Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 21: Pencarian dan Pengejaran


__ADS_3

Setengah jam berlalu sejak saat itu, dan aku sudah sampai di Stasiun Kota Ciatar. Kali ini aku akan melakukan pencarian dan pengejaran sekaligus. Tidak bisa dipungkiri jika nanti akan terjadi pertarungan yang sengit di sana.


Kali ini aku membawa pedang yang sudah lama tidak kupakai. Violet Storm. Pedang berwarna hitam dengan ukiran rune yang akan berwarna ungu jika kualiri mana ke dalamnya. Terakhir kali aku menggunakan pedang ini adalah ketika aku melawan orang itu.


Maris Rufus.


Aku pernah bertarung dengannya, namun berakhir dengan kekalahan telak. Jika teman-temanku tidak datang saat itu, aku pasti tidak akan berbicara di sini.


Telat beberapa menit, itu masih lebih baik dari yang biasanya telat satu jam. Clara akhirnya tiba juga di stasiun, bertepatan dengan kereta berikutnya yang akan berangkat sebentar lagi.


Dia masih menggunakan seragam guild, dengan jubah berwarna coklat yang menutupi tubuhnya. Aku melihat busur panah lama miliknya dan beberapa anak panah baru. Dia pasti membeli beberapa anak panah di toko senjata sebelum datang ke sini.


"Hah, hah, hah. Maaf karena aku terlambat. Ayo cepat kita naik ke kereta." Nafasnya masih terengah-engah karena berlari.


"Ya. Aku sudah membeli tiketnya, jadi kita bisa langsung masuk."


"Heeh, kau masih terlihat seperti dirimu yang dulu, ya."


"Tidak. Aku tidak ingin menjadi diriku yang lemah itu."


Tanpa banyak kata lagi, kami berdua segera menaiki kereta yang akan berangkat. Kami masuk ke gerbong kelas bisnis untuk beberapa sebab. Di sana lebih terprivasi, dan Clara dapat menarik perhatian jika berada di gerbong kelas ekonomi.


Harga tiket kelas bisnis lebih mahal dua kali lipat dari kelas ekonomi. Tapi itu tidak seberapa dibanding tujuan yang akan kami hadapi.


Jarak perjalanan ke Kota Deedalee jika di tempuh dengan kereta kuda akan memakan waktu hingga dua hari. Tapi jika kami tempuh dengan kereta sihir, hanya dengan waktu dua jam saja kami akan sampai ke sana. 


Kekurangan dari kereta ini hanyalah para pedagang tidak bisa membawa barang dagangan milik mereka melebihi kapasitas tertentu. Jadi mereka akan membawanya menggunakan kereta kuda atau kapal terbang, itupun jika mereka memiliki banyak uang.


"Shin." Clara memanggilku.


"Ada apa?"


"Aku takut jika Riel bertemu dengan orang itu. Apa kita bisa menemukannya duluan sebelum dia?"


"Entahlah," aku tidak bisa memastikan hal tersebut. Maris Rufus adalah seorang Stalker dengan level 5, itu sewaktu aku melawannya dulu dan babak belur. Meski sekarang aku juga sudah level 5, bisa jadi dia sudah lebih kuat dariku sekarang.


Tapi seharusnya Riel tidak memiliki masalah dengan orang itu. Jadi kemungkinannya kecil untuk dicari oleh Maris.


"Aku tidak ingin Riel berakhir seperti Kirin..."


"HENTIKAN!!"


"Hmph!" Clara langsung menutup mulutnya.


Aku membentak Clara setelah dia mengucapkan nama itu.


"Maafkan aku... Shin. Aku tidak sengaja..."


"Dia sudah mati! Gadis itu sudah tidak ada di dunia ini lagi! Dia adalah bukti nyata seseorang yang gagal aku lindungi! Kenapa kau harus menyebut namanya di saat-saat seperti ini!?"


"..."


"Aku tidak akan membiarkan... Kali ini aku tidak akan membiarkan ada lagi yang..."


Aku kesulitan untuk mengatakannya.


Kenapa... Kenapa aku harus mengingat kembali hal itu? Padahal sudah lama aku melupakannya. Padahal sudah lama Clara juga tidak mengatakannya.


Disaat pikiranku sedang kacau, Clara tiba-tiba memelukku dengan erat. Apa yang dia lakukan? Tangannya terlalu erat.


"Hiks, hiks..."


Huh?


Pikiranku kembali menjadi kosong setelah dia melakukan itu. Aku kembali tersadar dari emosi yang sesaat tidak bisa kukendalikan.


"Itu bukan salahmu, Shin! Aku sering menyalahkan diriku sendiri lalu kau juga mengatakan hal itu. Padahal kau sendiri yang bilang kalau kita tidak boleh terus menyalahkan diri sendiri. Tapi kenapa kau masih menyalahkan dirimu sendiri!"


Clara menangis sambil memelukku.


Sekarang aku dapat berpikir dengan tenang lagi. Aku memang tidak bisa melupakan peristiwa itu. Meskipun Riel bisa menjadi sosok pengganti dirinya, kenyataan dia mati di hadapanku tidak akan pernah bisa kulupakan selamanya.


Itu adalah peristiwa yang terjadi dua tahun lalu. Saat itu party kami sedang mengerjakan perintah untuk mengejar para pemberontak yang kabur ke hutan, dan berakhir menjadi jebakan terakhir untuk kami. Saat itu juga hujan sedang turun dengan deras-derasnya.


Ketua kami dibuat bertarung mati-matian dengan seekor naga darat yang dilepas untuk menyerang desa. Lalu anggota yang lainnya berusaha melawan para pemberontak itu tanpa bantuan ketua sebagai garis depan kami.


Tanpanya kami masih lemah. Tanpanya kami masih tidak tahu harus melakukan apa. Tanpanya kami tidak dapat menyerang mereka, apalagi juga melindungi diri sendiri.


Clara dan dua orang anggota lainnya terpisah dari kami di dalam hutan, sebab Clara terluka parah dan terpaksa tinggal di dalam reruntuhan. Sedangkan aku bersama Kirin masih berusaha berlari dari mereka yang menyerang kami.


Kami berdua hampir bisa keluar dari hutan saat itu karena para pemberontak lainnya sudah tidak mengejar kami. Tapi ternyata memang itulah tujuan mereka sejak awal, memisahkan kami dari ketua, juga memisahkan kami dari para anggota lainnya.

__ADS_1


Di dalam hutan, aku bertemu dengan seorang pria bertopeng yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pakaian yang digunakannya serba hitam dan topengnya berwarna hitam putih. Dia juga membawa tiga pedang panjang di punggungnya.


Pria itu menyerang kami dengan sangat brutal. Dari kemampuannya aku bisa menebak kalau dia adalah seorang Assassin, dan dia sedang mengincar Kirin.


Pedang yang kugunakan tidak bisa mengimbangi kekuatannya, dan sihir milik Kirin juga tidak efektif dikala hujan. Meski begitu aku terus berusaha melindunginya dengan seluruh kemampuanku.


Karena tidak ada ketua dan juga teman-teman kami yang lain, pertarungan itu menjadi seperti sebuah pembantaian.


Aku dibuat babak belur dengan luka tebasan di tangan dan kakiku. Dia membuatku lumpuh hingga tidak bisa bergerak lagi.


Kirin hanyalah seorang Sorcerer, dia tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Aku pun tidak bisa bergerak karena lumpuh akibat luka yang dibuatnya.


Saat itulah di depan mataku dia menusukkan pedangnya pada jantung Kirin.


Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi saat itu. Yang kuingat ketua kami sudah datang bersama Clara dan yang lainnya, lalu kami semua sudah tiba di ibukota.


Kirin dibawa pulang ke rumah ayah dan ibu, sedangkan aku diusir dari rumah. Mereka tidak menganggapku lagi sebagai anak.


Aku tidak bisa melakukan apa-apa selama beberapa hari. Itu adalah trauma yang tidak pernah bisa kulupakan.


Sejak saat itu, party kami memutuskan untuk bubar. Semua anggotanya berpisah menuju tujuan mereka masing-masing. Clara pergi ke Kota Ciatar untuk mengasingkan diri, dan aku tetap melanjutkan akademiku selama satu tahun tanpa tujuan maupun ambisi.


Kami menjadi petualangan hanya untuk mencari pengalaman di waktu luang. Lalu saat itu ada perintah darurat untuk kami karena kami sedang berada di dekat lokasi.


Karena tidak bisa menerima pelajaran dengan baik di akademi, aku mengambil cuti selama satu tahun untuk menyembuhkan pikiranku terlebih dahulu.


Aku pergi ke Kota Ciatar tempat Clara, lalu kembali menjadi petualang dan menjalankan beberapa permintaan ringan. Aku juga berusaha meningkatkan kemampuanku dengan masuk ke dalam dungeon.


Semua yang kujalani hanya itu-itu saja, keseharian yang terus berulang dan membosankan.


Hingga akhirnya saat itu tiba, sesosok gadis yang mengembalikan harapanku datang ke guild. Dari tingkah lakunya, gayanya berbicara, dan juga semangatnya dalam mengerjakan sesuatu, membuatku teringat dengan mendiang adikku.


Itulah alasan kenapa aku selalu ingin dekat dengannya. Itulah alasan kenapa aku selalu khawatir dengannya. 


Itulah alasan kenapa aku tidak ingin kehilangan lagi dirinya.


***


Kami akhirnya tiba di Kota Deedalee setelah dua jam perjalanan. Selama itu aku dan Clara tidak berbicara lagi satu sama lain, hanya keheningan selama sisa perjalanan.


Langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mencari informasi. Tempat yang tepat untuk mencari informasi adalah tempat dimana banyak orang akan berkumpul.


"Bukankah kita pernah ke Kota Ini sebelumnya, Shin?" Tanya Clara.


"Ya, saat sedang menjalankan permintaan mengawal karavan pedagang dari Utara."


"Lalu, apa kau masih mengingat bar yang satu itu?"


"Tentu saja. Dia tidak akan pernah pindah sampai bangunan tua itu hancur."


Aku mulai berjalan mengikuti arah yang kuingat sebelumnya. Meski sudah tiga tahun berlalu, penampilan kota ini tetap tidak berubah. Baik bangunannya, maupun orang-orangnya.


Clara mengikutiku di belakang sambil mengenakan tudungnya. Dia sangat berusaha untuk tidak mencolok dari penduduk lainnya, karena Kota Deedalee tidak sebaik Kota Ciatar.


Di sini perbedaan ras memang tidak menjadi masalah bagi masyarakat, tapi tetap saja ada orang-orang yang masih memiliki tujuan negatif terhadap mereka. Itulah sebabnya sangat jarang ada ras lain di Kota Manusia.


Dari jalan utama hingga jalan cabang yang kulewati, aku tidak bisa menemukan bar yang kuingat itu.


Aku coba memasuki suatu jalan sempit, tapi malah berujung pada jalan buntu. Clara di belakangku mulai menunjukkan ekspresi keberatan atas daya ingatku. Meski begitu aku tetap mencoba melewati beberapa jalan yang mungkin kuingat.


"Jalan buntu lagi." Clara menggerutu.


"Ah, maaf. Mungkin pohon tadi bukanlah patokan yang benar dalam ingatanku. Ayo kita coba lagi jalan yang disebelahnya."


"Sudaaahh! Kenapa kita tidak bertanya kepada orang-orang saja dimana letak bar itu?"


"Kita tidak boleh mencolok dalam hal ini."


"Pakaianmu saja sudah mencolok!"


Aku melihat ke pakaian yang kukenakan. "Ini memang dibuat untuk bertarung di daerah terbuka. Aku sudah memilih pakaian yang tepat untuk bertarung. Kau pun mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhmu seperti seorang pencuri."


"Itu karena aku seorang ras kelinci!" Clara meninggikan suaranya karena kesal. "Ya, sudah. Karena kita sudah mencolok, kenapa kita tidak bertanya kepada orang lain saja?"


"Aku menolak tawaranmu."


"Sayangnya, aku tidak meminta persetujuan darimu." Clara langsung pergi menuju beberapa orang yang sedang berjalan.


"Tunggu." Aku terpaksa mengikutinya.


Clara mendekati seorang pria yang sedang berdiri di dekat toko roti. Pria itu sedang melihat-lihat roti yang dipajang dari dalam toko.  

__ADS_1


"Permisi, tuan?" Clara menyapanya.


"Ya?" 


"Apakah kau tahu dimana letak bar yang dijaga oleh seorang... ras kelinci? Bar itu terlihat seram dari luar dan sangat sepi pengunjung, lho."


"Oh, aku tahu bar itu."


"Benarkah?"


"Ya. Kau hanya perlu mengikuti jalan ini, lalu berbeloklah ke kanan begitu tiba di tikungan." Pria itu menunjukkan arah yang harus kami lalui. "Di sana ada banyak bar, tapi sepertinya kau sudah tahu seperti apa bar yang kau cari."


"Wow! Darimana kau bisa begitu tahu tentang kota ini?" Clara malah merasa penasaran dengan orang itu.


"Karena aku adalah seorang jurnalis. Aku sering berjalan-jalan di kota ini dan mengunjungi banyak tempat baru." Pria itu menjawab dengan senang hati.


"Kereen! Apakah seorang jurnalis... eh, eh... Shin! Tunggu sebentar!"


Aku menarik tangannya untuk langsung pergi menuju arah yang sudah diberitahu pria itu.


"Terima kasih atas bantuannya, tuan jurnalis. Tapi kami sedang terburu-buru saat ini." Ucapku.


"Dengan senang hati." Dia melambai kepada kami.


Aku melepaskan Clara setelah kami sudah agak jauh dari jurnalis itu. Dia terlihat sebal denganku, tapi dia lebih menyebalkan karena selalu tidak tahu situasi.


Kami mengikuti jalan yang ditunjuk oleh jurnalis tadi. Jalan ini sudah berbelok dari jalan utama, jadi orang-orang di sini tidak sebanyak di tempat sebelumnya. Tempat yang kami datangi sekarang di dominasi oleh penginapan dan toko makanan.


Di depan kami sudah terlihat sebuah tikungan. Setelah kami berbelok, tempat yang kami lewati sekarang berubah menjadi lebih banyak bar di sekitarnya.


Aroma makanan di sini sangat tercium seperti di jalan utama. Jalan yang walaupun terlihat sepi, tapi bar-bar di sini cukup ramai.


Sekarang tinggal mencari tempat yang pernah kami kunjungi dulu. Sebuah bar yang dijaga oleh seorang ras kelinci seperti Clara.


Kelinci di bar itu memang tidak pandai dalam hal membuat minuman ataupun makanan. Itulah sebabnya bar miliknya sepi pengunjung. Tapi bukan itu pendapatan utama dari bar tersebut. 


Sesungguhnya bar itu tidak menjual makanan atau minuman yang enak, melainkan mereka menjual informasi yang cukup akurat. Tapi hanya beberapa orang saja yang dapat mengakses jasa tersebut. Ketua kami adalah salah satu orangnya.


Shin.


Eh! Ada apa?


Dia di sana. Di sebuah jalan sepi, arah kiri dari tempat kau berdiri. Ikuti aku!


Siapa? Riel?


Orang yang membunuh adikmu, Maris.


"Ikuti aku, Clara!" Aku langsung berlari ke arah yang dibisikkan kepadaku.


"Hee, tunggu akuu!"


Aku berlari dengan cepat tidak peduli Clara dapat menyusulku atau tidak.


Padahal langkah pertama kami sudah dekat sebelumnya, tapi sekarang terpaksa melompat ke salah satu tujuan utama kami. Informasinya datang lebih cepat dari dugaanku sebelumnya.


Aku berlari menyusuri jalan-jalan kecil antar bangunan. Tempat ini sepertinya mengarah ke daerah kumuh, karena setiap bangunan di samping kami mulai terlihat tidak terawat dengan baik.


Tikungan demi tikungan, aku terus berlari agak jauh hingga sampai di sebuah jalan buntu lagi.


Jalan buntu, tapi tujuan kami ada di sana.


"Hah, hah, Shin. Larinya jangan cepat-cepat." Clara tiba di sampingku dengan nafas terengah-engah. Kalau bagiku berlari tadi masih belum seberapa, tapi jantungku berdetak lebih cepat karena hal lain yang ada di depan kami sekarang ini.


"!!!" Clara menegang seketika. Matanya menatap tajam ke arah orang yang berdiri di atas sebuah bangunan. "Di-dia..."


"Wah, wah. Padahal seharusnya orang biasa tidak dapat melihatku secara langsung." Orang itu mulai berbicara.


Tenang. Aku harus tenang dalam menghadapi situasi seperti ini.


Orang itu berdiri di depan kami, di atas sebuah bangunan yang dia jadikan sebagai pijakan. Cahaya matahari berada tepat di belakang orang itu, jadi kami sedikit kesusahan untuk melihatnya.


Tapi mau bagaimanapun halangan untukku melihatmu, atau kemanapun kau pergi dariku, aku akan terus mengejarmu bahkan hingga ke ujung dunia.


Pria bertopeng hitam putih, dengan tiga pedang panjang di punggungnya.


Selama dua tahun ini, aku sudah mencari tahu siapa dia sebenarnya. Ternyata dia adalah salah satu anggota dari organisasi paling berbahaya yang bergerak untuk kejahatan.


"White Shadow."


__ADS_1


__ADS_2