Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 36: Pergi Sendiri


__ADS_3

"Jangan Shin." Bujuk Clara. "Tidak perlu mengejarnya lagi sekarang. Itu terlalu berbahaya!"


"Aku hanya pergi selama beberapa hari. Sekadar mencari informasi dan segera pulang." Niatku memang begitu. Tapi sepertinya aku akan sedikit lebih lama berada di desa itu.


"Biarkan aku ikut!" Seru Riel.


"Tidak."


"A-aku, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri! Aku bisa membantumu mencari informasi di sana."


"Sadar dirilah, kau sering pergi sendiri padahal sudah kularang."


"Ah! I-itu..."


"Kau hanya akan menjadi bebanku nanti. Makanya aku akan pergi sendiri."


"Hah!? Apa aku ini sangat lemah sehingga hanya menjadi beban untukmu?" Riel marah padaku. "Aku tahu aku masih lemah bagimu. Tapi bukankah sejak di dungeon aku sudah menunjukkan kemampuanku? Aku bisa melindungi diriku sendiri."


"Kau mengaku lebih lemah dariku, tapi sudah bisa melindungi diri sendiri? Lalu bagaimana denganku yang lebih kuat darimu?"


"Itu... Setidaknya—"


"Ini bukan di dungeon, dan lawanku nanti bukanlah monster maupun bandit."


"Aku tahu itu! Tapi—"


"Hei! Pagi-pagi sudah mengganggu orang lain saja. Bisakah kalian peka terhadap sekitar?" Orang di meja sebelah kami menggerutu. Sarapannya terganggu karena keributan yang kami sebabkan.


Riel terdiam saat dimarahi olehnya. Dia membuang muka dengan kesal, dan memasang ekspresi kecewa.


"Maaf. Kami akan berusaha lebih tenang sekarang." Clara berdiri dan meminta maaf kepada orang itu.


Sepertinya memilih tempat ini untuk bertemu dengan mereka merupakan pilihan yang buruk.


Aku tahu Riel pasti akan membuat keributan saat dia tidak setuju denganku. Beruntung ada Clara di sini, dia terbiasa menghadapi orang-orang jika terdapat suatu masalah.


"Riel." Panggilku.


"Hmph!" Dia mendengus kesal.


Tidak apa. Selama dia tidak ikut pergi bersamaku, itu sudah lebih dari cukup.


"Shin, tidak perlu berlebihan seperti itu juga." Clara menegurku. "Dia juga khawatir denganmu, setidaknya tolak dia dengan baik."


"Jika aku tidak berbuat tegas, dia hanya akan menambah masalah bagi orang lain."


"Shin, sudah cukup."


Riel berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi. Dia kembali ke kamarnya meninggalkan kami.


"Kak Riel?" Si gadis kucing mencoba memanggilnya, tetapi Riel tidak mempedulikannya dan tetap berjalan dengan kesal.


"Maaf, gadis kucing. Tapi begitulah sifatnya." Ucapku. "Apa selama kalian bersama, kau tidak merasa terganggu olehnya?"

__ADS_1


"Tidak." Jawabnya dengan cepat. "Kak Riel adalah orang yang baik."


Hah, begitulah menurutmu.


Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya jika sewaktu kami pergi ke sana, kami bertemu dengan salah satu anggota dari White Shadow. Tanpa persiapan yang matang, pergi menghadapi mereka sama saja dengan bunuh diri.


Sampai sekarang aku masih tidak tahu motif mereka sebenarnya. Membunuh seseorang bukanlah hal yang sulit bagi mereka, karena aku pernah dipermalukan dengan sebuah teknik ilusi yang membunuhku di dalamnya. Aku tidak punya wajah lagi jika ketuaku dulu mengetahui itu.


Satu anggota mereka saja sudah sekuat itu, dan aku belum tahu seorang Mage yang mengajari Momo akan sekuat apa jika dibandingkan dengan Maris. Meskipun hanya seorang Mage, tapi beberapa sihir mereka sangat merepotkan bahkan mematikan.


"Kau, gadis kucing."


"Mm?"


Aku baru menyadari kalau sejak tadi dia memperhatikanku. Dia terlihat tenang meski kemarin aku hampir membuatnya ketakutan. 


Dia memiliki kepribadian yang cukup menarik, dan juga kekuatan sihir yang sangat hebat. Aku sempat tertarik dengan ras kucing yang satu ini.


"Kenapa kau tidak ingin kembali ke desamu?" Tanyaku.


"..." Dia terlihat ragu untuk menjawabnya. "Kau ingin pergi ke sana, bukan? Nanti kau juga akan tahu sendiri." Jawabnya acuh.


Hoo, berarti dia menyutujuiku.


Aku memang tidak meminta persetujuannya. Meski mereka bertiga mengatakan apapun untuk menghentikanku, aku akan tetap berangkat sendiri. Ini adalah urusanku, dan mereka tidak perlu terlibat di dalamnya.


Jika saja Violet tidak berbicara denganku semalam, mungkin saja aku akan memaksa kucing ini untuk ikut denganku.


Tapi masalah utamanya, dia masih terlalu kecil dan juga pendiam. Aku tidak bisa memaksa seorang gadis kecil untuk ikut pergi denganku. Itu sama saja seperti penculikan. 


Aku juga agak waspada dengan sihir-sihir yang dimilikinya. Jika dia merasa terancam dan tanpa sengaja mengeluarkan sihir terkuatnya, Icicle Storm tempo hari bisa saja berubah menjadi Nightmare Blizzard, lalu membekukan seluruh kota.


Untungnya kapasitas mana yang dimiliki ras kucing tidak sebanyak kapasitas mana ras manusia. Meraka hanya bisa merapalkan sihir setengah dari jumlah yang bisa manusia gunakan.


"Maaf, Kak Shin." Dia memanggilku.


"Ya?"


"Na-namaku... Panggil saja aku Momo."


Dia merasa tidak nyaman saat aku memanggilnya seperti orang asing.


Begitulah, dia punya nama. Aku akan menghormatinya karena dia adalah seorang Mage yang hebat untuk seumurannya. Dia juga bisa menjadi teman baru Riel, karena mereka sama-sama seorang gadis. Clara terlalu sibuk dengan urusan guild sehingga tidak bisa selalu bepergian bersama kami.


"Baiklah. Aku akan memanggilmu Momo."


"Terima kasih." Momo tersenyum tipis. Itu lebih baik daripada wajah datar yang biasanya.


Kau yakin tidak ingin mengajak mereka, Shin?


Kenapa? Tentu saja tidak. Aku tidak ingin membawa mereka ke tempat yang berbahaya.


Baiklah kalau begitu, terserah kepadamu.

__ADS_1


Kenapa kau jadi seperti ini? Kau tidak percaya padaku?


...


Dia tidak menjawab. Ya sudah. Aku akan tetap pergi sendiri.


"Shin." Panggil Clara.


"Ada apa lagi?" Keluhku.


"Kapan sekiranya kau akan berangkat?" Aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya.


Sejak dulu, Clara memang sudah seperti ini. Dia selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil dan berusaha menjaga seluruh anggota party kami.


Dia memisahkan ketika terjadi pertengkaran. Dia memberi saran ketika kami sedang kebingungan. Dia mencegah ketika kami akan melakukan tindakan yang berbahaya.


Meski kadang cerewet atau berbuat bodoh, Clara juga membuat party kami terasa lebih hidup. Kemudian saat Adikku juga bergabung dengan party kami, Clara menjadi sangat senang karena mendapatkan teman baru.


Party kami menjadi lebih berwarna dan bersemangat untuk berpetualang. Meski itu hanya berlangsung selama beberapa tahun saja.


"Secepatnya. Aku ingin cepat sampai, dan juga cepat pulang." Jawabku.


"Apa aku juga perlu ikut?"


"Tidak. Kau jaga Riel dan Momo di kota ini, atau langsung pulang saja ke Kota Ciatar. Musim dingin akan segera datang, dan dungeon akan menjadi lebih ramai."


"Bagaimana dengan barang-barang yang kita dapatkan dari para bandit?"


"Oh, itu. Aku sudah menyuruh salah satu kenalanku untuk menjualkannya di distrik perdagangan. Sore ini seharusnya dia akan datang kepadamu. Tunggu saja."


"Baiklah." Clara akhirnya terdiam.


"Hei, Clara." Panggilku. "Belilah sarapan untuk kalian. Jangan sampai perut kalian kosong di pagi hari ini."


"Iya. Aku akan memesannya."


"Kak Shin?" Momo yang memanggilku.


"Ada apa?"


"Saat kau sudah sampai di desaku dan mendengar beberapa cerita, aku mohon berbohonglah kepada Kak Riel."


Apa?


Aku merasakan firasat buruk tentang desanya.


Desa ras kucing yang terletak satu hari perjalanan dari Kota Deedalee, dan tidak terikat dengan Kerajaan Atria. Apa saja bisa terjadi di desa yang rentan itu, seperti kedatangan anggota White Shadow.


"Katakan saja apa yang mengganjal pikiranmu sekarang. Itu lebih baik dari pada harus disimpan lebih lama." Clara ikut membujuk.


Momo menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Aku yakin kehidupanku yang sekarang ini akan baik-baik saja."


Aku dan Clara sedikit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Momo. Tapi karena kami sudah memiliki pengalaman berpetualang selama bertahun-tahun, kami mulai paham dengan apa yang dia maksudkan.

__ADS_1


__ADS_2