Seven World Of Fantasy

Seven World Of Fantasy
Chapter 19: Jurnalis Juan


__ADS_3

"Di dunia ini, hidup berbagai macam ras dalam wilayah yang berbeda-beda. Ras dengan populasi terbesar adalah kita para manusia. Hal itu menyebabkan ras kita berada di puncak dan menguasai yang lainnya. Hal itu juga membuat kita di benci oleh ras lainnya. Seperti elf, kurcaci, dan setengah hewan.


Mungkin ada beberapa dari kita yang menerima keberadaan mereka, tapi sayangnya mereka sudah mencap kita duluan sebagai musuh. Kau pasti mengerti kan, apa yang terjadi jika kedua ras saling bermusuhan?" Juan menjelaskan sedikit tentang hubungan antar ras.


"Hmm? Tapi bukankah di sekitar kita masih ada beberapa ras manusia setengah hewan? Lalu para penduduk di kota tampaknya tidak terlalu khawatir begitu melihat Momo, dan Adele juga tinggal di kota ini." Juga Clara. Dia bisa berbaur dengan manusia lainnya di Kota Ciatar.


"Itu karena kita berada di negara yang melarang perbudakan." Juan menambahkan.


"Perbudakan!?" Aku terkejut.


Aku memang sedikit terbiasa dengan kata itu, mengingat aku sering membaca cerita fantasi di duniaku dulu. Perbudakan memang masih hal yang wajar di dunia ini. Tapi jika aku sudah mengetahuinya dengan pasti, itu membuatku cukup khawatir.


"Ya, perbudakan." Juan kembali menegaskan. "Namun itu hanya berlaku untuk kerajaan Atria. Jika kau berada di wilayah kerajaan lainnya, hal itu akan sering terlihat di sekitarmu."


Menyeramkan. Mendengar kata budak, pikiranku langsung tertuju pada penindasan. Pemilik budak itu dapat melakukan apapun kepada budaknya. Apapun.


"Lalu, kalau begitu seharusnya Kerajaan Atria dapat menjadi tempat tinggal yang damai untuk ras lainnya, bukan?" Aku bertanya kepada Juan.


"Tidak, Riel. Kau salah." Juan menjawab. "Meskipun kerajaan telah melarangnya, tetap saja akan ada budak yang diperdagangkan secara ilegal. Tidak sedikit dari mereka disembunyikan di dalam kediaman agar tidak ketahuan. Tidak sedikit juga penyebab mereka dapat tidak ketahuan."


Hmm? Aku sedikit tidak mengerti kata-katanya.


"Apa maksudmu penyebab mereka tidak ketahuan?"


"Tentu saja mereka yang membuat hukum, bisa kebal terhadap hukum"


Oh, tidak.


Ini sangat buruk.


Padahal di duniaku sebelumnya hukum berlaku untuk semua orang. Tidak peduli itu rakyat kecil ataupun orang kaya dan pejabat. Tapi di sini semuanya sangat berkebalikan.


"Hei, Juan. Lalu kenapa masih ada beberapa dari ras manusia setengah hewan di kota. Bukankah keadaan di kerajaan ini tidak sebaik kelihatannya?"


"Iya, kau memang benar." Juan memegangi dagunya sambil memikirkan sesuatu. "Itu karena mereka bisa bertahan hidup. Manusia biasa mungkin tidak terlalu peduli dengan perbedaan ras, tapi tetap saja ada orang yang memiliki niatan buruk kepada mereka."


"Maksudmu ras lain bisa saja hidup berdampingan, tapi orang yang berniat jahat juga ada di sekitar mereka." Aku coba merincikan.


"Tepat sekali." Juan menjentikkan jarinya. "Asal kau tahu ya. Budak itu tidak hanya berasal dari ras yang berbeda. Manusia pun juga bisa dijual sebagai budak."


"Tidak mungkin."


"Itulah sebabnya dunia luar cukup berbahaya untuk gadis seperti kalian. Minimal harus ada lelaki di dalam kelompok, baru kalian bisa sedikit lebih aman."


Sebenarnya ada sih. Dia juga lelaki yang terlalu khawatiran seperti Clara. Padahal dia sudah lama berpetualang, tapi nyalinya tidak sebesar yang kukira.


"Apa kau sudah cukup mengerti dengan hubungan antar ras?" Tanya Juan.


"Bagaimana dengan ras lainnya. Seperti elf atau kurcaci?"


"Sama saja. Hubungan ras manusia dengan mereka bisa dibilang cukup buruk. Karena di kerajaan lain, ras-ras itulah yang sering diburu untuk diperjual belikan. Juga ras temanmu ini."


Sudah kuduga. Dunia ini lebih berbahaya dari yang aku duga.


Aku kira suatu hari nanti aku dapat bertemu dengan elf, kurcaci, atau ras lainnya dan membentuk party bersama. Pasti itu akan menjadi cerita yang keren, walau sepertinya mustahil untuk dilakukan.


Pantas saja keluarga Momo memilih untuk tinggal terpisah dari manusia. Meskipun mereka menjamin keamanan, bukan berarti setiap saat mereka akan selalu aman. Para bandit itu pastilah dalang di balik perdagangan budak secara ilegal.


Momo hampir berakhir seperti teman-temannya. Dia berhasil bebas tidak untuk dirinya sendiri, dia mencari bantuan agar bisa menyelamatkan mereka.


"Aku sudah sedikit paham. Terima kasih atas informasinya, Juan."


"Senang bisa membantu."


Kami istirahat berbicara sebentar sembari aku berusaha menyerap informasi. Momo masih murung di sampingku. Dia terlihat tidak nyaman dengan keadaan rasnya sekarang.


Aku mencicipi minuman sari apel yang dibawakan Adele. Hmm, manis. Jika sudah difermentasikan menjadi minuman beralkohol, kira-kira rasanya akan seperti apa, ya?


Oh, iya. Aku harus menanyakan lokasi markas para bandit kepadanya. Siapa tahu dia mengetahuinya.


"Eee, Juan?"


"Ya? Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan."


"Apa kau tahu dimana lokasi markas para bandit? Aku mendengar mereka berada di sekitar kota ini."


Wajah Juan tiba-tiba berubah. Sebelumnya dia terlihat hangat dan menyenangkan, tapi sekarang dia terlihat seperti polisi yang menemukan mangsanya.

__ADS_1


"Aku tahu, kok." Ekspresi Juan kembali berubah seperti semula.


"Heh! Anda tahu tempat mereka?" Momo langsung mengangkat suara.


"Ya. Tapi aku tidak akan memberitahunya."


"Hee, kenapa?" Aku dan Momo serempak bertanya.


Juan terlihat kebingungan. Mungkin sebelumnya dia menganggap kami berdua bercanda, tapi sayangnya kami sedang serius.


"Memangnya apa yang kalian berdua ingin lakukan jika tahu tempat mereka?" Juan bertanya dengan curiga.


"Mereka telah menangkap teman-temanku. Aku tidak ingin mereka berakhir menjadi budak para manusia. Aku tidak ingin mereka terluka dan sebagainya." Momo mengatakan maksudnya.


"Momo berhasil melepaskan diri dari para bandit berkat teman-temannya. Lalu dia ingin mencari bantuan untuk menyelamatkan mereka." Aku menjelaskan rincinya.


Juan menatap kami berdua dengan heran. Dia belum menjawab letak sebenarnya dari lokasi markas para bandit, meskipun kami sudah menjelaskan maksud dari tujuan kami.


Beberapa saat berlalu dan Juan masih terdiam. Kami menunggu dia mengatakan lokasi mereka, lalu setelah itu kami akan pergi. Cukup itu saja, tapi dia masih mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan kami.


"Haah." Juan mendesah.


"Ada apa Juan? Apa kau tidak ingin menjawab pertanyaan kami." Tanyaku.


"Bukannya aku tidak ingin menjawab, lho." Juan merapihkan posisi duduknya. "Ketahuilah posisi kalian sekarang. Kalian hanyalah dua gadis biasa. Datang ke tempat mereka sama saja dengan bunuh diri."


"Aku tahu itu. Aku tahu mereka pasti sangat berbahaya. Tapi aku harus menyelamatkan teman-temannya Momo." 


"Riel, kenapa kau sangat keras kepala?" 


"Aku tidak keras kepala. Aku sadar akan kemampuanku. Aku yakin bisa menghadapi mereka bersama Momo."


Juan menepuk dahinya. Baginya permasalahan ini lebih rumit daripada mencari berita untuk dianalisis. 


"Maaf, aku tarik kata-kataku tadi. Aku tidak tahu dimana lokasi mereka, itu hanya kebohongan." Juan malah mengelak dari pertanyaan kami.


"Hei! Aku yakin kau mengetahui tempat mereka, dan tindakan pura-pura tidak tahumu itulah yang jelas sebuah kebohongan." Aku kembali mendesaknya.


"Maaf, Riel. Ini terlalu berbahaya untuk kalian. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kalian."


"Baiklah kalau begitu. Berapa yang kau mau?" Aku mengeluarkan jurus andalanku.


Dasar jurnalis merepotkan. Kau pasti sudah tahu maksud dari perkataanku, kan? Tidak mungkin orang-orang seperti kalian menanyakan hal yang umum dalam bertukar informasi.


"Aku ingin informasi, lalu kau akan mendapatkan bayarannya. Bukankah itu sudah jelas? Setelah itu transaksi selesai dan kami akan pergi." Jelasku.


Juan masih terdiam dan menatap kami seperti sebelumnya. Ekspresinya terlalu penuh keraguan.


"Pulanglah." Kata Juan.


"Heh?"


"Kalian terlalu jauh bermainnya. Pulanglah, aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi." Jawabnya dengan nada agak kesal.


"Aku mohon, beritahu kami di mana tempat teman-temanku berada." Momo kembali memohon padanya, tapi Juan tetap tidak ingin menjawab.


"Ada apa? Kenapa kau tidak ingin bertransaksi dengan kami? Bukankah kau juga ingin uang?" Aku kembali menegaskan pertanyaanku.


"Jika memang sebuah nyawa semurah itu, maka aku akan memberitahu lokasi mereka dengan biaya berapapun. Tapi maaf saja, aku tidak menerima tawaranmu sama sekali." Juan akhirnya mengacuhkan kami.


Sialan. Padahal kami adalah klienmu! Bertukar informasi apanya jika seperti ini jadinya. Pada akhirnya kedatangan kami hanya membuang-buang waktu.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas kerja samanya."


Aku dan Momo beranjak pergi dari tempat kami. Juan masih duduk di sana dalam diam, tidak mencoba memperhatikan kami pergi atau semacamnya. Seperti seseorang yang sedang marah dengan temannya.


Kami turun dari lantai dua menggunakan tangga bar. Ruangan di lantai satu lebih gelap dari tempat kami sebelumnya. Beberapa orang yang kulihat sewaktu memasuki bar sudah tidak ada di tempat mereka. Sekarang tempat ini hanya menyisakan Adele sendirian di tempatnya.


"Apa transaksi kalian berjalan lancar?" Tanya Adele dengan acuh tak acuh.


Aku berjalan ke mejanya untuk membayar biaya minuman yang kami pesan, dan biaya pertukaran informasi kami.


"Aku dapat beberapa informasi, tapi bukan yang aku cari." Jawabku ketus.


"Oh. Kalau begitu semoga beruntung lain kali." Adele kembali mengelap gelas-gelas bar seperti biasa.


Kedatanganku ke bar ini hanya sia-sia saja. Tidak ada informasi penting yang kudapatkan tentang keberadaan para bandit itu. Informasi lainnya bisa dengan mudah aku dapatkan di tempat lain, tapi sulit untuk mencari orang yang mengetahui lokasi para bandit.

__ADS_1


Setelah keluar dari bar, matahari mulai naik semakin tinggi. Sekarang masih belum tengah hari, jadi seharusnya kami masih punya waktu untuk mencari kembali.


"Hei, Momo. Maafkan aku karena kita jadi terlambat menuju ke sana. Kita akan pergi mencari orang lain lagi, apa kau masih sanggup?"


"Ya. Aku akan lakukan apapun demi teman-temanku."


Gadis kucing ini tidak menyerah untuk menyelamatkan teman-temannya. Itu membuat semangatku semakin terbakar untuk membantunya.


"Psst!"


Hm?


"Psst! Hei, kau!"


Seseorang memanggil kami entah dari mana.


Aku mencari-cari dari mana asal suara itu, lalu Momo menunjukkanku arah asal suara tadi.


Sebuah jalan sempit antar bangunan, ada seseorang yang bersembunyi di balik bayangan. Dia melambaikan tangannya kepada kami dan menyuruh kami menghampirinya.


"Apa yang akan kita lakukan, Kak Riel?" Tanya Momo khawatir. Seseorang dengan gelagak seperti itu pasti bukanlah orang yang baik.


Tapi aku sudah tahu apa tujuannya. Jadi aku memberanikan diri dan mengajak Momo untuk menghampirinya.


Kami masuk ke dalam jalan sempit itu. Di sini hanya ada kami dan orang yang memanggil tadi. Dia terlihat seperti pria ceking dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. Tinggi namun tidak berisi seperti seorang lelaki dewasa.


"Apa maumu?" Tanyaku.


"Khihihi. Kau pasti sudah tahu, bukan? Aku akan menjual informasi itu kepadamu." Orang aneh itu menjawab.


Ya. Seperti yang sudah kuduga, dia sedang menjual informasi. Bisa jadi dia sempat mendengar percakapan kami dengan Juan, atau mungkin ada unsur kerja sama di antara mereka.


"Berapa banyak yang kau mau?" aku langsung menanyakan intinya.


"100.000 Nira." Jawabnya.


"Hei, itu terlalu mahal untuk kami. Kau hanya perlu memberitahu kami dimana tempat mereka, mengapa harus semahal itu?" Aku menolak tawaran harganya yang terlalu tinggi.


"Itu harga yang normal untuk pertukaran informasi dengan kami. Terlebih lagi, kau akan mendapatkan beberapa bantuan tangan oleh teman-temanku. Mereka juga ingin memburu para bandit."


"Jadi kelompokmu juga sedang mencari mereka?"


"Ya, dan kami sudah tahu dimana lokasi mereka. Jadi seperti kau bergabung dengan kelompok kami."


Mencurigakan. Transaksi seperti ini sebenarnya terlalu beresiko penipuan bagi kliennya. Karena tidak ada jaminan mereka akan memberitahu lokasi yang tepat kepada kami.


"Memangnya apa tujuanmu mencari para bandit itu?" Aku akan menanyakan dulu beberapa poin penting dalam percakapan ini.


"Para bandit itu sebenarnya kaya, namun tidak pernah puas dengan kekayaan mereka. Jadi kami ingin menyerang mereka dan mengambil harta mereka. Lalu kau dapat menyelamatkan teman-temanmu yang diculik di sana. Bagaimana?" Dia menjelaskan rencananya.


Tidak buruk juga. Jadi kami dan mereka memiliki tujuan yang berbeda, namun dengan langkah yang sama. Menurutku bukanlah transaksi yang buruk.


Aku melirik sebentar kepada Momo. Dia menatapku dan memberikan kode seakan tidak tahu. Dia memang masih agak polos dengan sesuatu yang seperti ini, jadi aku memakluminya.


Terlebih lagi, Momo tidak merasa waspada dengan orang aneh ini. Itu memperbesar keyakinanku untuk bekerja sama dengannya.


"Kami juga ingin membeli tiket kereta untuk pulang, jadi bagaimana jika 80.000 Nira?" Aku coba menawar.


"Baiklah. Aku terima nominalnya." Orang aneh itu menyetujui.


Aku mengeluarkan uangku dari tempat penyimpanan, tapi dia menolak menerimanya sekarang.


"Aku tidak bisa menerima uangmu sekarang. Datanglah ke rumah kayu rusak di dekat hutan sebelah barat luar kota. Di sana ada teman-temanku yang sedang bersiap, kau bisa membayarnya di sana saja. Ini juga demi menjaga transaksi kita."


"Oh, kau orang yang menarik juga, ya." Aku jadi lebih percaya dengan transaksi ini.


"Aku bukanlah orang yang menarik maupun baik. Aku menjalankan apapun demi uang, karena itu memang ciri khas kami. Khihihi."


"Baiklah, kapan aku harus datang ke sana?" 


"Kita akan menyerang sewaktu matahari terbenam. Jadi kalian dapat beristirahat dulu dan meyiapkan peralatan kalian. Ingat kode ini sewaktu mengetuk pintunya. Pohon ek berwarna hitam."


"Baiklah, aku akan mengingatnya."


"Senang bisa bertransaksi denganmu."


Orang itu pergi dari kami memasuki tikungan lainnya. Dia tidak terlihat berbohong, karena orang yang memberi penawaran dengan baik dan ramah, lebih berpotensi sebagai penipuan. Orang-orang seperti mereka bisa saja serius dalam transaksinya.

__ADS_1


Aku dan Momo akan kembali ke penginapan untuk beristirahat sebelum penyerangan. Masih ada banyak waktu untuk kami bersiap, jadi kurasa ini bukanlah pilihan yang buruk.


Penyerangan berikutnya mungkin akan sangat panjang, karena kami akan menuju ke markas para bandit.


__ADS_2