
Tak terasa kemarin kami pergi ke markas bandit, tertangkap oleh mereka, lalu mengalami pertarungan sengit.
Tak kusangka juga kemarin kami dapat bertemu dengan teman baru kami, yang merupakan cowok cantik.
"Hei, Mika." Panggilku.
"Y-ya? Ada apa, Riel?" Mika menjawabnya dengan malu-malu.
Entah kenapa, lelaki ini tanpa pedang dan perisainya hanya seorang cowok feminim yang penakut. Sifatnya berubah sangat jauh dengan yang saat bertarung melawan puluhan bandit.
"Kakak, tidak perlu sungkan kepada Riel. Dia kan sekarang sudah menjadi teman kita." Adiknya, Christa, menyinggung sikap Mika yang masih canggung denganku. Dia cukup ceria dan baik hati.
"Ah, eh... ya. Maaf, sepertinya aku belum terbiasa." Mika menunduk. Dia merasa tidak enak karena menunjukkan sisi feminimnya kepada orang lain.
Mereka berdua merupakan petualang kakak-beradik yang pernah belajar di Akademi Kesatria Ibukota Atria. Kakaknya seorang Cleric yang menggunakan pedang dan perisai, lalu adiknya adalah seorang Priestess. Dia mampu merapalkan berbagai macam sihir pendukung dalam pertarungan.
Seperti yang kalian ketahui, seorang Priest memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang lain. Lebih lengkapnya, mereka juga bisa meningkatkan kemampuan temannya, menciptakan pelindung, dan berbagai sihir pendukung lainnya.
Kalau Cleric, mereka seperti tingkatan selanjutnya dari Priest. Selain dapat merapalkan sihir pendukung dalam pertarungan, mereka juga bisa menggunakan senjata dan berhadapan langsung dengan lawan. Mereka agak mirip seperti seorang Magic Swordsman.
Mika berlevel 4, sedangkan Christa berlevel 3. Mereka berdua pasti sudah lama menjadi petualang dan memiliki banyak pengalaman.
"Apakah masih lama? Kita sudah menunggu hampir 2 jam di tempat ini." Keluhku.
Kami sudah berada di Kota Deedalee sejak kemarin dan beristirahat selama satu hari. Sekarang kami sedang berada di kantor kesatria dan menunggu kepala kesatria di kota ini datang. Kami diundang berbicara dengannya karena telah mengatasi masalah bandit di wilayah ini.
Yang membuatku kesal adalah, mereka yang mengundang dan menentukan jadwal, tapi malah mereka yang terlambat.
Sialan.
"Aku bosan jika hanya diam terus begini. Bagaimana jika kita bermain sesuatu?"
"Eh, maaf Riel. Tapi ini adalah kantor kesatria. Kita tidak boleh membuat keributan di tempat mereka bekerja." Mika melarangku.
"Oh, ayolah. Lihat mereka." Aku menunjuk ke salah satu kesatria yang sedang bertugas di dalam kantor. "Dia hanya berdiri di sana sepanjang hari seperti seorang patung, menatap angin dan sesekali menggaruk pantat. Sekarang dia malah melirikku."
"Eeh, itu memang tugas mereka untuk... intinya mereka sedang bertugas. Mungkin kepala kesatria juga sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya sebelum akan bertemu dengan kita."
Haah, Mika terlalu disiplin dan berpikiran positif kepada mereka. Membosankan. Kulihat adiknya hanya bisa tersenyum, dan memberiku kode untuk mengiyakan perkataan kakaknya saja.
Momo tidur bersandar pada bahuku, Shin duduk dengan sangat tenang, dan kepala Clara terjatuh-jatuh karena setengah tertidur. Mereka juga pasti bosan menunggu.
Jika aku ingin bermain, maka permainan apa yang bisa dilakukan di ruangan ini? Memecahkan barang sebanyak mungkin, atau mencari jalan tersembunyi di seluruh ruangan ini? Tentu saja tidak bisa.
"Para petualang yang di sana, silahkan ikut denganku. Kepala kesatria sudah menunggu kalian di ruang pertemuan." Salah satu kesatria wanita datang ke ruang tunggu dan memanggil kami.
__ADS_1
Akhirnya. Akhirnya orang itu datang juga. Aku tidak akan percaya jika dia mengatakan jalanannya macet.
Aku membangunkan Momo dan mengajaknya untuk berjalan mengikutiku. Dia masih mengusap-usap matanya karena mengantuk. Aku membantunya berdiri agar tidak terjatuh.
Shin juga membangunkan Clara, tapi dengan cara yang lebih brutal. Dia mendorong sedikit tubuh Clara dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Bruk!
"Ah! Apa! Permintaan apa yang ingin kau ambil?"
Hahaha, dia malah mengigaukan pekerjaannya sebagai resepsionis guild. Tuh, mereka boleh bermain.
Kami semua berjalan mengikuti kesatria wanita tadi menuntun. Masuk lebih dalam ke kantor kesatria, naik ke lantai dua, lalu tiba di depan sebuah pintu dengan ukuran besar. Dari ukuran pintu itu, aku dapat menyimpulkan kalau ruangan di dalamnya cukup muat untuk banyak orang.
Kesatria wanita itu membukakan pintunya dan kami semua masuk ke dalam ruangan tersebut. Sebuah ruang pertemuan dengan meja bundar dan terdapat banyak kursi berjejer melingkarinya. Lebih tepatnya meja oval sih, agak panjang juga soalnya.
Di meja itu sudah duduk beberapa orang kesatria dengan satu dari mereka yang berpakaian paling bagus di tengah. Tampangnya cukup tua dengan jenggot lebat yang berwarna putih. Sudah pasti itu adalah kepala kesatria di kota ini.
"Silahkan duduk." Wanita itu menyilahkan kami.
Aku duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan, diikuti oleh Shin, Mika dan yang lainnya. Kami berenam sudah duduk di tempat kami masing-masing. Wanita kesatria tadi berdiri di dekat pintu bersama satu kesatria lain.
Banyak kesatria di tempat ini.
"Baiklah, selamat datang para petualang pemberani. Perkenalkan, namaku Oslei. Kepala kesatria di kota ini." Oslei menyambut kami dengan cukup ramah.
"Pertama-tama, aku sangat mengapresiasi kalian karena telah memberantas para bandit di wilayah ini, serta menyelamatkan orang-orang yang diculik oleh mereka. Aku tidak tahu bagaimana cara kalian dapat menemukan tempat persembunyian mereka, yang terpenting mereka semua sudah diatasi.
Kedua, karena apa yang telah kalian lakukan tidak ada dalam permintaan di guild petualang, maka kalian tidak akan menerima imbalan apapun dari mereka."
Tunggu. Apa!? Yang benar saja!?
Aku hampir bangkit berdiri untuk memprotesnya, tapi orang itu sudah kembali melanjutkan bicaranya.
"Untuk itu, kami para kesatria akan memberi imbalan kepada kalian secara pribadi atas apa yang telah kalian kerjakan."
Oh. Maaf, sepertinya aku terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Mereka ingin memberi kami hadiah? Yeay!
Ternyata perjuanganku tidak sia-sia!
Memilih untuk membantu Momo, lalu dengan nekat menyerang markas bandit. Ditipu oleh petualang licik, hingga ditangkap oleh para bandit. Menyelamatkan diri dari penjara, lalu mengalahkan semua bandit.
Petualangan tersebut sangat hebat dan menantang. Rasanya seperti menyelesaikan cerita yang seru di dalam sebuah permainan.
Kira-kira apa yang ingin mereka berikan pada kami, yaa?
__ADS_1
"1 juta nira dibagi enam?" Aku mengulangi apa yang Oslei katakan.
"Ya. Itu adalah imbalan bagi kalian yang sudah melewati jalan yang sulit menghadapi para bandit. Berbangga dirilah karena tidak banyak orang yang dapat menerima hadiah secara langsung dari kami."
Bagaimana ya.
Aku memang masih belum terlalu paham dengan nilai mata uang di dunia ini. Tempo hari aku mendapatkan 300.000 nira dari Paman Reinald untuk jumlah griffon yang berhasil aku jatuhkan. Lalu harga sepasang pistol dan belati yang kupesan ke Paman Chang Ku seharga lebih dari 3 juta nira.
1 juta dibagi enam? Itu bahkan tidak bisa dibagi rata satu sama lain!
Satu orang paling mendapatkan 150.000 nira hingga 175.000 nira saja. Padahal kami mempertaruhkan nyawa melawan puluhan bandit yang lebih berbahaya dari monster ataupun hewan buas! Aku bahkan bisa mendapatkan lebih banyak dari itu dengan menjelajahi dungeon selama dua hari.
Sayangnya, kami tidak memiliki hak untuk meminta lebih dari mereka. Sudah bersyukur kami mendapatkan imbalan daripada tidak sama sekali.
Ekspresi Shin tetap datar sewaktu mendengarnya. Clara agak cemberut, dan Momo berbinar-binar. Sedangkan kakak-beradik itu hanya tersenyum seperti sudah terbiasa dengan apa yang mereka dengar.
"Dengan segala hormat, kami berterima kasih atas imbalan yang telah kalian berikan." Shin menundukkan kepalanya kepada Oslei.
"Tidak apa. Kami juga berterima kasih karena kalian telah membantu menyelesaikan masalah kami." Oslei juga membalas dengan menundukkan kepalanya.
Itu dia! Kami telah membantu menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya kalian para kesatria tangani! Kalian semua pasti dibiayai mahal oleh kerajaan untuk menyelesaikan tugas tersebut, tapi malah membayar sedikit orang lain yang menyelesaikannya.
Apa-apaan cara mereka berterima kasih!? Ini sangat tidak adil!
Aku benar-benar ingin memprotesnya sekarang, tapi Shin sudah terlanjur berterima kasih atas apa yang mereka berikan. Secara tidak langsung kami sudah menerima hadiah tersebut.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, Tuan Oslei. Bagaimana dengan barang-barang milik para bandit di markas mereka. Apa para kesatria akan mengambil semuanya?" Kali ini Shin bertanya.
"Itu adalah rampasan perang yang berhak kalian miliki. Kalian dapat memilikinya atau menjualnya menjadi mata uang. Kami tidak berhak mencampurinya karena kalianlah yang bersusah payah bertarung melawan mereka." Jawab Oslei.
"Apa itu artinya, semuanya menjadi milik kami?" Tanyaku.
"Ya. Perlengkapan, senjata, harta yang para bandit itu simpan, semuanya menjadi milik kalian. Hanya saja jika kalian ingin menyerahkanya kepada kesatria, tentu saja kami akan menerimanya juga."
"Terima kasih. Kami akan mengambil semuanya." Aku langsung mengatakannya tepat setelah Oslei menyelesaikan kalimatnya. Ini supaya mereka tidak berubah pikiran lebih jauh lagi. "Sekali lagi terima kasih atas hadiah yang telah kalian berikan."
Kami berenam pamit dan beranjak meninggalkan ruangan itu. Kesatria wanita tadi kembali menuntun kami menuju ruang tunggu untuk mengambil barang-barang yang dititipkan, kemudian lanjut keluar dari kantor kesatria.
Intinya, aku hanya akan memberikan komentar satu buah kata.
Yess!
Jika barang-barang tersebut ditotal, sepertinya bisa mencapai jutaan Nira yang akan kami dapatkan. Dengan begini setiap orang bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan jerih payah mereka. Aku sedikit demi sedikit pasti bisa melunasi hutangku.
"Shiin. Bagaimana dengan barang-barang yang kita dapat dari para bandiit?" Tanyaku dengan perasaan senang.
__ADS_1
"Aku dan Clara sudah mengumpulkan semuanya. Jika ditotal, mungkin sekitar 10 juta nira."
Hahahahaha!