Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 34: Berpisah dengan Kakak-Beradik


__ADS_3

Saat Momo mengatakan itu, reaksiku mungkin terlihat biasa saja.


Pertama aku masih belum memiliki kesan apapun terhadap White Shadow. Aku belum pernah melihat, bertemu, ataupun berurusan dengan mereka selama berada di dunia ini.


Kedua... itu justru membuatku semakin tertarik dengan mereka.


Tapi berbeda dengan reaksi mereka yang sudah tahu tentang White Shadow.


"..."


Ternyata mereka masih terdiam sambil menatap Momo.


"Ada apa? Apakah guruku itu juga White Shadow yang kalian maksud?" Momo kebingungan.


Yaa, gadis kucing itu memang polos sama sepertiku. Dia tidak tahu apa yang terjadi di luar desanya.


Entah apa yang mengacaukan pikiran mereka, yang jelas mereka semua masih terdiam di tempat masing-masing. Shin yang biasanya jarang berekspresi pun tercengang mendegar apa yang Momo katakan barusan.


"Siapa... Siapa nama orang yang mengajarimu itu? Seperti apa penampilan orang tersebut?" Shin mendekat ke arah Momo.


"Wow, wow. Tunggu dulu, Shin. Kau akan membuatnya ketakutan." Mika berdiri dan mencoba menahan langkahnya Shin.


"Kenapa dengan guruku? Apa dia adalah orang pernah berbuat jahat?"


"Mereka adalah pembunuh. Mereka adalah penjahat yang sangat kejam! Merekalah yang membunuh adikku!"


"Tenanglah, Shin." Clara ikut berdiri dan memegangi Shin dari belakang.


Aku dan Christa juga tidak tinggal diam. Kami berdua mencoba mengamankan Momo agar Shin tidak berbuat sesuatu padanya.


Oh, ayolah. Mengapa ini harus terjadi sehabis makan-makan dengan bahagia?


Adele tidak menghiraukan kami dan masih berada di mejanya, sedangkan Hana keluar dari ruangannya karena penasaran. Mungkin jika bar ini terbakar, baru Adele akan bereaksi.


Namun fokusku teralihkan dengan apa yang Shin katakan tadi. 


Adiknya di bunuh oleh White Shadow? Aku baru tahu jika dia punya seorang adik, dan mengenaskannya telah tiada akibat terbunuh oleh mereka. Selama ini Shin tidak pernah bercerita padaku tentang keluarganya, tapi saat mengetahuinya...


"Shin..." Aku mencoba memanggilnya. 


Dia mungkin tidak bergerak lebih jauh setelah Mika menghalanginya, tapi raut wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesal yang siap meledak kapan saja. 


Aku merasa iba dengannya. Jika begini, aku tahu bagaimana perasaannya sekarang saat mengetahui sosok yang membunuh adiknya.


"Katakan padaku... siapa nama orang itu?"


Momo ketakutan melihat wajah Shin yang seperti itu, terlebih lagi nada bicaranya yang datar tadi membuatku juga merinding.


"Tenanglah, Shin. Mungkin kita bisa bicarakan ini pelan-pelan-"


"Diam kau!" Shin menyela omonganku.


Sekarang aku juga ikut merinding. Digertak oleh musuh sudah menjadi hal yang biasa bagiku, tapi jika di gertak oleh teman sendiri...


"Aku tidak tahu namanya." Jawab Momo.

__ADS_1


Shin terliat tidak puas. Jawaban tadi terdengar jelas seperti sebuah kebohongan untuk melindungi sosok yang dia ingin ketahui. Karena Momo merasa terancam, bisa jadi dia terpaksa berbohong.


"Jangan katakan hal yang bodoh. Katakan yang sebenarnya padaku!"


"Aku tidak berbohong! Itu benar! Guruku tidak pernah menyebutkan namanya saat tiba di desa kami. Dia menyuruh kami memanggilnya seperti itu, maka kami memanggilnya seperti itu!"


Suasana semakin panas di sini. Clara dan Mika berusaha menjaga Shin agar tidak berbuat lebih jauh, sedangkan aku dan Christa menjaga Momo dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Hei, bagaimana cara mengakhiri percakapan yang seperti ini? Aku sering bermain game visual novel tetapi berbeda genre. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi ini.


"Diamlah, Shin." Suara baru bergabung dengan kami.


Itu Adele. Dia sudah tidak mengelap gelas-gelas lagi di mejanya, dan Hana yang di sampingnya tetap berdiri diam menyaksikan kami dari sana.


"Kau sudah bukan anak kecil lagi." Ucap Adele singkat.


Kalimat yang singkat, padat, dan nusuk. Shin benar-benar terdiam setelah Adele mengomentarinya seperti itu.


"Urusanmu hanya dengannya, sedangkan orang yang mengajari gadis kucing itu bukanlah dia. Jika kau memang ingin menyalahkan mereka semua, maka aku tidak akan berbicara lagi." Baru kali ini aku mendengar Adele berbicara banyak.


Aku tidak mengerti apa permasalahan diantara mereka. Cara mereka berbicara seperti itu karena mereka sudah saling mengerti apa yang mereka maksud. 


"Maaf, Adele. Apakah aku bisa mendapatkan penjelasan lebih tentang masalah ini? Aku tahu tidak baik ikut campur urusan kalian, tapi bukankah lebih baik jika bisa diselesaikan secara bersama?" Kataku.


Ini bukan urusanmu, pergilah. Jika itu yang dikatakan oleh Shin, aku benar-benar akan ribut dengannya.


Sebelum diantara mereka ada yang menjawab pertanyaanku, Shin malah beranjak keluar dari tempat ini.


"Shin?" Clara mencoba memanggilnya. Tapi Shin tetap berjalan keluar tanpa mengacuhkan yang lainnya. Sekarang sudah tidak ada lelaki itu di bar ini, dan suasana menjadi sedikit lebih tenang.


"Nanti akan kuceritakan padamu, Riel." Kata Clara. "Tapi sepertinya kita sudahi sampai di sini saja perayaan kecilnya."


Ah, Clara masih berusaha memperbaiki suasana agar tidak sepenuhnya hancur. Memang hebat seorang resepsionis guild kotaku. 


"Terima kasih atas makanannya, kalian semua. Terima kasih juga telah menyelamatkan nyawaku dan adikku saat itu."


"Ya! Aku merasa berhutang kepada kalian, terutama denganmu, Riel. Sekali lagi terima kasih karena telah menjaga kakakku saat itu."


"Hee!? Tidak perlu seperti itu juga, kok. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." Duh, kakak beradik ini memang cukup kompak di beberapa aspek. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.


"Jadi, kalian akan pulang sekarang?" Hanya itu yang bisa kukatakan pada mereka.


"Ya. Jika naik kereta sihir menuju ibukota, mungkin kami bisa sampai dalam dua hari." Jawab Mika.


Benarkah? Dua hari? 


Mungkin wajar jika mengetahui kereta di sini jalannya cukup lambat. Sedikit lebih cepat dari kereta kuda, dan tidak perlu istirahat seperti para kuda. Kereta hanya akan berhenti pada setiap stasiun.


Tapi jika dua hari... Perjalanan dari Kota Ciatar ke Kota Deedalee saja tidak sampai lima jam. Itu artinya ibukota memang sangat jauh dari sini!


"Bagaimana dengan barang-barang yang kita dapatkan dari para bandit? Kami belum sempat menjualnya menjadi uang." Clara mengingatkan. Mereka belum mendapatkan bagian dari barang yang dijual.


"Tidak apa-apa. Uang yang kami terima dari hadiah kepala kesatria sudah cukup untuk kami. Lagipula kami sudah merasa berkecukupan dengan uang." Yang menolaknya dengan baik adalah Christa. Aku penasaran apakah kakak-beradik itu punya jadwal dalam menjawab pertanyaan orang?


Tapi dilihat dari perlengkapan dan pakaian mereka, memang terlihat lumayan juga sih.

__ADS_1


Tidak apa, kok. Aku sangat senang kalian bisa pulang lebih cepat. Mungkin keluarga kalian sudah menunggu di rumah.


"Kalau begitu, hati-hati di jalan." Ucapku.


"Terima kasih, Riel. Dah juga, Clara, Momo."


"Dadah."


Kami berpisah di tempat ini. Bukan pilihan yang buruk untuk perpisahan, apalagi setelah perayaan kecil makan-makan tadi.


Belum tentu juga ini menjadi sebuah perpisahan di antara kami, karena bisa jadi aku akan bertemu lagi dengan mereka saat sedang di ibukota.


Sekarang sisa kami bertiga sebagai pelanggan di bar ini.


Aku kembali duduk di kursiku, dan Momo berada di sebelahku. Clara menghampiri Momo dan mencoba membuatnya tenang. Dia tahu Momo pasti sempat merasa ketakutan saat berhadapan dengan Shin tadi.


Tapi di luar dugaan, Momo tidak menangis, merengek, atapun ketakutan lagi seperti tadi. Dia sudah kembali menjadi dirinya yang biasa. Aku cukup kagum dengan mental gadis ini.


"Maafkan aku, Momo. Shin memang seperti itu jika mendengar sesuatu terkait White Shadow. Dia memiliki dendam terhadap salah satu dari mereka." Clara menjelaskan. Telinganya turun mengikuti perasaan kami saat ini.


"Tidak apa. Aku akan baik-baik saja jika ada Kak Riel di sampingku."


Heii. Dia mengatakan itu lagi.


"Memangnya ada apa, Momo? Apa yang membuatmu tidak ingin kembali ke kampung halamanmu?" Tanyaku.


Seperti ada sesuatu yang berubah darinya, tetapi aku masih belum terlalu paham.


"..." Momo masih belum menjawab pertanyaanku. Aku tidak tahu dia sedang berpikir, atau memang pertanyaan ini agak semditif baginya. 


Yaa, seperti yang kuduga. Dia tidak bisa mengatakannya saat ini.


Kalau begitu, aku ingin bertanya tentang adiknya Shin saja kepada Clara.


"Maaf Riel, sepertinya kita akan bicarakan di penginapan saja." 


Haa, semuanya jadi serba sensitif sekarang.


"Baiklah. Terima kasih atas makanannya, Adele, Hana. Kapan-kapan kami akan mampir lagi ke bar kalian." Ucapku.


"Ya." Sahut Adele.


"Terima kasih telah berkunjung! Akan kami tunggu kedatangan kalian berikutnya." Hana menyahut kami dengan riang.


Clara dan Momo juga melakukan hal yang sama denganku. Hanya ada para gadis di bar ini sekarang, jadi kami seperti akrab satu sama lain.


Setelahnya, kami bertiga keluar dari bar mereka dan akan kembali menuju penginapan. Clara mengatakan padaku kalau tidak perlu mengkhawatirkan Shin, dia bisa mengurus dirinya sendiri.


Ya, aku tahu itu. Orang sepertinya sudah tahu bagaimana cara hidup di dunia ini, dan aku juga tidak perlu mengakhawatirkan dia akan tidur di mana malam ini. Karena aku memang tidak tahu dia tidur di mana.


"Hei Riel, Momo. Apakah kalian mau beli sesuatu untuk dimakan di penginapan." Clara melihat ada pedagang makanan di depan sana.


"Ya, tentu saja." Jawabku.


Mentang-mentang lagi punya banyak dui, kita jadi boros begini.

__ADS_1


Sekali-kali tidak apa, 'kan?


__ADS_2