
Aku agak bingung jika dikatakan one versus everybody, tapi memang kenyataannya demikian!
Mika meringkuk ketakutan di balik Momo, dia adalah beban kami sekarang ini. Lalu batas sihir yang bisa digunakan Momo hanya tiga kali dalam sehari. Saat ini hanya tinggal satu sihir lagi yang bisa dia gunakan.
Jadi bisa dikatakan kalau hanya aku yang dapat bertarung sekarang. Meski begitu, sejak tadi aku hanya menyusuri bangunan ini sembari menumbangkan bandit yang kami temui.
Dor! Dor! Dor!
Sampai sekarang mungkin sudah sekitar enam dari mereka yang kutembak. Kami hanya ingin mencari jalan keluar, tapi terus bertemu dengan mereka di jalan. Itu sebabnya kami terus-terusan berputar di bangunan ini.
"Ada yang datang dari kanan!" Ucap Momo.
Aku mengarahkan pistolku ke tikungan di sebelah kanan. Saat sudah terlihat, aku menembakkan semua peluruku ke arah mereka.
Quick Change!
Dor! Dor! Dor! Dor!
Salah satu dari mereka menggunakan perisainya dan menahan semua tembakanku. Tapi aku terus menghujaninya dengan peluru hingga mengenai titik yang tidak terlindungi oleh perisainya.
Tiga bandit di depanku tumbang. Di balik mereka terlihat sebuah pintu yang sepertinya mengarah ke jalan keluar.
"Ke sana!" Aku berlari ke pintu itu.
Momo dan Mika masih mengikutiku di belakang. Mereka berdua tampak kelelahan karena terus berlari sejak awal. Aku juga merasa demikian, apalagi sejak semalam kami belum makan sama sekali. Tenaga kami kurang untuk pertarungan ini.
"Mereka pergi ke halaman belakang! Kejar Mereka!" Teriak salah seorang bandit.
Begitu kami keluar dari pintu tadi, di depan kami terhampar sebuah halaman yang luas dengan banyak sarana pelatihan. Selain sekadar markas bandit, sepertinya mereka juga melatih para anggota baru di tempat ini.
"Tempat pelatihan?" Mika melihat ke sekelilingnya.
"Ada beberapa pedang di sana. Kau bisa memakainya untuk sementara." Momo menunjuk ke tempat dimana beberapa senjata tertumpuk.
"Tidak mau! Aku hanya ingin pedang dan perisai milikku saja!"
Ehh... Menyusahkan.
"Sergap mereka! Jangan biarkan mereka kabur lagi!"
"Baik!"
Para bandit mulai bermunculan di sekitar kami. Mereka datang dari dalam, atau memutar melewati samping bangunan.
Kami bertiga terkepung di lapangan ini. Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, dan sepertinya akan terus bertambah.
Aku melihat ke sekitar untuk mencari jalan kabur. Aku bukannya ingin meninggalkan mereka yang masih di penjara, tapi kemampuan kami saat ini tidak cukup untuk melawan mereka semua.
"Itu pedangku!" Mika menunjuk ke salah satu bandit.
Di balik para bandit lainnya, ada satu orang yang menggunakan pedang dan perisai milik Mika. Dia terlalu jauh di belakang untuk kami gapai. Tapi tanpanya, Mika tidak akan bisa membantu pertarungan.
"Bertahanlah di belakangku. Aku akan mencoba mengambil senjata milikmu." Aku menyuruh mereka berdua untuk menjauh. "Sebisa mungkin kalian harus melindungi diri sendiri sementara ini, oke?"
"Aku akan membantumu dengan sihirku."
"Simpan saja untuk nanti. Aku akan menerjang mereka, bahaya jika kau melepaskan sihir area milikmu."
"Baiklah. Berhati-hatilah." Momo dan Mika pergi berlindung di balik sebuah barikade. Jika keadaan mendesak, Momo akan kusuruh menggunakan sihirnya. Tapi untuk sementara ini lebih baik mereka bersembunyi terlebih dahulu.
Sekarang, aku berhadapan dengan banyak bandit. Mereka menggunakan beragam jenis senjata, namun aku belum menemukan seorangpun pemanah di antara mereka. Aku harus mewaspadai orang-orang itu.
"Serang diaa!!"
"HYAAAA!!!"
Mereka semua maju secara bersamaan. Ini memang hal yang buruk bagi seorang penyerang jarak jauh sepertiku, tapi aku harus bisa menyesuaikan kondisi pertarungan.
Pikirkan sebuah strategi untuk menghadapi mereka semua. Sebuah gerakan yang singkat dan dapat membuat mereka terkejut. Lakukan seperti yang sering kau jalani di dalam game.
"KABUUURR!!!"
...
"Jangan biarkan dia lolos!"
"Tembak dia!"
Jleb! Jleb!
Ah, sial! Pemanah!
Aku melihat ke arah dari mana panah itu berasal. Karena sekarang masih pagi, cahaya dari atas tidak menghalangiku untuk melihat.
Para pemanah itu berada di atas markas bandit. Seharusnya dengan jarak sejauh ini, mereka akan kesulitan menembakku.
Dor! Dor! Dor!
Sambil berlari, aku menembaki mereka dengan asal-asalan.
Dor! Dor! Dor!
"Hyaa!!"
Gawat!
Seorang bandit muncul di depanku dan mengayunkan pedangnya dengan cepat.
Tang!
Aku menggunakan pistolku untuk menangkis serangannya. Aku tidak boleh sering-sering menggunakan pistol ini untuk menangkis serangan pedang.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Jleb! Jleb!
"Who, whoa!" Beberapa anak panah kembali ditembak ke arahku. Setelah itu mereka tidak memberiku waktu dan langsung kembali menyerang.
"Hyaa!!"
Slash! Slash!
Tang!
Dor! Dor! Dor! Dor!
Mereka semua mengayunkan pedangnya dengan bodoh. Aku dapat dengan mudah membaca gerakan mereka lalu menghindarinya. Jika ada kesempatan, aku menarik salah satu tubuh mereka dan mengadunya dengan bandit lain. Itu juga bisa digunakan sebagai perisai.
Dor! Dor!
Mereka tidak ada habis-habisnya!
Buk! Buk! Bak!
Slash!
Aku memanfaatkan peralatan yang ada di tempat ini untuk mengecoh mereka. Meskipun mereka semua bergerak sekaligus, pasti akan sulit untuk mengejarku yang lincah ini.
"Riel! Bandit yang di depanmu!" Mika berteriak dari jauh.
__ADS_1
Apa yang dia pikirkan? Sekarang posisinya jadi ketahuan, dan para bandit itu akan mengincar mereka.
"Pedang dan perisaiku!" Dia melanjutkan ucapannya.
Oh, aku melihatnya!
Bandit di depanku membawa pedang dan perisainya Mika, tapi posisiku terlalu jauh jika ingin mengambilnya. Aku harus membuat mereka lengah dan mengutamakan mengambil pedang dan perisai itu.
Aku membutuhkan bantuan Mika. Jika saja aku memiliki Stamina Potion, mungkin saja aku bisa menangani mereka semua sendirian. Sayangnya yang aku miliki sekarang hanyalah potion untuk pemulihan luka.
Di depanku masih tersisa belasan bandit, dan beberapa pemanah di atas markas mereka. Mereka mengitariku untuk menutup jalan kabur, sekarang aku benar-benar terpojok.
"Mau pergi kemana lagi kau?"
Pikirkan sesuatu! Buat mereka terkecoh meski hanya sebentar. Tenagaku mulai habis, dan aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan di situasi ini.
Apa yang selalu dipikirkan para bandit itu...
"Lihat, uang terbang!"
"Dimana!?"
Aku melesat ke belakang mereka, lalu menendang bandit yang memegang senjata milik Mika.
"Oraa!!!"
Bak!
Bandit yang lainnya mulai menyadari tipuanku, tapi aku dengan cepat mengambil pedang dan perisai milik Mika.
"Mika!" Aku melempar keduanya. Pedang dan perisainya tidak seberat dugaanku, jadi aku masih bisa melemparnya dengan baik meski dengan separuh tenaga.
"Baiklah!" Mika melompat keluar dari barikade, lalu menangkap pedang dan perisainya dengan sangat cermat.
Aku berlari ke balik barikade dan menjatuhkan diri. Aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk bertarung. "Maaf Mika, aku sudah mencapai batasku."
"Tidak apa-apa. Beristirahatlah, biar aku yang mengurus sisanya." Mika meresponku, tapi dengan gaya bicara yang berbeda.
Suaranya masih terdengar seperti gadis, tapi nada bicaranya terdengar sangat jantan kali ini. Dia juga berdiri dengan berani di depan kami, padahal belum lama ini dia meringkuk ketakutan di balik Momo.
"Beraninya kalian membodohi kami."
"Habisi mereka!"
Para bandit itu mulai marah. Mika akan dikeroyok oleh mereka semua sekaligus!
"HYAAA!!" Mereka semua maju menerjang kami.
"Lion's RoaaAAAARRRR!!" Mika berteriak menggunakan skillnya.
Teriakan nyaring itu membuat para bandit lainnya terganggu dan menyerang Mika secara frontal. Tapi dengan kemampuan yang baru diunjukkannya pada kami, Mika dengan mudah menahan dan menangkis serangan mereka semua.
Aku mengenal skill ini.
Ini adalah jenis skill yang akan memberikan efek Taunt kepada musuh. Mereka yang terkena pengaruh skill ini, akan terpancing untuk menyerang penggunanya dengan cara apapun. Sewaktu menjadi Paladin, aku sering menggunakan skill tersebut di beberapa kondisi pertarungan.
Slash! Slash! Slash!
Tang! Tang!
Mika menggunakan pedangnya yang tipis untuk membelokan serang bandit, lalu menggunakan perisainya untuk menahan atau menyerang mereka juga.
Aku belum pernah melihat seseorang yang selincah itu sewaktu dikeroyok oleh banyak musuh. Dari gerakannya, Mika seperti sangat terlatih untuk kondisi tersebut.
"Momo, siapkan sihir areamu." Mika memberikan arahan. Dia memikirkan rencana tanpa mengganggu konsentrasinya bertarung.
"Seperti yang sudah kukatakan tadi. Gunakanlah sihir yang itu, aku bisa menghindarinya."
"Baiklah. Aku percaya kepadamu."
Hmm, sejak kapan mereka merencakannya? Momo mulai merapalkan sihir terkuat yang dimilikinya. Aku bisa merasakan aliran mana yang kuat di sekitarnya.
Sementara itu, Mika masih berurusan dengan para bandit. Dia nampak tenang meski di serang secara membabi buta, itu karena Mika dapat menahan dan menangkis mereka semua dengan sangat mudah.
Slash! Slash!
Tang!
Mika menangkis panah yang datang ke arahnya tanpa melihat. Refleksnya melebihi seorang petualang! Kira-kira berapa levelnya sekarang?
"Mika!" Momo selesai merapalkan mantranya, dan memberikan tanda kepada Mika untuk bersiap.
"Sekarang!" Balas Mika.
"Icicle Storm!"
Momo melepas sihirnya dan memunculkan tiga lingkaran sihir di atas kepalanya. Dari ketiga lingkaran sihir tersebut, melesatlah es berbentuk tombak dengan jumlah banyak dan sangat cepat.
"Sihir es?" Aku tercengang melihatnya.
Tombak-tombak es tersebut melesat menghujani para bandit dan Mika. Tombak es yang mengenai lawan akan menempel dengannya dan berubah menjadi lebih besar, sehingga mengunci tubuh lawan dengan kristal es. Jika terkena lebih dari dua kali, dia akan sepenuhnya membeku.
Mika menangkis semua tombak es yang mengarah kepadanya dengan sangat cepat. Tidak ada satupun serangan sihir Momo yang mengenainya. Dia menghadapi serangan mematikan tersebut tanpa ketakutan sama sekali.
Alhasil, semua bandit dan bangunan markas mereka, hingga para pemanah yang ada di atas sana membeku tanpa tersisa satupun. Kecuali Mika yang masih berdiri tegak di garis serangan sihir Momo.
"Hebat." Gumamku melihat serangan mereka.
Aku dibuat tercengang dua kali. Pertama saat mengetahui kalau Mika bisa menjadi seorang kesatria jika memegang pedang dan perisanya. Kedua, Momo ternyata bisa menggunakan banyak jenis sihir. Itu adalah jenis sihir ketiganya yang aku ketahui.
"Hah, hah—" Momo tumbang di sampingku.
"Whoaa! Apa yang terjadi denganmu, Momo?" Aku menangkap dan menyandarkannya pada tubuhku.
"Hah, hah— Aku kehabisan mana." Momo terlihat seperti sedang demam. Dia terlalu memaksakan dirinya.
"Biarkan dia beristirahat. Mananya akan pulih seiring waktu, tapi dia tidak akan bisa bergerak selama itu." Mika menghampiri kami. Dia terlihat seperti seorang putri kesatria, sangat cantik. Pakaian dan persenjataannya juga sangat mendukung penampilannya.
"Baiklah. Kau bisa beristirahat sekarang, Momo. Aku yang akan membawamu." Ucapku.
"Terima kasih, Kak Riel." Momo langsung jatuh tertidur. Dia sangat imut saat sedang kelelahan.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Riel?" Tanya Mika.
"Hmm?" Dia bertanya padaku? Padahal sepertinya dia terlihat lebih memiliki rencana ketimbang diriku. "Para bandit itu tidak akan bisa bergerak 'kan? Kita akan melepaskan para sandera dan kembali ke Kota Deedalee."
"Baiklah. Biarkan aku saja yang membawa Momo, aku masih memiliki banyak tenaga."
"Hmm! Tolong, ya." Aku mengangkat Momo, lalu Mika meraihnya dan menggendongnya seperti putri.
Putri yang menggendong seorang putri.
Aku beranjak berdiri dan merapihkan pakaianku. Sejak tadi aku hanya kelelahan saja. Para bandit itu tidak sekuat kelihatannya, aku sama sekali tidak menerima luka akibat serangan mereka.
Kami berdua lanjut berjalan ke dalam bangunan. Sekarang kami akan menyelamatkan orang-orang yang diculik oleh bandit, dan membawa mereka kembali ke Kota.
"Wah, wah."
Aku dan Mika langsung berhenti begitu mendengarnya.
__ADS_1
"Rupanya ada sekelompok gadis, yang mampu mengalahkan banyak anak buahku. Sangat menarik."
Di depan kami muncul tiga orang yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Mundur, Riel! Mereka tidak seperti para bandit lainnya!" Mika dengan cepat berdiri di depanku. Dia menurunkan Momo dan aku yang memegangnya sekarang.
"Siapa mereka?" Tanyaku.
"Aku juga tidak tahu. Yang jelas, kekuatan mereka lebih jauh dari yang kita lawan sejak tadi." Mika menyiapkan pedang dan perisainya. Posisinya sangat waspada terhadap tiga orang tersebut.
"Tidak perlu terburu-buru. Kalian pasti kelelahan setelah menghadapi mereka semua." Sejak tadi orang di tengah itulah yang berbicara. Aku bisa menyimpulkan kalau dia adalah seorang pemimpin para bandit, dan dua orang di sebelahnya adalah pengawalnya.
Dia menggunakan pakaian mewah seperti seorang bangsawan, dengan topi fedora. Sedangkan kedua pengawalnya menggunakan jubah biasa seperti seorang Assassin.
"Aku juga kagum melihat gadis kucing itu menggunakan sihir, dan nona di sana menggunakan pistol. Kemudian kesatria wanita itu juga sangat lihai menghadapi banyak orang sekaligus. Apakah kau memang sudah terbiasa?" Pria itu kembali berbicara.
"Maaf saja, tapi aku adalah seorang laki-laki." Mika menyanggahnya dengan dingin.
"Ha!" Ketiga orang itu terkejut. "Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, ada seorang laki-laki cantik di dunia ini. Sepertinya kau akan sangat menarik saat..."
"Cukup basa-basinya. Aku tidak akan membiarkan kedua temanku disentuh dengan tangan kotor kalian." Mika memasang kuda-kudanya dengan mantap.
"Hahaha! Aku jadi tidak sabar ingin melihat wajahmu sewaktu dihancurkan."
Sialan! Orang itu benar-benar terlihat menyebalkan.
"Mika? Berapa kira-kira level mereka menurutmu?" Bisikku.
"Orang di tengah sana menurutku berlevel 5. Sedangkan kedua pengawalnya sekitar level 3 atau 4."
Itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan levelku saat ini.
"Aku masih level 4. Aku bisa menghadapi kedua pengawalnya, tapi tidak dengan orang yang di tengah itu. Auranya sangat berbahaya. Dia mungkin memiliki artefak tertentu yang disimpannya." Mika kembali memberiku penjelasan.
Jadi Mika sudah berlevel 4. Aku cukup yakin saat melihat kekuatannya tadi. Tapi artefak yang dimaksudkan oleh Mika, aku masih belum mengetahui apapun tentangnya.
"Dengarkan aku, Riel. Larilah!"
Begitu Mika mengatakannya, kedua pengawal tadi menerjang dengan cepat ke arahnya.
Tang! Tang!
Mika menangkis serangan mereka dengan akurat.
"Cepat lari, Riel!"
"Ta-tapi."
"Aku akan menahan mereka selama yang kubisa."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian!"
"Cepat pergi!"
Mika tidak mau mendengarkanku. Dia tetap akan menyuruhku lari apapun yang kukatakan padanya.
*Tang! Tang!
Slash*!
Mika bisa menahan kedua serangan mereka, tapi dia terlihat agak kesusahan mengimbangi gerakan gesitnya. Kedua Assassin itu memojokkan Mika dengan serangan cepat mereka.
"Cepat pergi, Riel!"
Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa membiarkan Mika sendirian menghadapi mereka bertiga. Tadi dia menyebut kami berdua teman, itu sudah cukup membuatku tersentuh padanya.
Tang! Tang! Tang!
Mika semakin terdesak akibat serangan mereka berdua. Aku tidak bisa membantunya dari jauh karena sedang memegang Momo. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Menyerahlah saja, kalian. Aku akan memberikan layanan spesial jika kalian ingin menurut kepada kami. Aku akan memaafkan tindakan kalian terhadap semua anak buahku, tapi jika kalian ingin menurut denganku." Pria di sana kembali membacot.
"Kau pikir kami akan setuju! Langkahi dulu mayatku jika ingin menyentuh mereka berdua!"
Mika...
Kenapa sampai segitunya kau ingin melindungi kami?
"Baiklah kalau begitu, habisi dia."
Sesuai perintah pemimpin mereka, kedua Assassin itu mengeluarkan pisau yang berbeda dari sebelumnya. Pisau mereka kali ini bewarna hitam pekat dan mengeluarkan bayangan keunguan.
Mika tersentak sewaktu melihat pisau mereka. Dia mengambil jarak seperti sangat waspada dengan senjata itu.
"Sekalinya kau tergores pisau itu, katakanlah selamat tinggal pada impianmu melindungi mereka."
Kedua Assassin itu menerjang Mika menggunakan pisaunya. Mereka bergerak dengan rendah dan ingin menyerang dari kedua arah. Jika secepat ini, Mika tidak akan bisa menghindari mereka.
Mika tidak akan bisa menghindari mereka!
"Mika, Awas!" Teriakku khawatir.
Terlambat. Gerakan Mika tidak bisa mengimbangi kecepatan kedua Assassin itu.
Jleb!
"Ha!!" Aku menutup mulutku tidak percaya. Tapi yang kulihat di mataku, Assassin itu langsung mati tertembus sesuatu dari belakangnya.
"Apa! Siapa itu?" Pemimpin mereka melongo tidak percaya.
Salah satu pengawalnya yang masih hidup langsung kembali ke sisi tuannya. Mereka terlihat waspada dengan seseorang yang bisa menumbangkan pengawalnya dengan sekali serang.
"Rencana kalian sudah berakhir." Seseorang datang dari balik hutan.
"Shin!" Aku merasa seperti bermimpi sewaktu mereka datang.
"Rieeell!! Kau tidak apa-apa?"
Clara? Dia datang dari sisi yang berbeda dengan Shin. Dia langsung tiba di depanku dan memberikan pertolongan pertama kepadaku.
"Kau tidak apa-apa? Bagian mana yang terluka? Apa ada anggota tubuhmu yang hilang?"
Aku tidak apa-apa, kok. Lebih baik kau membantu Momo sekarang ini.
"Kakak!" Panggil seorang gadis yang tidak kukenal. Pakaiannya mirip seperti yang Mika kenakan.
"Christa!" Mika menjawabnya.
Mereka berdua kakak beradik?
Aku mendapati adiknya itu seperti seorang Priest karena tongkat yang dibawanya.
"Kau tidak apa-apa, Riel?" Shin tiba di sampingku. "Kau pasti sudah siap atas tindakanmu 'kan?"
Hehehe, sepertinya masalah ini ada ronde duanya.
Bala bantuan kami sudah tiba, Shin datang bersama Clara dengan mode petualangnya. Dia terlihat keren dengan panah yang digunakannya. Lalu datang juga adik dari Mika yang sepertinya seorang Priest. Kami memiliki seorang penyembuh sekarang.
Bersiap-siaplah pemimpin bandit, kami akan melakukan serangan balik.
__ADS_1