Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 12: Ketemu Kau, Kucing?


__ADS_3

Haah. Aku baru bangun tidur dan rasanya tubuhku masih tidak enak pagi hari ini. Padahal aku sudah tidur di tempat yang cukup hangat, tapi kesehatanku tidak kunjung membaik.


Riel masih belum pulang.


Desa Arin letaknya memang agak jauh, dan permintaan berburu itu mungkin akan memakan waktu seharian penuh. Dia pasti menginap di desa itu. Aku tidak boleh berprasangka buruk dengannya.


Baru-baru ini aku mendapat informasi tentang keberadaan bandit di barat laut Kota Ciatar, dan itu adalah lokasi desa tempat Riel mengambil permintaan. Bagaimana aku tidak khawatir?


Jika Riel tidak kembali pagi ini, aku akan ke guild dan meminta Clara untuk mengirim beberapa petualang. Mungkin 40.000 Nira cukup untuk menyewa mereka pergi ke desa itu. Toh hanya menjemput seseorang, tidak memerlukan tenaga berat.


Tapi jika kondisiku sudah membaik, aku saja yang akan pergi ke sana.


"Uhuk, uhuk!" Aku terbatuk pelan.


Biasanya jika sakit, aku hanya memerlukan waktu satu malam istirahat untuk sembuh. Tapi kali ini berbeda dari biasanya. Apa yang ada di dalam tubuhku ini sepertinya sedang tidak peduli denganku. Ayolah, berikan aku kekuatanmu sedikit saja.


"Uhuk, uhuk!"


Haaa, sangat mengganggu.


Aku sakit karena apa, ya? Kelelahan membantu penduduk desa memanen? Konyol.


Tidur sebentar lagi sepertinya lebih baik. Tahan, aku akan menunggu ibu penginapan membawakan sarapanku terlebih dahulu. Setelah aku makan, baru tidur.


Cepatlah kembali, Riel.


***


"Pageeee!!"


Mooo??


Aku menyapa pada salah satu sapi di kandang. Ini pertama kalinya aku bertemu hewan ternak secara langsung. Biasanya aku hanya melihat mereka di dalam televisi atau dunia game, dan ini bukan dunia game.


Huaaa, jadi begini rasanya mengelus-ngelus sapi. Mereka agak bau sih, tapi ini akan menjadi pengalaman berhargaku.


Aku mencoba berkeliling desa di pagi hari dan mengunjungi beberapa peternakan. Ada sapi yang kusapa tadi, kuda, juga kambing. Semuanya kebanyakan hewan ternak yang diambil dagingnya. Aku belum menemukan domba atau sapi B&W.


Ahh, itu si bacik (babi licik)!


Ada bacik, bager, bapet, balud. Empat doang? Mungkin yang lainnya masih tidur di dalam kandang.


Oink, oink, oink?


Oink, oink! Aku mencoba meniru mereka.


Aku kembali berjalan-jalan di sekitar dan bertemu sapa dengan beberapa penduduk desa. Udara pagi di sini terasa lebih segar dibanding Kota Ciatar, dan jauuuuh lebih segar dibanding kotaku sebelumnya.


Pagi-pagi gini enaknya jogging, makan, tidur. Josss!


Tidak. Pagi ini aku harus segera pulang ke Kota Ciatar. Shin dan Clara pasti akan mengkhawatirkanku jika aku belum kembali hingga siang. Jadi, aku akan menumpang salah satu kereta kuda dari desa yang akan menuju ke kota. Aku menemukannya sewaktu mengobrol dengan para penduduk desa. Mereka sangat baik.


Jaketku masih belum kering di jemuran, jadi aku meminjam jaket kulit milik anaknya Paman Reinald. Dasar paman itu, meski warna jaketku hampir sama dengan warna darah, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya meper. Untung istrinya berbaik hati mencucikan jaket itu untukku.


"Yo, Riel!" Sapa Paman Reinald. Kami bertemu di salah satu jalan utama desa. "Kau akan pulang hari ini?"


"Ya. Aku akan menumpang salah satu kereta kuda milik penduduk yang satu tujuan. Keren kan, aku dapat tumpangan gratis." Aku menunjukkan cengiranku padanya.


"Hahaha! Kau pantas menjadi petualang paling beruntung. Jangan lupa untuk mengambil barang yang sudah kusiapkan untukmu."


"Okey."


Paman Reinald memberikanku imbalan yang benar-benar gila. Aku dapat 240.000 Nira untuk hasil yang telah kudapatkan. Sebenarnya mereka ingin menawariku kulit griffon, tapi aku jijik dan tidak ingin membawanya. Walaupun bisa aku masukkan ke dalam inventori.


Pajangan kepala griffon membutuhkan waktu untuk disiapkan. Jika sudah jadi, aku diperbolehkan mengambilnya satu, tapi kutolak juga. Itu sebabnya mereka memberikan jumlah uang yang berkali-kali lipat untukku. Kata mereka, bagian tubuh griffon itu jika di jual akan sangat mahal, jadi uang sebesar itu setimpal untukku. Oke, aku tidak akan menolak.


Penduduk desa ternya kaya-kaya juga, ya.


Mengambil permintaan itu cukup menyenangkan juga. Aku jadi malas pergi ke dungeon. Yang aku masih herankan, imbalan yang aku dapat selalu berkali-kali lipat dari yang tertera di kertas permintaan. Sepertinya Lucky Point milikku cukup tinggi.


Baiklah waktunya berkemas,


"Tolooonnng!!"


Ah, event apa lagi sekarang ini? Salah satu penduduk desa berteriak dari kejauhan, aku dan penduduk lainnya dapat mendengar dengan jelas dari kejauhan.


"Ada bandit! Ada bandit di luar desa!!"


"Bandit!?"


"Tidak mungkin!"


"Semuanya, ada bandit di dekat desa kita! Para wanita dan anak-anak bersembunyilah di dalam rumah! Para pria ikutlah denganku untuk menghadang para bandit itu!" Teriak salah satu penduduk desa pria.


Kalau ingin bersembunyi, masuklah ke dalam hutan atau bangunan khusus. Kalau di dalam rumah ya sama saja bohong. Emangnya main petak umpet?


"Kau, gadis petualang! Ikutlah bersembunyi bersama yang lainnya!"


Aku dapat menerima jika kau memanggilku dengan sebutan gadis petualang. Tapi jika kau menyuruhku untuk bersembunyi juga, itu sama saja menganggapku sebagai anak-anak!


"Kau kira aku hanya akan diam dan bersembunyi? Aku juga akan melawan mereka!" Tanpa banyak kata lagi, aku berlari menuju gerbang desa. Pistol dan belatiku selalu tersarung siap. Begitulah petualang.

__ADS_1


"He, hei!" Orang itu mencoba memanggilku, tapi aku mengacuhkannya. Aku tetap berlari menuju gerbang bersama para penduduk lelaki lainnya.


"Hoi, Riel! Kenapa kau tidak ikut bersembunyi?"


Aku bertemu dengan Paman Reinald di dekat gerbang. Dia bersama para pemburu dan penduduk lainnya. Masing-masing dari mereka sudah melengkapi diri dengan senjata seadanya.


"Aku tidak akan mundur jika hanya melawan seorang bandit. Bagaimana aku akan mengalahkan seekor naga nanti?" Jawabku teguh.


"Ahh, kau masih berhalusinasi pertarungan dengan griffon kemarin."


"itu! Itu mereka!" Salah satu penduduk desa menunjuk ke balik pepohonan. Aku melihat beberapa orang sedang berlari menuju gerbang masuk desa ini. Sepertinya mereka sedang mengejar seseorang.


Aku dapat mengetahui kalau para pria berpakaian berantakan, jelek, dan tidak pernah mandi itu adalah para bandit. Lalu mereka sedang mengejar seseorang yang dari tingginya seperti seorang anak-anak, dan dia memakai jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Para bandit itu sedang mengejar anak-anak. Selamatkan dia, dan bunuh para bandit itu!" Teriak Paman Reinald.


"Hah! Bunuh?"


"Jika salah satu dari mereka tidak dilenyapkan, maka dia akan kabur dan memanggil teman-temannya yang lain. Desa ini bisa berada dalam bahaya jika diserang oleh satu kelompok besar bandit."


Ah, benar juga. Bukannya mereka bisa respawn lagi, tapi mereka akan memanggil kawan-kawan mereka dan bisa terjadi pertumpahan darah di desa ini.


Bandit itu terus mengejar dan semakin dekat dengan desa. Para pemburu bersama Paman Reinald mencoba bersembunyi di sekitar semak-semak untuk melakukan sergapan.


Seharusnya para bandit itu tahu jika di sekitar sini ada sebuah desa. Tapi karena masih terhalang oleh tikungan, mereka jadi belum menyadarinya.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat tangkap gadis itu!"


"Ba-baik bos!" Para bandit itu semakin dekat dengan target yang mereka kejar.


Seseorang yang memakai jubah itu berusaha berlari semampunya. Meski begitu, kecepatannya tetap kalah dari para bandit yang merupakan orang dewasa. Tidak perlu waktu lama, orang itu berhasil tertangkap oleh para bandit.


"Lepaskan! Lepaskan aku!" Dia mencoba memberontak dari para bandit yang menangkapnya.


"Ah, sialan kau bocah! Kau memperbanyak kerjaan kami!"


"Ya! Sebelum kembali ke markas, kau akan kami beri hukuman dulu di dalam hutan! Hwahahaha!"


"Lepaskan aku! Hiks, hiks. Lepaskan..."


Aku ikut bersembunyi bersama para pemburu. Kami terus mendekat dan mencapai titik yang cukup pas untuk melakukan penyergapan. Para penduduk desa lainnya tetap menjaga gerbang, jaga-jaga jika bandit ada yang menyelinap lalu masuk.


Paman Reinald memanggil dan memberiku isyarat. Dia menyuruhku untuk membuka serangan dengan tembakan, lalu dia dan yang lainnya akan menyerbu.


Aku mengangguk paham, dan mengambil pistolku dari sarungnya. Pelurunya sudah kuganti, dan kuncinya sudah kubuka. Aku siap melakukan mode ambush.


"Sekarang," Paman Reinald memberi aba-aba dengan pelan.


Aku membidik pistolku...


Dor! Dor!


Satu bandit berhasil kutumbangkan dengan tembakan di kepala.


"Hyaaa!!"


"Serangann!!"


Paman Reinald dan pemburu lainnya melompat menyerang.


Buk! Bug!


Slash! Slash!


Tang!


Mereka saling menyerang dengan sengit. Pedang, gada, tombak, aku menemukan berbagai macam senjata yang digunakan oleh para bandit.


Pihak pemburu berjumlah enam orang. Jika salah satu dari mereka menghadapi satu bandit, maka jumlah bandit itu ada enam. Aku tidak dapat menghitung jumlah bandit tadi karena terhalangi oleh pepohonan. Jadi aku tidak tahu kalau masih ada satu yang bersembunyi.


"Bawa anak itu ke tempat aman, Riel!" Teriak Paman Reinald sembari menahan serangan dari seorang bandit.


"Baik!" Aku berjalan mendekati anak yang tertutupi oleh jubah itu.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku padanya. Dia pasti sedang ketakutan karena dikejar oleh orang-orang jahat. Jadi aku...


"Hyaaa!!"


"Awas!" Anak itu berteriak.


Aku langsung menoleh dan melihat seorang bandit tengah menerjangku dengan pedangnya dari belakang.


Haah, bodoh. Aku sudah tahu kok sebelum anak itu berteriak. Jika kau ingin menyerang seseorang dari belakang, jangan berteriak!


Tang!


Aku membelokkan tebasan pedangnya yang cukup kuat dengan belati. Lalu dengan cepat aku langsung maju dan memberikan tendangan rendah dan serangan lanjutan pada bandit itu.


Buk! Buk!


Slash!

__ADS_1


Tang!


"Riel!" Teriak paman.


"Serahkan padaku!"


Melawan satu bandit ini bukanlah apa-apa bagiku! Dia tidak sehebat Shin dalam memberikan kombo serangannya. Jadi gerakannya terlalu mudah dibaca.


Slash! Slash!


Tang!


Dia mencoba untuk menjaga jarak denganku, tapi justru itu adalah bagian terburuknya. Kau pasti belum pernah bertarung melawan pemegang pistol, kan? Maka langkah mundurmu itu adalah langkah kematianmu.


Aku mengangkat pistolku dan membidik bandit itu. Tanganku yang memegang belati kuletakkan di atas pergelangan tangan kanan untuk menahan hentakan dan menambah akurasi tembakan.


Dor! Dor! Dor!


Ketiga peluruku mengenai bandit itu. Mustahil untuk menghindarinya jika berjarak sedekat ini.


Slash! Slash!


Bug! Buk!


"Itu pengguna pistolnya!"


"Serang dia terlebih dahulu!"


Bandit-bandit yang lainnya pergi meninggalkan pemburu yang sedang bertarung melawan mereka.


Oh, sialan. Aku mengganti peluruku dan ingin membawa anak itu kabur. Tapi sayangnya tidak sempat.


"Riel, hati-hati!" Sekali lagi Paman Reinald berteriak.


"Kalian memilih lawan yang salah..." Gumamku.


Dua orang bandit tersebut maju ke arahku. Dia memegang gada, dan satu dibelakangnya menggunakan pedang.


Aku menerjang maju dengan cepat dan bergerak dengan lincah hingga berada tepat di depan bandit yang pertama. Tubuhku agak menunduk kebawah, dan kedua tanganku memegang pistol dengan kuat. Moncong pistolnya menempel tepat di ulu hati si bandit.


Dengan ajaibnya, aku dapat melakukan gerakan itu kerena aku merasa semua yang di sekitar seakan melambat atau berhenti. Jadi, apa yang ingin aku lakukan...


"Point Blank."


DOR!!!


Satu tembakan yang sangat kuat, membuat bandit itu terpental cukup jauh kebelakang. Tentu saja dia langsung mati.


Bandit satunya terkejut dan kebingungan melihat temannya langsung tumbang dalam sekejap. Lalu dia langsung bergerak menerjangku dan mengayunkan pedangnya dengan marah.


Maju sini kau...


"Menunduk!'


Heh? Siapa yang ngomong itu?


"Lighting Spear!"


NUNDUK!!


Bzzztttt... CTAR!!!


"Wow!!"


Sebuah tombak cahaya, maksudku petir, melesat begitu cepat di sampingku dan tepat mengenai bandit itu.


Serangannya membuat tubuhnya terlempar sangat jauh, bahkan hingga mengenai bandit lainnya yang sedang bertarung dengan para pemburu.


Lucunya, bandit itu terhempas ke udara sambil mengeluarkan asap seperti daging gosong. Maaf, aku tidak boleh menertawakan hal itu.


Tapi tadi itu hebat sekali. Semua bulu di sekujur tubuhku dibuat merinding begitu tombak petir tadi melesat sangat dekat.


Anak kecil itu... anak kecil itu yang melakukannya bukan?


Para pemburu sudah selesai mengurus bagian mereka, dan sekarang mereka semua menghampiri kami.


Aku menengok ke tempat anak kecil tadi. Tudung dari jubahnya terbuka akibat hempasan angin dari sihir yang dikeluarkannya. Tangannya bahkan masih dalam posisi terarah menuju bandit tadi, dan sedikit asap juga mengepul di telapak tangannya.


Tapi...


Tapi, tapi, tapi, tapi...


"Hah, hah... akhirnya selesai." Anak itu nampak sangat kelelahan.


Hah, hah...


"Kau tidak apa-apa, gadis kecil?" Tanya salah satu pemburu.


"Mhmm. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku" Anak itu mengangguk sambil tersenyum tipis dengan ekspresi wajahnya yang agak datar.


Hah, hah, haaaahhh!!!

__ADS_1


"GADIS KUCIINNGGG!!!" Aku melompat menerjangnya.


"NYAAA!!!"


__ADS_2