
"Adele!" Teriak Clara sambil memasuki sebuah bar.
"Selamat datang." Seorang bartender menyambut kami dari mejanya. Dia memiliki telinga yang sama seperti Clara. Wajar saja, mereka berasal dari ras dan desa yang sama.
"Apa kabarmu hari ini?" Sapa Clara.
"Baik."
"Hee, kau tidak rindu dengan kami? Padahal sudah bertahun-tahun lamanya kita belum bertemu."
"Tidak juga."
"Mmmm!" Clara merengut sebal.
Kami berdua memasuki bar yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Meskipun sudah berlalu sangat lama, tapi bar ini tetap tidak berubah sama sekali. Kumuh, dan sangat sepi pelanggan. Hanya ada satu orang yang sedang tidur di pojok sana.
Jika ada yang sedikit berbeda, mungkin karena Adele tumbuh lebih besar saja.
"Selamat malam, Adele. Lama tidak berjumpa." Aku ikut menyapanya juga.
"Hmm?" Adele memiringkan kepalanya karena bingung. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Haa! Kau... kau tidak ingat kami." Clara jatuh berlutut di lantai bar. "Kejamnya. Padahal kita memiliki leluhur kelinci yang sama. Padahal kita satu-satunya ras kelinci di kerajaan..."
"Sudah cukup dramanya, leluhurku tidak sama dengan kalian." Aku menyela Clara yang mulai berisik.
"Shin jahat, hmph!" Dengus Clara.
"Aku minta maaf jika tidak mengingat kalian, pelanggan yang pernah datang ke bar milikku. Tapi aku bertemu dengan banyak orang baru akhir-akhir ini." Adele menundukkan kepalanya, kemudian mengambil sebuah gelas dan mengelapnya.
Aku berjalan mendekati meja bartender untuk memesan sesuatu. "Aku pesan elang dan mangsanya."
Adele yang sedang mengelap gelasnya seperti biasa, sekarang terdiam dan menatapku dengan dingin.
"Masuklah ke dalam, kalian pasti sudah tahu tempatnya." Adele meletakkan kembali gelasnya dan beranjak pergi. "Hana, tolong jaga sebentar barnya."
"Iyaa!" Seorang pelayan lain datang. Kali ini dia berasal dari ras kucing hutan.
Aku dan Clara berjalan ke sebuah pintu yang terletak di belakang bar. Pintu itu akan mengarah ke ruangan khusus para pelayan bar, tapi terdapat tangga menuju ke bawah tanah di dalamnya. Di sanalah tempat bertukar informasi untuk beberapa pelanggan khusus bar ini.
Sampai di bawah tanah, kami bertiga duduk di sebuah meja dengan pencahayaan kristal sihir kecil. Clara terlihat tegang di sampingku. Dia pernah datang ke bar ini, tapi hanya aku dan ketua kami yang pernah masuk ke dalam sini.
"Apa?" Tanya Adele.
"Kami ingin tahu terkait markas bandit, White Shadow, dan dua orang gadis." Aku mendeskripsikan begaimana penampilan Riel dan gadis kucing bernama Momo itu.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa memberi tahu salah satu yang kau minta."
Adele mulai memberikan informasinya kepada kami.
***
"Kau sudah siap, Clara?"
"Ya!"
Pagi buta sebelum fajar menyingsing, kami berdua sudah berada di gerbang Kote Deedalee. Kami berdua akan melakukan penyerangan ke markas bandit yang terletak 1 jam perjalanan ke dalam hutan.
"Siapa kalian?" Salah seorang penjaga gerbang menghentikan kami. Seharusnya mereka lebih mencurigai orang-orang yang masuk ke kota, tapi pakaian kami juga bisa dikatakan mencolok oleh mereka.
Apalagi Clara tidak memakai tudung jubahnya. Jika sedang serius, kadang dia akan ceroboh dan melupakan hal penting lain.
Penjaga itu menghampiri kami bersama beberapa rekannya. Mereka terlihat mengantuk setelah berjaga semalaman dan belum berganti shift.
"Tunjukkan identitas kalian!"
Aku dan Clara mengeluarkan kartu petualang kami, lalu menunjukkan kepadanya.
"Petualang Kota Ciatar. Shin Raiden, itu kau!?" Penjaga itu terlihat terkejut saat membaca identitasku.
"Kau mengenalku?"
"Sekilas aku pernah mendengar namamu. Apapun yang ingin kau lakukan, terserah saja. Tapi jangan melakukan tindakan yang merugikan orang lain." Penjaga itu memberi kami jalan.
"Baiklah, terima kasih." Aku dan Clara melewati mereka menuju keluar gerbang.
"Hei, kapten. Kau mengenal dia?" Salah seorang penjaga saling berbisik. Tapi aku dan Clara masih dapat mendengar mereka dengan jelas.
"Tentu saja! Party mereka sangat terkenal kala itu, meskipun sekarang sudah bubar entah kenapa."
__ADS_1
"Gadis kelinci itu juga?"
"Iya, tapi dadanya tidak terlalu menarik."
Saat aku menengok ke Clara, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Akan kupanah bokong mereka." Gerutunya pelan.
Kami berdua mulai berjalan memasuki hutan. Jalan yang akan kami lalui sudah dipetakan oleh seorang pengintai, dan menjualnya melalu Adele. Kami harus menunggu hingga pagi ini saat petanya sampai, kemudian berangkat.
Semoga Riel masih baik-baik saja.
"Clara, aku minta petanya."
"Oh, baiklah." Clara merogoh tas yang ada di balik jubahnya. Dia agak kesusahan mengambilnya karena busur dan kotak anak panahnya. "Ini."
Aku mengambil peta tersebut dan membukanya.
Peta ini hanya berisi sobekan wilayah hutan dari sebuah buku, dan coretan kasar jalan yang harus kami lalui. Pengintai itu sepertinya sedang malas menggambar peta sendiri. Tapi ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
"Grrr." Clara menggigil kedinginan.
Hari masih pagi buta dan sedikit lagi musim dingin, aku pun juga merasa kedinginan sama sepertinya. Sayangnya kami belum memiliki cincin dengan efek sihir api yang menghangatkan tubuh penggunanya.
"Apakah tempat mereka masih jauh." Tanya Clara bodoh.
"Kita baru masuk ke dalam hutan. Kalau menurut Adele dan pengintai itu, paling lambat kita akan sampai dalam 1 jam."
"Hee, apa kita bisa berlari saja?"
"Tentu. Baru aku akan memikirkannya."
"Oke!"
Seperti yang dikatakan Clara sebelumnya, kami pun berlari menuju tempat tujuan kami.
Sebagai petualang berlevel 5 dan 4, stamina yang kami miliki cukup untuk berlari hingga 1 kilometer dengan kecepatan tetap. Kami juga membawa Stamina Potion yang dapat memulihkan tenaga kami dalam sekejap, lalu kembali berlari.
Kresek! Kresek!
Aku dan Clara mendadak berhenti dan mengangkat senjata kami.
Telinga Clara bergerak-gerak merasakan sesuatu.
"Hanya hewan liar biasa."
Tak lama setelah itu, seekor kelinci melompat dari balik semak-semak.
"Hah, kalian sama menyebalkannya." Gumamku.
"Aku tidak seperti itu! Moo!"
Shaaa!!
Mendadak Kelinci itu diterkam oleh ular dari belakangnya.
"Hii!" Clara menjerit.
"Daan, seperti itukah kalian akan berakhir?"
"Lepaskan diaaa!!" Clara mengejar ular itu sambil menembakkan panahnya.
Huh, dasar. Padahal kita sedang dalam situasi yang lebih genting. Kelinci bodoh itu masih saja tidak memikirkan situasi.
Shin.
Hmm? Kau memanggilku?
Ada seseorang yang terluka di sekitar sini.
Seseorang? Apa dia terkena gigitan ular itu?
Tidak. Dia terluka akibat perangkap manusia dan sedang tak sadarkan diri.
Begitukah, dimana dia sekarang?
Di sana.
Aku tidak bisa melihatmu menunjuk.
__ADS_1
Ke arah kelinci mengejar ular yang menerkam kelinci tadi.
Hoo, baiklah. Setidaknya panggil dia dengan namanya, kau hanya membuatku bingung.
Aku beranjak pergi ke arah Clara mengejar ular tadi. Dia berada tidak jauh di depanku, aku masih dapat mendengar suaranya bergerak di antara pepohonan.
"Clara?" Tak lama kemudian aku menemukannya sedang menopang seorang gadis di tangannya. "Apa yang dilakukan seorang Priest di hutan saat ini?"
"Dia sepertinya terluka karena perangkap seseorang. Ada bekas luka di bagian kaki dan tangannya." Clara membaringkan gadis itu ke tanah, lalu mengambil beberapa potion untuk menyembuhkan luka.
"Tinggalkan saja gadis itu. Prioritas kita sekarang adalah Riel."
"..." Clara masih terdiam setelah pertanyaanku. "Kenapa... kenapa kau masih sama saja seperti dulu?"
Sekarang aku yang terdiam.
Clara menyinggung sikapku yang tidak mempedulikan orang lain saat kami masih satu party. Aku memang hanya mempedulikan teman-temanku, peduli amat dengan orang lain yang hanya menyusahkanmu saja.
Tanpa menghiraukan perkataanku, Clara kembali memberikan perawatan pertama pada gadis Priest tersebut.
"Hmm!" Gadis itu sedikit merespon saat lukanya diberi obat.
"Tahanlah sebentar lagi." Setelah Clara membersihkan dan memberi obat pada luka gadis tersebut, dia juga mengeluarkan perban dan membalutinya dengan hati-hati.
"Em, mm... Kalian?" Gadis itu mulai tersadar dan membuka matanya.
"Hei, apa kau tidak apa-apa?" Clara mencoba berkomunikasi dengannya.
"Mmm... ya. Aku, baik-baik saja."
Aku mengambil tongkat milik gadis itu yang terjatuh tak jauh darinya. Dari bentuk dan kualitas tongkat ini, dia terlihat seperti bukan Priest biasa.
Clara menyandarkan gadis itu ke batang pohon di dekatnya. Dia terlihat cukup bertenaga meskipun baru saja tak sadarkan diri. Gadis ini, ada yang berbeda dari kelihatannya.
"Wahai... Ibu yang penuh belas kasih..." Gadis itu terbata-bata merapalkan sesuatu." Recovery."
Sebuah cahaya muncul dan menyelimuti gadis tersebut. Luka dan kotoran yang berada di tubuhnya hilang bersama cahaya tersebut. Hanya saja kotoran dan bekas darah di pakaiannya tidak ikut hilang bersama lukanya.
Memang sungguh hebat seorang Priest. Kalau begitu Clara tidak perlu repot-repot menggunakan potion miliknya.
"Aku sudah lebih baik sekarang. Terima kasih telah menolongku." Gadis itu bangun dan berdiri dengan tegak seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku memberikan tongkat yang kuambil tadi kepadanya. Dia kembali berterima kasih secara berlebihan padaku.
"Di sana ada jalan setapak yang kami lalui tadi. Ikuti saja dan kau akan sampai di kota terdekat." Aku menunjuk ke arah kami datang tadi.
"Shin! Bersikaplah lebih ramap padanya." Clara memarahiku.
"Tidak apa, aku masih sangat berterima kasih atas bantuan kalian. Tapi aku harus pergi lagi ke dalam hutan." Kata gadis tersebut.
"Hah? Apa yang ingin kau cari di dalam sana? Tempat itu sangat berbahaya untuk gadis sepertimu." Sanggah Clara.
"Iya, aku tahu itu. Tapi ada seseorang yang harus aku cari di dalam sana."
"Siapa itu? Apa dia tersesat di dalam hutan?"
"Tidak. Dia diculik oleh bandit."
"Bandit!?"
"Apa yang kau pikirkan saat ini. Datang ke sana sama saja dengan bunuh diri bagimu." Aku turut menyanggah gadis tersebut.
"Ta-tapi, aku adalah seorang petualang berlevel 3. Aku tidak bisa tinggal diam atau melarikan diri seorang diri."
Petualang level 4? Hanya satu level saja di bawah Clara. Dan seperti yang kuduga sebelumnya, gadis ini bukan sekadar gadis Priest biasa.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa berakhir seperti ini." Tanyaku. Gadis ini bisa dimanfaatkan dalam perjalanan kami jika tujuannya sama.
"Aku dan kakakku sedang dalam perjalanan pulang dari ekspedisi di luar kota. Kami ingin mengambil jalan cepat menuju kota terdekat, tapi kami malah tersesat di hutan besar ini hingga larut malam."
Jangan pergi ke dalam hutan yang belum pernah kau datangi tanpa peta, kecuali ada seorang pemandu yang mendampingi perjalanannmu. Itu adalah pengetahuan dasar bagi seorang petualang.
"Saat kami berada lebih jauh di dalam hutan, kami menemukan pos bandit dan tak sengaja membuat keributan. Lalu kami dikejar mereka dan terpisah di tengah jalan. Mereka terus mengejar kakakku dan mungkin sudah menangkapnya. Sedangkan aku tersesat dan terluka akibat perangkap mereka."
Lalu, sejak saat itu kami mengajak gadis Priest bernama Christa tersebut ke dalam perjalanan kami. Tak butuh lama untuk menemukan markas para bandit berkat peta yang kami miliki. Begitu sampai di sana, sudah terjadi pertarungan hebat antara bandit dan orang yang pasti melakukannya.
Riel, gadis kucing bernama Momo, dan kakakknya Christa.
Aku yakin pasti Riel yang mengakibatkan semua kekacauan ini, aku sudah tidak heran lagi. Namun aku sedikit terkejut sewaktu melihat kakaknya Christa. Sekilas aku tidak bisa membedakan dia itu laki-laki atau perempuan.
__ADS_1
Clara menembakkan panah dengan skill Snipe-nya, ke seorang Assassin yang sedang menyerang kakaknya Christa. Setelah itu kami keluar dan menghampiri mereka di sana. Sepertinya di depanku ada seorang pengguna artefak juga.