Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 39: Masa Lalu Momo


__ADS_3

...


Hari ini cerah sebagaimana biasanya, dan teman-temanku sibuk bermain kejar-kejaran di luar rumah mereka.


Aku hanya memperhatikan mereka dari balik jendela rumahku yang jelek, dan berpikir kenapa mereka suka menghabiskan waktu dengan melakukan hal yang sama setiap harinya.


Bermain di pagi hari, tidur siang, lalu sorenya bermain lagi, dan semuanya beristirahat di waktu malam. Para orang dewasa lainnya bekerja di ladang untuk menanam bahan makanan, atau berburu di sekitar hutan.


Desa kami terletak di sebuah lereng gunung, atau lebih tepatnya di sebuah lembah yang dikelilingi oleh hutan yang sangat besar. Itu menyebabkan desa kami terisolasi dari dunia luar, dan belum pernah dijamah oleh ras-ras lainnya.


Sumber makanan kami hanya bergantung dari hasil kebun dan juga hewan buruan. Sebelumnya kami hidup berpindah-pindah, dan akhirnya menetap di sini karena tanahnya cukup subur untuk menanam berbagai bahan makanan. 


Hewan buruan di sini juga masih cukup banyak untuk beberapa tahun kedepan, dan sumber air yang berada di dekat desa kami sangat bersih dan juga melimpah.


Itulah sedikit keanehan di usiaku yang seharusnya bermain-main bersama teman. Aku lebih suka jalan-jalan sendiri, atau membantu orang dewasa daripada menghabiskan waktu bersama mereka.


"Momo!" Panggil seseorang.


Dia adalah gadis kucing yang seumuran denganku, dan seorang yang mungkin memiliki hati paling baik di antara yang lainnya.


"Apakah kamu mau bermain bersama kami?" Ajaknya.


"Hei, tidak perlu ajak dia bermain bersama kita!" Seru salah seorang di belakangnya.


"Ya! Dia tidak asyik jika diajak bermain. Tinggalkan saja dia." Sahut yang lainnya.


Sementara yang lainnya sudah pergi untuk bermain, dia masih berdiri di depan jendela untuk menunggu jawabanku.


"Apa kau tidak mendengar mereka? Aku ini tidak asyik jika di ajak bermain." 


"Itu tidak benar!" Dia membantahku. "Justru kita bermain agar menjadi asyik! Bukankah melakukan sesuatu bersama-sama akan menjadi lebih menyenangkan? Kalau begitu, ayo ikut aku bermain bersama mereka!"


Aku masih diam, belum menjawab ajakannya untuk bermain.


Percuma saja jika aku menerimanya. Anak-anak yang lain hanya akan menjadikanku bahan candaan seperti biasanya. Hanya karena aku tidak memiliki orang tua, mereka bisa seenaknya meledekku sebab tidak akan ada yang membelaku.


Oleh karena itu, lebih baik aku menjauhi mereka saja.


"Terima kasih sudah mengajakku. Tapi lain kali saja, ya. Tubuhku sedang terasa tidak enak."


"Apakah kamu sakit? Kalau begitu ayo kita ke tabib desa. Aku akan menemanimu ke sana."


"Tidak, tidak perlu. Aku sudah ke sana, dan sekarang sedang beristirahat. Jadi tidak perlu khawatir."


"Oh, syukurlah kalau begitu. Sampai nanti, Momo." Dia akhirnya pergi meninggalkanku.


Gadis seperti dirinya tidak mungkin sudah menggunakan topeng untuk menghadapi orang lain. Sedangkan aku sudah menggunakannya sejak lama.


Setelah mereka semua pergi bermain agak jauh dari rumahku, aku dapat pergi menyelinap tanpa harus bertemu dengan mereka.


Aku pergi keluar dari rumahku, dan berjalan memasuki hutan yang cukup lebat. Tidak perlu khawatir jika tersesat di hutan ini, karena hampir setiap hari aku berjalan-jalan di dalamnya hingga sore jika tidak ada pekerjaan di desa.


Kali ini, aku akan mengunjungi tempat favorit yang baru kutemukan beberapa hari lalu.


"Kalau tidak salah, seharusnya melewati jalan ini."


Saat aku berjalan keluar dari jalan setapak selama beberapa menit, aku mulai mendengar suara bergema yang pernah aku temukan sebelumnya.


"Di sana!" Aku berlari ke mana suara itu berasal. Udara di sekitarku mulai terasa lembab begitu semakin dekat dengan sumber suara.


Begitu sudah hampir sampai, aku bisa merasakan percikan air yang bertebangan di udara di sekitarku.


"Waah!" Tidak pernah bosan aku terkagum dengan tempat ini. 


Sebuah air terjun di dalam hutan pegunungan yang terdapat sungai di bawahnya, dan akan terus mengalir hingga sampai di desaku nantinya. Ini adalah salah satu air terjun di sekitar desa kami, dan mungkin saja sejauh ini aku yang pertama kali menemukannya.

__ADS_1


Aku menghampiri pinggiran sungai dan berjongkok di dekat aliran airnya. Wajahku terpantul di aliran sungai yang sangat jernih itu dengan sempurna. Aku juga bisa melihat ikan-ikan kecil yang berenang di dalam aliran air.


Meskipun cipratan air terjun membuat tubuhku lebih cepat basah, nanti bisa kukeringkan sebelum kembali ke desa. Aku suka tempat ini karena indah, tenang dan jauh dari kegaduhan anak-anak. Aku juga bisa menangkap beberapa ikan di sini jika lapar, atau memetik buah-buahan yang tumbuh liar di sekitar sungai.


Jika memang tidak ada yang perlu aku kerjakan di desa, maka aku bisa saja tidur di tempat ini sampai sore hari. Jika anak-anak lain sibuk melakukan hal yang sama setiap harinya, maka aku tidak melakukan apapun setiap harinya,


Aku memang pemalas, apalagi kalau harus banyak bergerak. Kecuali saat aku membantu penduduk desa lainnya untuk menanam atau memanen di kebun. Maka mau tidak mau aku harus ikut membantu agar bisa mendapatkan bahan makanan dari mereka, 


Seperti itulah repotnya hidup sendiri.


"Hai gadis kecil."


"He!"


Aku terkejut dengan suara yang memanggilku dari belakang. Sejak tadi aku tidak bisa merasakan ada seseorang yang datang. Padahal pendengaranku cukup tajam jika hanya untuk menedengar seseorang yang sedang mendekat.


"Si-siapa di sana?"


Anehnya lagi, tidak ada siapapun di belakangku atau di sekitaran lainnya.


"Aku di sini, lho."


"Hyaaa!" Saat berkedip, orang itu tiba-tiba muncul di depanku begitu saja.


Aku tersentak dan terpeleset ke belakang, lalu tercebur di sungai dengan aliran yang cukup deras.


Jebuur!!


"Haa! Tolong... Tolong aku!" Aku terseret arus sungai yang deras, dan semakin menuju ke tengah-tengah aliran sungai.


Aku tidak bisa berenang. Ras kami tidak terlalu menyukai air, apalagi berenang. Aku hanya bisa terus menggerakkan tubuhku agar tidak tenggelam, karena sungai ini terasa sangat dalam untuk seukuranku.


Saat aku kira semuanya akan berakhir di sini, tubuhku tiba-tiba terangkat ke udara bersama air sungai yang membungkus diriku.


Aku terapung-apung di atas sungai yang tetap mengalir dengan deras, lalu di arahkan ke pinggiran tempat orang tadi berdiri.


Aku diturunkan di atas tanah dengan perlahan, lalu seketika air yang mengangkatku tadi terjatuh dan terserap kembali ke tanah.


Apa itu tadi? Orang itu dapat membuat air bergerak dan mengangkatku dari dalam sungai?


"Tubuhmu basah kuyup. Sini, biar aku bantu keringkan."


Orang itu mecoba mengampiriku, tapi aku ketakutan dan berjalan mundur menjauhi dirinya.


"Tidak perlu takut. Aku hanya ingin mengeringkan tubuhmu."


Dia mengangkat tangannya dan menggumamkan sesuatu yang bisa kudengar dengan jelas, tapi tidak kuketahui artinya. Setelah itu, muncul sebuah angin hangat yang berputar-putar di sekitar tubuhku.


"A-apa ini?"


"Itu akan mengeringkanmu. Cukup berdiri dengan tenang, dan semuanya akan selesai dengan cepat."


Saat anginnya sudah hilang, pakaian dan tubuhku yang tadi basah kuyup oleh air menjadi kering seperti tidak terkena apa-apa. Rambutku ikut mengembang karena angin hangat tadi, jadi aku menggoyang-goyangkan tubuhku untuk melurusukannya kembali.


"Hihihi." Orang itu tertawa kecil. "Kau sangat lucu saat melakukan itu. Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Hoo... kau sangat imuut. Aku jadi merasa sangat bersalah karena membuatmu terjatuh tadi. Apakah kamu akan memaafkanku?"


"A-aku tidak apa-apa, kok. Jadi tidak perlu dipikirkan."


"Wah! Gaya bicara sudah seperti orang dewasa! Keren!"


Ada apa dengan orang ini? Dari suaranya aku bisa menebak kalau dia adalah seorang wanita. Tapi dari tinggi tubuhnya, pakaian yang dia kenakan, dan juga aromanya, dia bukan berasal dari desaku maupun ras yang sama denganku.

__ADS_1


Pakaian yang serba hitam, jubah yang menutupi hampir ke ujung kaki, dan juga tudung di kepalanya. Serta topeng dengan warna berbeda di kedua sisinya, hitam dan putih.


Seperti inikah orang-orang di luar sana? Mereka mengenakan pakaian yang aneh, dan kemampuan yang tidak biasa. 


"Si-siapa kau sebenarnya?"


"Siapa aku? Aku hanya seorang pengelana yang kebetulan melewati pegunungan ini, lalu bertemu dengan gadis kucing yang sangat imut di sini." Dia mendekatkan tangannya dan mencubit pipiku.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Aku takut jika nanti dia akan marah lalu memakanku.


"Siapa itu?" Ada orang lain lagi yang datang.


Dia keluar dari balik pepohonan di seberang sungai, Dari suaranya, dia adalah seorang pria dewasa. Tinggi dan besar tubuhnya sangat tidak wajar, pakaian yang di kenakannya sama seperti yang di depanku ini. Bahkan topeng yang mereka kenakan juga sama.


Hanya saja, dia juga memakai sebuah caping yang lebar berwarna hitam. Lebarnya hampir melewati lebar tubuhnya sendiri, dan ujung dari caping tersebut terlihat tipis dan sangat tajam.


"Aku menemukan seekor gadis kucing yang sangat imut di sini. Apa aku boleh mengadopsinya?"


Seekor? Mengadopsi? Mereka ingin menculikku?!


"Tidak boleh ada hewan peliharaan. Kau juga sudah tahu itu."


"Hii!" Aku terjatuh karena terkejut lagi. Orang yang tadi berada di seberang sungai, tiba-tiba sudah berdiri di depanku juga.


"Hei! Kau membuatnya ketakutan!" Wanita itu menghampiri dan membantuku untuk berdiri. Dia terlihat sangat perhatian kepadaku, tapi aku masih khawatir dia akan memakanku.


"Kau baru saja membuatnya terjatuh ke sungai. Lebih buruk siapa?"


"Ah? Hehehe."


Mereka berdua berbicara satu sama lain dengan akrab. Tapi jika dari sudut padangku, malah terlihat menyeramkan. Seperti seorang penjahat yang gembira karena berhasil menangkap mangsanya.


"Apa... apa yang ingin kalian lakukan denganku?"


Mereka beruda terdiam dan melihat ke arahku. Saat itu aku semakin ketakutan karena topeng yang mereka kenakan begitu menyeramkan. Mataku sudah berkaca-kaca dan hampir menangis.


"Bagaimana jika kami ingin memakanmu?" Jawab wanita itu.


Tubuhku semakin gemetaran. Seperti apa yang aku pikirkan sebelumnya, mereka ingin memakanku.


"Tapi... tapi... aku tidak tahu apakah aku akan terasa enak."


"Hahaha! Imut bangeeett!!"


Tiba-tiba wanita itu memelukku dengan sangat erat.


Aakkh! Apakah aku akan diremukkan dulu sebelum dimasak nantinya?


"Tenang saja, gadis kucing kecil yang imut lucu dan sangat manis. Aku ini vegetarian, kok. Kalau orang di sebelahku itu sedang berpuasa makan. Jadi kami tidak akan memakanmu."


"Su-sungguh?"


"Aku ingin memakanmu."


"Nyaa~" 


"Kyaaaa!!" 


Begitulah saat pertama kali aku bertemu dengan mereka. Kalau tidak salah, mereka sedang singgah di pegunungan itu untuk mencari sesuatu di sebuah reruntuhan. Sejak saat itu juga, aku sering mengunjungi kemah mereka karena mereka sangat baik terhadapku.


Kadang aku diberi makanan enak, didandani dengan pakaian bagus, atau mendengar cerita tentang petualangan mereka.


Para penduduk desa belum mengetahui kehadiran mereka di pegunungan. Jika mereka tahu, mungkin kedua orang ini akan di usir paksa dari wilayah kami.


Jika itu terjadi, aku tidak akan mendapatkan kesenangan seperti ini lagi. Maka, aku tidak akan membuatnya sampai terjadi.

__ADS_1


Aku akan merahasiakannya dari mereka.


__ADS_2