Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 10: Quest Menuju Desa Bagian 2


__ADS_3

Huuu.


Shin jahat.


Shin benar-benar jahat pada seorang gadis.


Aku tidur di luar kamar yang sangat dingin semalaman. Apalagi dia tidak memberiku selimut atau apapun yang bisa kupakai untuk menghangatkan diri. Terpaksa aku menggulung tubuhku di karpet agar tetap hangat, namun percuma saja.


Bahkan sampai sekarang aku masih menggigil dan tidak ingin mandi pagi. Meski aku sudah mandi semalam sepulang dari desa.


Jika saja ada sihir yang bisa membuat air hangat. Sepertinya aku akan jadi sedikit lebih betah tinggal di dunia ini. Aku ingin mandi air hangat.


Setelah memakan sarapan bersama, kami berdua berangkat lagi menuju guild.


Shin bertingkah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mungkin dia sudah puas menghukumku semalaman, lalu aku berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tapi itu masih lebih baik sih. Pantatku pernah dipukul hingga sangat merah oleh kakakku karena lebih mementingkan turnamen daripada ujian sekolah.


Itu pengalaman yang sangat tidak ingin aku lupakan. Karena setelah aku menangis hingga kering air mata ini, kakakku membelikanku es krim. Meski begitu aku malah meminta dia untuk top up akun milikku saja, lalu mimpi buruk kedua pun terjadi.


Dan entah kenapa, besoknya aku jadi lebih dekat dengan kakakku. Tentu saja aku juga mendahulukan ujian daripada turnamen setelah kejadian itu. Kalau dia sedang di rumah.


Tentang Shin, sekarang dia terlihat seperti sedang tidak enak badan. Wajahnya terlihat sangat lesu. Apa gara-gara kemarin dia bekerja terlalu keras, ya? Aku jadi merasa bersalah karena meninggalkan dia sendirian kemarin.


"Shin,"


"Ya?"


"Kurasa lebih baik hari ini kau beristirahat saja. Biarkan aku pergi menjalankan permintaan dari desa sendirian. Lagipula permintaan-permintaan itu tidak terlalu sulit, kok."


"Memangnya apa yang membuatmu sangat tertarik dengan permintaan dari desa. Kau tidak akan menyelinap ke Dungeon Nugul lagi dengan dalih permintaan itu, kan?"


"Tentu saja tidak!" Hmmpf. Dia selalu saja mencurigaiku berbuat sesuatu yang berlebihan. Sekarang juga aku berani kok masuk ke Dungeon Nugul sendirian. Karena permintaan sialan dari Dewa Aff dan wanita bersayap putih itulah aku jadi harus mencari permintaan terkait desa.


"Kau terlalu berbahaya jika dibiarkan sendirian. Itu sebabnya Clara memintaku untuk terus mangawasimu. Kalau dia tidak memintaku, aku tidak akan datang sewaktu kau bertarung dengan Black Phantom Snake tempo hari."


Haa, yang bener? Jadi selama ini kau mengawasiku karena disuruh oleh resepsionis kelinci itu?


"Jika aku boleh bertanya, siapa sebenarnya Clara itu bagimu?" Aku berprasangka mereka memilki hubungan yang tidak biasa. Karena mereka berdua terlihat cukup dekat, dan aku juga sering melihat Shin pergi dikala malam, dan...


"Dulu kami pernah satu party."


"Heeh!!" Aku terkejut. Jawaban Shin sangat tidak masuk akal di pikiranku. "Clara!? Resepsionis kelinci yang cerewet dan manja itu!? Dia seorang petualang?"


Jika kalian mengenal seorang pegawai minimarket yang cantik dan imut, lalu kalian tahu kalau dia adalah seorang anggota badan intelegen, kemudian dia datang ke rumahmu di malam hari dan menangkapmu atas tuduhan kejahatan. Sereemm.


Tapi kalau kasus Clara yang pernah menjadi seorang petualang, bukankah itu hebat. Kira-kira senjata apa yang dia gunakan, ya? Jadi selama ini dia pernah bertualang bersama dengan Shin. Kalau aku tahu lebih awal, mungkin aku tidak akan seterkejut ini. Karena pandanganku terhadap Clara sudah terbentuk.


Gadis kelinci yang menjadi resepesionis guild petualang di Kota Ciatar dengan gaji kecil, sehingga membuatnya miskin, dan sifatnya yang agak kekanak-kanakan serta ceria.


"Lebih tepatnya mantan petualang. Setelah party kami bubar, para anggotanya berpisah dan pergi ke tempat yang berbeda-beda. Aku, Clara, dan..."


Shin tidak melanjutkan kata-katanya. Tatapannya menjadi kosong dan wajahnya terlihat semakin lesu.


Sepertinya aku tahu apa yang sedang dia pikirkan. Itu pasti salah seorang teman satu party-nya yang berharga, namun sekarang dia sudah pergi.


"Shin... maaf. Tidak perlu diteruskan." Aku menyuruhnya untuk berhenti memikirkan masa lalunya. Karena aku sudah tahu itu pasti kenangan pahit yang tidak ingin dia ingat. Cari topik lain. Cari topik lain Riel!


"H-hei, Shin, bagaimana jika kita mencoba mangambil permintaan lain hari ini. Mungkin menjelajahi hutan akan sedikit menyegarkan suasana. Di sana cukup tenang dan..."


"Tidak apa, Riel. Aku sudah terbiasa." Shin menyelaku yang berusaha mengalihkan perhatian.


Aku mengerti caraku terlihat begitu jelas dan tidak efektif. Namun setidaknya aku sudah berusaha. Maaf Shin, ini salahku.


Kami terus berjalan hingga sampai ke depan bangunan guild. Di depan pintu masuk, kami bertemu dengan Guild Master. Dia terlihat sangat rapih dengan pakaian formalnya, dan wajah tua, seram, konyol itu juga terlihat cocok dengan pakaiannya.


"Ho! Selamat pagi, Riel. Kau terlihat agak lesu hari ini." Paman Guy menyapaku sewaktu berpapasan. Hanya menyapaku.


"Ahaha, tidak kok. Aku sangat bersemangat untuk mengambil permintaan hari ini. Karena aku akan memenangkan kompetisi antar guild petualang nanti!" Aku mengatakan itu dengan semangat yang kubuat. Aku tidak tahu Paman Guy menyadarinya atau tidak.


"Hahaha! Semangatmu hingga menular padaku. Terima kasih, Riel. Kau adalah petualang yang menarik." Paman Guy mengatakan itu dengan nada tinggi seperti biasa. Mungkin suaranya dapat terdengar dari dalam guild.


"Ngomong-ngomong, Paman ingin pergi kemana? Pakaianmu terlihat terlalu muda dan mewah untuk dipakai."


"Dasar anak kecil tidak tahu fashion. Aku akan pergi ke jamuan salah satu bangsawan. Tentu saja aku harus berpakaian dengan rapih."


"Hee, aku kira kau tidak pernah mendapatkan undangan yang seperti itu. Dan jangan panggil aku anak kecil!"


"Hahaha! Jangan meremehkan pria tua ini. Aku pergi duluan, aku tidak ingin terlambat datang ke sana." Sembari mengatakan itu, Paman Guy berjalan pergi menuju distrik bangsawan.


"Hati-hati di jalan." Aku melambaikan tangan kepada Paman Guy yang semakin jauh dari kami.


Ah! Aku baru teringat. Ada Shin disini, dan sejak tadi dia menunggu kami sibuk berbicara satu sama lain.


Begitu menengok, aku mendapati wajah Shin yang menjadi sangat sinis menatapku.


Maaf Shin, aku tahu kau pernah melarangku untuk akrab dengan pria tua itu. Tapi dia tetaplah seorang Guild Master yang harus aku hormati. Aku hanya memasang senyum tidak bersalahku seperti biasa.

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di dalam guild setelah perjalanan yang terasa panjang ini. Aku langsung pergi menuju bagian tengah guild, dan mencari-cari permintaan yang berkaitan dengan desa. Karena permintaan kemarin bisa dibilang gagal untukku, perintah dari Dewa Aff itu tidak memiliki batas waktu kan?


Aku melihat suatu permintaan yang menarik, lalu mengambilnya. Aku menemui Shin dan kami berdua langsung mengantri menuju bagian resepsionis. Kami selalu mengambil antrian menuju meja Clara.


"Kalian berdua, selamat pagi!" Clara menyapa kami dengan penuh semangat.


"Pagi juga Clara!" Aku membalas sapaannya.


"Ada apa denganmu, Riel? Apa kau sedang tidak enak badan?" Clara bertanya dan menatapku dengan khawatir.


"Eh? Tidak kok. Semalam memang cukup dingin, tapi aku baik-baik saja seperti biasanya." Aku mencoba membuat diriku tampak seperti itu. Kuharap kekhawatiran Clara dapat sirna.


"Syukurlah kalau begitu. Memang benar sih, tadi malam memang sangat dingin. Bahkan satu selimut masih belum cukup untuk membuatku tetap hangat."


Kau enak masih bisa menggunakan selimut, Clara. Aku pakai karpet. Karpet! Karpet yang gatal dan tidak bisa membuatku tetap hangat!


"Lalu, hari ini kau ingin mengambil permintaan apa?"


"Kami akan mengambil permintaan ini." Aku menunjukkan kertas permintaan yang aku ambil dari papan pengumuman.


[Permintaan


Peringkat: C


"Seekor binatang buas mengancam para ternak kami. Tolong bantu kami memburu binatang itu agar tidak ada ternak kami yang menjadi korban."


Lokasi: Desa Arin


klien: Reinald


Imbalan: 25.000 Nira


Tenggat: Secepatnya, sebelum terjadi sesuatu yang buruk pada ternak kami]


Imbalan ini lebih besar dibandingkan dengan yang kemarin. Yaah, kemarin itu tidak terduga juga sih kalau kami bisa mendapatkan uang yang berkali-kali lipat. Itu semua berkat kerja keras Shin. Lalu uangnya akan dipakai untuk membayar senjata pesananku. Sungguh lelaki yang sangat idaman.


"Kau ingin mengambil permintaan ini, Riel?" Clara mengkonfirmasi permintaan yang kupilih.


"Yap."


"Baiklah. Tapi..." Sebelum menyilahkan kami berangkat, Clara memperhatikan Shin yang terlihat tidak baik kondisinya.


"Hei, Shin. Apakah kau ingin beristirahat dulu hari ini? Kau benar-benar terlihat lebih buruk dari biasanya."


"Ah! Eh, bukan begitu maksudku. Aku menyarankan Shin untuk beristirahat dulu hari ini. Jika tidak, kondisimu bisa jauh lebih buruk dan kau bisa terkena demam." Clara terus mendesak Shin agar tidak ikut denganku. Kepeduliannya benar-benar membuatku curiga.


"Tapi, bagaimana dengan Riel?" Shin melempar pandangan padaku.


"Aku? Fwahaha! Kau mengkhawatirkanku? Bukankah kau pernah menyaksikan pertarunganku dengan ular hitam besar itu di dalam dungeon. Binatang liar dari hutan bukanlah halangan besar bagiku. Apalagi aku akan memburunya bersama para penduduk desa. Jadi tidak perlu khawatir."


Aku memberi penjelasan panjang lebar agar Shin dapat percaya denganku. Tapi daripada dibilang Shin yang tidak percaya, justru Clara lah yang lebih tepatnya tidak ingin aku pergi sendiri.


"Aku bisa, kok. Ada penduduk desa yang akan berburu bersamaku, jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah, kau boleh mengambil permintaan itu sendiri. Meskipun permintaan peringkat C tidak boleh diambil sendiri oleh level 2, tapi aku yakin kau akan baik-baik saja jika bersama para penduduk desa." Clara menyetujuinya dengan sedikit khawatir.


"Tapi aku mohon, kembalilah dengan selamat. Jika tidak, Paman Guy akan memecatku dari guild ini." Ucap Clara dengan sedih yang dibuat seketika.


"Iya, iya. Serahkan padaku."


Aku melihat ke Shin. Kondisinya terlihat lebih buruk dibanding tadi pagi. Aku jadi semakin merasa bersalah. Pantas saja dia mengganti hukumanku dengan tidur di luar, agar dia bisa beristirahat di kasur dengan selimut. Itupun belum cukup membuatnya baikan.


"Apa kau yakin?" Tanya Shin meragukanku.


"Ya! Istirahatlah yang cukup di penginapan, Shin. Sampai jumpa." Aku berlari pergi meninggalkan mereka.


"Hati-hati disana, jangan paksakan dirimu terlalu jauh." Ucap Clara dari tempatnya.


Baiklah, on the way Desa Arin!


***


Aku sampai di Desa Arin tidak lebih dari setengah jam perjalanan. Kalian ingin tahu aku naik apa?


Kereta!


Ada kereta api di dunia ini! Atau mungkin lebih tepatnya kereta sihir, karena bahan bakarnya menggunakan batu sihir yang di jatuhkan oleh sebagian besar monster. Pantas saja penjelajahan dungeon merupakan pekerjaan yang cukup menjanjikan.


Harga tiketnya cukup mahal, yaitu 10.000 Nira untuk setiap perjalanan antar kota. Ya, sebenarnya kereta ini melakukan perjalanan menuju Kota Deedale, tapi aku melompat dari kereta sewaktu di pertengahan perjalanan. Karena kereta itu berjalan tidak terlalu cepat seperti kereta listrik di duniaku, jadi aku dapat turun dan mendarat tanpa bahaya besar.


Tentu saja aku diteriaki oleh petugas kereta. Yang penting aku sudah membayar tiketnya, dan tidak akan ada berita-berita aneh tentang kejadian random seperti di duniaku dulu. 'Seorang gadis melompat dari kereta yang sedang berjalan dan masih hidup.' Haha.


Aku mendapatkan informasi ini dari orang asing di sekitar stasiun. Saat itu aku bertanya padanya tentang kereta ini, lalu dia menjelaskan secara singkat. Kemudian aku bertanya apakah ada rute menuju Desa Arin. Orang itu menjawab, rute menuju Kota Deedale akan melewati sekitar desa tersebut.


Tentu saja aku mendapatkan informasi itu dengan sedikit pengorbanan uang. Begitulah cara bertukar informasi di dunia ini.

__ADS_1


Dan begitulah ceritanya hingga aku sampai di Desa Arin yang cukup jauh dengan sangat cepat.


Desa itu sebenarnya sudah terlihat dari kereta sewaktu berjalan, jadi aku tidak akan kebingunan lagi kemana harus mencari.


Seperti yang diberitahu di kertas permintaan, desa ini cukup memiliki banyak peternakan. Ukuran desa ini juga besar karena lebih banyak penduduknya dibandingkan desa yang kemarin. Di sini juga membudidayakan beberapa hasil kebun, mengimbangi dengan peternakannya.


Bisa dibilang suasana di desa ini lebih hidup dibandingkan desa sebelumnya.


Aku berjalan menuju gerbang desa, lalu seorang penduduk setempat yang sepertinya bertugas menjaga gerbang menghentikanku.


"Ada keperluan apa kamu ke desa ini, gadis kecil?"


"Aku bukan gadis kecil!!"


"He?"


Sewaktu penjaga gerbang itu bertanya padaku, aku kira dia akan memanggilku nona petualang. Malahan dia juga memanggilku dengan sebutan gadis kecil!? Padahal tinggi tubuhku ini sudah cukup normal di duniaku. Lantas aku marah kepadanya.


"Aku adalah seorang petualang yang menerima permintaan untuk memburu binatang buas di desa ini. Memangnya kau tidak bisa melihat kedua senjata yang kubawa di pinggangku?"


Aku mencondongkan tubuhku agak ke depan, lebih tepatnya di bagian pinggang tempat aku meletakkan sebuah pistol bersama sarungnya dan sebuah belati milik Shin di bagian belakang.


"Eeeh, ya. Aku tidak tahu itu jenis senjata apa. Tapi bukankah kami mengirim permintaan dengan peringkat C, lalu kenapa yang datang hanya seorang gadis kecil sendirian?" Penjaga gerbang itu kembali berkomentar.


Dasar, orang ini benar-benar perlu diajari oleh pistolku. Tenanglah Riel, kau bisa merusak citra seorang petualang jika melakukan hal-hal yang diluar batas. Yang perlu kau lakukan hanyalah memberi kepercayaan pada orang-orang terlebih dahulu. Baiklah,


"Ya, kau benar om. Aku memang gadis kecil yang datang sendirian untuk mengambil permintaan ini." Aku menjawabnya dengan nada senang dan bahagia.


"Yaa, jika kau sudah tau posisimu maka kembalilah ke guild dan pajang permintaan itu kembali." Dia mengusirku dengan mengepakkan telapak tangannya.


"Tenang saja om, aku sadar diri kok. Aku pernah mengalahkan Black Phantom Snake seorang diri di dalam dungeon. Jadi menurutku binatang liar dan buas di hutan itu bukanlah apa-apa." Sekali lagi aku membalas perkataannya dengan ceria.


Penjaga gerbang itu tiba-tiba jatuh berlutut.


"Heh, kau tidak apa-apa?" Tanyaku.


"Tidak mungkin..." Penjaga gerbang itu bergumam.


"Hmm?"


"Tidak mungkin berita itu benar. Orang itu ada di depanku saat ini. Gadis petualang yang mengalahkan monster kuat sendirian dan naik level di hari pertamanya." Dia terus berbicara sendiri sambil menatap ke tanah.


Kau benar kok, berita itu bukan hoax dan aku sedang berdiri di depanmu saat ini. Memangnya ada yang spesial kah dari berita itu?


Penjaga itu tiba-tiba menerjang kedua tanganku dan menatapku dengan setengah menangis. Dia terlihat seperti sedang memohon dengan amat sangat.


"Aku mohon. Aku mohon maafkan aku karena telah meremehkanmu tadi. Jadi mohon bantu kami memburu binatang-binatang buas itu yang tinggal di dalam hutan." Air mata mengalir dari kedua matanya, kedua lubang hidungnya, dan juga mulutnya.


Apa-apaan ini!? Jangan biarkan air itu mengalir hingga ke tanganku!


"Eh, iya! Baiklah! Aku akan membantu kalian, jadi tolong lepaskan tanganku secepatnya."


Begitu tangannya melepaskanku, dia berganti posisi menjadi bersujud.


"Aku mohon bantuannya."


Huawawawa! Aku belum terbiasa dengan culture shock di sini.


Penjaga gerbang itu membawaku masuk ke desa dan mengarahkanku menuju suatu bangunan besar. Para penduduk desa lainnya memperhatikanku dengan penuh keheranan. Sebagian dari mereka malah terlihat jelas membicarakanku.


"Lihat, lihat ibu! Itukah gadis yang mengalahkan monster ular hitam besar di dalam dungeon?"


"Iya, anakku. Bahkan dia mengalahkannya sendirian lho."


"Kereen. Aku ingin menjadi sepertinya."


Aku sempat mendengar obrolan seorang anak dan ibunya. Anak itu mengatakannya dengan lantang sehingga bisa terdengar olehku.


"Hei, bukankah itu petualang yang kau maksud."


"Dimana? Hah, benar! Itu petualang yang pernah aku ceritakan! Aku tidak bohong, kan."


Para penduduk ternyata cukup ramai membicarakanku. Aku sedang merasakan sensasi menjadi terkenal seperti yang pernah aku rasakan dulu. Sewaktu menjadi pemenang sebuah turnamen maupun kompetisi, banyak sekali yang membicarakanku di media sosial maupun di dalam game. Tapi kali ini sensasinya sedikit berbeda.


"Wah, kau benar-benar terkenal, ya." Penjaga gerbang itu kembali berbicara padaku.


"Be-benarkah?" Aku hanya bisa menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku meski tidak gatal. Aku tidak tahu harus senang atau malu sekarang.


Kami terus berjalan hingga masuk ke dalam sebuah bangunan besar. Bangunan ini bukanlah sebuah rumah meski terlihat demikian dari luar. Begitu masuk, di dalamnya hanya ada sebuah ruangan besar dengan banyak orang yang sedang berkumpul di bagian tengahnya, mengelilingi sebuah meja.


Di atas meja itu terdapat banyak alat-alat seperti tali tambang, tongkat kayu, karung, cambuk, dan beberapa kait yang terbuat dari besi. Om-om yang mengelilingi meja itupun terlihat sangat besar dan menyeramkan, bahkan lebih menakutkan dibanding Paman Guy.


Jumlah mereka sekitar enam orang, delapan jika ditambah dengan kami. Kemudian salah satu om-om yang duduk disana menyeringai kepadaku.


"Wah, wah. Siapa sangka kita akan kedatangan seorang gadis tepat pada waktunya."

__ADS_1


__ADS_2