Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 27: Kabur dari Penjara


__ADS_3

Klik, klik, klik!


"Mmm!!"


Klik, klik!


Aku sedang fokus untuk membuka kunci gembok penjara dengan kawat. Tidak penting dari mana kawat ini berasal, yang penting bentuk dan ukurannya sudah cukup untuk masuk ke dalam lubang kunci.


Momo dan Mika memperhatikan dengan serius di belakangku. Entah apa yang mereka pikirkan, selama itu tidak menganggapku sebagai tukang bobol.


Klak!


"Sip!"


"Woaa!!" Mereka berdua bertepuk tangan. Merasa kagum dengan teknik biasa ini? Dasar.


"Ingat, kita akan jalankan semuanya sesuai rencana." Ucapku dengan pelan.


"Baik!" Jawab mereka.


Perlahan kubuka pintu penjara yang suaranya menderit kasar. Semakin perlahan aku membukanya, suaranya malah terdengar semakin berisik. Oraaa, ayo cepaaaat!


Saat sudah setengah terbuka, terdengar suara pintu dari ujung ruangan. Suaranya keras seperti bantingan pintu yang kudengar terakhir kali. Gawat, ada seorang bandit yang masuk ke sini!


Begitu bandit tersebut berjalan di depan ruangan penjara kami, pintu jerujinya sudah kembali seperti semula dan kami bertiga sedang dalam posisi masing-masing. Momo duduk di pojokkan, aku tiduran di lantai, dan Mika menangis sambil memegang jeruji.


"Aku mohon... lepaskan aku..."


"Cih! Rupanya kau yang berisik!" Bandit itu terkecoh, lalu dia kembali lagi meninggalkan ruangan.


Beruntung dia tidak memeriksa gemboknya yang sudah aku bobol. Bagus, Mika! Aktingmu memang luar biasa!


Brak!


Suara bantingan pintu terdengar lagi. Seharusnya dia akan mengira kalau suara berisik lainnya hanya akan berasal dari Mika yang cengeng, jadi kami dapat leluasa untuk maju ke depan.


Aku beranjak bangun, lalu kembali berdiri di balik pintu. Sekali lagi aku mencoba membuka pintu secepat mungkin. Alhasil, suara yang dihasilkan malah tidak terlalu berisik.


"Ayo Momo, Mika." Panggilku.


Kami bertiga keluar dari pintu jeruji dengan perlahan. Setelah itu kami berjalan menyusuri lorong penjara bawah tanah menuju pintu keluar. Sepertinya di luar sudah pagi, ruangan ini terlihat lebih terang dari sebelumnya.


"Kamu!" Seseorang memanggillku dari balik jeruji penjara lainnya. "Aku mohon lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Lepaskan aku juga!"


"Tolong aku!"


"Tahan dulu! Jika berisik nanti bandit lainnya akan mendengar." Kalian benar-benar tidak tahu situasi, ya. Sabar! Aku pasti akan kembali untuk menyelamatkan kalian juga.


Brak!


Pintu di ujung ruangan terbanting lagi. Bandit yang tadi kini datang kembali dan membawa temannya. Dia memegang gada di salah satu tangannya, dan memasang wajah tidak senang.


"BERISIK! KAU MENGGANGGU KAMI BERMAIN KARTU!"


Heh?


Bandit itu datang ke penjara kami lagi. Untuk menghindari ketahuan, kami sudah berada dalam posisi masing-masing sesuai rencana. Momo di pojokkan, aku tiduran, dan Mika memegang jeruji besi.


Salah satu bandit itu meraih kerah baju Mika dan menariknya dengan kasar. Karena dia ada di balik penjara, wajahnya sampai dibuat beradu dengan jeruji besi.


Mika mengaduh kesakitan. Wajahnya terbentur dengan cukup kuat, dan sekarang dia berhadapan dekat dengan wajah bandit tersebut.


"Kau ini memang perlu diberi pelajaran. Baiklah, setidaknya jika ingin berisik, mari kita bermain dengan berisik."


Bandit itu melepaskan cengkramannya, lalu berjalan masuk ke dalam penjara. Anehnya dia sama sekali tidak peduli atau menyadari kalau pintunya tidak terkunci.


"Ikut aku!" Dia menarik tangan Mika dan menyeretnya keluar.


"Tidak! Aku mohon jangan! Aku mohon jangan bawa aku!" Mika terus memberontak. Dia mencoba menggenggam apapun agar bisa bertahan dari tarikannya, tapi tentu saja tenaga bandit itu jauh lebih besar.


"Jangan lukai dia!" Teriakku. Setidaknya aku mencoba untuk membuat sandiwara ini berjalan dengan lancar.


"Tenang saja, dia akan aku kembalikan dengan sedikit luka. Hahaha!"


"Tidak! Tolong aku, Riel!"


Selamat berjuang Mika. Semoga kau dapat menahan mereka sebelum kebenaran sesungguhnya terungkap. Aku pasti akan datang menyelamatkanmu segera.


"Toloong!"


Brak!


Pintu ujung ruangan kembali terbanting untuk yang kesekian kalinya. Sekarang menyisakan satu bandit yang masih berdiri di depan kami. Aku masih belum tahu apa yang akan dia lakukan. Diam di sana untuk mengawasi kami, atau mungkin yang lainnya.


"Siapa namamu, gadis kecil?" Tanya bandit itu. Mendadak jadi perhatian gini, tidak apa.


Gadis kecil, ya. 


Niatnya aku hanya ingin melakukan sesuatu sediiikit saja. Tapi sepertinya di tambah sedikit lagi akan lebih menarik.


"Ee... Putri." Jawabku dengan nada ketakutan.


"Putri? Apa kau sedang bermain putri dan pangeran bersama seseorang?"

__ADS_1


"Ti-tidak. Itu memang namaku."


"Kalau begitu, bagaimana jika aku yang menjadi pangerannya." Dengan percaya diri, dia mengatakan itu. "Datanglah kepadaku, putri yang cantik."


Terima kasih atas pujiannya, tapi aku hanya sedang melakukan sandiwara untuk memancingmu mendekat.


Bandit itu berjalan masuk ke dalam penjara yang masih terbuka. Wajahnya sangat tidak enak untuk dilihat. Lebih mirip seperti hewan yang sedang berada dalam musim kawin.


Aku mundur selangkah dan memasang wajah ketakutan, sedangkan bandit itu terus melangkah mendekat ke arahku. Kedua tangannya sudah bergerak-gerak gatal untuk memegangku.


"Jangan marah, ya." Ucapnya dengan pelan.


Saat posisinya sudah pas, aku melayangkan tendangan berputar dengan cepat ke arahnya.


Buk!


"Hah!" Bandit itu menangkap kakiku?


"Kau kira aku akan tertipu...!"


"Lightning Cutter!"


Momo bergerak dengan lincah melewatiku, dan menusukkan tangannya yang terbaluti oleh listrik berbentuk pisau ke arah tubuh bandit.


Bzzzzttt!!!


Jadi ceritanya aku akan mamancing si bandit untuk mendekatiku, lalu menyerangnya dengan mendadak agar dia lengah. Selama itu aku yakin dapat memberi waktu bagi Momo untuk merapalkan mantranya. Kemudian aku berpikir bandit itu akan menghindari seranganku, lalu lengah sebentar, tapi...


"TUNGGU MOMO!"


Setelah itu aku yakin kalian tahu apa yang terjadi.


Bandit itu tidak lumpuh total karena serangan langsung di tubunya. Lalu tangannya yang masih menggenggam kakiku mengaliri sebagian, tidak, seluruh listriknya menyambar tubuhku.


Aku tergeletak di lantai dengan tubuh kejang-kejang.


Kondisiku jauh lebih mending daripada bandit itu. Rasanya seperti memegang besi di dalam kabel stop kontak sewaktu kau membukanya, tapi ujungnya masih terhubung dengan colokan di tembok.


Ahh, nostalgia sewaktu suka membongkar alat-alat elektronik komputer lama. Meski semuanya sudah disembunyikan oleh kakakku agar tidak bisa kumainkan lagi, aku masih tertarik dengan mereka semua.


Tunggu, aku jadi berkhayal yang aneh-aneh sekarang.


"Kak Rieeell, jangan tinggalkan akuu!! Aku tidak sengaja melakukan ituu!" Momo menggoncang tubuhku terus-menerus.


Tenang saja, aku masih belum sepenuhnya matang. Kita harus cepat pergi dari sini, lalu menyelamatkan tuan putri kita yang dibawa oleh bandit.


***


"Aku akan menyelamatkan kalian setelah mengurus para bandit itu. Jadi tetap diam dan tenang di sini. Paham."


"Kami paham."


"Berhati-hatilah, siapapun kau." Kata salah seorang dari mereka.


Padahal sudah kukatakan namaku, "Riel." 


"Semoga beruntung, Nona Riel."


Itu baru membuatku semangat.


Aku sekarang berdiri di depan pintu yang selalu terbanting ini. Dalam hatinya pasti dia bertanya apa kesalahannya, sehingga harus selalu dibanting ketika digunakan.


Jawabannya adalah karena kau berat!


Perlu tenaga dua gadis untuk sekadar membuka pintu ini. Beruntungnya tidak ada bunyi derit bising dari engselnya sewaktu membuka pintu. Jadi kami tidak perlu khawatir suara kami bertindak akan terdengar.


Momo menguping daerah sekitar di balik pintu.


"Aman." Ucapnya pelan.


"Baik, kita lanjutkan rencananya."


Kami berdua mulai melangkah keluar dari ruang bawah tanah melalui pintu yang kami buka. Saat keluar dari tempat tersebut, aku langsung dapat mencium udara segar.


Akhirnya aku dapat keluar dari tempat itu sebelum 24 jam. Di tempat kami berdiri sekarang adalah sebuah lorong panjang, yang dindingnya terbuat dari batu dan semen.


Menurutku ini tidak terlihat seperti rumah besar tempat para bandit berkumpul. Tempat ini seperti sebuah benteng tua, yang dijadikan markas oleh mereka. Dari sekilas desain dalam ruangannya aku dapat menyimpulkan demikian.


Di kejauhan aku dapat melihat sebuah jendela yang terhubung dengan dunia luar. Rupanya di luar sudah sangat cerah. Tidurku di dalam penjara ternyata nyenyak juga, ya.


"Aku bisa mendengar suara Mika di arah sana." Momo memberi petunjuk dengan jarinya. "Apa kita akan menyelamatkannya?"


"Sejujurnya aku tidak ingin mengganggu mereka." Timpalku.


"..."


"Tentu saja, ayo kita selamatkan Mika."


Momo berjalan menuju sebuah ruangan di depan kami, dan aku mengikutinya dari belakang. 


Tubuh kecilnya mampu meminimalisir suara yang dihasilkan dari setiap langkahnya. Kalau aku, harus menggunakan teknik tertentu agar jalanku tidak menghasilkan suara yang berisik di dalam ruangan.


Dari beberapa pintu di depan kami, Momo berhenti di depan sebuah ruangan. Pintunya terbuat dari besi dan sedikit terbuka dari dalam. 


Kami berdiri di dekat pintu itu, dan Momo kembali berusaha menguping suara yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


"Dua orang." Ucap Momo.


"Itu adalah tuan putri kita dan pangerannya." Aku bersiap untuk melakukan serangan dadakan. "Apa ada orang lain lagi di sekitar sini, meskipun itu jauh?" Tanyaku.


"Mereka semua kebanyakan sedang tertidur. kalau yang masih terjaga ada banyak di luar bangunan ini."


Predikisinya benar-benar membuatku kagum. Padahal dia adalah seorang Mage, tapi keahlian hampir seperti assassin. Bisa jadi kemampuannya yang itu merupakan bawaan dari rasnya.


Dari balik pintu ini, aku bisa mendengar sedikit suara Mika yang sedang memberontak. Begitu aku mengintip, bandit itu sedang mengikat seluruh tubuh Mika dengan tali tambang. Heh, fetish bandit itu aneh juga.


"Tolong hentikan... hentikan... hiks, hiks. Sakit..." Mika masih saja cengeng di situasi seperti itu.


"Tenang saja, kau akan kubuat merasakan kenikmatan yang sebenarnya di dunia ini." Bandit itu menarik ikatannya dengan kencang.


"Aaaa!!" Karena terlalu erat, rasanya pasti akan sakit untuk Mika.


"Diamlah sebentar. Kau bisa membuat yang lainnya terbangun." Rupanya bandit ini ingin memakan semuanya sendirian. Sangat egois.


"Kenapa kau tidak sumpal saja mulutnya?" Aku memberi sebuah saran.


"Ah! Kau benar! Kalau begitu, ambilkan alat yang ada di dalam lemari di..." Bandit itu menunjuk ke sebuah arah di belakangku. Tapi begitu melihatku, dia mendadak berhenti mengatakan letak alat tersebut.


Bzzzztttt!!


"Lightning Cutter!"


"Tunggu dulu, Momo!"


Terlambat. Tangan Momo sudah menusuk perut si bandit, yang mana tangan bandit itu masih memegang Mika.


"AAAAaaaaa!!!!"


Aroma terbakar tercium dari mereka berdua. Bandit itu langsung tumbang begitu terkena serangan telak dari Momo. Sedangkan Mika terpanggang setengah matang seperti makanan yang diikat.


"Ups. Aku terburu-buru lagi."


Meski sudah terpanggang, hebatnya Mika masih tersadar dan kuat untuk berbicara.


"Tolong... lepaskan... tali ini..."


Kami berdua memotong tali yang mengikat tubuh Mika. Rambutnya jadi berdiri akibat daya listriknya. Aku mengambilkan kacamata miliknya yang terjatuh di pojok ruangan.


Sekarang dia malah terlihat seperti seorang professor.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku." Mika merapal sesuatu di dalam hatinya, lalu cahaya tipis keluar dan menyelimuti seluruh tubuhnya. "Baiklah, aku sudah baik-baik saja."


Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. "Apa kau masih bisa bertarung, Mika." Tanyaku.


Sebelum masuk ke ruangan ini, aku sudah menyadari kalau ini adalah gudang senjata. Di dalamnya terdapat banyak jenis senjata milik para bandit, dan mungkin senjata kami juga ada di dalam sini.


"I-iya. Aku masih bisa bertarung." Jawabanmu seperti putri malu saja. Aku tidak yakin rencana ini akan berjalan dengan lancar ke depannya.


Kami menyusuri ruangan ini, mencari ke setiap sudut ruangan dan tempat penyimpanan senjata mereka.


Aku menemukan semua peralatanku di dalam sebuah kotak kayu yang tercampur dengan peralatan memburu lain. Tapi aku hanya mengambil pistol dan barang-barang milikku saja, tidak peduli dengan barang-barang jelek milik mereka.


Momo mengambil barang-barangnya yang hanya sebuah perlengkapan dukungan dalam bertarung. Sebagai Mage, dia belum memiliki tongkat sihir atau semacamnya yang dia gunakan sebagai katalis.


Lalu Mika, dia malah melihat keluar jendela. Bukannya mencari senjata miliknya di ruangan ini, sudah ingin pulang ke rumah saja.


"Dimana senjatamu, Mika?" Tanyaku.


"Senjataku... ada di bandit itu." Mika menunjukkan suatu arah dengan jarinya di luar jendela.


Aku menghampirinya dan menemukan sebuah pos bandit di luar bangunan ini. Kami berada di sebuah benteng tua bekas perang pada masa lalu. Lalu di luar sana para bandit membuat seperti lapangan latihan militer di dunia asalku. Jumlah mereka sekitar dua puluhan.


Aku tidak tahu mereka akan sebanyak ini. Aku pikir mereka semua akan lebih aktif di malam hari, dan tidur di siang hari. Sepertinya mereka memiliki shift separuh-separuh untuk gantian berjaga dan istirahat.


Salah satu bandit terlihat memegang sebuah pedang dan perisai yang sangat bagus. warnanya putih dengan corak keemasan yang sangat menawan. Aku yakin pedang dan perisai itulah yang dimaksud oleh Mika.


"Kau bisa gunakan dulu seadanya dari ruangan ini." Kataku.


"Tidak mau! Aku hanya ingin pedang dan perisai milikku saja!"


Huh. Ini lebih merepotkan dibanding mengurus cewe egois. Padahal situasi ini mengharuskan kita untuk memanfaatkan apapun agar bisa menyelamatkan diri.


Teng! Teng! Teng! Teng!


Huh! Suara lonceng terdengar nyaring di seluruh tempat ini.


"Ada tahanan yang keluar!"


"Cepat cari mereka!"


Sialan! Padahal niatku ingin menjadi pembuka serangan pertama kali, tapi malah didahului oleh para bandit-bandit itu.


"Bersiaplah Momo, Mika, kita akan menyerang mereka dan berusha mengambil senjata milikmu. Setelah itu tunjukkan kemampuan berpedang terbaikmu kepada kami."


"Ya!" Jawabnya sedikit tegas. Hanya sedikit.


Brak!


"Itu dia! Tahanan itu ada di ruangan ini! Cepat tangkap dia!" Salah satu bandit membuka pintu ruangan dan menyadari keberadaan kami di sini.


Aku mengambil kedua pistol terbaikku, dan Momo berlindung di belakangku untuk merapalkan mantra. Mika berlindung di belakang Momo sambil memegangi pundaknya karena ketakutan.

__ADS_1


Aku tidak boleh lengah lagi kali ini. Tidak akan ada pengkhianatan lagi seperti di malam hari itu. Kali ini setelah sekian lamanya, akan aku tunjukkan kehebatan seorang Pro Player dalam momen one versus everybody.


Okey, let's rock!


__ADS_2