
"Apa markas mereka masih jauh?" Tanyaku dengan pelan.
"Ssstt! Kita sudah dekat." Clem kembali berjalan perlahan di balik bayangan pepohonan.
Sudah hampir 1 jam lamanya kami berjalan di hutan ini. Selama itu, di sekitar kami hanyalah sebatang pohon dan pohon lagi. Suara serangga malam menemani kami selama perjalanan, setidaknya itu dapat membuat perhatianku teralihkan dari hal lain.
Momo berada tak jauh di belakangku. Dia nampak tidak lelah sama sekali meski sudah berjalan sangat jauh. Dia pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan teman-temannya kembali.
Langit sudah menjadi gelap gulita. Mungkin jika di duniaku sekarang sekitar jam 7 malam, karena saat kami berangkat masih terlihat cahaya matahari di sekitar.
"Kita sudah hampir sampai. Siapkan sihirmu, Momo." Clem berbisik.
"Baik." Jawab Momo.
Aku juga turut menyiapkan senjataku. Pistol di tangan kananku dan belati di tangan kiriku. Untuk sekarang aku akan lebih mementingkan akurasi dan presisi ketimbang intensitas dan kuantitas.
Tugas kita adalah menyusup masuk dan mengalahkan bandit itu secepat mungkin, bukan sebanyak mungkin. Kita harus berpacu dengan waktu sebelum ada dari mereka yang menemukan kami.
Clem berhenti berjalan. Seharusnya kami sudah sampai di markas mereka sekarang.
Bam!
"Sial!" Teriak Clem.
Sebuah suar meledak di atas kami. Cahaya yang dibuatnya amat sangat terang dan membuatku kesulitan untuk melihat.
"Suar! Kita ketahuan!"
Kepalaku menjadi pusing dan sakit akibat cahaya itu. Ledakan tadi seperti efek yang diakibatkan oleh Flashbang.
"Mereka di sana!"
"Kejar dan tangkap mereka! Jangan biarkan mereka kabur!"
"Tangkap mereka!"
Sial, mereka akan mengejar kami!
Akibat cahaya itu aku dapat melihat dengan jelas para bandit yang berada di depan sana. Mereka membawa persenjataan lengkap dan tengah berlari ke arah kami.
"Larilah, Riel, Momo! Masuk kembali ke dalam hutan!"
Kami bertiga bergegas berlari dari kejaran para bandit. Jalan yang kami lalui terlalu sulit untuk digunakan berlari. Akar-akar dari pohon dan juga semak belukar menghalangi kami untuk bergerak.
"Kita lumpuhkan mereka satu-persatu sembari berlari! Aku yakin kelompok pria sedang bergerak untuk menyelamatkan kita!" Clem langsung merapalkan sihirnya dan mengarahkannya kepada rombongan bandit.
Momo juga ikut berhenti dan mulai merapal.
"Riel, lindungi kami!" Ucap Clem.
"Baik!"
Aku menyiapkan senjataku dan mengarahkan kepada para bandit. Cahaya akibat suar tadi masih membantu penglihatanku untuk membidik mereka.
Dor! Dor! Dor!
Semua tembakanku meleset dari target. Para bandit itu bergerak lincah di antara pepohonan untuk menghindari peluruku.
Siaall!!
Dor! Dor! Dor! Dor!
Quick Change.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Aku tidak tahu tembakanku yang menjadi buruk, atau para bandit itu memang sangat hebat. Sejak tadi satupun peluruku tidak ada yang mengenai mereka.
"Menyingkir, Riel!" Clem berteriak.
Dor! Dor! Dor!
Setelah menghabiskan semua peluruku, aku langsung berlari ke belakang mereka sambil mengganti magazine.
"Shock Bolt!"
"Wind Cutter!"
Sambaran petir meledak dari balik tangan Momo, dan diikuti oleh tebasan-tebasan angin milik Clem.
"Ghyaaaaa!!"
Beberapa bandit berhasil dilumpuhkan akibat serangan sihir Momo. Lalu serangan dari Clem memotong pohon-pohon dan menghalangi pergerakan mereka untuk mengejar kami.
"Ada penyihir dan pengguna pistol di antara mereka! Sergap mereka dari semua arah!"
"Terus berlari! Aku belum bisa menemukan kelompok kita yang lain!"
Kami kembali berlari menyusuri hutan dan sesekali aku menembakkan pistol ke arah mereka. Pistol baru ini sangat bertenaga tapi hentakan akibat tembakannya mengurangi akurasi pelurunya.
Jleb! Jleb! Jleb!
"Awas!" Teriakku.
Beberapa anak panah menancap di pohon. Para bandit itu mengusahakan segala cara agar bisa menangkap kami.
Clem dan Momo bersembunyi di balik pohon untuk berlindung dari tembakan berikutnya.
Jleb! Jleb!
"Waaa!!"
Aku juga ikut berlindung setelah salah satu panah menancap di depan mataku.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanyaku.
"Riel, pergilah cari kelompok kita yang lainnya." Clem mulai merapalkan mantra. "Aku akan menahan mereka sebisaku. Cepat!"
"Tapi, tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian!"
"Tidak ada waktu lagi. Kita harus bersiap untuk segala kondisi terburuk, dan itulah kenapa kami berani untuk melakukan pekerjaan ini!"
Tidak mungkin. Yang benar saja aku harus meninggalkan dia sendirian. Seorang Sorcerer jelas tidak akan mampu menahan para bandit itu sendirian.
"Percayalah padaku." Clem kembali meyakinkanku.
Jleb! Jleb!
Beberapa anak panah kembali menghujani area sikitar kami.
__ADS_1
"Baik! Serahkan saja padaku!" Aku berhasil meyakinkan diriku.
"Aku akan membantu Clem." Ucap Momo.
"Tolong ya, Momo. Aku akan segera kembali." Setelah itu aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku berlari menyusuri hutan untuk menemukan kelompok pria yang berangkat lebih dulu dari kami. Jadi aku mencoba memutari tempat mereka berdua yang menjadi pengalih perhatian, agar aku bisa menuju tempat para pria.
"Wind Cutter!"
"Lightning Spear!"
Aku masih dapat mendengarkan mereka melepaskan sihirnya. Suara sambaran petir kembali terdengar bersama beberapa pohon yang tumbang. Aku yakin dua orang Sorcerer itu mampu menahan para bandit dalam waktu yang agak lama.
Tanah di depanku mulai tercampur dengan akar-akar pohon yang besar. Aku harus tetap fokus ke arahku menapak agar tidak tersandung akibat akar-akar itu. Aku tidak boleh sampai tertangkap dan membuat usaha mereka berdua sia-sia.
"Siapa di sana?"
Gawat!!
Ternyata di depanku ada beberapa bandit, dan mereka menyadari keberadaanku.
"Apa kau melihat sesuatu?" Tanya salah seorang bandit.
"Aku mendengar sesuatu dari arah hutan, tapi para penyusup itu seharusnya berada di sana 'kan."
"Ya sudah. Ayo cepat kita ke sana dan segera menangkap mereka."
Mereka berdua tidak menyadari keberadaanku. Pilihanku sekarang adalah tetap lanjut tanpa sepengetahuan mereka, atau menumbangkan dia bandit itu selagi mereka tidak fokus.
Di depan sana ternyata bukanlah markas bandit seperti yang aku kira, lebih tepatnya seperti kemah atau pos untuk menjaga wilayah mereka. Aku yakin akan ada lebih banyak bandit di dalam sana.
Jika aku kembali bergerak, aku dapat lebih cepat menemukan kelompok pria dan kembali untuk membantu Momo dan Clem. Namun jika aku menumbangkan mereka, aku dapat membantu Momo dan Clem untuk mengurangi jumlah yang harus mereka tahan.
Baiklah, hanya dua orang saja sih. Dalam jarak sedekat ini dua peluruku sudah cukup untuk mengatasi mereka dengan sekejap. Aku mengambil kedua pistolku dan menyiapkan posisi untuk serangan kilat.
Piercing Shot.
Aku melompat dan mengarahkan moncong pistolku ke arah mereka.
Dor! Dor!
Kedua bandit itu tumbang tanpa sempat berbicara sepatah kata.
"Ada suara tembakan dari sana!"
"Semuanya, cepat ke sana!"
Oh, tidak. Aku lupa kalau pistolku tidak memiliki peredam suara.
"Itu dia! Kejar!"
Gawat, sekarang malah aku yang menjadi umpan untuk mereka.
Aku tidak bisa masuk ke hutan lagi, karena itu akan membuatku kesulitan bergerak dan membuat mereka lebih cepat menangkapku. Kalau sudah begini tidak ada pilihan lain selain menghabisi mereka dengan cepat.
Dzing! Dzing! Dzing!
Beberapa bandit menembakkan panahnya ke arahku. Karena di sekitarku terdapat banyak pohon, aku langsung berlindung di baliknya dari anak panah itu.
"Dia bersembunyi di balik pohon itu! Cepat kejar sebelum dia pergi jauh ke dalam hutan!"
Lima orang bandit mengejarku hingga memasuki hutan. Pemanah tadi berjumlah tiga orang dan masih berada jauh di depanku. Aku seharusnya mengatasi duluan para pemanah itu, karena sangat berbahaya jika mereka menembakkan panahnya lagi.
"Dimana dia?"
"Hati-hati, dia bisa melakukan serangan dengan sangat cepat."
Kelima bandit itu mulai mencariku ke dalam hutan. Tapi maaf saja ya, aku sudah duluan bergerak dan berada di dekat para pemanah itu sekarang.
Mereka bertiga berdiri dibalik beberapa kotak kayu besar. Aku bisa menggunakan kotak itu untuk menggocek mereka sewaktu melakukan serangan jarak dekat.
Sementara itu para bandit yang mengejarku masih terus masuk ke dalam hutan. Biarkan saja mereka datang belakangan agar aku tidak mengurus terlalu banyak orang.
Aku mengganti peluru pistolku dan menyimpan salah satunya untuk diganti dengan belati. Para pemanah itu masih fokus ke tempatku semula tanpa menyadari aku sudah berada di samping mereka.
Baiklah, apa teknik melempar pisauku masih menjadi yang terbaik seperti di game sebelumnya?
Aku melempar belatinya dan langsung maju ke arah mereka bertiga.
Jleb!
Lemparanku tepat mengenai bahu kanan salah satu dari mereka.
Dor! Dor!
Buk! Dor!
Aku langsung menembaki mereka sambil menggunakan beberapa tendangan untuk menyerang. Setelah itu, aku mengambil satu belati lagi dan menahan serangan pemanah yang menggunakan busurnya untuk menghalangiku.
Dor! Dor!
Kau tidak bisa menembak sambil menahan serangan musuh, 'kan? Sayangnya pistolku bisa.
Tiga orang sudah kutumbangkan, lalu datang lagi beberapa bandit dari arah belakang. Mereka bukan orang yang mengejarku masuk ke dalam hutan, mereka berasal dari arah Momo dan Clem berada.
Jleb!
Lambat. Aku dengan cepat melempar belati ke salah satu dari mereka.
"Quick Change!" Aku kembali menggunakan kedua pistolku dan mulai menembak.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor! Dor!
"Berlindung!"
Mereka mencoba mencari perlindungan dari peluru-peluruku, tapi satu dari mereka terkena peluruku sebelum sempat bergerak lebih jauh. Satu orang tumbang, sisa dua yang masih bersembunyi dibalik kotak kayu dan tenda mereka.
Piercing Shot.
Aku berlari ke arah mereka sambil berjinjit agar meminimalisir suara langkahku. Setelah itu aku melakukan sliding dan menemukan mereka berdua masih bersembunyi di sana.
Dor! Dor!
Tang!
__ADS_1
Salah satu bandit berhasil menangkis peluruku dengan pedangnya.
"Hyaaa!!"
Buk! Buk! Bak!
Aku memutar tubuhku seperti melakukan gerakan break dance, tapi bertujuan untuk menyerang musuh. Singkatnya seperti gerakan capoeira.
Bandit itu terhuyung akibat terkena seranganku. Setelah aku bergerak mendekatinya...
"Point Blank."
DOR!
Satu lagi berhasi kutumbangkan.
Total delapan bandit yang berhasil aku tumbangkan, dan lima dari mereka masih berada di dalam hutan.
"Riel!" Seseorang berteriak memanggilku.
Saat aku menengok, aku melihat Clem sedang berlari dari balik pepohonan. Aku melambaikan tangannya agar dia tidak ragu untuk menghampiriku.
Tunggu, dimana Momo?
Jleb!
"Kyaaa!!"
Sebuah panah menancap di paha kananku, dan membuatku jatuh tersungkur di tanah akibat kehilangan tenaga untuk berdiri.
"Riel, kau tidak apa-apa? Astaga, kau dapat membunuh bandit sebanyak itu sendirian? Betapa hebatnya kau ini."
Apa yang dia katakan? Aku terpanah oleh seseorang!
"Ada pemanah di sekitar sini. Hati-hati, Clem!"
"Pemanah? Oh, itu adalah Hugo. Dia salah satu teman kelompokku."
Tunggu, teman kelompoknya? Maksudmu petualang lelaki dengan crossbow itu?
"Wah, wah, aku sangat ketakutan melihatmu membantai mereka semua dengan sangat cepat. Si perisai besar itu bahkan tidak berani keluar sebelum aku melumpuhkanmu." Seseorang datang lagi dari balik pepohonan. Itu adalah lelaki dengan crossbow yang aku maksud. Diakah yang menembakku?
"Apa maksudnya ini? Dimana Momo?"
"Momo? Kami sudah memberikan mereka ke para bandit." Jawab Clem dengan nada ceria seperti biasanya.
"Menyerahkannya kepada bandit? Apa maksudmu?"
"Kau masuk kedalam jebakan kami, Riel. Kami bekerja sama dengan para bandit itu untuk menculik gadis-gadis di kota, lalu kami akan diberi hadiah sesuai jumlah dan kualitasnya. Menguntungkan, bukan?" Jelas si tombak ceking.
Apa-apaan ini? Aku dijebak oleh mereka? Aku ditipu untuk bekerja sama menyerbu markas bandit, dan malah masuk ke dalam rencana mereka?
Mereka menyamar menjadi kelompok petualang, padahal mereka menculik para gadis di kota untuk para bandit.
Tidak, ini tidak sesuai dengan rencanaku. Apa yang akan mereka lakukan padaku sekarang?
"Nah, akhirnya tertangkap juga kau. Aku tidak menyangka gadis ini telah membunuh teman-temanku dengan sangat mudah." Beberapa bandit menghampiri kami. Mereka adalah lima orang yang mengejarku hingga masuk ke dalam hutan.
"Oh, bagaimana ini, tuan bandit. Kau mengalami banyak kerugian karena orang-orangmu mati, apa transaksi kita masih bisa berjalan?" Tanya Hugo.
"Tenang saja. Tangkapan kalian adalah seorang gadis kucing penyihir dan gadis manusia yang hebat. Mereka pasti akan sangat mahal jika dijual."
Dijual?
Aku dan Momo akan dijual oleh mereka?
Tidak, ini tidak boleh terjadi padaku. Aku harus segera pergi dari tempat ini.
"Gyaaaa!!"
Clem mencabut panah yang menusuk pahaku dengan kasar. Darah mengucur keluar dari luka bekas panah di pahaku.
"Selamat ya, Riel. Ternyata hargamu akan sangat tinggi di pasaran." Bisik Clem.
Kurang ajar kau... Bersikap manis di depan hanya untuk menipu dan menjual kami ke para bandit. Aakkhh... bekas panah ini terasa sangat sakit.
"Ini bayaran kalian, dua juta Nira." Bandit itu menyerahkan dua kantung uang kepada Hugo, dan dia menerimanya dengan sangat bahagia.
"Tunggu, ini tidak sesuai dengan perjanjiannya?"
"Tentu saja ada kompensasi untuk orang-orangku yang gugur. Lain kali kalian harus cepat serahkan tangkapannya tanpa perlu drama seperti itu lagi."
"Yaa, mau bagaimana lagi. Menangkap mangsa yang langka perlu perjuangan lebih."
"Masa bodo. Sekarang pergilah dan cari lagi yang selanjutnya."
"Baiklah." Hugo menyerahkan kantong uangnya kepada yang lain untuk dibawa. Mereka mulai pergi meninggalkanku bersama para bandit di sini.
"Sampai jumpa, Riel. Semoga kau dapat pembeli yang kaya raya." Clem melambai padaku.
Mereka semua sudah pergi dan meninggalkanku bersama para bandit ini.
Tidak, aku mohon jangan tinggalkan aku. Apa yang akan para bandit ini lakukan padaku? Aku takut mereka melakukan sesuatu yang jahat kepadaku.
"Nah, mari kita lihat tangkapannya."
Hii!!
Bandit itu mencengkram leherku dan mendekatkan wajahku padanya. Sakin dekatnya nafas bau dari mulutnya sangat tercium dan menyiksa hidungku
"Aku mohon, lepaskan aku..."
"HAA!!"
Buk!
"Gaakkh!!"
"Kau cukup diam saja dan ikut kami ke markas. Dalam waktu dekat kami akan mengirimmu menuju kerajaan lain untuk dijual. HAHAHA!!!"
Tidak, seseorang tolong aku.
Shin, dimana kau? Aku minta maaf karena tidak menuruti perkataanmu.
Clara, tolong selamatkan aku. Aku takut diperlakukan jahat oleh mereka. Siapapun, tolong aku.
Kakak...
Buk!
__ADS_1