Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 37: Lagi, dan Lagi


__ADS_3

Sore itu Clara baru saja kembali ke penginapan.


Dengan terengah-engah, dia memikul sebuah kantung besar berisikan uang. Itu adalah uang hasil penjualan barang-barang rampasan perang dari para bandit.


Shin menyewa jasa seorang pedagang kenalannya untuk menjual barang-barang tersebut, lalu Clara akan mengambilnya saat sudah selesai. Saat itu kemungkinan Shin sudah pergi menuju desanya Momo, maka Clara yang akan melanjutkan proses transaksinya.


"Hah, hah, sebenarnya ini tidak berat. Hanya saja mengurus para pencuri di jalanan tadi sungguh merepotkan."


Eeee... Ternyata dia tidak kelelahan karena membawa kantung itu.


Baiklah, sekarang Clara menaiki tangga menuju lantai atas, lalu masuk ke dalam kamar mereka di sana. Tidak ada Riel dan Momo di dalamnya, mungkin saja mereka sedang jalan-jalan atau membeli makanan di luar.


Mereka berdua tidak ikut dengannya karena ada suatu hal penting yang ingin mereka lakukan. Clara sendiri tidak merasa keberatan. Menjaga barang berharga dari orang-orang jahat bukanlah hal yang sulit baginya, asalkan yang mencoba mencurinya bukanlah White Shadow.


"Whuup!" Clara menjatuhkan kantung yang dibawanya.


Buk!


Sakin beratnya, suara yang dihasilkan seperti seseorang yang terbanting di lantai.


Clara menyeka keringatnya dan bernafas lega. Dia memperhatikan apa yang dibawanya saat ini, dan sekali lagi menyadari kalau itu adalah sekantung besar uang yang jumlahnya sangat banyak. Ini seperti harapan yang selalu dia harapkan sebelumnya.


"Aku tidak percaya di dalam kantung ini jumlahnya sekitar 5 juta nira." Clara mengusap-usap kedua matanya. Telinganya ikut berdenyut-denyut mengikuti perasaannya. "Aku tidak pernah memegang uang sebanyak ini sebelumnya."


Sambil menunggu Riel dan Momo kembali, Clara berkeliling tidak jelas di dalam kamar. Tiduran di kasur, melompat-lompat di atasnya, dan sekali lagi memperhatikan kantung yang berisi uang itu.


'Kau sekarang bisa melunasi uang penginapan, dan membeli wortel segar setiap hari.' Clara membanyangkan jika Riel mengatakan itu.


"Huaaa, terima kasih Riel! Aku sangat ingin makan wortel segar setiap hari!"


'Kau tidak terlalu berguna saat penyerangan. Jadi kau bisa mengambil sedikit saja sebagai ongkos mengambilnya dari pedagang.' Kali ini dia membayangkan Shin yang mengatakannya.


"Ugh. Tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa makan wortel sisa kemarin. Riel lebih berhak menerima semuanya, dia bisa membeli perlangkapan bagus untuk petualangannya." Mendadak wajahya berubah menjadi lesu.


Hari semakin sore, dan Riel tidak kunjung pulang bersama Momo.


Setelah sarapan, Riel terus mengurung diri saja di kamar. Dia marah karena Shin tidak mau dirinya ikut ke desa Momo, dan dia juga sempat menerima ejekan yang cukup menyakitkan dari Shin.


Kalau Clara yang berada di posisi itu, reaksinya akan biasa-biasa saja karena dia sudah terbiasa dengan perilaku Shin. Tapi Riel yang baru beberapa hari mengenalnya, tidak bisa menerima apa yang dia katakan begitu saja. Apalagi jika itu sangat menyinggung perasaan.


"Mereka berdua lama." Gumam Clara.


Saat Clara pergi mencari pedagang itu siang tadi, mereka berdua masih berada di dalam kamar penginapan. Riel masih merajuk, dan Momo mencoba mengobrol untuk membuatnya lebih tenang.


Clara juga sempat mencoba untuk menenangkan Riel, tapi hasilnya dia malah menjadi lebih kesal. Jadinya Clara dicuekkin selama di penginapan siang itu.


Kalau tidak salah siang tadi mereka bertiga belum makan siang. Sekarang sudah sore, dan perut Clara mulai keroncongan. Itu membuat dia berpikir kalau Riel pergi bersama Momo untuk mencari makanan di luar.


Begitu Clara ingin melakukan hal yang sama, dia melihat sobekan kertas di atas laci di sampingnya.


"Surat?" Tebaknya.


Clara mengambil sobekan kertas itu dan membaca tulisan di atasnya.


[Kepada Clara


Aku dan Momo ingin jalan-jalan sebentar ke desa kucing


Aku minta maaf jika pergi tanpa memberitahumu sebelumnya, tapi kau pasti tidak akan membolehkanku melakukannya


Aku sudah makan siang, dan kau jangan lupa makan juga, ya ;D. Kami akan kembali besok atau lusa, atau lebih telat sedikit.]


Telinga Clara menciut saat membaca surat itu.


"Riel..."


Tangannya gemetaran, dan surat yang digenggamnya jatuh ke lantai.


"Kenapa..."


Clara jatuh berlutut, dan matanya menatap kosong lantai penginapan yang terdapat sekarung besar uang di sana. Saat itu juga, tanpa dia sadari kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia teringat seseorang yang akan melakukan hal yang sama jika terjadi sesuatu seperti ini.


"Kenapa kau sangat mirip dengannya..."


***


Aku pergi ke pasar untuk mencari kereta kuda yang mau mengantarku. Di sini adalah distrik perdagangan, dan ada banyak sekali pemilik kereta kuda di sini.

__ADS_1


Kebanyakan dari mereka memanglah seorang pedagang. Kereta kuda itu mereka gunakan hanya untuk membawa barang dagangan mereka dari suatu desa, menuju kota, atau tempat lainnya.


Meskipun mereka memiliki kereta kuda itu secara pribadi, tidak menutup kemungkinan ada orang yang menawarkan jasa transportasinya. Itu adalah bisnis yang tidak kalah saing di sini, karena mereka akan mengurangi jumlah perawatan kendaraan pribadi para pedagang di kota.


"Permisi tuan. Apa kau bisa mengantarkanku pergi ke suatu desa? Aku lihat kau memiliki beberapa kereta kuda di sini." Aku menyapa salah seorang pemilik kereta kuda di depanku.


"Oh, maafkan aku tuan petualang. Itu memang kereta kudaku, tapi aku sudah menggunakannya untuk mengangkut barang-barangku. Sekali lagi aku mohon maaf atas keberatannya."


"Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih atas waktunya."


Itu adalah orang ketiga yang aku datangi, dan dia juga bukan orang yang bisa memberiku tumpangan.


Perjalanan ke desa kucing itu cukup jauh jika harus di tempuh dengan jalan kaki, bisa memakan waktu beberapa hari. Sedangkan aku tidak bisa meninggalkan Riel terlalu lama sendirian.


Tapi jika aku tidak segera ke sana, musim dingin akan tiba dan aku tidak bisa berpergian lagi ke sana. Kalau tidak salah, desa mereka terletak di lereng gunung, dikelilingi oleh hutan dan juga medan yang curam. Salju akan memblokir rute apapun menuju desa tersebut.


Shin.


Ya?


"Permisi, tuan petualang." Seseorang memanggilku dari belakang.


Aku berbalik dan melihat orang yang menyapaku itu. Dia terlihat seperti seorang pedagang yang masih cukup muda. Bocah laki-laki yang kemungkinan lebih muda dari Riel, dan menjalankan bisnisnya seorang diri.


"Ya? Ada perlu apa?"


"Aku melihat tuan sedang mencari kereta kuda untuk pergi ke suatu tempat. Aku bisa mengantarkanmu ke sana, tentu saja dengan potongan harga untuk seorang petualang. Bagaimana?"


Caranya menawarkan jasa masih terdengar amatir buatku. Tapi setidaknya dia yang datang padaku, dan itu sangat menghemat waktu.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu." Jawabku.


"Yess! Ikuti aku, tuan petualang!" Bocah itu mulai berjalan di depanku.


Kami menyusuri distrik petualang cukup jauh dari tempatku mencari sebelumnya. Aku menjadi curiga darimana dia bisa mengetahui kalau aku sedang mencari kendaraan. Kalau dia mengatakan insting seorang pedagang, maka aku tidak bisa menyangkalnya.


Shin.


Ada apa lagi? Kau iseng memanggilku?


Cih. Dia hanya mengantarkanku sampai desa itu, lalu kami akan saling tidak mengenal lagi. Bukankah itu yang umumnya terjadi?


Itu hanyalah pola pikirmu yang sempit.


Maaf, Violet. Tapi aku tidak tertarik.


Huuh. Ya sudah.


Setelah beberapa saat kami berjalan, kami tiba di sebuah tempat di mana banyak kereta kuda sedang terparkir di sana.


"Apa kau punya barang bawaan, tuan petualang?"


"Aku sudah membawa semua yang kubutuhkan. Kita bisa langsung berangkat."


"Wah! Keren seperti petualang yang pernah kubayangkan! Oke, mohon tunggu sebentar di sini. Aku akan menyiapkan kereta kudanya." Bocah itu berlari menuju salah satu kereda kuda, dan mulai menyiapkannya untuk perjalanan.


"Kemana kita akan pergi?" Tanya bocah itu.


"Desa ras kucing di lereng gunung."


"Oke! Perkiraan kita akan sampai dalam waktu satu hari satu malam jika perjalanan lancar, dengan 2 kali istirahat di jalan."


Aku menaiki kereta kudanya, dan duduk di gerbong yang berisikan cukup banyak barang dagangan.


Seperti yang kuduga, bocah ini juga seorang pedagang yang berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Mungkin karena penjualannya sedang menurun, dia mencari pemasukan lain dengan memberikan jasa tumpangan.


"Apa penjualanmu kurang beruntung di kota ini? Aku melihat cukup banyak sisa barang-barangmu di kereta."


Ada sebuah kotak kayu besar, beberapa guci, karung, dan barang dagangan lainnya di dalam sini. Sekilas membuat tempat ini lebih sempit, tapi sepertinya jika terlalu lega tidak nyaman juga buatku.


"Oh! Aku bahkan sangat beruntung tiba di kota ini! Daganganku habis, dan itu adalah barang-barang baru yang akan aku jual di tempat lain. Maaf ya, jika tempatmu jadi lebih sempit."


Haa, aku berprasangka buruk. "Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak merasa terganggu dengan barang-barangmu, jadi kita bisa berangkat secepatnya."


"Oke!" Bocah itu duduk di kursi pengemudi, dan mulai menghentakkan tali kudanya "Hyaa!"


Kereta kuda perlahan berjalan, dan masuk ke jalanan kemudian bergabung dengan kereta-kereta kuda lainnya di distrik perdagangan.

__ADS_1


Kami beragkat menuju desa itu menjelang sore hari. Jadi perkiraan aku akan sampai di sana sekitar besok siang atau mungkin sorenya juga. Jalan yang akan kami lewati seharusnya lancar sampai di daerah pegunungan. Jika sudah sampai di sana, barulah medan akan menjadi lebih sulit.


Ada kemunkinan bocah ini cukup mengantarku sampai di desa itu, kemudian dia bisa kembali ke kota. Atau bisa jadi dia ingin singgah di desa itu juga untuk mencoba menjual barang dagangannya, lalu kembali saat urusanku di sana sudah selesai.


"Kau bisa beristirahat duluan, tuan petualang. Kita akan segera berhenti karena para kuda sudah terlihat lelah, tapi kau bisa istirahat di kereta duluan jika mau."


Tidak terasa sudah berlalu beberapa jam hingga matahari terbenam, dan sejak tadi aku hanya melamun ataupun mengobrol bersama Violet. 


"Aku akan istirahat saat kita sudah berhenti saja."


"Oh, baiklah."


Sesekali aku juga mengobrol dengan bocah itu. Topik yang dia bahas cukup umum untuk seorang petualang, jadi aku bisa menjawabnya tanpa harus waspada apa yang akan kau katakan.


"Ngomong-ngomong, tuan petualang. Apa aku boleh tahu siapa namamu? Sejak tadi kita mengobrol tapi lupa memperkenalkan nama masing-masing."


"Panggil saja aku Shin."


"Baiklah, tuan Shin. Perkenalkan juga, namaku Roger."


Roger? "Panggil saja aku Shin."


"Ahaha. Baiklah, Shin."


Kami terus melanjutkan perjalanan sebentar lagi, hingga akhirnya bocah itu mulai meminggirkan kereta kudanya. 


Di samping kami terdapat sebuah lahan yang cukup luas, dan terdapat sebuah pohon di tengah-tengahnya. Tempat ini cukup jauh dari bahaya sergapan musuh ataupun hewan buas. Bocah itu rupanya cukup memiliki pengalaman di alam liar.


Tapi, sejak tadi aku justru curiga dengan bocah itu.


Shin.


Ya?


Sejak tadi aku tidak merasakannya, tapi baru saja aku sekilas merasakan sesuatu.


Sama denganku. Hanya sesaat, tapi sangat terasa. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh bocah ini.


"Hoi, Roger." Panggilku.


"Ya? Ada apa, Shin? Kau sudah bisa turun sekarang. Aku akan menyiapkan tendanya sesaat lagi."


"Boleh aku buka isi kotak besar yang ada di keretamu?"


"Heh!?" Bocah itu terkejut. "I-itu hanya barang daganganku. Tidak ada yang spesial di dalamnya."


Maafkan aku, Roger. Tapi kemampuan berbohongmu masih harus di asah lagi.


"Oh, ya? Lalu lebih tepatnya barang apa yang kau simpan di dalamnya?"


"Ehh, ituu... Aku menyimpan sayuran!"


Sayuran? Jika dia bilang dia menyimpan zirah, maka aku akan percaya. Kotak sebesar itu terlalu berlebihan untuk menyimpan sayur-sayuran. Jadi lebih tepatnya bocah itu menyembunyikan sesuatu di dalam kota besar tersebut.


"Tidak! Aku mohon jangan di buka!"


Jika dia mentransaksikan suatu barang ilegal, maka aku akan mebiarkannya untuk kali ini. Tapi aku harus berhati-hati jika tiba-tiba dia menyerangku dari belakang.


Tapi jika yang ada di dalam kotak ini...


...


Saat aku membukanya, ini sungguh di luar dugaanku.


"Ehh, hai." Riel menyapaku dengan tangannya.


Dua gadis ini, masuk ke dalam sebuah kotak besar dan mengikutiku selama perjalan. Riel, dan Momo.


Tidak perlu jauh-jauh, aku yakin Riel lah yang merencanakan semua ini. Dia sudah bertemu lebih dulu dengan Roger, lalu mereka mendiskusikan sesuatu. Riel memberitahu lokasiku, dan Roger mencariku untuk ditawari perjalanan dengan potongan harga.


Saat aku naik ke atas kereta, mereka berdua sudah siap duluan di dalam kotak besar ini.


Aku sempat melihat sebuah cincin yang mereka kenakan di masing-masing jari mereka. Itu adalah cincin untuk menghapuskan jejak. Meskipun kau tetap terlihat, tapi mereka tidak akan menyadari keberadaanmu, suaramu, atau bahkan auramu sebelumnya.


Sebuah cincin beratribut sihir yang sangat berguna untuk mengendap-endap. Efeknya akan hilang jika seseorang sudah melihat penggunanya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"

__ADS_1


__ADS_2