Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 22: Terlalu Mustahil


__ADS_3

Dia berdiri di depan kami, salah satu anggota dari sebuah organisasi paling berbahaya di seluruh kerajaan manusia. Maris Rufus dari White Shadow.


Dengan memakai topeng hitam putih yang khas, dan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, itulah ciri pakaian anggota organisasi mereka. Lalu tiga pedang panjang yang tersarung di punggungnya, adalah ciri dari Maris.


Seseorang yang pernah bertarung denganku dua tahun lalu, dan berakhir membuatku babak belur. Setelah itu dia mengambil seseorang yang sangat berharga bagiku.


Begitu melihatnya lagi sekarang, aku tidak bisa mengendalikan pikiranku yang ingin membalas dendam.


Aku ingin membalas dendam!


"Di-dia... orang yang kita temui dua tahun lalu." Clara masih merasa tegang. Terlihat dari tangannya yang memegang busur panah dengan gemetar.


"Hmm, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Maris.


"Kau tidak mengingat dengan kejahatan yang telah kau lakukan? Aku sudah salah sangka terhadapmu. Kau ini benar-benar orang yang kurang ajar!" Ucapku dengan geram.


Maris tiba-tiba melompat dari atas sana. Dia mendarat persis di hadapan kami dengan jarak sekitar tiga langkah. Aku dan Clara langsung menjaga jarak darinya dan menyiapkan senjata kami.


"Hoh, sepertinya aku ingat kejadian itu. Kalian adalah party di dalam hutan yang sedang hujan itu, sudah sekitar dua tahun lalu, ya. Kalau tidak salah, kau adalah kakaknya gadis yang kubunuh." Maris berbicara dengan kami dengan sangat santai. "Kalau begitu, senang bisa bertemu kembali dengan kalian."


"Sialan!!"


Aku menerjangnya dengan pedangku. Aku benar-benar ingin membunuhnya. Orang yang sudah membunuh adikku!


"Shin!"


Tang!


Maris menangkis seranganku tanpa terlihat kapan dia mengambil pedangnya.


"Aku tidak punya urusan dengan kalian. Jadi bisakah kita pergi seakan tidak bertemu?"


Aku terus menekannya dengan pedang yang kugenggam dua tangan, tapi dia bisa menahannya hanya dengan pedang tipis satu tangan. Orang ini pasti bertambah lebih kuat sejak dua tahun terakhir.


"Berani-beraninya kau bilang tidak punya urusan denganku! Kau telah membunuh adikku! Maka akan kubuat kau merasakan penderitaannya!"


Sekarang!


Jangan, Shin!


Kenapa? Sekarang adalah kesempatanku untuk membalas dendam! Aku tidak akan membiarkan dia kabur lagi untuk yang kedua kalinya!


Ketahuilah batasanmu, Shin. Pergilah untuk mencari Riel selagi orang itu tidak mempedulikanmu. 


Riel?


Dia bukan adikku! Dia tidak bisa menggantikan posisinya di dalam hidupku!


"Shin, awas!" Clara tiba-tiba berteriak di belakangku.


Dzing! Dzing!


Clara menembakkan dua panah kepada Maris, dan aku melompat ke belakang untuk membuka jalan panahnya.


Tang! Tang!


"Hah! Sejak kapan dia menangkisnya?" Clara memperhatikan kedua panahnya yang terbelah dua dan menancap di tembok belakang. 


Orang ini sangat cepat dan berbahaya. Dia bisa membelah dua panah yang ditembakkan oleh Clara tanpa terlihat bergerak.


"Aku akan katakan sekali lagi. Aku tidak punya urusan dengan kalian, jadi bisakah aku pamit sekarang juga? Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian."


"Maaf saja. Aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi kali ini!"


"Baiklah, baiklah. Aku hanya membela diri dari kalian, oke?"


Aku tidak suka banyak bicara. Aku kembali maju menerjangnya dengan tebasan pedang, dan Clara mengambil posisi untuk menembakkan panah dari belakang. Jalan ini terlalu sempit untuk pertarungan tiga orang, sangat merugikan posisi Clara.


 Slash! Slash!


Tang!


Dzing! Dzing!


Maris menangkis semua seranganku dengan mudahnya. Masing-masing tangannya memegang pedang dan dapat menangkis pedangku serta panah Clara secara bersamaan.


Sudah dua tahun aku dan Clara tidak bertarung bersama kembali, tapi kami masih dapat menyelaraskan serangan agar tidak melukai satu sama lain.


"Twin Slash!"


"Power Shot!"


Aku melakukan dua tebasan secara diagonal ke arah Maris, kedua bayangan tebasan itu melesat dengan cepat ke arahnya. Clara menembakkan tiga panah sekaligus dengan sangat kuat, panah itu melesat dengan acak ke arah Maris agar sulit dihindarinya.


"Wow." 


Aku sempat mendengar dia mengatakan itu, lalu aku mulai kesulitan melihatnya bergerak.


Dia melesat menghindari semua serangan kami dengan lincah. Gerakannya hampir tidak bisa diikuti oleh mataku, dan hanya terlihat bayangan gerakannya saja di garis serangan kami.


Semua serangan kami mengenai tembok di belakang Maris dan membuatnya hancur berkeping-keping. Debu dan puingnya berserakan di sekitar jalan.


"Awas!" Clara berteriak lagi.


Aku tersadar dari suatu lamunan, lalu Maris tiba-tiba sudah berada di depanku. Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arahku tanpa bisa kurasakan sama sekali.


"Snipe!"


Dzing!

__ADS_1


Tang!


Maris mengurungkan serangannya, dan menangkis anak panah Clara yang melesat hampir secepat dirinya. Lalu belum satu detik sejak dia menangkis panahnya, dia sudah tiba di depan Clara juga.


Buk!


Tangan Maris meninju perut Clara dengan sangat kuat.


"Aakkh!!"


Bak! Buk!


Dua serangan berikutnya langsung membuat Clara terbanting ke tanah dengan sangat kuat. 


"Clara!"


Aku berbalik dan mengayunkan pedangku lagi ke arah Maris. Sudah berkali-kali ini terjadi, dia menangkis seranganku dengan sangat mudah dan mampu menghindarinya seperti berdansa.


Slash! Slash!


Tang!


Slash!


"Sonic Stab!"


Aku menusuk pedangku dengan sangat cepat ke arah Maris, dan hanya mengoyak sedikit kain pakaian di lengannya.


Bak!


Dia menyerang kakiku dan membuatku terpental ke arah depan.


Maris kembali menerjang ke arahku akan terjatuh.


"Aerial Blade!"


Memanfaatkan posisiku yang masih di udara sebelum terjatuh, aku membuat serangan berputar di udara dengan pedangku. 


Tang! Tang! Tang!


Aku berhasil menangkis serangannya dengan beruntun.


Maris sedikit mundur untuk menghindar, dan aku berhasil mendarat dengan aman di samping Clara.


Kelinci malang itu mendapatkan pukulan telak di ulu hati, dia masih mengerang kesakitan dan tidak akan bisa bergerak untuk sementara.


Maris masih belum bergerak dari tempatnya. Itu membuatku memiliki waktu melihat jalan di sekitar kami yang berantakan akibat terkena serangan. Tempat ini benar-benar dibuat kacau oleh pertarungan kami.


"Sudah keras kepala, bodoh pula."


Jleb! Jleb! Jleb!


Tiga pedang panjang miliknya menusuk pundak, perut dan pahaku.


Kapan dia melemparnya? Aku tidak bisa merasakan sesuatu yang datang ke arahku. Kemudian baru kusadari begitu tiga pedang ini tertancap di tubuhku.


Aku lupa. Aku lengah di dalam pertarungan.


"Huekkhh!"


Aku terjatuh berlutut dan memuntahkan darah dengan jumlah banyak. Tangan kananku menjatuhkan pedangnya akibat kehilangan sebagian tenaga.


"S-shin..." Clara memaksakan dirinya merangkak ke arahku.


Jleb! Jleb!


"AAaaa!!"


Dua buah belati kecil menancap ke tangan dan kakinya Clara. Dia langsung terdiam dan tidak bergerak lagi.


Racun!


Aku tidak bisa menghampirinya untuk memberi antidote. Tidak, "Clara. Bertahanlah..." 


Tubuhku sangat sakit jika digerakkan, karena akan membuat luka pedangnya menjadi semakin parah.


Maris mulai berjalan ke arah kami, dia mengeluarkan lagi belati dari balik jubahnya. Belati yang dipegang maris sekarang bukanlah belati yang dibuat untuk dilempar, itu adalah belati melengkung yang dibuat untuk memotong.


Sial... Aku telah membuat pilihan yang salah.


Aku datang kesini untuk mencari Riel, lalu untuk apa aku mencari mautku sendiri.


Aku tidak bisa melindungi seseorang disampingku lagi. Maaf Clara, aku tidak bisa melindungimu.


Maris mencengkram dan mengangkat tubuhku, kemudian mengarahkan belatinya ke depan leherku.


Setelah itu aku sudah Kehilangan kesadaran.


Pandanganku gelap, dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi di sekitarku.


***


...


...


...


Shin...

__ADS_1


Shin...


Shin!


"SHIN!"


"HA!! Apa yang terjadi! Dimana ini?" Aku terkejut dan seakan tersadar dari sesuatu.


Apa itu? Apa yang sebenarnya terjadi barusan?


"Syukurlah kau tidak apa-apa... Hueeeee!!" Clara menangis dengan histeris sambil memelukku.


"Tunggu, Clara!? Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku masih kebingungan untuk berpikir. Kenapa dia tiba-tiba menangis seperti itu?


"Tidak tahu... Aku tidak peduli apa yang terjadi asalkan kau masih hidup... Hueeee!!"


Hentikan! Kau membuatku kesulitan bergerak, dasar kelinci cengeng.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tiba-tiba tertidur di jalanan sempit daerah kumuh ini?


Tadi aku sedang marahan dengan Clara di kereta, lalu kami sampai di Kota Deedalee dan mulai mencari Riel.


Tidak, kami mencari informasi terlebih dahulu.


"Hiks, hiks... Shin..." Clara memanggilku.


Oh astaga, lihatlah ingusmu yang menempel di bajuku itu!!


"Jangan tinggalkan akuu... Shiinnn!!"


"Sudah hentikan, dasar kelinci bodoh!"


Bonk!


"Huaa... Sakit, Shin jahaaat!"


Kelinci ini memang sangat merepotkan. Seharusnya aku tidak pernah mengajaknya satu kelompok jika tidak ada Kirin. Kerena jika ada dia, Clara akan menangis kepadanya dan bukan kepadaku.


Huh!!


Kirin...


Aku sedang mengejar Maris, orang yang membunuh adikku itu.


Lalu kami menemukannya di jalan sempit ini dan pertarungan pun terjadi.


Kami kalah.


Kami kalah telak, dan Clara terkapar tak berdaya disampingku karena pukulan telak dan tertusuk belati beracun. Sedangkan aku tertancap oleh tiga pedang dan...


Lukanya tidak ada?


Aku berdiri dan mengecek semua bagian tubuhku. Tidak ada luka sama sekali. Padahal tadi aku benar-benar merasakan pedang itu menusuk tubuhku lalu dia menghabisiku dengan belati pemotongnya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Clara, bukankah tadi kita sedang bertarung dengan Maris?" Aku bertanya kepadanya.


"HUAAAA!!!! JANGAN KATAKAN ITUUU!! AKU TIDAK INGIN BERTEMU DENGAN ORANG ITU LAGIII!!!"


Aaahh! Sia-sia aku berbicara dengannya.


Tidak ada luka di tubuhku, Clara juga baik-baik saja, dan jalan tempat kami bertarung tadi kembali seperti semula. Padahal kami sempat menghancurkan beberapa tembok akibat serangan kami.


Apa jangan-jangan!


Ilusi.


Ya. Orang itu menggunakan teknik ilusi dan menyerang kami dengan teknik tersebut.


Tidak, dia hanya membuatmu tertidur karena mengganggunya.


Apa!?


Sudah kubilang dia bukanlah lawan yang bisa kau hadapi. Kenapa aku tidak bisa membantumu dalam pertarungan tadi, karena kau sedang berada di dunia mimpi.


Tidak mungkin. Aku belum pernah melihat atau bahkan mendengar teknik seperti itu.


Itu adalah teknik level 6 untuk seorang Assassin. Nightmare of Death. Paling buruknya teknik itu dapat membunuhmu juga, tapi dia menggunakannya hanya untuk pergi dari kalian. Dia sama sekali tidak berniat membunuh.


Sialan. Jadi selama ini aku hanya bertarung dengannya di alam bawah sadar. Bagaimana dengan kemampuan aslinya, pasti lebih hebat dari yang kulihat itu.


Aku tidak akan membiarkannya kabur lagi nanti. Aku tidak akan membiarkan pembunuh itu berkeliaran di dunia ini.


Haah. Terserah kau lah, Shin.


Saat aku melihat langit, warnanya sudah berubah menjadi jingga. Tak terasa kami sudah tertidur selama berjam-jam lamanya hingga sore hari. Kami sudah membuang banyak waktu yang berharga untuk mencari Riel.


"Clara?"


"Hiks, hiks. Ya?"


Haah. Dua tahun menjadi resepsionis guild, seram di depan petualang lain, tapi masih cengeng di depan anggota partynya.


"Kita kembali berjalan menuju bar itu. Ayo bergegas." Aku kembali berjalan ke arah yang kami lewati sebelumnya.


Clara memaksakan dirinya untuk bangun. Kakinya masih lemas sehingga dia sempat sempoyongan saat berdiri


Ini sudah sore, sudah beberapa jam berlalu sejak Maris pergi. Tidak mungkin seorang anggota organisasi sehebat dia ada di kota ini tanpa alasan. Aku harus menemukan Riel sebelum dia pergi ke markas bandit, atau Maris yang menemukannya duluan.

__ADS_1


__ADS_2