petir, sihir bayangan? Apa aku bisa mempelajari mereka semua?"


Dengan penuh semangat, aku mencoba banyak sekali macam sihir yang aku temukan di dalam buku tersebut. Beberapa sihir aku tidak bisa menggunakannya meskipun sudah bersusah payah. Lalu jika aku kelelahan, aku akan beristirahat sebentar di tenda milik Master.


Kalau tidak salah, Master pernah menyilahkanku untuk meminum ramuan mana jika manaku sudah hampir habis, lalu setelahnya aku bisa melanjutkan latihanku lagi. Tapi setelah aku meminumnya lebih dari lima kali, kepalaku terkadang menjadi pusing dan jalanku sempoyongan.


Lalu saat mereka kembali ke perkemahan, Master menemukanku bersandar di pohon dalam keadaan mabuk.


"Eeeh... Aku melihat naga susu di atas sana~"


"Momo! Momo! Apa yang terjadi denganmu?" Master mengecek keadaanku dengan khawatir. "Hei! Sudah kubilang jangan letakkan minuman kerasmu sembarangan di kemah!"


"Aku bukan peminum."


"Lalu, apa yang menyebabkan Momo bisa menjadi semabuk ini?"


"Coba cium aroma dari mulutnya. Mungkin saja dia memakan jamur beracun dari dalam hutan."


Master mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku bisa merasakan kedekatanku dengan master yang semakin... tapi... lepaskan dulu topengnya.


Aku ingin melihat wajah master yang tampan bagaikan pangeran.


"Momo, berapa mana potion yang kau minum hari ini?"


Aku mencoba mengingat-ingat berapa minuman manis yang kuminum itu. Berapa ya? 


"Aku... tidak ingat."


"Lihatlah ini." Temannya Master mengambil sebuah kotak kosong tempat biasanya mereka meletakkan minuman manis itu.

__ADS_1


"Gawat."


__ADS_2